Marni

Karya . Dikliping tanggal 31 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

MARNI mendayung perahu kecilnya lebih jauh. Air kembang berwadah mangkuk perlahan ia percikkan pada keluasan samudra. Warna air laut tampak jernih. Cahaya rembulan malam itu sempurna membuat air laut berwarna keemasan. Segalanya tampak berkilau. Pernak-pernik beberapa lampu perahu terlihat seperti kawanan kunang-kunang di tepian pantai. Tak ada ombak. Laut begitu tenang. Desir angin mengalun lirih.

MARNI terus mendayung perahu kecilnya ke tengah samudra luas itu lebih jauh. Perahu kecil yang hanya cukup menampung dua orang itu ia kayuh sendiri.

Tak lama kemudian, kira-kira dari jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai, ia berhenti. Ada rasa takut yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Bukan karena tengah malam, tapi ada hal lain yang membuatnya harus berdiam dan menyelam kembali ke dalam ingatannya. Dari atas perahu kecil yang ditungganginya, perempuan itu menatap jauh keluasan samudra. Tak ada satu pun sesuatu yang bisa ia tangkap dari pandangannnya, selain kekosongan. Sesekali sorot matanya menabrak sebuah kapal besar yang mendarat di kejauhan sana. Tapi bagi Marni, itu tetap sebuah kekosongan. Kapal pengangkut barang­ barang. Begitu yang ia ketahui. Entah sudah berapa malam kapal besar itu mendarat di kejauhan sana. Sebagai perempuan yang tak pernah bepergian lintas pulau, ia tidak begi­tu tahu tentang hal itu.

Marni hanya mendayung dan memutar­ mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai. la tidak tahu ke arah mana lagi perahu itu akan ia kayuh. Sudah genap empat puluh hari kematian suaminya, Marto. Namun, sampai saat ini mayatnya tidak juga ditemukan.

Berbagai pencarian pun sudah dilakukan, tapi tidak juga membuahkan hasil. Marni tidak ingin bila dirinya juga ikut tenggelam di tengah keluasan samudra itu jika ia terus mendayung perahu kecilnya lebih jauh ke tengah. Laut ini hanya akan melenyapkan nayawaku. Gumamnya, lirih.
Marni kembali memercikkan air kembang berwadah mangkuk itu dari atas perahu ke­cilnya. Langit bersih, cahaya bulan masih sempurna menerangi air laut dengan warna keemasan.

Baca juga:  Sepasang Kekasih yang Menyukai Senja

“Bila laut sepenuhnya kuburmu, haruskah aku mengarungi samudra luas ini lebih jauh, sementara aku tidak pernah tahu, di laut mana engkau tiada.”

Ada nada sedih saat mulutnya mengucap­kan kalimat itu. Air kembang bercampur doa terus ia percikkan tanpa henti. Perem­puan itu begitu benci terhadap laut. Bahkan, jauh sebelum suaminya mati tenggelam, sangat jarang Marni pergi ke laut walaupun jarak rumahnya dengan laut berdekatan. Ia lebih memilih berdiam di rumahnya. Semen­jak itu pula, Marni tidak lagi menekuni pekerjaannya sebagai penjemur ikan di tepi pantai, apalagi sampai berperahu sendirian seperti yang ia laukan malam itu.

Baginya, laut tidak lebih dari sesosok maut. Dulu, Bapaknya seorang pelaut besar juga mengalami hal yang sama, tenggelam dan meninggal di tengah keluasan samudra. Setelah kematian Bapaknya, Marni merasa trauma hidup di kampungnya sendiri, kampung pesisir, pulau garam. Ia selalu membu­juk suaminya untuk pergi ke Jakarta.

Malam itu, sambil mendayung dan memutar-mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meterjauhnya dari tepian pantai, Marni berkeinginan untuk me­ngakhiri kehidupannya di pulau garam, pu­lau yang dipercaya sebagai penghasil garam terbesar di kampungnya. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari laut ini. Gumamnya lirih. la akan pergi ke Jakarta untuk memulai kehidupan barunya sebagai penjaga toko kelontong. la tidak bisa lagi membendung kabar yang terus menerus menghujani telinganya bahwa hidup di bumi Jakarta bisa mengubah perekonomian orang-orang yang senasib dengan dirinya. Di Jakarta kita bisa hidup mewah, bisa membangun rumah, beli mobil, tanpa bekerja keras. Begitu kabar yang selalu ia dengar.

