Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda

Karya . Dikliping tanggal 29 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekati sebuah pintu. Dia sudah mendapatkan tiket untuk masuk melewati pintu itu. Pintu itu sangat megah, dengan segala ornamen apik dan menawan. Jika seseorang melewati pintu itu, ketika keluar dari sana akan mendapatkan gelar. Itulah cita-cita banyak orang. Sungguh, sangat luar biasa ruangan di balik pintu itu.

Bayangkan. Konon, ketika seseorang sudah masuk ke dalam, akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatan sebelum masuk. Ada yang mendapatkan hal-hal menyenangkan. Namun ada pula yang berkali-kali sengsara. Orang-orang yang sudah keluar dari ruangan itu sering menceritakan kejadian-kejadian yang ganjil dan tak wajar. Istimewa pula, ruangan itu dapat mengubah watak manusia.

Ada orang-orang yang makin merunduk, merendahkan hati, setelah keluar dari sana. Namun ada pula yang makin sombong dan angkuh. Laki-laki paruh baya itu terlihat semringah nan cerah. Senyum di bibirnya terus mengembang indah. Berbeda dari senyum keseharian yang berat, ketika ia terpaksa tersenyum kepada orangorang yang dia cintai, padahal dia mesti berpikir keras bagaimana bisa makan esok hari. Dia gunakan kaki sebagai kepala. Kali lain, dia gunakan kepala sebagai kaki. Begitulah yang selalu dia lakukan.

Kini, lihatlah pakaiannya. Sungguh rapi dan bersih. Warna putih itu menambah pangling orang yang mengenal dia. Berbeda dari pakaian keseharian yang penuh lumpur dan peluh karena dia selalu berkubang di sawah. Pintu itu makin dekat. Degup jantung laki-laki paruh baya itu pun makin kencang. Sebentar lagi ia akan melewati bersama orang-orang berbaju putih lain yang berkelompok-kelompok. Tampak juga tetangganya dalam sebuah kelompok.

***

Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda“Assalamu’alaikum, Pak Zuri,” ujar seseorang. Lelaki paruh baya itu tak menjawab. Dia sedang duduk melamun di galengan sawah.

Baca juga:  Satu Hari dalam Hidup Santiago

“Assalamu’alaikum, Pak Zuri.” Zuri, laki-laki paruh baya itu, lagi-lagi belum menyadari ada seseorang uluk salam.

“Assalamu’alaikum, Pak Zuri,” ujar orang itu untuk kali ketiga.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Zuri terkejut. Ia baru menyadari, ternyata ada seseorang di hadapannya. Sejak tadi dia melamun, lantaran padi di sawah yang seharusnya siap panen dan montok-motok merunduk, dalam waktu semalam telah berubah memutih dan mendongak, diserang hama. Seakan dengan congkak padi itu berkata, “Aku kini tidak bisa kaupanen.

Mau marah pada siapa kau, Petani? Rasakan kau!” Samar-samar terdengar suara padi lain yang masih merunduk, “Sabarlah petani, teruslah memohon dan berserah diri. Ini kehendak-Nya.” Namun suara itu sangat lirih. Suara padi congkak dan padi merunduk bersahut-sahutan. Tanpa berkata-kata, ia melihat padi congkak hasil kerja kerasnya siang-malam dengan nelangsa. Kini, penglihatannya berganti gelap dan kosong. Seakan-akan hari yang terik mendadak diliputi mendung tebal. Suara-suara padi yang berisik membuat kepalanya terasa makin berat. “Njih, dalem. Pripun, Pak?” sahut Zuri. Ia tak percaya di tengah sawah di bawah terik matahari berdiri seseorang yang gagah dengan jubah dan kopiah serbaputih, berwajah tenang dan teduh. Laki-laki berjubah putih itu tersenyum.

Sungguh, senyum yang sangat sejuk. Senyum yang membuat Zuri sejenak terlupa pada padi yang berubah congkak. Dengan senyum tanpa sepatah kata pun, laki-laki berjubah putih itu memberikan sebuah amplop putih kepada Zuri. “Assalamu’alaikum,” ucap laki-laki berjubah putih sambil menempelkan telapak tangan ke pelipis dengan sedikit mengentak, khas-orang-orang Timur Tengah memberikan salam, sambil berlalu pergi. “Wa’alaikum salam,” jawab Zuri bingung.

