Maria dan Mario

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

KETIKA titik-titik air pertama, yang sebsar kerikil itu, berjatuhan, Mario sudah menduga hujan akan berlangsung lama. Seperti malam-malam tua. Dan Maria, ia sudah menelan alamat kurang menyenangkan itu dari hawa dingin yang menepuk-nepuk tengkuknya. Mario dan Maria menepi. Harus menepi.

“Merapatlah,” lirih Mario seraya merengkuh tubuh Maria.

Perempuan pincang itu lekas merapat. Dua anak manusia itu bergerak mundur beberapa senti hingga punggung mereka menyentuh dinding. Maria membayangkan titik-titik air itu adalah peluru-peluru yang berdesingan dari langit. Harus dihindari. Harus dijauhi.

“Hujan tak pernah bilang mau turun,”gerutu Maria dengan suara serak.

“Begitulah hujan,” balas Mario datar, seperti tak berbicara pada siapa pun.

Di punggung trotoar renta, di teritis kios yang tutup dan tanpa penerangan itu, mereka mirip pohon kaktus tua yang tak terurus, compang-camping, dan mungkin hampir tumbang. Dua gelandangan yang lelah memandang hidup, tetapi tak pernah tahu bagaimana harus mengakhiri. Usia yang terus bertambah itu bagai tahun-tahun penuh wabah. Masa tua yang amit-amit, pikir Maria, kadangkala. Entah bagaimana Mario memikirkannya.

Malam dan hujan seperti memiliki wajah hitam yang tertawa-tawa di hadapan mereka. Tangan Mario seperti sepasang ular keriput yang menelusup ke dalam semak-semak jaket kumal, mencari kehangatan. Mario bersedekap. Sementara Maria menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang gemetar. Barangkali ia membayangkan percik api akan muncul dari sela-sela telapak tangan dan menghangatkan tubuh tua mereka.

“Beginilah cara Ayah mengajari kita bertahan dalam udara dingin,” kenang Maria. “Apa kau masih ingat?”

Melihat keadaan mereka sekarang, Maria hampir lup amereka juga memiliki kenangan masa kecil. Ya, semenyedihkan apa pun masa tua seseorang, ia pasti pernah punya masa kecil.

“Aku lebih suka bersedekap, menyelimuti tubuhku dengan tanganku, sepasang tangan yang peduli,” Mario merapatkan dua ular keriput ke dalam semak jaketnya.

Titik-titik air yang menghujani atap toko bagai turun dalam bentuk benang. Berjuntai-juntai. Lalu berhamburan ketika menghantam tanah. Sebagian memercik ke kaki Mario yang bengkak. Sebagian lagi melumuri sepasang kaki Maria yang pincang. Lambat-laun percikan itu meresap dalam kaus kaki molor mereka, lalu menjilati kulit mereka. Sesekali Mario mengentakkan dua kaki. Maria tidak melakukannya. Ia kesulitan melakukannya.

Baca juga:  Tangisan Ibu dan Tarian Hujan

“Kalau hujan ini tidak reda, apa iya kita akan tidur sambil berdiri,” bisik Maria, yang kakinya gemetaran. Entah karena dingin. Entah karena beban tubuhnya.

Mario tidak menjawab. Matanya menerawang lampu merkuri yang melengkung dan juga tampak kedinginan di kejauhan. Barangkali, kalau mau, Mario bisa berlari-lari kecil dari teritis ke teritis hingga menemukan teras toko atau bangunan apa saja yang berteras agak lebar, yang paling tidak bisa untuk meregangkan badan. Namun Maria, ia benci berlari. Sepasang kakinya tak suka berlari. Berlari hanya akan membuat tubuhnya berguncang-guncang hebat, lalu ambruk di sembarang tempat. Itu pernah terjadi. Pelipis Maria pernah memar karenanya. Dan Mario sudah berjanji tak akan pernah melakukan hal yang dibenci kaki Maria. Setidaknya di depan Maria.

“Mario?” suara Maria makin lirih. Seolah ia menyeru dari tempat jauh.

Hem?” Mario masih bersedekap dan menatap merkuri yang sama, yang tampak makin menunduk.

“Setiap malam begini, apalagi hujan seperti ini, aku selalu ingin menangis. Menangis tanpa henti. Barangkali sampai mati. Aku berharap begitu,” bisik Maria dengan suara bergoyang-goyang, seolah ada angin yang mempermainkan. Maria bisa merasakan sepasang matanya perih dan hidungnya seperti kemasukan air.

“Bicara apa kau?”

“Kau berhak bahagia, Mario.”

“Semua orang berhak bahagia, bahkan seekor ngengat pun berhak bahagia. Kau juga.”

Maria mengarca, lalu berkata, “Soal itu aku ragu.”

Mario juga mengarca. Maria melanjutkan dengan suara agak membara, “Kalau aku berhak bahagia, seharusnya Tuhan tidak memberiku kaki yang pincang. Dan bibir sumbing ini, meski sudah diperbaiki, tetap saja wajahku seperti wajah orang terbakar. Sejak kecil, anak-anak sudah menjauhiku, kalau tidak mengejekku. Saat itu aku berpikir, mungkin aku tak pernah bisa bahagia. Aku tak berhak bahagia.”

