Tangis Pembuat Mainan

Karya . Dikliping tanggal 19 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

HASAN terburu menarik tangan yang hendak dicium pengemis yang baru saja ia beri makan.

“Di kamar belakang ya, Pak. Di sebelahnya dapur. Di sana sudah ada sarung dan peci. Kalau sudah, mari kita makan bareng di sini,” ujar Hasan seramah mungkin.

Kesedihan itu akhirnya jebol juga saat mereka makan bersama. Lelaki tua itu tergugu saat menceritakan leliku hidupnya yang seolah baru saja terjadi kemarin sore.

Cerita itu terdengar sayup-sayup di telinga Hasan. Ia seperti melihat sehelai daun yang telah menguning dan lalu gugur ke tanah. Hanya tinggal menunggu waktu membusuk dan kemudian hilang terurai kembali ke asalnya. Ada berderet kenangan tiba-tiba menyembul tanpa kendali. Hasan berusaha membenamkannya kembali ke dalam ketenangan hati. Tapi gagal. Pengemis tua ini benar-benar seperti punya daya magis.

Baca juga:  Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran

***

Untuk mengetahui apa yang tengah terjadi dengan Hasan, kau juga mesti tahu dengan potongan kisah ini.

Pada sebuah rapat RT yang tak dihadiri Hasan, beberapa orang memang tergelitik membicarakan kelakuan Hasan.

“Iya, menangis! Hanya gara-gara anakku tak jadi beli dan malah bilang mainan buatannya jelek. Saat salat Subuh tadi, aku sempat minta maaf atas kelakuan anakku. Tapi ia bilang anakku tak punya salah kepadanya,” cerita Pak Yudho.

“Kok kejadiannya hampir sama? Waktu itu anakku juga sedang membanting mainan yang kami beli darinya. Entah mengapa dia tiba-tiba saja menangis lalu buru-buru meninggalkan kami. Aku mengejarnya. Tapi ia bilang tak ada apaapa,” cerita Pak Sobro.

“Masak setua dia, masih gampang tersinggung dan menangis hanya lantaran masalah sepele begitu?” sambung Markasan.

Baca juga:  Perjalanan dalam Kabut

Gosip itu kemudian menyebar ke perbincanganperbincangan pinggir jalan dan warung kopi. Dagangan Hasan pun jadi sepi pembeli.

Mulanya Hasan memang tak ambil pusing ketika semua sampai ke telinganya juga. Ia merasa tak perlu memberikan penjelasan kepada orang lain, lantaran ini adalah masalah pribadi.

“Aku sudah dengar cerita itu dari orang-orang. Memang, cara terbaik untuk mendinginkan perkara adalah dengan menyerahkan semua kepadaNya. Meskipun perkara sepele sekalipun. Saya yakin Pak Hasan ini orang baik,” Pak Malikóimam masjid pun bahkan akhirnya urun suara. Hasan kira, lelaki tua ini hanya sedang mencari bahan perbincangan, lantaran saat itu sang imam sedang menunggu kedatangan seseorang.

“Memangnya apa yang Pak Malik dengar?”

“Tentang mainan buatanmu, dan segala prasangka orang terhadapmu.”

Baca juga:  Sang Hakim

Hasan tersenyum saja. Badai pasti akan pergi, pikirnya. Ia pun lantas bercerita kepada Pak Malik perihal masa lalunya sewaktu masih seorang preman di Jakarta. Dan kini, setiap kali melihat apa pun yang teraniaya, kemudian menimbulkan halusinasi tentang orang-orang yang pernah ia peras, aniaya, perkosa, bahkan bunuh.

“Setiap kali melihat ciptaanNya mendapatkan perlakuan buruk, apa Pak Malik tak berpikir Ia tidak menangis?” Hasan mengakhiri ceritanya. Sementara Pak Malik tertegun memandangi Hasan. ❑-e

Kalinyamatan – Jepara, 2017


[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 17 Februari 2019