Dunia Sean

Karya . Dikliping tanggal 15 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

“Ignas melamarku lagi, Din, apa yang harus kukatakan?” Suaranya dari ujung telepon terdengar galau, mungkin memang begitu keadaannya. Kubayangkan ia tengah menggigit bibir untuk menekan kegalauan, membuatku terkekeh.

“Terima saja, kalian sudah lama kencan, mau ngapain lagi? Kamu nggak ada rencana kumpul kebo seumur hidup, kan?” Candaku.

“Gila, tentu saja tidak, Dinar!” Kudengar tawanya pecah “kami saling mencintai,” lanjutnya Entah berapa ratus kali ia meyakinkanku dengan kalimat terakhir, dengan tujuan apa pula?

Turut bahagia jika benar lelaki yang menurut cerita Sean berkebangsaan Jepang itu serius menjalin hubungan dengannya. Betapa tidak? Sean perempuan dewasa yang sudah seharusnya enjoy dengan cinta. Hmm, ya cinta…

Sambungan telepon kami terputus dengan gurau kecil. Kuhela napas, lalu mencecap kopi panas dalam cangkir antik. Sebuah cangkir istimewa buatan lelaki itu, yang begitu egois. Dia pergi tanpa sedikit pun pesan, apalagi janji untuk kembali.

Aku betul-betul kecewa. Tapi, apalah guna luka dan kecewa yang ditinggalkannya, ia mangkir tak kan pernah hadir.

Persahabatan ini terasa berseri bagai hadirnya musim semi. Cerita lamaran Ignas membawaku menempuh perjalanan dari Malang menuju kota batik, Pekalongan. Keluarga Sean pindah dari Malang setelah tragedi kecelakaan nyaris merenggut nyawa putri tunggal mereka. Aku tak banyak mengingat hal ihwal kepindahan itu. Bahagia, hanya itu yang kurasakan sepanjang perjalanan.

Percakapan di media WhatsApp terjalin lancar dengan Sean Andara Lee, perempuan keturunan Tiongkok yang tidak banyak teman semasa SMA meski kecantikannya cukup populer saat itu. Visualisasi masa berseragam abu-abu putih melintasi benak, memori, yang kami lalui bersama.

Tapi, oh! Entah kenapa tiba-tiba kepalaku nyeri luar biasa ketika serangkaian masa lalu melintas, hingga beberapa hal lenyap dari ingatan, tak bersisa!

Sepasang kaki bersepatu kets putih menjejak halaman rumah pada alamat yang diberikan Sean, tepat pukul sembilan malam.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” Perempuan paruh baya menyapa ramah.

“Halo, saya Dinar, teman lama Sean.” Kujabat tangannya seraya senyum.

Tak berapa lama kemudian, ia membawaku masuk rumah untuk bertemu tuannya.

“Istirahatlah dulu, Mbak. Besok baru bicara dengan nona.” Ia serahkan kunci kamar ke tanganku kemudian berlalu. Aku mencoba menahannya.

“Tunggu, Bu. Katakan sesuatu tentang Sean, kenapa ia tidak menemuiku langsung? Padahal ia yang mengundangku kemari,”

“Sampean capek setelah perjalanan jauh, rehatlah sejenak agar esok hari segar saat bertemu nona, permisi.” Ia meninggalkanku mematung keheranan dan hanya bisa menatap punggungnya menjauh.

Malam merambat lamban. Aku gelisah, berulang kali teleponku ditolak Sean. Keanehan semakin terasa, seakan ada misteri di balik kemegahan rumah ini.

“Kamu di mana? Kalau nggak niat mengundangku di pertunanganmu, please jangan main petak umpet, nggak lucu tahu!” Ucapku jengkel melalui voice audio WhatsApp.

Kututup pintu kamar dan mencari pembantu paruh baya yang tadi menyambutku, tapi tak nampak siapa pun. Tiba-tiba terdengar kekeh tawa seorang perempuan. Kupertajam pendengaran, memastikan ada orang di rumah ini yang bisa kuajak bicara. Suara kekeh tawa itu berasal dari lantai dua. Sebelum memutuskan menaiki tangga spiral setengah memutar yang mencapai lantai kedua, kupastikan keadaan aman, menoleh kiri kanan.

