Mahar Puisi

Karya . Dikliping tanggal 26 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

KETIKA saya menikahi Bulan, sepucuk puisi saya bacakan. Semua orang yang hadir menitikkan air mata, sedih rupanya. Namun saya keliru, mereka menangis bukan karena puisi saya mengharukan, tetapi sebab saya seorang lelaki yang miskin.

“KUPIKIR penyair itu orang kaya, nyatanya untuk memberikan mahar kepa­da gadis secantik Bulan saja tak punya apa-apa. Hanya pakai puisi. Berapa harga sepotong puisi? Menyedihkan sekali!” Bisik-bisik keluarga Bulan dan tamu undangan yang hadir terdengar juga. Ber­gemuang bagai kumbang ter­perangkap di gendang telinga.

“Malang sekali Bulan,tubuhnya yang elok dihalalkan hanya dengan sebuah puisi.” Kembali suara kasak­ kusuk itu meneror gendang telinga saya yang mulai jebol. Sakit sekali mendengarnya. Namun sesungguh nya, di hati jauh lebih sakit. Pedih.

Bagaimana bisa mereka me­nyebut penghalalan tubuh perem­puan yang dinikahi karena mahar semata? Jika seperti itu, bisa jadi lelaki yang memiliki kekayaan untuk memberi mahar mahal akan dapat membeli tubuh perempuan se­kehendak hatinya? Justru saya sangat menyayangkan nasib perem­puan jika dinilai rendah seperti itu.

Apakah mereka tidak mendengar sebaik-baik perempuan adalah yangmeringankan maharnya sebagai penanda tinggi ilmunya yang memudahkan sunah? Apakah mereka tidak membaca ji­ka dulu Sayyidina Ali menikahi Fa­timah hanya dengan baju Perang Huthamiyah miliknya? Di sinilah betapa mahar bukan persoalan yang harus diberat-beratkan ataupun di­ringan-ringankan. Dan satu hal yang luput dari pandangan yaitu mahar haruslah serida calon pengantin perempuan.

Dengan perasaan berlarat-larat karena dianggap melarat, saya pun melanjutkan ijab kabul dengan perasaan hampa seperti seorang
astronaut tersesat di buIan yang tak berudara. Langkah saya seakan melayang tak berpijak menempati tempat duduk pengantin lelaki yang semula nyaman berubah tak kerasan. Sementara dari tempat duduk pengantin perempuan, Bulan menatap wajah saya yang layu batang pohon wibawa dan gugur daun kehormatannya. Namun senyumnya tak lepas dari bibirnya.

Saya rasa buIan tak mendengar gunjingan orang-orang pada calon suaminya yang baru saja memberi­kan mahar puisi padanya.
Petugas kenaiban mencatat segala identitas dan memeriksa ke­lengkapan administrasi. Dua buah buku nikah sudah dipersiapkan dan dipajang menawan. Seorang lelaki yang entah siapa namanya mendekat, ia mengulurkan tangan­ nya dan memberikan potongan
kertas berisi tulisan Bulan. Saya pun membacanya dengan saksama.

Baca juga:  Berburu Malam Seribu Bulan

Jangan sedih penyairku, aku yang meminta padamu mahar pernikahan ­ku adalah puisi. Lapangkan hatimu. Bangun kembali seperti pohon puisi tumbuh, berbunga, dan berbuah. Aku menunggumu menyelesaikan ibadah­ mu; syahadat puisi dan ijab kabul puisi.

Bulan.

Saya terpana karenanya. Lalu menengok ke arah Bulan. Kepalanya yang ditumbuhi bunga melati yang membentuk ronce kerudung putih tampak mengangguk-angguk. Saya pun membalasnya dengan senyum yang entah mengapa menjadi begitu ringan disunggingkan. Bulan baru saja membesarkan dada penyair yang telah berubah sempit diimpit perasaannya sendiri. Dari sini saya pun melihat matanya berkaca-kaca ditimpa air mata. Semoga saja itu adalah genangan kebahagiaan.

“Apa kau sudah siap, Nak?” ucap ayah Bulan sambil memegang jariku seperti sedang bersalaman.

Saya mengangguk padanya.”Su­dah, Ayah. Saya siap!”

Pada detik itu ijab dan kabul bersahutan mulut tanpa jeda.Ayah Bulan menanyakan kepada saksi. “Sah?”

“Sah,sah!” jawab para saksi tanpa berselisih.

Tanpa isyarat dan janji, saya dan Bulan bersujud syukur. Mengucap­kan rasa terima kasih atas berbagai keberkahan. Tunai sudah, kami telah
diikat oleh tali suci ikatan pernikahan.

Dalam larik-larik hujan. Kami pun melewati malam-malam puisi dalam buIan berlelehan madu. Tak ter­lewat semalam pun Bulan minta dibuatkan puisi dan dibacakan puisi itu sebelum menunaikan ibadah cinta.

Di luar sana, menurut ayah dan ibu Bulan, orang-orang belum reda membicarakan perihal mahar puisi. Saya yakin, mereka hanya melihat tanpa membaca. Sehingga yang tampak adalah kulit di permukaan sementara daging dan bijinya tetap­lah di dalam tanpa tersentuh.

Barangkali, saya menantu ber­untung karena memiliki mertua
yang berpandangan luas. Ketika me­lamar Bulan, ia tak menanyakan cincin emas tanda pengikat sebagai bukti pinangan.