Dia tidak sempat bertanya apa pun, ketika lelaki berjubah itu telah berlalu pergi. Zuri makin bingung. Di amplop itu tertulis namanya. Ia pun tidak ragu membuka. Seketika gelap dalam pandangan sirna berganti terang. Bibirnya bergetar membaca undangan dan tiket di dalam amplop. Dengan kaki telanjang yang kotor penuh lumpur, ia berlari pulang.

Baca juga:  Misteri Burung Gagak dan Cerita Lainnya

***

Tinggal beberapa langkah lagi pintu itu terbentang di depannya. Namun mendadak lakilaki paruh baya itu berhenti. Sekelebat muncul bayangan istri dan anaknya. Teringat malam tadi mereka tersenyum bersama di sebuah rumah reot. Ia gamang. Senyumnya mendadak hilang. Kakinya ingin segera melangkah lagi, tetapi hatinya ragu. Pandangannya kini mencari-cari sesuatu. Ia memejamkan mata sambil merapalkan doa. “Tuhan, izinkan hamba menukar tiket ini untuk kebaikan anak-anak hamba,” lirih ucap laki-laki paruh baya, mungkin ribuan kali. Matanya terpejam, mulutnya terus meminta. Pengharapannya menimbulkan lelehan peluh terus yang mengalir, membasahi tubuh hingga dia kedinginan dan menggigil. “Pulanglah. Teruslah meminta kepadaku.” Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa.

Sontak laki-laki paruh baya itu membuka mata. Kini, ia telah berdiri di tengah sawah dengan pakaian kebesaran; penuh lumpur. Peluh sudah membanjiri baju. Siang ini matahari sangat terik. Ia menoleh ke sekeliling. Hampir selesai ia mencangkul sawah saudara yang digarapnya. “Tuhan, berikanlah kebaikan kepada keempat anakku,” ujar ia sambil terus mencangkul.

***

Laki-laki paruh baya itu kini sudah berusia senja. Buku rekening dan tawaran dari keempat anaknya mengingatkan dia pada kejadian 20 tahun lalu. Ia kembali termenung. Tadi pagi tetangganya datang dengan wajah sangat lesu. Pabrik tempatnya bekerja bangkrut, sehingga ditutup. Kini, ia jadi pengangguran dengan enam anak masih kecil-kecil. Mereka minum kopi bersama dalam diam. “Pak, besok Bapak dan Mamak kami antar mendaftar njih?” suara anak sulung laki-laki itu mengagetkan. “Nak, boleh Bapak gunakan uang itu untuk keperluan lain?

Baca juga:  Tikar

Ibu kalian pasti setuju.” Sang istri tersenyum. Tak pernah sekali pun ia membantah sang suami. Keempat anak sang lelaki bersamaan mengangguk. Mereka paham maksud sang bapak.

***

Hari ini, 9 Dzulhijah. Fajar sebentar lagi menyingsing, menggantikan kegelapan malam. Laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu rumah sang pengangguran baru beranak enam. Pintu rumah itu sangat usang. Namun itulah pintu yang dia pilih, pintu yang tak menjanjikan gelar. Tak seorang tetangga tahu, itulah pintu pilihan dia.

Tangannya menadah. Seulas senyum muncul di bibir. Perasaan aneh luar biasa merasuki hati. Rasa puas dan lega tak terkira memenuhi jiwa. Hanya laki-laki itu yang bisa merasakan. Setiap kali fajar tiba, selalu ada wajah tersenyum karena dia datang mengetuk pintu reot rumah mereka. Tangan keriputnya pelan mengetuk pintu. Namun cukup didengar pemilik telinga di balik pintu. Ketukannya dijawab dengan suara deritan pintu reot yang perlahan terbuka. Lelaki itu menantikan dengan debar luar biasa.

Menunggu senyum dari pengangguran yang sedang membuka pintu. Pada saat yang sama, di balik pintu yang megah, orang-orang sedang melaksanakan puncak ibadah. Tak terkecuali Jupri. Jupri melihat laki-laki berusia senja tetangganya itu bersamasama menuntaskan ibadah. Sama seperti harihari lalu, laki-laki senja itu tak bicara sepatah kata pun. Cuma tersenyum. Senyum sapaan. (28)

Ismul Farikhah, guru SMP Negeri 5 Kepil, Wonosobo.


[1]Disalin dari karya Ismul Farikhah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 28 Oktober 2018