Baca juga:  Hujan Batu di Samalanga

Tak seorang pun bakal memergoki kelancanganku. Perlahan kakiku menjejak tangga demi tangga semakin mendekati asal suara, semakin dekat, bukan hanya kekeh tawa perempuan tapi dialog tak jelas dengan suara sesekali tinggi rendah.

Semakin dekat, dadaku semakin berdebar kencang. Suara itu tak asing bagiku, aku yakin yang sedang kutuju adalah Sean. Sampai di pangkal tangga, kudapati beberapa pintu kamar. Sial. suara itu berhenti.

Aku kembali mematung. Menelan ludah, tapi yakin bahwa di salah satu kamar itulah suara Sean berasal. Kakiku melangkah berjinjit, agar tak menimbulkan suara menuju sebuah kamar yang kuduga Sean berada. Sampai berdiri tepat di depan pintu, aku berhenti, gemetar jemari menyentuh hendel.

Kembali dialog tak jelas sayup terdengar, debar jantung makin kencang. Kucoba menekan hendel, tak kusangka, pintu terkuak tanpa dikunci.

Hampir saja aku terlonjak lari ketakutan mendapati sosok bergaun putih dengan rambut terjurai panjang sampai menyentuh lantai, duduk di sofa bulat membelakangi arah pintu. Debarku makin tak beraturan, itukah Sean? Perlahan aku menyusup masuk dan kembali menutup pintu. Aku siap mengambil risiko, andai orang itu bukan Sean.

“Ah… Ignas! Apa hebatnya dia? Kau dan aku sudah dijodohkan, kita ditakdirkan bersama selamanya. Kau tidak amnesia, kan? Jangan biarkan nyamuk nakal menyedot darahmu! Kau pikir apa yang dicari anak miskin dari keluarga berada? Tak lebih uang, Ignas… uang! Lihat, betapa rendahnya dia!” Penampakan perempuan itu berkata-kata. Sendiri!

Aku terperanjat, keningku berkerut, kutelan ludah susah payah. Sesuatu yang gelap menyergap pikiran, entah apa. Lorong waktu menyeret ke suatu masa seperti pernah kudengar ucapan itu, kapan? Entah! Kupastikan ia Sean, ya sahabat semasa SMA. Oh, apa yang terjadi padamu, Sean?

Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada sebuah foto dengan frame kayu. Seketika dadaku nyeri bukan main! Sampai aku harus menekannya demi menahan perasaan yang tiba-tiba menggelora. Wajah itu begitu akrab, dia lelaki yang selalu hadir di mimpi-mimpiku, lelaki yang membuatkanku cangkir kopi, yang meninggalkanku tanpa alasan! Slide-slide me mori masa sekolah ha dir silih berganti berke indan di kepala.

Aku, Sean dan le laki itu berangkulan masih mengenakan seragam. Karaoke berjingkarakan dalam mobil. Camping. Api unggun. Lelaki itu memainkan gitar.

Malam. Sesuatu men desis tepat di sampingku! Ular! Mematuk spontan tanpa sempat kumenghindar.

Lelaki itu menyedot darah dari luka gigitan ular di lenganku. Mengikatkan syal miliknya, demi mencegah bisa ular yang tersisa menyebar dalam tubuh.

Oh… kepalaku sakit luar biasa! Bayangan itu melintas lagi.

Lelaki itu merangkul bahuku. Mengecup keningku. Mencium hangat.

Wajah marah Sean. Sebuah tamparan keras di mukaku!

Pertengkaran mulut lelaki itu dengan Sean. Pertengkaran kami bertiga.

Kepala ini serasa mau meledak! Berdenyut-denyut. Nyeri…

Darah berceceran di aspal. Mayat-mayat. Ambulans. Jalan raya. Kerumunan.

Bus terbalik. Kepalaku berdarah. Aku mencari seseorang…

Sean terkapar. Lelaki itu tergolek berlumur darah… Hidupkah ia? Masih hidupkah ia?

