Kutunggu Kamu di Selat Bosphorus

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

AKU sungguh lelaki asing paling beruntung di kota ini!

Kau bayangkan, setelah menelan kecewa sebab Darvish Dance yang dijadwalkan tampil di kafe yang kutunggui sejak pukul 19.00 tak pernah dipentaskan, handphoneku berdering.

Aysila!

Ia berkata betapa sangat inginnya ia meneleponku sejak sehabis Maghrib tadi, tetapi ia terlampau sibuk. Hemm, kamu pasti sibuk dengan lelaki kurus itu, kan?

“Jadi, kapan kamu akan mengunjungi Selat Bosphorus?”

“Besok, begitu rencanaku.”

“Mau kutemani?”

Demi apa aku tidak akan berkata, “Iya iya iya”?! Tapi, tentu saja aku takkan senorak itu, meski dadaku tiba-tiba kembali terhuyung. Aysial, Aysila….

“Tunggu aku di dermaga kecil di Selat Bosphorus, di seberang Boozcada CafÈ. Hei, aku hampir lupa, besok kamu harus membelikanku balik ekmek ya.”

Iya, jawabku, dan dampak iangan suaranya membuatku semalaman tak bisa memejamkan mata! Kurang ajar sekali memang perasaan suka itu, ya.

Di pagi yang sebenarnya masih teramat dini untuk keluar dari Olimpiyat Hotel, yang menyebabkanku sontak dihantam habishabisan oleh terpaan angin musim dingin yang membuat hidung dan mulut bagai berkumur uap sauna, aku telah membelah jalanan menuju Selat Bosphorus. Haaaa, aku tertawa dalam hati, tepatnya mentertawakan semangatku. Ternyata benar, semangat mampu menjadikan segalanya jadi menggairahkan.

Baca juga:  Saat Ayah Meninggal Dunia

Kuayunkan langkah-langkah panjang melintasi taman luas di Hippodrome, yang di tengahnya berdiri dua buah obelisk dan satu pilar batu yang julang sekali. Dedaunan meranggas dihajar musim dingin. Beberapa bangku taman terlihat basah menyisakan bekas ciuman angin dingin semalam. Tak ada seorang pun yang kupapasi di sini. Sepi. Lalu, kuteruskan langkah ke jalanan berkonblok yang bersisian dengan Hagia Sophia. Kutoleh sekilas bangunannya yang kecokelatan, juga taman di seberangnya yang membeku.

Dalam hati, aku kembali mentertawakan diri sendiri; betapa semangatnya aku untuk segera tiba di dermaga kecil Selat Bosphorus ya. Tepatnya, betapa semangatnya aku untuk segera tiba, lalu duduk, menyimak hamparan laut yang tak begitu bergelombang, dan bergumam dalam hati, “Kutunggu kamu di Selat Bosphorus.” Angin dingin? Ah, ia telah hengkang ditaklukkan oleh semangatku. Lebih tepatnya lagi, semangatku untuk segera melihat mata Aysila yang kecokelatan.

Tepat pada pertigaan yang di atasnya melintang rel yang sedari tadi berlalu-lalang trem yang tak begitu panjang-panjang, aku menyeberang. Lalu berbelok kanan, dan kini, kau tahu, terlentanglah di depanku hamparan air laut yang kebiruan. Inilah Selat Bosphorus! Kutebarkan mata ke segala arah, ke sekujur selat yang tak begitu luas ini; di sisi utara, pastilah itu Laut Hitam dan di sisi sebaliknya, selatan, pastilah itu Laut Marmara. Dua buah jembatan tampak melintang membelah selat ini dalam jarak yang cukup jauh; jembatan yang menghubungkan tanah Asia dan Eropa. Beberapa ekor camar dan elang laut beterbangan di atasnya, diselilingi tembang-tembangnya yang khas.

Baca juga:  Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa

Kepada seorang gadis yang kulihat duduk seorang diri, kutanyakan di mana gerangan Boozcada Cafe berada. Ia tersenyum kecil, lalu menengadahkan lehernya ke atas, ke lantai dua.

“Kafe itu tentu masih tutup jam segini. Di sini, semua baru buka pukul 09.00 pagi,” katanya.

Kuundurkan kaki beberapa meter dari bawah atap lantai dua ini, lalu kulongokkan kepala ke atas. Ah, sialan! Pantas saja aku tak menemukannya sedari tadi, rupanya tulisan Boozcada Cafe hanya terselip kecil begitu.

“Kalau kamu mencari smoking area, geserlah ke selatan beberapa meter. Ya, di dekat tong sampah stainless itu.”

“Ah, tidak, tidak,” kataku.

Ia tersenyum dengan mata menyorot. Ya, mata cokelat seperti yang dimiliki Aysila. “Maksudku, kamu tidak boleh merokok di sini.”

Buru-buru kujejalkan rokokku ke lantai.

Baca juga:  Eliana

“Dan, jika kamu membutuhkan tong sampah untuk membuang puntung rokok, itu tempatnya,” katanya lagi.

Kupungut dengan cepat puntung yang lindas di kakiku, lalu melangkah ke tong stainless yang ditunjukkanya. Kulihat gadis itu tersenyum agak terpingkal.

Kulirik lagi arlojiku, pukul 09.30. Ah, sabar, Aysila pasti datang, tak lama lagi, gumamku, meski di hatiku sendiri itu terasa seperti sebuah hiburan untuk menyenangkan diri belaka.

Jangan sampai tak datang, Aysila. Ingat, janji adalah utang, dan utang harus dibayar. Aku lalu mesem sendiri. Tidak, Aysila, buatmu tak ada utang apa pun padaku. Kalaupun kau tak datang pagi ini, dan membuatku menunggu berjam-jam nyaris beku begini, itu takkan pernah kejadikan persoalan, sebab kutahu perasaan suka tak pernah kuasa untuk tidak memaafkan apa pun kekurangajaran yang telah diterjangkan padanya.

Kutunggu kamu di Selat Bosphorus, Aysila. ❑ – e


[1]Disalin dari karya Edy AH Iyubenu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 21 Oktober 2018