Warung Yu Supi

Karya . Dikliping tanggal 17 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

MATANYA yang sudah sedikit kabur itu menatap warung pecelnya untuk terakhir kali. Kerut di wajahnya semakin ketara. Esok atau lusa, warung itu akan dirobohkan. Lahan tempatnya berjualan akan dijadikan lahan parkir. Baginya, mungkin ini jalan terbaik. Sudah tiga bulan semenjak mall yang memunggungi warungnya itu beroperasi, warungnya menjadi tak seramai dulu. Warung pecel yang kerap semarak saban hari, setelahnya lebih kerap sepi. Sisa sayuran rebus itu selalu tak habis, dengan berat hati Yu Supi selalu membuangnya. Memakai sisa sayuran basi akan lebih membuat warungnya bertambah sepi.

Warung itu telah berdiri sekian puluh tahun lalu. Dulu, Yu Supi hanya mendirikan tenda sederhana untuk menggelar dagangan pecelnya. Tapi seiring berjalannya waktu, pembeli silih berganti datang ke warung sederhananya. Pecel gendar miliknya semakin dikenal banyak orang. Sambal kacang yang selalu menggugah selera, sayuran rebus segar yang selalu baru serta gendar yang gurih dan enak itu menjadi kesukaan banyak orang. Menuju siang, biasanya gendar pecel milik Yu Supi sudah tandas, menyisakan pembeli-pembeli yang kecewa lantaran terlambat datang untuk menikmati sepincuk gendar pecel miliknya.

Baca juga:  Hidangan di Meja Makan

“Aku sudah mengikhlaskan warung pecelku ini dilebur menjadi lahan parkir mall itu, Sam. Bagiku rezeki itu datangnya dari mana saja,” ujar Yu Supi kepada Samadi, tukang becak yang membantunya mengangkut barang-barang dari warung ke rumahnya.

“Tapi sebenarnya emaneman ya, Yu. Banyak yang suka dengan gendar pecel njenengan soalnya,” sahut Samadi sembari mengangkat cobek besar tempat Yu Supi menggiling kacang tanah dan bumbu pecel ke atas becak miliknya.

Warung Yu Supi

“Itu dulu, Sam. Sekarang lain lagi. Sudah dua bulan ini aku lebih kerap merugi. Daganganku kerap tak habis meski kutunggu sampai sore hari. Entah, rezeki orang tak ada yang tahu. Tapi kata orang, semenjak ada toko-toko makanan di mall itu, daganganku menjadi kurang laku. Kudengar mereka juga menjual gendar pecel seperti daganganku. Harga sama tapi dikemas lebih bersih dan bagus. Entahlah aku sendiri tak tahu, benar atau tidak kabar itu.” Yu Supi menghela napas pendek.

Baca juga:  Surau

Yu Supi tak pernah tahu, apakah benar berita yang dia terima dari beberapa orang yang sempat jajan ke warungnya. Tapi semenjak mall itu berdiri, anak-anak muda dari kampus seberang jalan itu tak pernah lagi berkunjung ke warungnya. Hanya beberapa gelintir saja yang masih kerap terlihat datang, namun beberapa waktu belakangan pun ikut menghilang. Yu Supi paham benar, semata-mata kesalahan itu tak hanya lahir dari mall yang kini berdiri mentereng di depan matanya, melainkan jalannya rezeki dari Gusti Allah juga turut andil. Di atas becak Samadi yang mengantarnya pulang ke rumah, kini dia sudah ikhlas, sudah tega warungnya akan dilebur menjadi lahan parkir. Gusti Allah tidak tidur, dia yakin rezeki akan datang meski tak lagi terlahir dari warungnya yang siap dibongkar. ❑ – g

Baca juga:  Seorang Tamu Istimewa

Artie Ahmad, lahir di Salatiga, 21 November 1994. Novel terbarunya, ‘Sunyi di Dada Sumirah’ Penerbit Buku Mojok, Agustus 2018.


[1] Disalin dari karya Artie Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 16 Desember 2018