Hujan yang Hangat

Karya . Dikliping tanggal 20 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Hujan seperti inilah persis di saat kau terlahir di dunia ini dengan tangisan yang membentuk paduan suara bersama gemercik air yang jatuh. Dalam tangis, kau merasakan kehangatan ketika hujan dalam pangkuan ayahmu yang berbisik tepat di samping telinga kananmu. “Varsha Agnimaya.”

***

Kutulis surat ini ketika jatuhnya bulir-bulir hujan ke bumi. Doa pun tak lewat kusampaikan kepada tuan semesta agar kau selamat sentosa. Kau akan menjadi perempuan yang berjasa bagi masyarakat dan bisa menghangatkan suasana hati seseorang yang dingin, termasuk aku sekarang. Hatiku dingin. Aku ditemani oleh sepi yang dingin. Apalagi kini hujan semakin mendinginkan hatiku dengan kesepian yang dingin. Dinginku bertambah dingin.

May!

Hanya dengan mengingatmu saja hatiku hangat dan damai. Aku bisa tersenyum membayangkanmu meski saat hujan dan sepi seperti sekarang. Mungkin akan lebih manis apabila kau kupeluk menjelang tidur malam.

Aku ingin memelukmu sambil bercerita dongeng atau kisah-kisah masa lalu atau mungkin cerita-cerita legenda yang sering kudengar dari guruku sejak aku masih siswa sekolah dasar. Kita tertawa bersama. Melihat ke luar jendela dan menghitung jumlah bintang di langit ketika malam hari. Selalu kupanjatkan doa agar kau diberi keselamatan di mana pun kau berada. Hingga pada akhirnya kita bisa bertemu dan mewujudkan kejadian yang kuceritakan tadi.

Dengan doa-doa yang selalu kupanjatkan demi keselamatanmu, aku yakin sekarang kau telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Meski hingga saat ini aku belum tahu pasti wajahmu seperti apa saat remaja. Minggu lalu aku sengaja berseluncur di media sosial. Kucari nama Varsha Agnimaya di Facebook. Lalu, kutemukan foto gadis remaja cantik yang masih memakai seragam SMA. Berkulit putih, rambut lurus terurai, mata yang bulat, dan senyuman yang berseri. Kuyakin itu dirimu.

Pasti banyak laki-laki remaja yang menyukaimu. Mungkin tak jarang ada laki-laki yang langsung menyatakan cinta padamu. Seperti ayahmu dulu. Dia memiliki paras yang tampan serta postur badan yang ideal, tentunya idaman para kaum hawa. Selain tampang yang begitu sempurna, sifatnya yang ramah membuat banyak juga perempuan yang terpesona. Bahkan, ada juga yang sangat tergila-gila oleh ayahmu.

Dia tidak memedulikan perempuan-perempuan itu. Ayahmu lebih memilih aku untuk menjadi teman hidupnya. Tepat di bawah guyuran hujan aku dan ayahmu menjalani hubungan. Waktu itu, dia memberikan sebatang cokelat yang dibungkus dengan kertas kado berwarna ungu dan pita merah muda. Ayahmu adalah orang yang sangat romantis. Akibat kejadian itu, banyak perempan yang patah hati melihat atau mendengar kisah kami berdua.

Aku selalu mendampinginya ke manapun dia pergi hingga aku mempunyai perasaan takut kehilangan. Dia selalu menjaggaku seperti sebuah tembok yang selalu membuntutiku ke mana pun aku pergi. Tak pernah sedikit pun dia membuatku kecewa. Entah mengapa aku selalu bahagia bersamanya Bahkan di saat badai pun aku masih bisa tersenyum dan tertawa jika bersamanya. Ayahmu benar-benar pria idaman wanita.

Baca juga:  Sanur - Bayam Pasar Banjaran

Hal yang aneh atau perilaku yang tak lazim orang-orang lakukan telah kami lakukan bersama. Ayahmu romantis. Dia mau saja bertingkah aneh bersamaku di hadapan uumum. Dunia serasa milik kami berdua. Tidak memedulikan cibiran orang-orang sekitar yang disertai pandangan-pandangan mata yang sinis. Mereka hanya orang-orang yang iri terhadap hubungan kami.

Ayahmu juga pandai merangkai kata. Bukan rayuan yang dia ucapkan, melainkan sebuah kalimat yang menginspirasi hidup semua orang. Dulu waktu kami berkencan di sebuah taman pusat kota, ayahmu pernah mengucapkan kalimat yang memang sedikit membuatku bingung.

