Kucing ltu Suamiku yang Membaca Buku

Karya . Dikliping tanggal 23 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

TAK ada yang lebih rajin dari kucing yang membaca buku di rumah itu. Mungkin kawan­ kawan sebangsanya akan tercengang mendengar kabar mengejutkan dari spesies kucing bisa membaca buku. Barangkali dia sejenis kucing jadi-jadian atau kucing yang lahir dari kawin silang antar manusia dengan kucing paling cerdas sedunia kucing: tanggapan bangsa manusia ketika mendengar kabar itu di koran-koran kemarin sore.

NAMUN, lain lagi ceritanya ketika sebangsanya sendiri mengetahui bahwa kawannya sendiri si kucing ini rajin membaca buku. Suatu ketika di gorong-gorong jalan raya ada gerombolan kucing jalang sedang memperbincangkan kabar yang sudah menyebar luas ke seluruh dunia kucing. Mereka tidak lain tidak bukan hanya untuk mendiskusikan perihal kucing bisa baca buku.

“Saya kira mustahil ada kucing bisa membaca, karena saya dan kalian adalah kucing, jadi kita tahu kalau kebanyakan kucing itu, sukanya kalau tidak tidur sete­ lah kenyang makan kepala ikan hasil curi­ an dari dapur tetangga,” mengeong pan­ jang kucing berbulu hitam kuning itu dengan perasaan tak percaya.

“Kalian tahu dia bukan kucing sung­ guhan, tetapi kucing jelmaan manusia yang dikutuk pemiliknya karena malas membaca.” Berujar tiba-tiba kucing hitam dengan sok bijak dari belakang gerom­ bolan kucing-kucing lainnya, setalah men­ jatuhkan sobekan daging ayam dari mon­ cong mulutnya.

Setelah berlama-lama mereka memper­ cakapkan keahlian kucing yang mampu membaca buku-buku. Akhirnya mereka bubar tanpa kesimpulan yang jelas.

**

Keesokan harinya setelah kabar kucing ajaib itu menyebar ke seantero dunia kucing dan manusia lewat tangantangan usil manusia yang diunggahnya gambar-gabar kucing membaca buku itu di akun­ akun sosial medianya sendiri. Maka semua orang makin gencar bertanyatanya, Kok bisa, kucing baca buku,” kalimat itu terus berulangulang darimulut ke mulut sam­pakemudian tim wartawan koran tersohor di dunia memburu pemilik kucing ajaib tersebut.

Sementara itu, dari kawanan binatang: kucing, anjing, kancil, ayam, dan sapitak kalah gemparnya dari manusia mewartakan berita kucing yang bisa baca buku itu. Entah kabar hoaks atau kabar benar, mereka tak mempersoalkanitu, yang penting, kok bisa kucing baca buku.

Baca juga:  Tukang Cukur Sajak - Kulukai Hatimu - Puisi Adalah Kawan Keabadian - Keringat Asin Kesedihan Orang-Orang Petambak Garam - Careme -

**

Kucing ltu Suamiku yang Membaca BukuNamun, lain cerita dari keluarga Nenek Mocing yang sudah 10 tahun hidup sendiri bersama kucingnya yang membuat dunia gempar akibat ketahuan ulahnya membaca buku. Hari-hari Nenek Mocing hanya di isi dengan membaca buku bersama kucingnya itu.

Nenek Mocing kini sudah tak kesepian lagi, karena rumahnya sering dikunjungi orang-orang dan kucing-kucing setelah salah satu orang pengantar koran menge­tahui secara tak sengaja melihat kucing satu-satunya membaca buku di atas meja di beranda rumahnya. Kemudian orang itu menyebarkanya lewat akun Facebook setelah sempat memotret kucing itu membuka halaman buku berikutnya.

Akhirnya Nenek Mocing dan kucingnya tak lagi membaca buku, mereka memilih membaca wajah-wajah asing, suara-suara asing dari ribuan pertanyaan dari pengunjung setiap hari.

Bahkan dari kerapnya kabar itu dikoar­-koarkan berhari-hari oleh pembawa berita yang cerewet di berbagai stasiun radio dan televisi. Membuat presiden bersama aparat-aparatnya juga datang ke kediaman Nenek Mocing. Mungkin sekadar bertanya-tanya seperti yang sering banyak masyarakat dengar ketika Presiden berkunjung: Apa pekerjaan Anda sehari­ harinya? Atau, di mana Anda menemukan kucing itu?

Dan pertanyaan-pertanyaan sepertiitu bukanlah tanpa kepentingan.Namun, karena ada kesempatan maka disitulah presiden berbelas kasih dengan embel­-embel memberikan rumah baru bagi Nenek Mocing dan kucingnya yang disaksikan banyak orang pada saat itu. Maka atas kejadian itu, presiden mendapatkan keuntungan: karena telah berhasil menjalankan kepentingan pribadinya, meskipun orang-orang mengganggapnya sebagai pemimpin terbaik setelah melihat aksi heroiknya pada saat itu.

