Lelucon Eyang Masnawi

Karya . Dikliping tanggal 1 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

EYANG Masnawi tinggal di sebuah kampung di kaki Bukit Patrawisa. Setiap setelah subuh, dia pergi ke ladangnya, membawa serta pacul dan sabit di pundak dan tangannya. Tak lupa caping bambu yang menutupi rambut putih di kepalanya. Ia baru akan pulang saat matahari berada tepat di atas kepala. Saat makan siangnya siap.

Sore hari, dia menemani sang istri membuat sapu lidi. Sapu lidi itu dibuat dari tulang daun kelapa yang ditanam Eyang Masnawi di kebun belakang rumahnya. Pohon-pohon kelapa itu ditaman mengelilingi kebun. Sedangkan, ruas antarpohon kelapa ialah batang-batang singkong yang ditanam merapat membentuk pagar hidup dengan daun-daun muda yang sedap dimasak. Di tengah kebun itu, tumbuh tanaman yang biasa dijadikan bumbu masak seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan kencur.

Menjelang malam, Eyang Masnawi disibukkan anak-anak yang ingin belajar mengaji. Eyang Masnawi dan istrinya memang tidak memiliki anak, mereka adalah anak-anak Patrawisa. Mereka tinggal berdua di rumah kayu yang halaman depannya tumbuh rindang sepasang pohon mangga dan rambutan. Setiap pagi dan sore, rumah mereka begitu semarak karena kicauan burung yang bersarang di kedua pohon itu. Saat musim buah panen, anak-anak yang mengaji di tempat Eyang Masnawi bebas memetik dan memakan buah-buah itu.

***

Sore itu, Madha datang ke rumah Eyang Masnawi. Dari jauh, dia sudah melihat wajah guru mengajinya bersama sang istri yang sedang memisahan daun kelapa dari tulangnya di selasar rumah yang cukup menampung belasan santri kalongnya. Mereka duduk di lincak bambu ungu, wulung. Buru-buru, Madha mendekat dan mencium tangan Eyang Masnawi. Madha memperkenalkan diri. Berbinar-binarlah mata Eyang Masnawi membenarkan ingatannya tentang tamunya ketika masih kanak-kanak.

“Tapi, itu sepuluh atau belasan tahun lalu.”

“Masa lalu memang lucu ya, Eyang?”

“Begitulah. Masa lalu yang paling nyata pun hanya akan menjadi lelucon hari ini. Jadi, siapa yang dulu suka sembunyikan sandal?”

“Jadi, Eyang tahu kalau saya yang suka menyembunyikan sandal teman-teman? Karena paling kecil, saya selalu dapat giliran terakhir mengaji. Kalau giliran saya, mereka ogah menunggu. Padahal jalan pulang kan gelap. Belum lagi cerita hantu di pohon sukun di dekat mata air itu.”

Baca juga:  Topeng Arum

“Kalau dulu aku memarahimu, tentu kamu takkan mau berangat lagi untuk mengaji.”

“Terima kasih, Eyang.”

“Boleh aku memintamu melakukan sesuatu.”

Istri Eyang Masnawi yang tangannya terus melakukan pekerjaaanya seketika melirik, ia memindahkan pandangannya tanpa gerakan otot leher, napasnya seperti ditahan, detak jantungnya diredam sebisa mungkin, kepekaan pendengarannya ditingkatkan hingga limit tertinggi.

“Apa yang bisa saya bantu, Eyang?”

“Hampir sepuluh tahun terakhir, rumah ini menjadi begitu sepi. Sebabnya, tak ada lagi orang tua mengantar anak-anak Patrawisa mengaji padaku. Kami kesepian di rumah ini.”

“Lalu?”

“Apa yang membuatmu senang mengaji, dulu?”

“Saat musim panen buah.”

“Itu saja?”

Tiga orang itu tertawa bersama. Semarak.

“Adakah yang membuatmu enggan datang mengaji?”

“Tahi burung, meski aku suka kicauan mereka.”

Selama sepuluh tahun terakhir, seiring tak berbuahnya pohon-pohon dan hilangnya burung-burung, santri-santri Eyang Masnawi makin berkurang hingga habis sama sekali. Entah ke mana burung-burung itu pergi.

“Kausudah sekolah tinggi di kota, pasti tahu caranya membuat pohon mangga dan rambutanku kembali berbuah dan memanggil kawanan burung untuk tinggal lagi dengan kami?

***

Madha memanjat untuk melihat dari dekat kedua pohon yang ketika kecil sering dipanjatnya itu. Dulu, pohon itu, ia rasakan begitu tinggi. Tapi, tidak lagi sekarang. Itulah kelucuan yang dimaksud Eyang Masnawi, pikirnya. Madha merasa kembali ke masa sepuluh atau belasan tahun yang lalu. Ia ingin sebentar saja tak mengacuhkan perintah orang yang begitu dihormatinya itu, sekadar untuk berziarah pada masa lalunya yang tak terawat. Sekali lagi, ia kembali teringat kata-kata si empunya pohon bahwa masa lalu hanya jadi lelucon hari ini. Itu berarti hari ini akan menjadi lelucon masa depan bagi anak cucunya. Bagaimana dengan sepasang pemilik pohon yang tak beranak-pinak itu. Siapa yang akan menertawaan pekerjaan-pekerjaan mereka sembari menunggu mati?

“Sudah saya periksa, pohon-pohon itu sepertinya akan berbuah lagi setelah batang-batang mangga dan rambutan saya bersihkan dari parasitnya. Pupuk yang diberikan selama ini hanya menggemukan parasit-parasitnya yang menempel di batang-batang dahan mangga dan rambutan.”

“Aku harap, musim buah yang akan datang mengundang santri-santri baru untuk mengaji.”