“Tidaaaak!” Jeritku tak kuasa menerima gelombang kejadian masa silam yang begitu ngeri! Tubuhku kehilangan kekuatan, sendi-sendi melemah dengan sendirinya, luruh, terduduk tanpa sadar.

Baca juga:  Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang

Kupegang erat kepalaku yang terasa sakit, sakit!

“Kau!” Perempuan itu menolehku terenyak, rupanya jeritanku mengejutkannya. Ia mendekatiku dengan langkah gemulai menyerupai hantu, “Darling… Dinar, kau menemukanku? Kupikir kau akan pulang.” Dia berkata dengan suara yang ditekan aneh, seperti suara boneka, lalu terkekeh.

Aku terpana, berkecamuk perasaan meremas jantungku… Sean… apa yang terjadi? Apa yang tersembunyi dari masa lalu kita?

“Kenapa begini, Sean? Ada apa sebenarnya?!”

“Oh, tunggu sebentar, ya” Ia meninggalkanku, tak sampai lima menit kemudian ia datang bersama sebuah manequin seukuran tubuh pria dewasa. Mataku menatap manequin yang di bawanya ke hadapanku. Wajah itu…

Manequin berwajah lelaki penyuka seni tembikar yang kukenal! Lelaki dalam foto itu, lelaki yang sama hadir dalam kenangan dan mimpiku! Yang wajahnya lekat tapi namanya tak sanggup kuingat.

“Sayang, beritahu dia, kita sudah memaafkannya. Dia datang untuk merestui pertunangan kita,” Sean berkata dengan mesra pada boneka itu! ‘Sayang?’

Pedih… tak sanggup kuhentikan isakku. Tuhan…

“Bagaimana kau lupa apa yang terjadi, Dinar?” Kepalanya miring dengan raut misterius, sekejap kemudian air mukanya berubah sinis.

“Kau jahat!” Ia menghujat. “Kau bukan sahabat baikku! Kau iblis betina!” Serunya mulai kalap.

Katakan terus, agar aku ingat apa yang terjadi…

“Kuberikan semuanya padamu, semuanya… bahkan aku mengalah dalam setiap olimpiade sekolah, agar kau maju. Tapi tidak, tidak perasaanku, Dinar, tidak!”

Agresif tangannya mencengkeram rahangku, memaksa menatap matanya. Garang. Kudapati kemarahan di sana, juga dendam yang dalam, sejumput kesepian berkilat samar, jika aku tak salah duga.

Plakk!Plakk! Tamparan keras menghajar pipiku dua kali! Panas.

“Apa salahku, padamu? Apa yang sudah kulakukan? Apa hubungannya dengan lelaki itu?” Gigilku, pedih.

Ia menatapku aneh, lalu menyeringai.

“Kau tidak berpura-pura, bukan? Bagaimana mungkin kau lupa padahal kau penyebab semua yang terjadi?! Apa Tuhan sudah menghukum dengan mencabut ingatan mu?! Hahaha, pantas saja kau terlihat tolol! Bahkan kau tidak tergetar sedikit pun, saat kusebut nama Ignas yang mencintaiku, tapi berhasil kau rampas!”

Oh… kepalaku sakit… nyeri hati ini mendengarnya, benarkah aku sejahat itu? “Aku sudah memaafkanmu, Ignas juga…” Suaranya kembali di tekan seperti boneka hidup.

“Kalau benar, lalu di mana Ignas sekarang? Ignas yang kau maksud pasti bukan boneka itu!”

Ia mendekat, membelai pipiku yang masih terasa panas oleh tamparannya. Diam-diam aku bergidik ngeri, Tuhan, tolong aku…

“Dia ada di kamar ini, kami bercinta sepanjang waktu, kami saling mencintai… tentu saja, kami saling mencintai…” Ia terkekeh panjang.

Bulu romaku meremang… kuamati ruangan bernuansa klasik dominan warna putih. Ada banyak foto lelaki bernama Ignas. Foto semasa mengenakan seragam abu putih. Kenapa tak ada fotonya setelah masa itu? Kemana sebenarnya lelaki itu? Ia menjelma terus dalam mimpiku. Oh!