**

Setelah seminggu lebih dua hari kabar itu menghilang dari permukaan sosial me­dia. Tiba-tiba sepasang wajah Nenek Mocing serta kucingnya muncul di salah satu stasiun televisi swasta yang memang selalu mewartakan info-info unik tentang keajaiban dunia binatang. Pada hari itu juga Nenek Mocing ditanya soal rahasia Kucingnya yang katanya bisa baca buku. Namun, Kucingnya tiba-tiba membuat gempar seantero ruangan tersebut. la secara refleks meloncat dari tempat duduknya saat presenter TV “Mata Bi­natang” itu bertanya.

Baca juga:  Keluarga yang Menanti Hujan

Sementara itu, raut wajah penonton ter­heran-heran dengan mulut bertanya-tanya menyaksikan kejadian langka itu. Kemudian acara jeda sejenak di saat suasana makin genting, sedangkan Nenek Mocing yang sejak mula diam dan bingung sendiri atas kejadi­ an itu. Ternyata ia baru sadar bahwa kucingnya hilang dari tempat duduknya ketika meli­hat kursi paling kiri telah kosong, yang tadinya diduduki kucing kesayangannya itu.

Pada akhirnya acara itu ditutup dengan hati penonton kecewa dengan membawa tandatanya. Padahal yang mereka tunggu bukan kehadiran Nenek Mocing dan kucingnya, tetapi adalah jawaban dari pertanyaan presenter. Sedang Nenek Mo­cing pusing-sendiri mencari-cari jejak kucingnya yang lari entah ke mana.

Setelah mobil Avanza berhenti didepan rumahnya, kemudian Nenek Mocing turun dari mobil lalu berjalan pelan menuju beranda rumah­nya, mencari-cari kursi untuk duduk sekadar meredakan rasa nyeri punggungnya yang sedang kambuh itu. Sementara itu, mobil tersebut telah pergi tanpa pamit pada Nenek Mocing, mungkin mereka kesal atau sia-sia mengundang Nenek Mocing.

Beberapa menit kemudian Kucing pun meloncat ke pangkuan Nenek Mocing yang sedang duduk di kursinya itu. Kemudian setelah saling bertatap-tatapan muka Nenek Mocing dengan kucingnya itu. Lalu secara refleks mulut Nenek Mocing bertanya pada kucingnya yang sedang duduk di kedua paha Nenek Mocing di kursi itu.

“Kamu kok lari sayang…?”

Setelah Nenek Mocing sele­sai melontarkan pertanyaan itu. Tiba-tiba kucing itu meloncat dari tempatnya semula sambil mengeong menatap muka Nenek Mocing. Namun, Nenek Mocing masih tak menger­ tiapa yang dilakukan Kucingnya itu. Setelah lama mengeong didepan muka Nenek Mocing, akhirnya Nenek Mocing baru mengerti bahwa ada sesuatu yang di­inginkan kucingnya.

Baca juga:  Penglihatan

Lalu Nenek Mocing berdiri dengan kedua tangan memegang sepasang kayu kursi sebagai pegangan kekuatan untuk berdiri. Kemudian kucing pun berjalan mengikuti jalan yang telah ada menuju be­lakang rumahnya sendiri, sedangkan Nenek Mocing mengikutinya dibelakang. Setelah sampai di belakang rumahnya dan kebetulan posisi kuburan suaminya berada di sana. Namun, entah apa yang maksud Kucing itu yang tiba-tiba mengorek-ngorek pusara tanah kuburan suami Nenek Mocingini. Nenek Mocing hanya diam terpaku ketika kucingnya semakin dalam mengorek tanah tersebut.

Namun, Nenek Mocing semakin tercengang ketika matanya yang remang-remang melihat kotak berukuran kecil dalam kedalaman kerokan kuku-kuku kucingnya. Dan entah setelah beberapa menit kucing itu berhasil mengeluarkan kotak itu dengan giginya. Nenek Mocing pun mengambilnya kemudian membukanya pelan sekali.Ternyata di dalamnya ada se­lembar kertas lusuh yang berisikata-kata:

Mocing,istriku tercinta. Sekalipun aku telah meninggalkanmu beberapa tahun yang lalu akibat kesalahanku sendiri membaca buku tanpa waktu. Namun, aku tetap adalah suamimu yang pertama. Meskipun aku telah berubah wujud menjadi bi­natang yang selalu kau kecup keningnya setiap kali ingin tidur malam itu. Itulah aku, kucing yang tak pernah bosan baca buku. Alasanku menjadi kucing, karena aku ingin membaca sampai kutemukan engkau dalam buku kehidupanku saat ini. Dan selagi kau masih hidup, aku hanya ingin minta padamu, jangan memberi jawaban bagi semua manusia yang menanyakan: apakah rahasia kucing sehingga bisa membaca buku?***


[1]Disalin dari karya Norrahman Alif
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 21 Oktober 2018