Dari Ciuman ke Tiang Gantungan

Karya . Dikliping tanggal 14 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

CIUMAN? Seperti tiba-tiba dilamar perjaka tampan tatkala kata itu dia sampaikan. Mengapa dia menawarkan: ciuman? Sungguh, aku seperti mendadak pusing. Dan angan-anganku menjadi sedemikian liar.

Setahun lalu aku mencoba menghubungi melalui akun medsos-nya. Itu pun atas saran seorang kawan yang di komunitas kami dipandang sebagai senior. Bukan cuma dia sebenarnya yang direkomendasikan. Ada beberapa nama. Dan sudah kuhubungi semuanya. Tetapi, komunikasi kami selalu tidak lancar. Ketika aku meminta saran mengenai buku yang sebaiknya kubaca, cepat sekali kuterima daftarnya.

Ketika kusodorkan cerita-cerita pendekku, beberapa di antaranya sudah dimuat media cetak lokal, jawaban yang kuterima malah lebih banyak pujian. Itu pun dalam kalimat-kalimat pendek. Seperti gaya seorang Tino Sidin atas lukisan anak-anak sekolahan. Padahal, aku butuh dikritik. Aku ingin tahu, mengapa cerita-ceritaku hanya mandek di media cetak lokal, tak sepotong pun—dari puluhan yang pernah kukirimkan—berhasil menembus media cetak berskala nasional. Oh, maksud saya, media cetak yang terbit dari tanah air!

Ah, mungkin mereka kelewat sibuk untuk melayani anak bawang yang terlalu banyak meminta sepertiku. Suatu kali, kepada salah seorang di antara mereka kulancarkan protes, dan kudapat jawaban ini, “Banyak yang sepertimu kemudian justru mandek, tulisan-tulisannya seperti mampet setelah dikritik. Atau, kalau tidak demikian, malahan memebeberkan terlalu banyak alasan mengapa seharusnya memang demikian cerita itu dipaparkan.”

Semoga seperti yang kubayangkan, jawaban itu akan membuka peluang untuk terjadinya dialog jarak jauh yang lebih bernas di antara kami. Lalu, aku kembali menyodorkan karya terbaruku dengan permintaan, “Kritiklah, tanpa harus khawatir aku akan mandeg. Tulisan-tulisanku semakin laris di sini, beberapa media cetak malahan memesannya padaku. Itu membuat kantongku semakin sehat, dan bahkan kini tidak perlu kukeruk saldo di buku tabungan untuk mengirim dana bantuan setiap bulan bagi ibu dan adik-adikku di tanah air.” Sengaja kuberi alasan panjang-lebar agar dia benar-benar tidak khawatir aku akan patah hanya karena menerima kritik yang terlalu pedas, atau bahkan pahit sekalipun.

Hanya selang beberpa hari, kuterima surat elektronik darinya. Sangat cekak pengantarnya, “Selamat berjuang, ini kritik atas ceritamu seperti yang kauminta (terlampir).”

Lampirannya berupa tabel dengan nomor urut mengenai kata yang salah dan bagaimana seharusnya, kesalahan penulisan ejaan, bagianbagian yang seharusnya dipotong atau dihapus, dan bagian-bagian yang seharusnya justru dikembangkan. Benar-benar situasi yang bagus. Inilah yang kutunggu-tunggu.

Lalu kukirim balasan, ucapan terima kasih, dan coba meminta sarannya, tema apa atau syukur jika dapat diberi judul yang menarik untuk sebuah cerpen, yang, “Jangan katakan bagaimana aku mesti mengembangkannya. Cukup beri aku tema, atau judulnya saja.”

“Ciuman.”

“Ciuman yang mana?”

“Yang paling menarik untuk kauceritakan.”

Baca juga:  Tanda Tanya dari Pelosok Desa

Sialan! Ini orang mau memberikan bimbingan menulis atau sedang memancing, setelah beberapa pekan belakangan kami semakin sering terlibat percakapan daring? Sudah sampai padanya keterangan bahwa hampir lima tahun aku menjanda. Dan ia laki-laki yang masih sempurna.

Ciuman? Menciumi bayi yang kujaga, itu terlalu biasa. Atau ciumanku untuk ibu tercinta ketika aku datang atau hendak pergi kembali mengais rezeki di negeri orang, apanya yang mau diceritakan? Ciuman laki-perempuan dewasa, itu hal yang sedang ingin kulupakan, dan malahan diminta untuk menceritakannya? Baiklah, ini sekadar cerita, saya boleh dan malahan harus mengkhayalkannya. Tetapi, bagaimana aku bisa berkhayal tanpa melibatkan diriku sendiri?