“Kau penyebabnya! Rusak semua rencana kami!”

“Plakk-plakk” kembali tamparan mendamprat wajahku, ia puaskan dendam.

Kali ini aku tak tinggal diam, kujambak rambutnya dan kutubruki tubuhnya.

Baca juga:  Suatu Ketika dalam Kematian Budi Anjing

Ia mencakar pipiku hingga robek berdarah! Kubalas menamparnya karena aku tidak punya kuku panjang untuk balas mencakar.

Saling hantam, saling jambak, saling pukul. Dalam duel itu, kutahankan sakitnya kepalaku yang rasanya nyaris meledak bersama datangnya memori demi memori. Paska pertengkaran di Gunung Semeru, aku dan Sean tak saling menyapa. Sedangkan Ignas terus menggenggam jemariku selama perjalanan pulang dengan bis pariwisata. Entah berapa lama perjalanan berlangsung, hingga sebuah kecelakaan maut mengubah segalanya… Bis itu menghantam pembatas ja lan, hari naas yang merenggut banyak nyawa.

“Sadar, Sean! Sadar! Ignas tidak pernah ada! Kau berhalusinasi selama ini! Bangun dari mimpi panjang, Sean! Dia sudah lama meninggalkan kita! Kenapa kau tidak mau menerima kenyataan?!” Teriakku seraya terus mengentak-entak tubuhnya. Baris kata yang harusnya juga pantas kuterima.

“Kaulah yang mengambilnya! Kau iblis!” Ia terus menyerangku.

Duel terus berlangsung, tanpa kutahu untuk memenangkan apa. Sampai kaki-kaki tiga orang dewasa, sekelebat menyeruak di antara panasnya kontak fisik kami. Dua orang lelaki, bersama pembantu paruh baya itu

“Hentikan, kalian!”

Aku terduduk lemas, dengan segala kesakitan… perih merajam batin.

***

Dunia SeanPerjalanan ke Malang terasa lebih melelahkan. Ingatanku kembali tapi meninggalkan lubang baru yang mustahil kutambal. Kenangan tak mungkin diulang atau diperbaiki. Sean dan aku… Kehilangan adalah siksa. Setelah kehilangan ibu saat masih SD, ayah menikah dengan tante Rea, adik kandung ibu. Betapa kejam, belakangan kutahu mereka kasmaran sejak ibu masih ada, aku tak percaya cinta dan setia. Bahkan ikatan sakral di bawah nama Tuhan, tidak membuat seseorang setia dengan suka rela.

Kepada Ignas, puing kepercayaan akan entitas cinta mulai terbangun, aku jatuh cinta. Semuskil apa pun kutolak habis-habisan, cinta menyentuh ruang paling pribadiku, hati. Tapi seseorang juga menaruh harapan pada hati yang ingin kurawat.

“Sean baru pertama kali jatuh cinta, jiwanya terguncang saat mengetahui, Ignas mengencanimu. Ketika sadar dari koma, setelah insiden itu ia kehilangan hampir semua dunianya. Dia membuat labirin dengan dunia nyata dan memilih hidup di dunianya sendiri. Kau adalah tamu spesialnya, pertemuan kalian pasti memberi efek besar. Maaf, ternyata kau juga kehilangan banyak…” Penuturan ibu Sean saat mengantarku ke stasiun kereta tadi semakin menyesakkan dada…

“Maafkan aku, Sean…aku bahkan tak ingat secinta apa aku pada Ignas hari itu, karena yang kurasakan hanya kesunyian…”

“Permisi, boleh saya duduk di sini?” Suara seorang lelaki membuyarkan lamunan. Kutoleh tersenyum ramah mengembang begitu saja, namun justru membuatku ingin mati saat ini juga! Sosok itu…nyatakah ia?

“Ig…Ignas…” gumamku tanpa sadar…

Kwai Fong, 12 Februari 2018

Wiji Lestari. Penulis adalah juara pertama anugerah sastra Voice of Indonesia (VOI) RRI 2018. Sebagai buruh migran di Hongkong, penulis aktif menghasilkan karya tulis.


[1] Disalin dari karya Wiji Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 13 Januari 2019