Kalender Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KURANG lebih ada dua puluh tiga angka yang merah di kalender tahun ini. Kita bisa merencanakan banyak hal,” sindir Ilil dihadapan suaminya yang sedari tadi hanya diam. Ilil sengaja tidak menghitung libur cuti bersama dan hari minggu dalam kalender yang dipegangnya.

“Rumah ini seperti kuburan jika sendirian,” rutuknya kemudian.

“Kalau aku tidak ambil lembur, percuma kita menyusun cita-cita. Ini aku lakukan demi cita-cita kita,” suami Ilil setengah berteriak.

“Aku bosan dengan alasan lembur, ada kunjungan, job mendadak dan lain sebagainya. Kamu bisa membuat alasan setiap kali diajak jalan di hari libur. Seharusnya kamu juga bisa memberi alasan pada pimpinanmu untuk menemaniku!” hardik Ilil.

“Aku tidak mau terus-menerus dicekoki janji dan alasan,” Ilil sedikit mengeraskan suara. Sudah lama dia menimbun kecewa atas janji suaminya yang menumpuk dan mulai mengancam kesetiaannya.

“Itu bukan alasan,” kilah suami Ilil.

Setelah suami Ilil diterima bekerja, pasangan muda itu hampir tidak ada waktu untuk libur bersama atau sekadar belanja bersama. Merayakan hari pernikahan atau merayakan ultah Ilil seperti yang dilakukannya sebelum diterima di tempat kerja yang sekarang. Mereka bersepakat akan irit untuk membeli rumah sendiri. Setelah punya rumah, mereka ingin beli isi rumah, perhiasan dan, “setelah beli motor, kita beli mobil, biar tidak kehujanan dan kepanasan saat jalanjalan,” Ilil mengangguk waktu itu.

Baca juga:  Ledhek dari Blora 07

“Aku tidak butuh semua ini,” Ilil membuka cincin, kalung, gelang, baju yang baru dibelikan suaminya. Dia letakkan semua barang itu di meja bersama barang-barang pemberian suaminya yang lain. Sekarang yang paling berharga bagi Ilil hanya ditemani, diajak bercanda atau sekadar minum kopi diluar seperti saat pacaran, dulu.

“Tidak perlu naik mobil atau cafe bagus. Lesehan juga tidak apa-apa. Sederhana kan?” suaminya hanya diam. Permintaan itu berkali-kali dilontarkan tapi semua berhenti di janji suaminya saja.

Ilil meremas-remas kalender yang dipegang dari tadi. Dia merasa kalender yang dibawa suami dari kantornya itu, seolah tidak bicara tentang waktu. Dia merasa, kalender itu lebih banyak menampakkan jarak antara dirinya dan suami yang semakin melebar.

Baca juga:  Tikar

“Seperti kita, kalender ini tidak ada yang berubah. Tahun-tahun yang aku lalui terasa panjang. Tapi bagimu tahun-tahun terasa singkat,” suami Ilil menoleh ke arah Ilil yang bicara sambil membuka lembaran kalender penuh coretan rencana yang terabaikan. Dia seperti menghitung kegagalan-kegagalan yang jatuh pada hari-hari selanjutnya. Mungkin saja bulan-bulan selanjutnya.

“Percuma punya segalanya jika tidak punya kesetiaan menepati janji sendiri,” suara Ilil lirih sambil menahan isak.

“Aku sudah berusaha!”

“Aku juga berusaha sabar. Menghibur diri selama enam tahun. Sendiri. Kita punya segalanya tapi tak punya ketenangan. Tidak punya momongan!”

“Aku sudah berusaha.”

“Kamu hanya melakukan, tidak memikirkannya. Semua perlu dipikirkan dengan serius. Tapi di kepalamu hanya kerjaan!”

“Kita harus sabar. Tuhan belum memberikannya,”

“Jangan libatkan Tuhan kalau kamu tidak serius!”

“Sabarlah,”

“Ini tahun keberapa aku harus sabar!”

“Tahun depan masa jabatanku akan habis. Bersabarlah.”

“Tahun depan siapa yang bisa memastikan keberadaan kita. Bisa jadi kalender ini adalah kalender terakhir yang akan aku tandai dengan rencana-rencana kita,” Ilil melirik suaminya yang duduk mendekur.

Baca juga:  Salman

“Bukankah kita sering merencanakan sesuatu dan selalu gagal dilakukan. Padahal rencana sepele. Kamu bahkan tidak bisa menepati janji untuk pulang tidak larut malam.”

“Aku tidak banyak pilihan,”

“Sekarang mulailah memilih!”

“Aku sudah memilih!” suami Ilil tak menoleh seperti yang biasa dilakukannya saat mengumbar janji. Kembang api meledak di langit seirama dengan dada Ilil yang meledak-ledak setiap ingat janji suaminya untuk merayakan pergantian tahun yang tak pernah ditepati. ❑-e

Jejak Imaji 2018

*) Sule Subaweh, bekerja di UAD. Saat ini Aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya “Bedak dalam Pasir”.


[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 6 Januari 2019