Aku belum mengatakan padanya, betapa besar obsesiku untuk menjadi seorang penulis, menjadi pengarang, perempuan, yang diperhitungkan. Itu sudah kukatakan kepada seorang jurnalis di Negeri Beton ini dalam wawancara hampir setengah jam untuk program tayangan televisi mengenai para pekerja migran yang dianggap berprestasi. Saat wawancara, di depan kamera, kutunjukkan pula beberapa cerpen dan tulisan opiniku yang dimuat beberapa media berbahasa Indonesia yang dicetak dan diedarkan khusus di kalangan kami, para pekerja migran asal Indonesia. Aku sudah mengumumkan kepada dunia bahwa aku ingin menjadi pengarang terkenal. Ahai. Dan itulah yang mendorongku untuk terus belajar, dan menggali pengetahuan dari apa dan siapa saja. Maka, dalam hal ini, bila ada senior yang mau mengajariku bagaimana mengarang itu sebenarnya, aku berharap ia tulus memang mau mengajariku.

Di sisi lain, andai pun dia punya maksud-maksud tertentu, memancing-mancing untuk menggugah syahwat perempuanku—yang sesungguhnya tak pernah tidur ini— apalah dayaku? Pasrah? Itu akan membuatku lengah. Itu akan membuatku terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam pada detik-detik, mungkin, ketika aku sudah berada di jalur yang benar dan semakin dekat dengan apa yang sejak lama kubayangkan sebagai keberhasilan.

Jika sampai lengah, aku pasti akan menanggung kerugian yang amat besar sebab akan semakin lama atau bahkan bisa tak sampai di tujuan. Kerugian yang nyata dan tak akan pernah terbayar adalah, ibu pasti akan sangat terpukul. Di usianya yang makin renta, kini, ia tak akan mampu menerima pukulan seberat itu. Hanya gara-gara sebuah ciuman? Ya, walau hanya sebuah ciuman. Ibu sangat keras soal moral asmara. Setiap ada peluang, ketika ada berita kekerasan seksual di televisi misalnya, selalu meluncur peringatan kerasnya. Katanya, berciuman itu bagaikan berdiri di puncak karang atau di bibir jurang ketika angin bertiup kencang. Lalu, ini yang sering dikatakannya dan mengkristal di relung ingatanku, “Jika kalian sampai hamil di luar nikah, penyelesaian terbaik bagiku ialah gantung diri!” Ketika adikku yang perempuan juga menimpali, “Jika adik yang melakukannya, dan perempuannya sampai hamil?” jawab Ibu, “Ia bukan anakku lagi. Haram baginya menginjakkan kaki ke rumah ini.” Padahal Dion, si bungsu itu, dialah anak laki-laki satu-satunya dan satu-satunya laki-laki di dalam keluarga kami sepeninggal ayah.

Baca juga:  Baruna

Aku tahu, itu bukan peringatan biasa. Itu bukan ancaman kosong. Ibu mengatakan begitu, setelah menunjukkan betapa ia lebih memilih beban hidup yang teramat berat, berpuluh tahun, sendirian. Baru beberapa tahun memboyong kami bertransmigrasi, ayah meninggal. Ibu memilih jadi transmigran gagal, kembali memboyong kami ke kampung halaman. Sebagai perempuan menjelang empat puluhan, tentu masih sangat mungkin bagi ibu untuk mendapatkan suami baru. Tetapi, ibu memilih tetap menjadi orangtua tunggal bagi kami. Bahkan, setelah berkali-kali kami mendorongnya untuk menikah lagi agar tulang punggung keluarga menjadi lebih kokoh. Setelah kami desak, ternyata ini alasan paling pentingnya: ibu mengkhawatirkan anak-anak perempuannya, kami berdua. Bayangkanlah, ketika lakilaki yang bukan suamiku hendak menciumku, aku sudah mulai melihat kelebat bayang-bayang ibu membawa tali menuju tiang gantungan!

Ini benar-benar tugas yang sangat berat, membeber cerita tentang sesuatu yang ingin kulupakan: ciuman. Sudah hampir sejam aku bengong di dalam kamar, di depan komputer. Lalu berkelebat peristiwa ini, yang terjadi kira-kira tiga tahun lalu:

Aku sedang suntuk membaca sebuah novel ketika ruang tamu mendadak berisik. Situasi semakin tidak baik ketika yang tadi sekadar berisik melonjak jadi kegaduhan. Ibu marah besar kepada Dion.

“Apa yang kamu lakukan, Nak! Sungguh kamu telah mempermalukan keluarga kita. Ayah gadis itu menemui ibu, kemarin. Dia melihatmu mencium gadisnya di teras. Itu benar, bukan?” ucap ibu keras dan berat menahan emosi.