Baca juga:  Saat Orang-Orang Terlelap, Matahari dan Rembulan Bertemu Diam-Diam

“Kebahagiaan tak ada hubungan dengan kaki pincang atau raut wajah, Maria. Percayalah!” sahut Mario, masih tanpa menatap Maria.

“Tapi karena kaki pincang dan bibir sobek ini, tak ada satu lelaki pun di dunia ini tertarik padaku. Bahkan si idiot Jerry, kawan kita di asrama dulu, tak melirikku sama sekali. Sampai aku menua dan makin buruk rupa setiap detik. tak melihat celah sedikit pun di mana aku pantas bahagia.”

“Tapi aku bahagia, dan seharusnya kau juga bahagia,” Mario mengalihkan pandangan. Dalam remang ia bisa melihat kilatan di mata Maria.

Kalau Maria mau tahu, sudah lama sekali Mario ingin menangis, mungkin juga sampai mati seperti kata Maria. Tapi Mario tak pernah bisa melakukan itu. Setidaknya di depan Maria. Tangisan Mario akan meringkus Maria dalam belitan rasa bersalah dan itu adalah hukuman paling mengerikan bagi Maria.

Maria dan Mario

“Kalaupun sekarang kau memang bahagia, seharusnya kau pantas mendapatkan kebahagiaan lebih dari ini. Kau tampan dan cerdas, Mario. Itu masih terlihat, bahkan setelah kau setua ini. Seharusnya waktu itu kau pergi dengan Lalena, kukira kalian saling mencintai. Tapi kau malah berpaling darinya dan memilih mengurus bocah pincang yang tak bisa diharapkan. Dan hanya menyusahkan.”

“Lalena bukan perempuan baik, kau tahu itu. Kalau ia memang mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya, seharusnya ia mau menerimamu juga.”

“Aku tahu akan sulit menerima keluarga cacat dan buruk rupa, ditambah tak terlalu pintar, apalagi kalau ia harus tinggal satu atap denganmu.”

“Sudahlah, Maria. Kita sudah terlalu uzur untuk membahas masa lalu, apalagi menyesalinya. Sekarang mari kita buat diri kita bahagia, seperti apa pun itu.”

Mario merengkuh tubuh Maria lebih erat. Sepasang kaktus tua itu tampak goyah. Seperti tertiup topan dan siap-siap patah, terjengkang di tanah. Percakapan-percakapan lirih itu membuat napas tua mereka sedikit tersengal, tapi itu membuat mereka sedikit hangat.

Baca juga:  Talnovo

“Sepertinya hujan akan turun selamanya,” Mario kembali menerawang lampu merkuri di kejauhan. Ia tersenyum, seolah kata-katanya barusan mengandung kelucuan.

Maria tak menjawab, tapi Mario bisa merasakan tubuh perempuan itu goyah dan melorot.

“Kakiku sepertinya minta duduk, Mario,” ujar Maria tersendat. Tubuhnya bisa saja rubuh kalau tidak disangga Mario.

“Kalau begitu kita duduk saja,” Mario membantu Maria duduk.

“Aku saja yang duduk. Kalau kau masih kuat berdiri, kau berdiri saja. Duduk akan membuat pakaianmu basah, dan itu akan membuatmu makin kedenginan,” ujar Maria masih tersendat-sendat. Tubuhnya sudah melorot. Pungungnya menempel di dinding. Sepasang kaki pincangnya telimpuh dalam genangan air. Maria bisa merasakan makhluk basah itu meresap ke pori-pori benang, menembus rok, lalu celananya, dan melumasi kulitnya. Dingin. Dingin sekali. Barangkali makhluk basah itu juga sudah masuk ke pori-pori kulit Maria.

Secepat genangan itu menembus pakaian Maria, secepat itu pula Mario memelorotkan tubuh. Mendekam dalam genangan yang sama.

“Pakaianmu nanti basah, Mario,” desis Maria.

“Hanya pakaian.”

“Tapi kau akan kedinginan.”

“Hanya kedinginan.”

Maria berhenti bicara. Dan Mario juga tidak berkata-kata lagi. Mario merengkuh tubuh Maria. Menenggelamkan perempuan itu dalam pelukan. Ada campur tangan angin dan hujan dalam pelukan itu. Pelukan yang kelewat dingin untuk tubuh-tubuh tua.

“Hujan ini akan terus turun. Barangkali selamanya,” bisik Maria, menirukan kata-kata Mario. Mereka tersenyum, seolah kata-kata itu masih lucu.

“Hanya hujan,” lirih Mario.

“Hanya hujan,” ulang Maria. (28)

Surabaya, 2015

– Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni1984, suka membaca dan menulis puisi sertaprosa. Kini, bermukim di Malang


[1]Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 14 Oktober 2018