Pria Jahe

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

AROMA sedap rempah hangat yang khas merebak ke seluruh ruangan. Tampak seorang pria mengeluarkan berloyang-loyang kue berbentuk manusia dengan aksesori tiga kancing baju dari oven. Serbak jahe memanja indra penciuman, membuat ingin segera menyantap barang dua buah. Sesekali ia menyingkirkan peluh yang sedikit mengganggu dengan lengan baju yang ditekuk hingga siku. Hawa sauna dari kepulan asap menyerbu ruangan berbata merah itu.

HAI, Pria Jahe. Baru matang?” Se­orang pemuda yang sebaya dengannya menyapa dengan basa-basi seperlunya.

“Oh, hai juga. Seperti yang kau lihat, baru dikeluarkan dari oven. Akan tetapi, kue pesananmu sudah kusiapkan terlebih dahulu. lni pesananmu. Masih hangat”

Setelah mengucap sepatah kata terima kasih, orang itu menyodorkan beberapa uang dan pergi. Pria Jahe,begitulah orang memanggilnya, segera beranjak dengan meninggalkan banyak kuejahe yang masih panas.

Ketika berniat menyimpan beberapa penghasilan di tempat biasa, pandang­annya teralihkan pada kalender yang menggantung menutupi retakan kecil di dinding. la sadar bahwa hari semakin mendekati angka yang dilingkari tinta merah. Hatinya bergemuruh, sementara kedua tangan yang setiap hari bergulat dengan adonan kue itu mengambil se­ buah wadah di sudut kamar dan me­ ngeluarkan isinya.

“Satu, dua, tiga…”

Lembar demi lembar ia cermati tanpa satu pun terlewati. Setelah wadah itu be­nar-benar kosong, Pria Jahe berdesah dengan isi wadah yang telah berpindah ke tangannya dengan genggaman se­mierat. Kedua bola mata dengan iris se­cokelat kue yang tiap hari dibuatnya itu menyusuri ruangan, tak tahu harus berbuat apa. la seperti insan yang kehi­langan kunci pintu kebahagiaan.

“Masih kurang banyak.” Berkatalah ia dengan pelan. Berharap hanya rayap penggerogot dipan yang mendengamya.

“Ada apa, Nak?”

Terdengar suara lemah nan mendayu dari seorang perempuan renta yang berdiri di dekat pintu. Rangka dan raga yang tak lagi sekuat dulu mengharuskan­nya menggunakan sepotong tongkat sebagai alat bantu. Dengan segera, Pria Ja­he menaruh kembali semua uang ke wadahnya. la bungkam seribu bahasa, seakan seluruh kosakata hilang dari be­nak. Tak mau membuat keadaan menjadi pilu, ia pun tersenyum dan berkata seadanya.

Baca juga:  Kupu-Kupu Tidak Menyakitimu

“Tidak ada apa-apa, Bu.”

lbu yang sepertinya kurang yakin den­gan jawaban putra semata wayangnya itu hanya menatap Pria Jahe dengan ragu dan khawatir, tetapi sarat akan kasih sayang.

“lbu istirahat saja. Saya harus mengan­tar pesanan,” kata Pria Jahe sambil mengecup kening sang ibu lembut Usai bersiap, berangkatlah dia.

**

“Dari mana aku mendapat kekurangan uang sebesar itu dalam waktu dekat?” pikir Pria Jahe tatkala melangkahkan kaki dari peradaban pemesan kuenya. Tak disangka ia tadi bertemu lintah darat yang ia pinjam uangnya beberapa bulan lalu untuk pengobatan sang ibu.

“Lunasi dalam seminggu, atau tinggalkan rumahmu!”

Kata-kata bernada ancaman yang tadi dilontarkan mulut lintah itu terngiang dalam pikirannya. Singkat, tidak bertele­ tele, tetapi pedang kalimat itu sukses menghunusnya tepat di ulu hati. Pasti orang awam bisa melihat dengan jelas kegundahan yang melanda pria seperem­pat abad itu.

Semua hal tentang utang-piutang yang membebani Pria Jahe berkecamuk dalam pikiran. Selama perjalanan pulang, sesekali kedua tangannya menggaruk kulit kepala yang sama sekali tidak gatal. Langkahnya gontai seperti orang yang tidak tidur tiga hari lamanya. Orang-orang yang lalu lalang tidak digubrisnya. Peda­gang kaki lima yang kebanyakan tetang­ganya heran dengan sikap Pria Jahe kare­na biasanya bibir itu basah dengan sapaan “selamat siang”, “hai”, dan sejenis­nya.

