Anak Penyu, Tuhan dan Lelaki Itu Tak Kunjung Datang

Karya . Dikliping tanggal 18 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Suara NTB

Saya saat ini ada di punggung burung rajawali. Paruhnya tiba-tiba menjepit kulit lengan saya. Saya lalu dilemparkan ke bagian tubuh belakangnya kemudian membawa saya ke tempat yang semakin lama semakin tinggi: kami menembus awan dan berulangkali mengitari cakrawala. Paling saya ingat sebelum itu saya tertidur pulas. Dalam tidur saya dikagetkan sesosok raksasa. Dengan kecepatan tinggi ia berlari ke arah saya, memeluk saya yang tadinya baik-baik saja, senja itu, saya menunggu gerombolan penyu muncul di bibir pantai. Saya ingin menangkap berukuran paling kecil, mencium kaki-kakinya dengan hidung sambil sesekali mengajak bicara, dan tak lama sesudahnya saya melepas mereka sampai yang terlihat berupa buih-buih di permukaan air.

Ketika sesosok raksasa saya rasakan merangkul badan saya amat kasar, suasana bagai hamparan kosong seperti ketika mata ditutupi kain hitam demi sensasi kejut pada perayaan ulangtahun. Sesudahnya bola-bola lampu pecah. Tiang-tiang listrik roboh. Telinga serta kedua lubang hidung saya perlahan dimasuki air, lalu dingin menusuk sum-sum tulang.

Saya lari. Saya berusaha lari meski badan rasanya berat sekali. Kepala berdenyut-denyut lebih nyeri dibanding sakit karena malaria, atau sewaktu saya dirujuk ke rumah sakit akibat demam berdarah. Sendu. Sunyi. Sesudahnya gelap gulita menutupi samudra raya. Dalam kekalutan besar itu dalam hati saya bertanya: di atas sana, adakah roh Tuhan melayang-layang supaya ditangkap-Nya badan dingin saya? Barangkali Tuhan yang beberapa tahun lalu dikenalkan seseorang pada saya punya handuk dan baju panas. Kaus kaki tebal serta topi bulu-bulu. Barangkali juga Ia punya tungku agar saya menghangatkan jari-jari. Mungkin di sekitar perapian Tuhan punya segelas teh manis panas atau segelas kopi tanpa gula pun tak apa, atau setetes anggur sisa-sisa perjamuan dalam cawan yang mungkin lupa dikeringkan agar kerongkongan saya hangat lalu bisa berteriak: tolong! Tolong! Tolonglah saya.

**

Saya namanya Rara. Nama pemberian seorang Tuan Pastor asal Sumatera. Saya menyebut ia tuan karena belum menikah meski beberapa rambutnya telah putih serta sudah pakai kacamata. Rara, artinya merah. Merah pemberani, katanya, menatap mata saya seakan ia mengirim kekuatan yang tidak mungkin sirna. Waktu itu umur saya sebelas menuju dua belas tahun. Sebelum berkenalan dengan Tuan Pastor di tempat sebelumnya saya dipanggil ‘hei.’ Bahkan sering dipanggil ‘idiot’ saja ketika suasana hati orang-orang sedang buruk terhadap keadaan terlebih akan saya.

Baca juga:  Kandas - Cahaya - Kematian - Kepada

“Jadi nama saya bukan ‘hei’ lagi?”

“Bila ada memanggilmu demikian jangan menoleh.”

“Berarti mulai sekarang nama saya Rara, umm, Rara yang pemberani, bernyala-nyala dan penuh gairah?”

Tuan Pastor tak jawab namun kasih saya senyuman, dan ia selalu panggil saya “Rara.” Selalu Rara. Saya akan jawab, “Ya, Tuan Pastor,” sambil menyilangkan dua telapak tangan di depan dada dibarengi kepala menunduk. Tuan Pastor tertawa lebar lalu berkata “Aduh, kamu ini.” Ia larang saya melakukannya lagi. Ia bilang kami itu teman. Terhadap teman tak seharusnya demikian. Nanti saya jadi tak enak lagi minta tolongnya kalau begini, katanya. Saya terharu. Benar-benar terharu hingga ke relung hati paling dalam dan perasaan itu sampai sekarang tak mau pergi dari sana.

Kata orang-orang yang pernah rawat saya, saya awalnya bayi merah di dekat kandang lembu. Hari-hari tertentu bila perempuan yang menemukan saya itu kehabisan uang kepada saya katanya diminumkan air tajin. Juga disuapkan bubur nasi terkadang singkong sebelum usia enam bulan. Diusahakan sekenyang mungkin agar tak merengek bikin bising. Setahun kemudian menurut cerita orang-orang yang diceritakan kembali oleh tukang kebun Tuan Pastor, pada pagi buta dalam keadaan menangis sesenggukan, saya ditemukan para pejalan kaki di pinggir trotoar depan suatu rumah sudah ditinggal pergi pemiliknya. Satu dari para pejalan kaki menyerahkan saya ke tangan Tuan Pastor yang kebetulan baru muncul dari pintu kapel.