“Tuhan itu Maha Membolak-Balikkan. Maka ada kalanya rusa akan memangsa harimau.”

Saat itu aku hanya bisa mengerutkan dahi dan hanya tertawa kecil saja.

Aku tidak terlalu mengerti apa yang diaktakan ayahmu itu. Tapi, sekarang aku baru mengerti. Menurutku, kalimat itu memiliki arti bahwa Tuhan Maha Pengatur segalanya. Mungkin ungkapan itu sudah kamu dengar juga dari ayahmu Kata-katanya begitu mudah, bukan? Ada bukti lain selain itu, namanya juga bagus untuk ditulis ataupun diucapkan.

Satu tahun lebih tujuh bulan usia hubungan kami, kami berniat untuk saling berkenalan dengan orangtua masing-masing. Saat itu aku bingung, aku anak yatim. Aku hanya tinggal bersama ibuku, itu pun dengan komunikasi yang kurang baik. Aku tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi antara aku dan ibuku. Aku menyarankan untuk menemui orangtua ayahmu dulu.

Ketika aku bertemu dengan orangtua ayahmu, bukannya bahagia yang aku dapatkan. Saat itu mereka memakiku dan memaki ayahmu. Mereka tidak merestui hubungan kami. Ayahmu berkeras untuk melindungiku dari lontaran kemarahan yang meledak-ledak. Namun, itu tidak bisa membendung amarah orangtua ayahmu. Bentakan demi bentakan yang keluar dari mulut orangtua ayahmu hampir meledakkan gendang telingaku. Kata-kata kasar juga satu tamparan keras tepat di wajah ayahmu membuat aku tidak tahan lagi untuk meluapkan air mataku.

“Dasar anak tak tahu diri!”

Kudengar kalimat itu dengan suaranya yang menghapus keheningan disertai ayunan tangan yang kencang menabrak pipi kanan ayahmu.

“Kami membesarkanmu bukan untuk bercinta dengan dia!”

Terdengar lagi kalimat yang keras dan kulihat lemparan-lemparan barang ke arah ayahmu.

“Dan kau! Sampai kapan pun tak akan pernah bisa mendekati anakku. Karena kau manusia tak berguna!”

Kalimat itu terdengar jelas ke telingaku dan langsung merambat cepat ke dalam hatiku. Tak lewat dengan telunjuk yang tepat di depan mataku.

Baca juga:  Hati Langit

Aku langsung berlari keluar dari rumah ayahmu. Saat itu sedang hujan, aku tidak membawa payung. Semula setiap hujan datang selalu kurasakan kehangatan dan kedamaian, kini berbalik menjadi dingin dan menyakitkan. Dengan terpaksa aku pulang diterpa jarum-jarum hujan yang selalu menusuk-nusuk kepalaku. Air mataku juga sudah larut dengan hujan. Suara petir yang begitu tajam tak setajam kalimat yang dikatakan orangtua ayahmu. Dingin. Aku kesepian.

***

Di sepanjang waktu menikmati kesendirianku, aku selalu mendoakan ayahmu. Lalu, aku menerima kabar dari teman ayahmu di gym bahwa dia akan menikah dengan seorang perempuan dalam waktu dekat. Hatiku terpukul. Jarum-jarum hujan kini menancap di dalam hati dan air mataku meluap lagi.

Aku sengaja tidak mau datang ke acara pernikahan ayahmu. Sakit. Lebih baik aku menikmati kesendirianku saja. Hingga akhirnya aku memiliki sebuah toko cokelat di pusat kota. Tapi tak bisa kumungkiri bahwa aku selalu ingin tahu bagaimana kabarmu dan kabar ayahmu.

Dua tahun sudah aku menjalani bisnis cokelat ini. Ketika aku sedang menghitung jumlah cokelat, ada pelanggan yang berkunjung. Pelanggan itu seorang pria yang bajunya sedikit basah karena di luar sedang hujan. Dia menggendong bayi yang amat menggemaskan. Mata bayi itu berbinar-binar. Pria itu juga tersenyum melihatku. Aku hanya bisa diam tanpa berkata-kata setelah kutahu bahwa itu ayahmu. Ayahmu menyuruhku untuk menggendong bayinya yang tak lain adalah kamu.

“Ayo, kau harus menggendong dia!” suruh ayahmu.