Baca juga:  Hari Tanpa Kepala

Setelah dua kilometer melangkahkan kaki di jalan aspal yang sedang berfata­ morgana, akhimya Pria Jahe tiba di se­buah bangunan berbata merah yang berada di sisi kiri jalan.Tak ada yang tahu nasib rumah itu beberapa hari lagi. Apakah orang setara tikus berdasi itu akan menancapkan bendera kemenangan di peradaban rakyat jelata yang dibodohi kala kesempatan tiba?

“Aku harus mempertahankan rumah ini demi ibu. Jika disita, aku bisa merantau. Aku bisa tinggal beratapkan langit. Na­mun, ibu? Sengat matahari dan angin malam tidak boleh menemani masa tuanya,” pikir Pria Jahe sambil terisak dalam hati.

“Hai, Pria Jahe!”

Orang yang merasa disapa pun menoleh.

“Hai, Bob! Dari mana, kau?” balasnya menutupi hati yang gundah gulana.

“Aku baru saja meminjam uang dari bank kota untuk modal usahaku. Mereka memberikan bunga yang kecil,” ujar yang dipanggil Bob itu.

“Benarkah?”

“Benar. Baiklah, aku pergi dulu.” Orang itu pun beranjak sambil melambaikan satu tangannya kepada Pria Jahe.

“Tahu seperti itu, aku tidak akan mem­injam pada rentenir sarkastis itu! Nahas. Hm, apa aku harus…” Seketika segurat senyum terpoles di bibimya.

**

“Ke kota, Tuan,” ucap Pria Jahe ketika sebuah kereta kuda berhenti. Dengan bekal beberapa kue jahe dan uang seadanya, ia mencoba mencari nasib di sebuah bank tengah kota.

“Hari ini aku akan berdagang di kota, Bu,” ucapnya sedikit tidak jujur kala itu.

**

“Akhirnya kau melunasinya juga,” ucap rentenir sambil tersenyum sarkastis. Pria Jahe hanya tersenyum pahit dan segera pergi dari sana. Satu utang telah kandas. Paling tidak rumahnya aman.

“Pria Jahe, Pria Jahe! Akhimya kau kembali. Rumahmu….” Salah satu tetang­ga berkata dengan napas terengah­-engah. Tanpa tahu duduk persoalannya, Pria Jahe segera berlari menuju rumah yang baru saja diselamatkannya.

Baca juga:  Senja di Pantai Losari

Pemandangan di depannya sangat di luar nalar. Jago merah berkobar dengan ganasnya, melahap rumah berbata merah itu. Berpuluh-puluh ember diayunkan un­tuk menghempaskan air di dalamnya.

“lbu!” Pria Jahe panik. Tanpa memedu­likan sekitar,tubuh tegap itu menembus rumah yang sudah tertutup api. Orang­ orang yang sibuk memadamkan kelakuan jahanam api itu tak menyadari seseorang telah melanggar garis keselamatan. Panas menyelimutinya. Sosok yang dicari tidak ditemukan jua. Sahutan demi sahutan kalah dengan suara merah yang marah. Hingga akhimya….

“Aarrgghh!”

**

Di sebuah rumah kecil di ujung jalan, seorang perempuan tua menatap kosong jalanan di depannya. Mata yang sudah tak awas lagi tengah menanti seseorang. Satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki untuk menemani hari tua.

Sendok bernasi yang disodorkan orang di sampingnya, si pemilik rumah, tak kun­jung digubris.

“Apa ada kabar darinya? Anakku belum kembali.”

Orang-orang yang ada di sana tak mampu berbuat apa-apa. Hanya menatap iba seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya.

“Pria Jahe mungkin masih di kota,” ucap salah satu dari mereka.

Entah sampai kapan perempuan tua itu harus menanti, sebab yang dinanti sudah pergi. Pria Jahe, lelaki bujang yang mati-matian menyelamatkan rumah demi sang ibu, kini sudah mati. Bersama puing-puing rumah berbata merah dan kue-kue jahe yang menjadi abu. Si merah sudah mela­hap semuanya. Termasuk harapan Pria Jahe menemani masa senja sang ibu, di rumah  itu. ***


[1] Disalin dari karya Febbi Sena Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 14 Oktober 2018