Kembang Api

Karya . Dikliping tanggal 31 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SEMUA orang bahagia. Kembang api disulut di tepian pantai. Mereka semua bersorak di atas pasir putih. Seorang bule hanya memakai celana. Sedang kekasihnya memakai baju setengah dada. Mereka berpesta, laiaknya engkau baru saja diangkat menjadi manager, atau bahkan orang tua pacarmu baru saja merestui hubunganmu. Semua bersorak luar biasa meriah. Tentu rezeki nomplok bagi pedagang. Di akhir tahun seperti ini, cuaca tak bisa ditebak. Hujan kadang-kadang datang pagi-pagi sekali. Wisatawan yang berkunjung, menjadi tak tentu. Padahal saat ini adalaha musim liburan. Permasalahan baru muncul lantaran sulitnya memutar uang setoran. Beruntung, malam penghujung tahun, cuaca begitu mendukung. Entah itu mendukung turis-turis yang sengaja datang dari negeri jauh ke sini, atau mendukung perayaanmu atas kegembiraan atas jabatan baru dan tunjangan ahir tahun, bisa pula dukungan kepada para pedagang di sepanjang pesisir.

Sungguh tak masuk akal. Semua rela demi kembang api. Sepanjang jalan adalah bunyi klakson dan antrean mobil. Tak sedikitpun bisa bergerak. Diperkirakan sepanjang 5 kilometer, mengantre ribuan mobil, bus, dan bahkan truk yang mengangkut logistik. Seperti ular panjang yang tak kau ketahui bagian kepala dan ekornya. Pintu masuk tak dijaga petugas, mereka menyerah. Kewalahan mengatur deretan mobil yang tak bisa masuk ke dalam pantai.

Baca juga:  Meja Makan - Trotoar Depan Gereja - Pelipis Matamu - Orang-orang Desa

Di pinggiran jalan, bocah berjualan minuman dingin. Seorang bapak kulihat menggendong bayinya, sembari berjualan ketupat sayur. Rezeki pula bagi bayi yang mungkin baru lahir beberapa bulan yang lalu ditinggal mati ibunya. Semua bersorak sebagai perayaan kemenangan. Mungkin akan ada kegembiraan yang melebihi percikan kembang api yang disulut tepat jam duabelas nanti. Dari Pak Bupati, Gubernur, tukang sapu, pedagang, anak muda, dan siapapun bersorak bersama-sama. Menghitung mundur angka, dan perayaan dimulai.

Baca juga:  Malam Sabit - Menjadi Bayi

Namun tak diduga. Semua memang bisa saja datang secara tiba-tiba. Nyala kembang api yang begitu meriah, seperti siang yang kulihat begitu terang. Di tengah laut tepatnya, kulihat sesuatu yang teramat besar dan terlihat mengerikan. Menggulung kapal-kapal yang tengah berlayar. Air perlahan naik.

“Lari-lari! Lari-lari !“ teriak orang-orang. Seperti mereka, aku berlari menjauhi pantai. Masing-masing melupakan perayaan. Seperti riuh dentuman kembang api. Orang-orang meletup bersama-sama ke angkasa. ❑ – c

Baca juga:  Senyum Abadi Gadis Bully

23 Desember 2018

*) Faiz Adittian, bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Purwokerto


[1] Disalin dari karya Faiz Adittian 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 30 Desember 2018