Ini hal pertama kalinya aku menggendong bayi. Aku merasa menjadi seorang ibu seutuhnya. Ketika aku menggendongmu, ada kehangatan yang terasa –merasuk ke dalam jiwa. Sampai saat ini aku masih ingat harum dirimu saat masih bayi. Hatiku yang dingin seketika menjadi hangat ketika kuihat kau tertawa melihat wajahku. Aku tak bosan melihatmu tertawa. Kugelitiki perutmu hingga kencing. Kubantu ayahmu untuk menggantikan popokmu yang bau pesingnya masih kuingat sampai saat ini.

Kuciumi juga pipimu yang menggemaskan itu. Kemudian kita menyempatkan untuk berfoto bersama. Dalam foto itu kau tersenyum ketika kugendong. 

Dingin yang kurasakan lenyap dibilas kehangatan dari tubuhmu. Setelah kejadian itu, kita sudah tidak pernah bertemu lagi hingga sekarang.

Aku sadar dan bersyukur karena pernah berhubungan dengan ayahmu. Hubungan kami sangat berarti bagiku untuk memperbaiki diri. Terlalu banyak kebaikan yang diberikan ayahmu. Maka, aku yakin kamu juga orangnya baik seperti ayahmu. Perkataan ayahmu bahwa Tuhan Maha Membolak-Balikkan telah kualami.

Mungkin peristiwa yang pernah kami alami dulu disebabkan oleh diriku yang belum baik. Namun, sekarang hidupku jauh lebih baik. Apalagi mengetahui kabar bahwa dirimu juga baik keadaannya lewat balasan surat ini. Ayahmu pasti mengajarkan berbagai kebaikan yang harus dilakukan sepanjang hidupnya.

Baca juga:  Amplop Kosong

Itulah yang ingin kuceritakan saat ini padamu. Aku ingin berbagi pengalamanku dengan ayahmu dulu. Karena aku menyayangimu seperti anak sendiri meskipun kita belum pernah bertemu. Atau mungkin saja kita pernah bertemu hanya saja tak saling sapa.

***

May!

Terakhir kupesankan padamu, janganlah sekali-kali mengecewakan ayahmu. Ayahmu terlalu baik untuk merasakan kecewa dan sedih. Selain itu, jagalah ayahmu bila sudah tua nanti. Hangatkanlah dia dengan pelukanmu yang penuh dengan kasih sayang meski hujan akan terus menusuk-nusuk hati seseorang yang kecewa. Maka, sekali lagi aku ingatkan padamu jangan sesekali mengecewakan.

Jangan lupa sampaikan salamku kepada ayahmu dan katakan bahwa dialah laki-laki terbaik yang pernah kumiliki. Kebaikannya telah mengubah hidupku menjadi lebih baik lagi. Kau akan banyak belajar tentang hidup dan kehidupan dari ayahmu. Kuharap kau bisa membalas suratku ini atau paling tidak menghubungiku ke nomor telepon yang sudah kutulis di ujung surat ini.

Aku juga menuliskan alamat toko cokelat milikku. Kau bisa datang ke sana untuk mendapatkan cokelat yang kau inginkan. Nanti akan kuberikan sebatang cokelat dengan bungkus kado warna ungu dan diikat pita merah muda. Kabari aku kalau kau mau berkunjung ke sana.

Aku yakin ayahmu masih menyimpan foto kita bbertiga. Kau pasti sudah melihatnya. Di foto itu kau akan melihat wajah ayahmu yang tersenyum manis. Berbagai kebaikan bersinar dari senyumnya itu. Dan akulah yang menggendongmu itu — seorang pria yang sebelumnya kau mengetahui diriku sebagai sahabat dekat ayahmu.

Tedy Heriyadi lahir di Bandung pada 22 Juli 1992. Bekerja sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung. Bergiat di Saung Sastra Lembang. Tercatat sebagai alumni Kelas Cerpen Kompas 2018, alumnis kelas menulis Media berkarya 2018, dan alumni kelas menulis puisi bersama Joko Pinurbo dalam acara Kampung Buku Jogja #4 2018.

Yusuf Susilo Hartono, pelukis wartawan dan penyair. Mantan Pemred Majalan Visual Arts ini telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Menangkap Momen, Memaknai Esensi (Moment and Essence}, kumpulan sketsa pilihan 1982-2013, mengiringi pameran tunggal sketsanya di tiga kota: Jakarta, Bojonegoro, Surabaya, 2014.


[1] Disalin dari karya Tedy Heriyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 17 Februari 2019