Umur tiga tahun menurut cerita yang didapat tukang kebun Tuan Pastor lagi, saya diadopsi keluarga yang dalam lima tahun pernikahan belum dikaruniai keturunan. Katanya kedatangan saya bisa memicu si istri segera mengandung. Dua tahun kemudian harapan itu terwujud. Saya punya adik perempuan dan saya sungguh sayang padanya. Kemudian saya terpisah dari mereka. Penyebab perpisahan justru saya sendiri katanya. Saya menyembunyikan adik di bawah tiga bantal demi mendapat sensasi kejut di wajah Mama sama seperti yang Mama lakukan terhadap boneka penyu saat ulangtahun saya—saya berpikir Mama pasti menyukainya. Saat saya bisiki telinga Mama tentang di mana adik Mama melompat ke tempat tidur. Sesudahnya Mama pukul kaki tangan saya pakai tangkai sapu. Sesudahnya lagi baju-baju saya terlempar keluar jendela, beberapa masuk parit lalu hujan yang mendadak deras membuat hati saya basah.

Baca juga:  Menembus Pintu

Setelah tinggal di kediaman sama dengan Tuan Pastor meski saya awalnya hanya bantu-bantu tukang kebun, semakin ke sini, saya merasa jadi manusia seutuhnya. Usai mengerjakan tugas di belakang saya belajar hal lain. Saya dianjurkan membaca. Saya catat apa yang tak dipahami. Saya diajari juga mengamati peristiwa alam. Seperti bumi guncang bikin burung-burung panik katanya itu gempa. Hujan disertai angin. Hujan yang bikin banjir atau luapan air laut menenggelamkan kota—ia menceritakan Nuh beserta keluarga dan beberapa jenis binatang turut dalam perahu. Tuan Pastor bilang saya harus jadi gadis pintar. Tidak boleh ketinggalan walau tak seberuntung orang-orang.

Sewaktu bolak-balik saya tanyakan pertanyaan sama ia tak marah. Tidak apa-apa, santai saja, katanya. Sejak itu saya mulai kenal dengan Tuhan. Mulai merasakan Tuhan di getar dada saya tiap interaksi dengan Tuan Pastor yang matanya damai hingga saya pernah ingin ke sana. Apa benar Tuhan di langit, tanya saya ketika perjamuan saya lihat ia menengadah ke atas. Ia tak jawab ya atau tidak. Ia bilang saya hanya perlu merasakannya saja, memikirkannya saja, sebab Tuhan ada di mana-mana.

**

Air menghadang dari segala penjuru. Rasa sakit meremukkan badan yang menggigil kelelahan. Darah bergelegak panik. Denyut nadi kecepatannya melebihi denyutan saat berlari meninggalkan bibir pantai dan dada saya rasakan kini seibarat balon ulangtahun yang terus-terusan dipompa. Balon semakin sesak dan ketat. Semakin sesak dan ketat. Saya amat khawatir sebentar lagi sesuatu pasti meledak dari saya disusul peristiwa kematian otak yang kemudian memisahkan saya dari badan saya—kira-kira demikian penjelasan satu tulisan yang saya baca rahasia di buku-buku lain milik Tuan Pastor ketika ia sedang tak ada.

Lalu, saya teringat akan Tuhan yang diperkenalkannya saat dalam kekalutan besar itu tak ada suara untuk saya mintai tolong. Saya menajam-najamkan ingatan bagaimana melatih hati agar bisa merasakan Tuhan setiap waktu terlebih di saat-saat terdesak begini. Pejamkan mata. Pusatkan pikiran, dengan lembut Tuan Pastor berkata suatu hari. Saya melakukannya. Tuhan, panggil saya tiga kali. Saya belum juga merasakan Tuhan rangkul saya. Tuhan Maha Penyayang, ujar saya lebih keras lagi sambil merapal doa seperti biasa diperdengarkan Tuan Pastor pada malam-malam perjamuan dengan harum dupa serta mekarnya mawar, tapi, Tuhan dan Tuan Pastor tak kunjung datang. Ke mana lelaki yang beberapa tahun ini telah lekatkan Tuhan ke hati saya sampai saya benar-benar gadis berwarna merah?

Baca juga:  Sinar Lampu Bundar - Harapan

O-o, ya, ya, saya salah. Saya salah lupa menanyakan rupa Tuhan seperti apa. Adakah Tuhan bersayap sebab rumah tinggal-Nya di ketinggian langit lalu tak lama lagi menukik agar bisa menangkap tubuh saya? Saya coba mengingat-ingat lagi kejadian sebelumnya. Paling saya ingat, senja itu, saya di bibir pantai menunggu gerombolan anak penyu dari persembunyian. Saya berencana mengejutkan Tuan Pastor dengan cerita bila saya sangat suka mencium kaki-kaki penyu berukuran paling kecil menggunakan hidung. Saya merasa geli saat kaki-kaki mungil itu menginjak bibir saya sambil mengusahakan agar mulutnya tak menggigit, lalu menuntunnya bergerak ke kiri-kanan buah dada saya. Rasa geli membuat aliran darah saya liar serta detak jantung saya berpacu: saya ingin jelaskan, saya suka sekali sensasi itu.

Setengah jam di bibir pantai tak satu penyu pun muncul lagi untuk saya. Saya sedih. Saya merana. Saya tersedu-sedu sekaligus kaget melihat air mata sendiri dibawa gulungan ombak ke tengah lautan. Setelahnya gelombang raksasa berwarna hitam bergerak ke luar, semakin lama semakin cepat mendekati saya. Saya lari. Saya berlari sambil memikirkan Tuan Pastor dan gerombolan penyu. Dalam pelukan air yang saya pikir saya sudah mati itu, entah kenapa kulit lengan saya tiba-tiba dijepit burung rajawali. **

Riau, Oktober 2018

Jeli Manalu lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”


[1] Disalin dari karya Jeli Manalu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara NTB” edisi Sabtu, 16 Februari 2019