Tiga Cerita Satu Malam

Karya . Dikliping tanggal 26 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

1.

Laki-laki itu masih terdiam. Tampaknya menunggu jawaban. Pesanan sudah datang, secangkir kopi cappuccino. Lelaki itu mengangkat cangkir, kemudian dia dekatkan ke hidung. Lalu dia dekatkan ke bibir dan meminum. Kemudian dia letakkan lagi. Kembali dia menikmati wajah perempuan di depannya. Namun masih saja kaku. Keduanya nampak ragu untuk memulai pembicaraan.

“Jadi bagaimana?” lelaki itu nekat membuka kata.

Dan hasilnya sama saja. Hanya menimbulkan senyum di sudut bibir perempuan di hadapannya. Suara tetap beku, yang ada hanya isyarat tubuh yang tak mampu diterjemahkan dalam kata. Tampaknya perempuan itu tengah asyik dengan dunianya. Berkali-kali dia membolak-balik lembaran kertas yang dipegang.

Laki-laki itu mengaduk kopinya. Lalu meminumnya. Mengaduk lagi. Dan meminumnya lagi. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Wajahnya menampakkan kegelisahan. Namun matanya tetap tertuju pada perempuan di hadapannya. Entah perempuan macam apa yang sukses menyiratkan kegelisahan dari kedua mata lelaki itu. Perempuan di hadapannya masih saja membaca lembaran kertas yang diberikan oleh lelaki itu sepuluh menit lalu.

“Bagaimana?” lelaki itu memancing pembicaraan lagi.

Perempuan itu pun menoleh dan hanya tersenyum. Lelaki itu diam kembali. Wajahnya tambah gundah. Ada sesuatu yang mengganjal bibirnya untuk berbicara, atau sekadar berucap satu kata. Tangannya mengambil buku dari tas. Lalu menulis kata. Kemudian timbul kalimat-kalimat. Lalu semua dia coret. Dia sobek dan buang. Menulis lagi. Mencoret. Menyobek dan membuang. Dia layangkan tatapan ke sisa gerimis hujan malam ini. Masih saja sepi. Tak ada perubahan berarti. Dingin tetap mencengkeram kedua anak manusia di meja dua puluh satu itu.

“Bagus!” Perempuan itu melahirkan kata setelah sekian menit terdiam.

“Apanya?” Laki-laki itu tanya keheranan.

Perempuan itu tersenyum sambil mengembalikan lembaran kertas ke lelaki di hadapannya. Aku pun kembali datang mengantar pesanan ke meja itu.

2.

“Mereka sedang kasmaran!” teriakan Karman lagi-lagi membuat pelanggan kami menoleh kepadanya.

“Kedai kita ini memang tidak henti-henti mengukir kenangan ya!” ucapku sambil tertawa.

Waiters-ku yang satu ini memang sering sekali mencari tahu asal-usul pelanggan di kedai kami. Terkadang dia sering menghampiri pelanggan sekadar menanyakan alamat rumah. Tentu saja dengan pembawaannya yang kocak, sehingga tidak mengganggu pelanggan kami. Bahkan pelanggan kami sering hanyut dalam pembicaraan bersama Karman. Sampai-sampai ketika Karman tidak masuk kerja, pelangganku pun bertanya-tanya mengenai lakilaki itu.

Baca juga:  Pardi Jepang

Belum lama aku mengenal Karman ñ setidaknya seusia dengan kedai ini berdiri. Aku merasa beruntung bisa bertemu orang jujur seperti Karman. Kami dipertemukan karena Karman menemukan dompetku yang tertinggal di kursi bus. Dengan percaya diri, dia mendatangi alamat yang tertera di kartu identitasku. Karena kejujurannya itulah, aku mengajak laki-laki yang belum kutahu asal-usulnya saat itu untuk membuka usaha. Dan sampai saat ini, kami menjadi bukan sekadar mitra kerja, lebih tepatnya keluarga.

Karman yang memang mudah bergaul, akhirnya selalu dekat dengan pelanggan kami. Semua kejadian unik tentang pelanggan kami, selalu dia bahas denganku. Kemudian dari sekian pelanggan yang datang malam ini, hanya pelanggan di meja dua puluh satu yang paling menarik bagi kami.

Perempuan itu masih terdiam dengan lembaran kertas yang dibaca. Namun laki-laki di depannya tampak gelisah menunggu sesuatu. Bahkan kopi ini menjadi pesanan ketiganya malam ini. Berbeda dari malam-malam sebelumnya, dua pelanggan setia kami itu tampak tegang membunuh waktu.

“Bagus!” perempuan itu berteriak girang.

Namun laki-laki di depannya hanya menampakkan raut keheranan. Beberapa kali lelaki itu berbicara panjang lebar ñ entah tentang apa karena suaranya tidak terdengar sampai sini. Namun, berkalikali pula perempuan di hadapannya membalas dengan tersenyum simpul. Tak ada penjelasan yang panjang, bahkan barangkali kepastian pun tak ada.

Hujan malam ini tampaknya menambah gelisah laki-laki itu. Namun perempuan di hadapannya tampak santai menikmati lembaran- lembaran kertas yang dipegang. Berkali-kali laki-laki itu membuka pembicaraan, tetapi hanya menyisakan kekakuan di meja dua puluh satu itu.

