Boneka Sinterklas

Karya . Dikliping tanggal 24 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SETELAH perpisahan diresmikan oleh ketuk palu hakim seminggu yang lalu, Mimisa segera membuat dunia baru untuk Nora. Dunia tanpa gambar lelaki yang pernah hidup di rumah itu. Lalu menggantinya dengan gambar lain: lukisan gunung, burung-burung, pohon-pohon dan ikan-ikan.

Kemarin, Sinta, sahabatnya, datang berkunjung, membawa beberapa pertanyaan dan satu nasihat. Mimisa jawab semuanya dengan keyakinannya.

“Seburuk apakah hubungan kalian sampai harus berpisah?”

“Sangat buruk dan aku tidak bisa merincinya.”

“Kau tahu keputusanmu itu menyakiti banyak hati, termasuk Nora?”

“Aku tahu. Tapi rasa sakit itu tidak abadi. Lambat laun pasti sembuh, dan menjadi kenangan. Untuk Nora, biar aku sendiri yang menyembuhkannya, sampai tuntas.”

Baca juga:  Sungai Wong Agung

“Kau tahu, Misa, seorang istri akan terus terikat oleh hukum suaminya selama suaminya itu hidup. Kau pasti sangat paham ajaran agama kita, kan?”

“Aku paham. Tapi, ajaran agama apa yang tidak bisa dilanggar manusia?”

“Lalu bagaimana dengan hari raya Natal nanti? Siapa yang akan jadi Sinterklas di rumah ini?”

“Aku akan beli boneka Sinterklas yang besar, sebagai ganti laki-laki itu. Dengan sedikit penjelasan, Nora pasti akan memahaminya.Toh dia masih belum paham, apa yang sebenarnya terjadi.”

Baca juga:  Mawar Terakhir

Mimisa sudah membeli boneka Sinterklas itu, dan disembunyikannya di kamar tengah. Ia yakin, Nora pasti bahagia saat melihat boneka itu, meski itu bukan ayahnya.

Saat ini Mimisa sibuk menghias pohon berbentuk kerucut. Nora sedang nonton TV bersama Bik Awa, sang pembantu. Lalu ponsel Mimisa bergetar di dalam saku celananya. Ia turun dari kursi dan melihat apa yang terjadi. Ada nomor tak bernama mengirim pesan lewat WA.

“Apa kita tidak bisa bersatu lagi? Pikirkan anak kita.”

Tanpa pikir panjang, pesan dihapus. Laki-laki yang biasa menyamar jadi Sinterklas waktu hari raya Natal, dihapus. ❑-e

Baca juga:  Musuh Bebuyutan

Asoka, 2018

*) Agus Salim, lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980, tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.


[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 23 Desember 2018