Percakapan Sandal

Karya . Dikliping tanggal 4 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SETELAH lama terpisah dua sandal beda kelas yang dulu pernah sama-sama menghuni salah satu mal di kota ini kembali bertemu di tempat sampah. Sebut saja Meli dan Pakalola. Meli sandal jepit kelas jelata sedang Pakalola sandal kulit yang konon kelahiran Eropa.

Ketika melihat Pakalola tiba di tempat sampah Meli yang sudah lama di situ betul-betul kaget.

“Lola, bagaimana ceritanya kau bisa sampai di sini, padahal kau masih kuat begitu?”

“Mel, kau tahu sendiri kan setiap manusia yang melihatku pasti terpikat, tetapi akhirnya Tuan Dinarlah yang berhasil memilikiku. Awalnya kupikir akan bahagia mengabdi pada wakil rakyat seperti dirinya. Tidak, aku malah sangat tersiksa. Dinar itu bukan manusia, tapi babi. Aku hanya dipakai untuk pamer dan bermaksiat. Aku sangat muak. Dan puncaknya saat aku diajak pergi ke kamar hotel mewah. Dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan si Bedebah itu menerima suap sekoper uang dolar ditambah tubuh mulus si pemberi suap yang berambut pirang. Habislah kesabaranku. Kugigit kuat-kuat tubuhku sendiri hingga robek-robek. Dinar murka. Dengan iringan serapah aku dibanting ke tong sampah. Namun aku tak pernah menyesal karena hanya dengan itu aku bisa lepas dan tidak menjadi gila.”

Baca juga:  Merpati-Merpati Makkah

“Posisimu memang sulit, Lola,” tanggap Meli. “Tapi tak seharusnya kau melukai dirimu sendiri seperti itu. Kau masih terlalu muda untuk menghuni tempat sampah saat ini.”

“Mel, sumpah, lebih indah menjadi sampah daripada mengabdi kepada si Bedebah itu! Aku betulbetul muak! Sekarang, ceritakan kisahmu padaku…”

“Lola tak lama setelah kau meninggalkan mal itu ada seorang manusia tua menuju tempatku. Ia betul-betul memilihku. Aku gembira karena aku akhirnya bisa mengabdi dan membantu manusia. Bukankan itu misi setiap sandal? Aku tak berpikir lain. Kegembiraanku bertambah saat tahu kalau aku akan dijadikan hadiah bagi istrinya yang ia panggil Sumi. Selanjutnya aku mengabdi pada Sumi. Ia sangat menyayangiku. Ia selalu mengajakku untuk melakukan hal-hal baik semisal memasak, mencuci, berwudhu, berangkat ke masjid, dan memulung.”

Baca juga:  Orang Buta Menuntun Beruk

“Dan, ketika aku mulai menua Sumi tetap sayang. Ia merawatku dengan hati-hati sampai aku benar-benar tidak mampu diajak jalan. Ia lama menyimpanku sebelum kemudian ia menghantarku ke sini. Aku sangat sedih. Aku tahu ia masih membutuhkanku dan suaminya, Sukri belum bisa membelikan yang baru.”

“Sungguh mujur nasibmu, Mel. Seandainya seandainya aku bisa terlahir kembali aku hanya ingin seperti kamu, menjadi sandal jepit saja.”

“Jangan berkata begitu, semua sudah membawa takdirnya sendiri-sendiri. Mari kita menatap ke depan saja….”

“Aku sudah tamat. Tidak ada masa depan bagiku!”

“Tidak. Kita selalu punya masa depan…”

“Aku tak yakin…”

***

Percakapan Sandal

Lusanya Meli terbangun tiba-tiba. Ia terkejut oleh langkah tergesa dan teriakan gembira. Meli tersenyum saat tahu kalau yang bikin gaduh adalah Daki, bocah yang memang saban hari datang ke situ untuk membantu neneknya memulung. Meli kenal betul bocah itu karena dia adalah cucu Sumi.

“Nek, aku menemukan sandal kulit,” teriak Daki sembari lari ke arah neneknya yang sedang berjongkok tak jauh dari tempat ia menemukan sandal. “Masih bagus, kan, Nek? Cuma rusak sedikit.” Ia menyodorkan sandal itu pada si nenek.

Baca juga:  Ramuan Mimpi

“Iya, sudah sana bawa pulang, biar yang rusak dibetulkan Kakek lalu dijual, pasti laku.”

Daki pun berlari membawa sandal itu pulang.

Meli tersenyum bahagia ketika tahu sandal yang dibawa bocah belasan tahun yang tak lagi sekolah itu tak lain adalah Pakalola. Dia senang sahabatnya itu masih bisa menemukan masa depannya kembali. Masa depan yang, semoga, lebih indah dari masa lalunya, doanya. ❑-e

Moh Romadlon, penulis lepas, pengurus di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumber Ilmu, Desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren Kebumen.


[1] Disalin dari karya Moh Romadlon 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 3 Februari 2019