Baca juga:  Dongeng Terakhir untuk Jingga

Madha lega menyaksikan harapan menyemburat cerlang keperakan dari mata Eyang Masnawi, “Anak-anak Patrawisa akan datang sebab mencium aroma nektar saat pohon mangga dan rambutan itu mulai berbunga.”

Eyang Masnawi tersenyum, “Santri-santriku tak hanya anak-anak Kelir, tetapi juga serangga-serangga dan burung-burung.”

“Santri-santrimu hanya akan mau datang dan tinggal di tempat yang tersedia air dan makanan yang cukup untuk membesaran anak-anak mereka,” tukas istri Eyang Masnawi.

“Burung emprit sudahkah tidak memakan biji-bijian dan menjadi pemangsa seperti saudara mereka, elang dan camar?”

***

Lelucon Eyang Masnawi“Eyang sudah mendengar, kalau di kampung kita akan dibangun pembangkit listrik panas bumi?” tanya Madha gusar.

“Lho, sejak dulu kamu ngaji di sini, sampai sekarang, rumah ini tidak nyalur listrik, jadi aku tidak perlu tahu berita macam itu?”

“Kalau Eyang tak mau pakai listrik, orang di luar sana ngantre-ngantre untuk mendapat aliran listrik, tak terhitung yang mencuri. Pabrik, kantor-kantor, sampai kereta tak bisa jalan kalau tak ada listrik.”

“Terus apa hubunganku dengan listrik dan orang-orang yang bergantung dari listrik itu?”

“Karena listrik itu menyangkut hajat orang banyak, alangkah baiknya kalau Eyang menjual tanah di Patrawisa. Mereka mau membeli mahal tanah Eyang.”

“Jadi, untuk itu kamu datang kepadaku?”

“Bukan begitu, aku tetap santri Eyang, tak berkurang takzimku sedikit pun, dulu atau pun sekarang.”

Sejak setahun terakhir, santri Eyang Masnawi hilang sama sekali. Ini cukup mengherankan sebab—meski tidak pernah memiliki santri yang banyak—setiap tahun selalu ada orang tua yang memasrahkan anaknya untuk mengaji kepada sesepuh Patrawisa itu. Mereka adalah para satri kalong. Nyantri yang mengaji hanya saat sore hingga malam hari.

Ketika tersiar kabar bahwa akan dibangun pembangit listrik panas bumi, semua orang yang mempunyai sertifikat tanah di Patrawisa yang termasuk jalur pegunungan yang berpuncak Slamet diiming-imingi segepok uang untuk menjual tanah mereka. Hanya tanah Eyang Masnawi yang bertahan. Sebenarnya, pusat eksplorasi berada di hutan lindung yang berbatasan langsung dengan tanah masyarakat adat, termasuk di dalamnya adalah tanah milik Eyang Masnawi yang diwarisi dari orang tua istrinya.

Eyang Masnawi yang sebenarnya menggunakan kurang dari sebagian tanahnya untuk berladang, selebihnya menjadi tempat hidup pohon-pohon besar yang menyembunyikan sebuah mata air yang menjadi hulu sungai yang menyuplai air ke rumah-rumah penduduk lima kampung terdekat dengan mata air. Sebagian lagi, tanah itu ditanami pohon yang menghasilakan buah, termasuk kebun pisang yang tak pernah dipanen. Buah-buah itu menjadi makanan kera endemi yang tinggal di punggung bukit. Hal itu dilakukan Eyang Masnawi karena peristiwa belasan tahun lalu ketika kebun orang satu kampung di serang kawanan kera saat musim kemarau panjang melanda.

Baca juga:  Arti Sesak di Dada Fahrie

“Eyang, berkenanlah menjelaskan alasan penolakan Eyang agar saya dapat membantu menjelasan pada mereka?”

“Tunggulah saatnya, peristiwa hari ini akan kamu lihat sebagai lelucon.”

“Kapan itu, Eyang?”

“Setelah aku mati. Karena waktunya semakin dekat, aku berwasiat kepadamu, istriku jadi saksi, kalau mati nanti, kuburkan aku di Patrawisa. Aku ingin selalu dekat dengan pepohonan dan kera yang akan menjadi penolongku kelak. Juga kawanan serangga dan burung.”

***

Madha medengar suara kerumun orang yang semakin mendekat. Matanya bolak-balik memandang ke arah Eyang Masnawi dan istrinya. Padangan itu adalah tanda tanya yang menggumpal sehingga meyumbat napas dan meredam detak jantung mereka. Ketiga orang itu bersitatap saling memantulkan cercah cahaya api dari lampu minyak yang bias karena gelisah. Ketegangan dan kegugupan semakin lama makin berat menekan dari dalam dada masing-masing seakan ingin mberojol karena buncah seiring makin nyata gemuruh suara itu. Entah apa saja kata-kata yang berbaur dan menggemuruh dari kerumun itu, tapi terasa nyinyirnya, sengak, seperti bau septictank, benar-benar mejijikan. Membuat nyeri di lambung sekaligus mual. Tekanan udara dari lambung itu pula mendorong bubur makanan yang telah bercampur lendir syarat enzim yang terasa pahit di lidah keluar melalui tenggorokan. Sebagian sedikit masuk ke celah kerongkongan, perih di pangkal hidung.

“Ganyang, antipembangunan!”

“Enyah belis!”

“Asu buntung!”

“Takbir!”  *

Bunga Pustaka, 2017

Mufti Wibowo, lahir dan tinggal di Purbalingga dan Purwokerto. Bergiat di Komunitas Bunga Pustaka, menulis cerpen dan esai.


[1] Disalin dari karya Mufti Wibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 30 September 2018