“Apa kau bersungguh-sungguh ingin melamar Bulan, Nak?”

“Saya bersungguh-sungguh ingin menikah. Karenanya Bulan saya melamar.”

“Apa kamu terima lamaran lelaki di depan kita ini, Bulan?”

Baca juga:  Orang-orang yang Terpaksa Pergi

Bulan tak menjawab.la tertunduk malu. lbunya memeluk pundak Bulan dan mengulangi pertanyaan ayahnya.

“Kamu terima lamaran anak muda itu, Bulan?”

Bulan menunduk makin ke dasar. la tak berani mengangkat wajahnya. Malu sekali.

“Baiklah, Ayah sudah tahu jawabannya. Dan hari ini kalian berdua akan Ayah nikahkan.”

Bukan hanya saya yang terkejut sampai mau berdiri dari tempat duduk, bahkan Bulan pun men­dongak ternganga lalu menutup mulutnya karena tak percaya.

“Saya belum menyiapkan maharnya, Ayah.”

“Apa kamu tidak membawa se­suatu untuk dijadikan mahar?”

“Sepertinya saya harus pergi sebentar untuk membelinya.”

Belum sempat ayah Bulan men­jawab, Bulan menyela pelan.
“Bagaimana kalau maharnya puisi?”

“Puisi?” tanyaku tak mengerti.

“lya, puisi. Bagikuitu lebih ber­harga dari emas dan permata.”

Ayah Bulan tampak berkerut tapi tidak lama. “Bagaimana Nak? kamu sudah mendengarnya bukan? Sekarang apa kamu bersedia mem­berikan mahar puisi?”

Saya harus menjawab apa kecuali bersedia. Maka puisi itulah yang saya bacakan sebagai mahar untuk menikahi Bulan. Tak ada ke­sengajaan untuk memudah­ mudahkan mahar karena saya pernah mendengar kalimat, sebaik­ baik lelaki adalah yang memberikan­nya banyak mahar.

Berita saya dan Bulan telah menikah pun sampai ke ayah dan
ibu serta sanak kerabat. Kami berdualah yang menyampaikannya. Mereka tak habis pikir akan maharku berupa puisi.

“Apa sekarang harga puisi sudah mahal?” kata Ayah sambil mem­bolak-balik sebuah koran langganannya yang menyediakan halaman sastra saban minggunya.

Barangkali maksud ayah adalah mempertanyakan masa depan pekerjaanku sebagai penulis puisi pada berbagai surat kabar dan majalah.

“Entahlah, puisi-puisi yang dimuat pun terkadang tak dibayar sekalipun sudah ditagih berkali-kali oleh penulisnya.”

Sedih sebenarnya mengatakan itu apalagidi depan orangtua dan istri. Tapi apa boleh buat, bukankah menjadi penyair pun harus memiliki sifat jujur? Bayangkan jika penyair berdusta, ia akan membohongi redaktur dan pembaca sastra dengan memplagiat karya penulis lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri. Jika itu terjadi, bukan hanya penulisnya yang dimaki dan di-bully bahkan redaktur media dan surat kabar bersangkutan ikut kena getahnya karena meloloskan karya penulis lain –dianggap kurang mengetahui dunia puisi. Padahalsiapa pun dia, pengetahuan se­ seorang memilikibatasan. Tidak harus menjadi redaktur sastra bisa menghafal dan mengetahui seluruh puisi para penyair.

Baca juga:  Dua Malam di Kota Kata-Kata

Ayah yang seorang penyair pun kemudian menceritakan tentang puisi. Bagaimana dulu penyair adalah musuh para nabi. Syair atau puisi dikatakan sihir karena meng­ajak kepada kesesatan, membawa kepentingan, dan permusuhan se­bagaimana penyair Nadhr bin Harits. Akan tetapi, syair atau puisi pun dapat digunakan sebagai alat dakwah sebagaimana penyair Abdullah bin Rawahah yang mem­bantu perjuangan Rasul.

Bulan berkaca-kaca seperti ditenggelamkan ke permukaan danau. Cahayanya timbul tenggelam di antara percakapan kami. la begitu menghayati cerita ayah sepertinya. “Semoga kau adalah Abdullah bin Rawahah di zaman ini. Jangan jadi­kan puisi sebagai ladang menanam pohon uang, tetapi jadikan ia ladang menanam pohon perjuangan.”

Ayah dan saya mengangguk sepakat Bagiku apa yang diucapkan Bulan adalah doa dan harapan untuk menata ja lan kehidupan yang masih panjang dan berliku. Semoga kelak mendapatkan keberuntungan.

Saat ini saya dan Bulan memang sedang saling jatuh cinta dan berjanji
akan terus saling cinta. Mencintai dengan puisi, menyayangi dengan puisi, dan merindu pun dengan puisi. Membangun rumah tangga dengan puisi dan membesarkan anak-anak pun dengan puisi. Karena keluarga penyair akan selalu hidup dengan puisi dan akan mati tanpa puisi.

“Mengagumkan sekali kata-kata­ mu.Apa kamu yang membuatnya?” tanya Bulan padaku.

“lya,bahkan kita pun adalah puisi itu sendiri. Saya puisi dan kamu puisi.”

Bulan di atas langit tersenyum. Rekahnya jatuh dibibir Bulan Merah jambu. Manis sekali malam ini.***


[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 23 Desember 2018