“Bukan begitu, Bu.”

“Hah, bukan begitu, bagaimana? Apakah ayah gadis itu melihat hantu?”

“Bukan aku menciumnya, yang lebih tepat adalah… kami berciuman, karena kami saling mencintai,” Dion, adikku itu berkelit, membela diri.

“Ibu tidak mau dengar alasan apa pun. Perbuatanmu tetap saja memalukan dan melanggar tatakarma,” ibu semakin emosi.

Aku pun memutuskan keluar kamar untuk berupaya melerai mereka.

“Baiklah, jika tertangkap berciuman memang salah, besok-besok lebih baik tertangkap tawuran saja,” ucap Dion sambil berlalu.

“Dion, keterlaluan kamu,” suara ibu meninggi.

Aku mendekatinya, dan menuntunnya untuk duduk. “Sudahlah, Ibu , tidak perlu emosi begini,” ucapku mencoba meredakan emosinya.

“Manusia memang lebih menghargai kekerasan, seorang pria merasa lebih bangga jadi petarung daripada seorang pecinta. Aku menyukainya, mencintainya dan menciumnya sebagai ungkapan sukaku dan ibu marah besar. Ya, Tuhan, sebenarnya aku hidup di zaman apa?” Dion mengoceh sambil mengambil jaketnya lalu melangkah pergi. Nafas ibu kian sesak dipenuhi emosi, dan aku kalangkabut menenangkannya.

Baca juga:  Fragmen dalam Sebuah Cerita Bergambar

Ketika ibu telah terlelap, aku telepon Dion untuk pulang dan meminta maaf. Bagaimanapun dia tidak boleh membuat ibu cemas. Aku masuk ke kamar dan merenungkan pemberontakan adikku yang telah beranjak dewasa itu. Benar, mereka selalu mempersalahkan etika berciuman namun tidak keberatan dengan adegan kekerasan.

Kuceritakan kemarahan ibu itu melalui percakapan telepon kemarin, kepada pengarang yang memintaku berkisah tentang ciuman. Sepertinya ia antusias mendengarnya. “Nah, itu bisa jadi bagian dalam cerpen yang akan kautulis, mengenai ciuman itu!” usulnya.

“Apa yang menarik dari seorang ibu yang terlalu ketat dalam urusan asmara seperti itu?”

“Justru di situlah, menariknya! Itu nyata, tetapi sekaligus fiktif, di zaman ketika kebanyakan ibu akan dengan riang memotret anak dan calon menantunya berciuman di tempat umum, sekarang ini.”

Sesampai di rumah, sebelum memasak kusempatkan membukai halaman medsos-nya. Kubacai pernyataan-pernyataannya, penggalanpenggalan puisi, opini, dan cerpennya. Tentu, tak terlewatkan pula foto-fotonya, yang sendirian maupun berbarengan dengan orang-orang dekatnya. Halaman-halaman itu sudah sekian kali kutelusuri ulang, dan tak juga terasa tanda-tanda aku akan segera bosan! Mula-mula aku hanya ingin mengetahui bagaimana ia merangkai kata, menyusun kalimat. Tetapi, kemudian aku menemukan sebuah dunia yang unik. Ia terkesan dingin, tetapi sekaligus bersahabat. Ia hampir tidak pernah mengatakan sesuatu tentang dirinya sebagaimana dilakukan kebanyakan pemilik akun medsos. Tetapi, dengan begitu justru sangat terasa ia meneguhkan kehadirannya.

Tiba-tiba aku mengangankan kedatangannya di Negeri Beton. Segera, sebelum tahun berganti. Apa pun alasannya, tugas mendadak dari perusahaan tempatnya bekerja, misalnya. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan di Star Ferry, naik kereta ke The Peak, dan menyusuri kawasan wisata malam di Wan Chai sebelum menyaksikan pesta kembang api. Tetapi, yang paling penting adalah ini: membiarkan sebuah ciuman terjadi secara seksama persis pada menit-detik pergantian tahun. Jika ia tak berinsiatif, akulah yang hendak memulainya! Lalu, dengan berat hati akan kulepaskan ia kembali terbang ke tanah air dengan belasan cerita pendek dan berpuluh puisi di dalam kepalanya. Sepertinya hanya itu jalan terbaik bagiku untuk melahirkan sebuah cerita pendek mengenai ciuman. Dan aku tak ingin membayangkan ibu membawa talinya sendiri menuju tiang gantungan. (*)

3 Januari 2019

Bonari Nabonenar. Penulis cerita dan puisi dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kini sedang mempersiapkan penerbitan buku puisinya dengan judul “Pelikipu”.


[1] Disalin dari karya Bonari Nabonenar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 13 Januari 2019