Baca juga:  lnfus

Ketika suaminya hidup, Marni selalu men­gusulkan hal itu. Tapi Marto, suaminya tidak pernah setuju. Marto merupakan lelaki yang tangguh, ia tidak ingin meninggalkan tanah moyangnya sekalipun harus hidup terlunta­ lunta.

Di tengah kehidupan kampungnya yang semakin sepi oleh penduduk, Marto tidak setuju jika dirinya juga ikut dalam peran­tauan itu. Baginya, hidup di Jakarta belum tentu menjamin kehidupannya menjadi lebih baik. Sebagai biaya ongkos, tentu ia harus menjual sebagian lahannya ke pihak asing. ltulah yang dilakukan kebanyakan orang di kampungnya. Dalam kondisi sosial seperti itu, pihak-pihak asing pun banyak yang datang untuk membeli lahan-lahan mereka dengan harga yang sangat mahal.

Marto tidak ingin hal itu terjadi pada keluarganya. la tidak ingin jika kampungnya harus ditanami bangunan-bangunan beton bertingkat tinggi. Sebagai orang yang hidup di kampung pesisir, pulau garam, Marto ingin tetap mempertahankan pendiriannya sebagai seorang pelaut. Ia ingin membuk­tikan kepada penduduk kampungnya bahwa bukan karena pergi ke Jakarta kehidupan seseorang bisa lebih baik dan lebih mewah

Namun, usia Marto tidak sepanjang harapannya. Di tengah musim hujan saat ia sedang berlayar, tiba-tiba badai besar me­lenyapkan semuanya. Marto tenggelam bersama perahunya yang karam. Hingga sampai usia kematiannya mencapai empat puluh hari,mayatnya masih tidak juga dite­ mukan. Kepingan-kepingan perahunya yang hancur,semakin memperkuat dugaan Marni bahwa suaminya benar-benar tiada.

“Jika saja kau tidak keras kepala, mungkin kita masih bisa berpelukan. Seperti mereka yang sudah membangun rumah baru di tempat jauh, punya mobil, hidup mewah, tidak seperti kita yang hidup terlunta-lunta. Laut ini sudah tidak menjanjikan apa-apa la­gi. Tak ada apa pun yang dapat kita peroleh darinya, selain kesedihan yang sepenuhnya Tuhan peruntukkan kepadaku. Namun, kau masih tetap dengan pendirianmu. Kau
masih menaruh harapan besar pada laut ini.”

Sambil mengucapkan kalimat itu, Marni terus memercikkan air kembang bercampur doa ke tengah keluasan samudra. Seakan malam itu benar-banar malam terakhir baginya melakuan ziarah. Sebagai seorang janda yang ditinggal mati suaminya, Marni tidak punya pilihan lain, selain tetap pergi ke Jakarta sebagai penjaga toko kelontong. la tidak punya siapa-siapa lagi. lbunya juga meninggal akibat penyakit sesak napasnya yang tak kunjung sembuh. Keinginannya untuk pergi ke Jakarta sudah bulat. la telah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Sebagai ongkos, ia sudah menjual sebagian lahannya kepada pihak asing.

Baca juga:  Cerita Septo

Marni tidak lagi peduli terhadap perkataan suaminya, sekalipun perkataan itu masih melekat dalam hatinya. Saat Mar­to masih hidup, beberapa kali mereka selalu didatangi pihak asing dan dibujuk agar men­jual tanah miliknya. Namun, Marto selalu menolak. la juga berpesan pada Marni agar sewaktu-waktu, jangan sekali-kalimenyer­ ahkan tanah itu pada siapa pun, dan apa pun alasannya. Karena menjual tanah moyang sama halnya dengan menjual harga diri. Begitu ucap Marto.Tapi, Marni tidak lagi mementingkan perkataan itu. Kehidupan di kampungnya sudah membuat ia lupa segalanya. Apalagi tentang laut yang baginya hanya membawa penderitaan.

**

REMBULAN perlahan buram. Warna langit akan segera berganti. Sayup-sayup kokok ayam pun terdengar bersahut­ sahutan. Namun, Marni tetap saja di tengah laut itu. la tetap mendayung dan memutar­ mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai. la ingin menghabiskan waktunya di tengah laut itu sampai pagi, sebelum akhirnya ia be­nar-benar pergi memulai kehidupan barun­ya di bumi Jakarta.***


[1] Disalin dari karya Saelojung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 30 Desember 2018