Laki-laki itu tampaknya sudah menyerah. Karena dia kembali memesan secangkir kopi cappuccino.

“Perempuan memang susah, Mas,” tiba-tiba Karman menceletuk pada laki-laki itu.

“Bukan susah, Mas, melainkan kita yang belum bisa memahami.” Laki-laki itu hanya tersenyum, lalu kembali ke mejanya.

Baca juga:  Pertunjukan Monolog

3.

Menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Ada orang yang mengatakan, menunggu adalah simbol dari kata menyerah yang tak terungkapkan. Menunggu karena sudah menyerah untuk berusaha. Menunggu karena menyerah untuk menikmati kegagalan. Ada pula yang mengatakan, menunggu adalah hal paling egois di dunia. Menunggu karena menanti orang lain untuk berusaha. Namun menunggu yang kulakukan kali ini bukanlah sekadar menunggu. Bukanlah menunggu karena aku sudah menyerah atau karena aku egoistik. Namun perempuan di depanku memaksaku kembali menunggu.

“Jadi bagaimana?” aku membuka percakapan, meski tampaknya sia-sia.

Perempuan ini hanya tersenyum menatapku, kemudian melanjutkan membaca cerita pendek yang tadi kuberikan. Raut wajahnya begitu serius mendalami kertas yang sejak sepuluh menit lalu dia pegang. Cerita pendek untuk sebuah kisah yang pendek. Bukan sekadar kisah. Lebih tepatnya kenangan. Barangkali lebih bagus, sebuah cerita pendek untuk kenangan yang pendek.

Waktu itu hujan mengguyur Solo. Aku dan dia masih saja berdebat demi mempertahankan pendapat yang entah siapa yang akan tahu kebenarannya. Sebenarnya hal kecil yang kami perdebatkan. Siapa yang menyangka sebuah puisi yang kami baca bersama bisa menimbulkan perdebatan yang sampai sekarang barangkali belum tahu ujung jawabnya.

“Bukan! Ini Chairil masih galau ya? Menunggu jawaban cinta Sri Ajati.” Dia masih ngotot dengan pendapatnya itu.

Berbagai argumen aku lontarkan untuk memupus pandangannya tentang puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar. Namun dengan teguh, dia bertahan. Dari perdebatan itulah aku mengenal sosoknya. Perempuan yang selalu kutemui saat hujan tiba.

Seperti saat ini, hujan yang masih mengguyur lingkaran kampus, barangkali akan menjadi saksi keberadaan cinta yang kupendam selama ini. Belum lama aku mengenalnya, mungkin hanya lewat status media sosial yang dia miliki. Bahkan untuk sekadar bertegur sapa pun kami jarang. Perempuan ini selalu menyembunyikan tatap matanya ketika bertemu denganku. Namun aneh, karena itulah aku ingin menangkap tatap matanya. Sekadar untuk kuselami hingga relung hatinya. Walaupun sampai detik ini pun dia masih kukuh menyembunyikan pelangi di wajahnya itu.

Baca juga:  Lelaki Tua Bermata Seputih Susu

Sudah dua puluh menit, dia membiarkanku membeku oleh waktu. Berkali-kali aku mencoba membuka kata, tetapi hanya senyum kecil di sudut bibirnya. Aku mulai beranjak untuk memesan kopi ketigaku malam ini. Namun tetap saja, kepergianku tidak mengacaukan keasyikannya dengan lembaran kertas yang perempuan ini pegang. Aku pun duduk kembali dengan secangkir cappuccino yang mengepuli wajahku.

“Bagus!” akhirnya dia melahirkan kata.

“Apanya?” tanyaku heran.

Dia hanya tersenyum sambil memberikan lembaran kertas itu padaku.

***

Akhirnya perempuan itu melahirkan kata. Meski awalnya menimbulkan keheranan di wajah laki-laki di depannya. Layaknya bayi baru lahir, kata pertama yang terucap dari bibir perempuan itu pun langsung ditimang dengan senyum oleh laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu mulai berbicara antusias seolah tak mau kehilangan sepasang bola mata yang ditatapnya ini. Perempuan itu pun mengangguk, sesekali tersenyum, tetapi sangat sedikit berbicara.

“Apa?” Tiba-tiba perempuan itu menampakkan wajah keheranan.

“Iya! Aku, aku mencintaimu tanpa tendensi apa pun. Aku ingin mencintaimu tanpa alasan yang memperkuat cintaku padamu. Karena jika alasan itu telah memudar, aku takut cintaku hilang bersama alasanku.”

Suasana pun kembali beku. Hanya ada sepasang bola mata yang saling menatap di antara rintik hujan malam ini.

Aku pun beranjak menghampiri majikanku di meja kasir. (28)

Surakarta, September 2017

Sapta Arif NW, aktivis pramuka yang menyukai puisi, cerita-cerita, dan diskusi hingga pagi. Baru saja menjuarai Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru kategori cerita pendek. Kini, aktif sebagai ketua Gerakan Menulis Buku Indonesia, dapat dihubungi melalui surat elektronik saptawnd@gmail.com, IG @saptaarif, Twitter @saptaarifnw, FB Sapta Arif,(WA/SMS/telepon 085716286686).


[1] Disalin dari karya Sapta Arif NW
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 24 Februari 2019.