Cinta Laura

Karya . Dikliping tanggal 26 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Make a wish!” Rico menyeru Laura, ketika nyanyian ulang tahun berakhir ceria membahana.

Mendengar seruan itu, para waiter Restoran Altitude yang berdiri mengelilingi menyurut, pergi.

”Hmm, tak terasa 32 helai umurku tercabut hari ini,” keluh Laura.

”Aku mencintaimu, Laura. Sangat!” Rico mengecup kening Laura semesra kecupan Leonardo Di Caprio kepada Kate Winslet. Namun Rico tentu tak membayangkan kapal Titanic tenggelam pada puncak kemesraan mereka.

”Terima kacih,” sambut Laura manja.

Kue telah terpotong. Laura mengangkat dan siap mengucap keinginan. Namun tiba-tiba air matanya menetes, menggelincir ke pipi.

Rico yang menganggap haru kebahagiaan menyelimuti Laura, menyambut potongan kue dengan senyuman. Dia usap air mata Laura dengan selembar tisu. Lembut, penuh pengertian.

Sejenak Laura terdiam, belum mampu berkata-kata. Rico penasaran. ”Apa keinginanmu?”

Api di jambang meja tempat mereka bercengkerama jadi saksi ketegangan wajah Laura. ”Maafkan aku, Rico,” ujar Laura, lalu terdiam lagi.

”Kenapa, Beib?” Rico menyampaikan rayuan iba.

Laura menatap tajam wajah Rico. ”Rico, menikahlah dengan Tasya!”

Rico terkesiap. Dia tak menyangka kalimat itu meluncur dari mulut Laura, saat membayangkan langkah menyingkirkan segala rintangan bagi pernikahan mereka.

”Kamu bercanda, Beib?”

”Tidak, Rico. Aku serius. Inilah akhir cinta kita yang kuinginkan. Ini untuk kebahagiaan kamu, orang tuamu, serta Oma. Lebih dari itu, untuk kebahagiaan sahabatku, Tasya.

”Aku telah bertemu mamamu. Berdua dari hati ke hati, kami lama berbincang. Mamamu dengan bijak dan jujur, beserta permohonan maaf, meminta aku mundur dari kehidupan kamu. Meminta aku tak melanjutkan jalinan cinta kita ke pelaminan.

”Alasannya klasik dan rasional. Aku dapat menerima dengan akal dan perasaan; mereka tak ingin nama baik keluarga islami, berada, dan terhormat tercemar. Apalagi berpotensi terusmenerus dipergunjingkan.

”Walau tak terucap, aku yakin keluargamu beranggapan, kamu yang tampan, kaya, dan berpendidikan, akan mudah menemukan gadis pendamping yang memenuhi kriteria mereka. Mengapa memilih aku? Pasti orang tuamu malu karena video mesumku dan Deril beredar luas.

”Kejadian itu sangat memalukan. Aku telah mempertontonkan aurat yang seharusnya rapat kusembunyikan. Inilah realitas yang harus kita pahami. Paling tidak, aku harus menyadari kejadian itu membuat kehidupan banyak orang menjadi tak nyaman.”

Laura tertunduk sejenak. Setelah itu pandangannya menembus temaram ruangan, mengantarkan ke kenangan amat-sangat pedih dan menyakitkan. Kejadian yang dalam sekejap mengubah nasibnya, dari gemerlap yang menjanjikan menjadi suram yang mengaburkan masa depan.

Baca juga:  Dajjal di Kampung Surga

***

Waktu itu Gizka menggelar pesta di Kafe Tisi Bandung, ajang rendezvous pilihan kaum milenial. Ia merayakan keberhasilan menerbitkan album solo, koleksi lagu hip-hop spesialisasinya.

Laura tak menyia-nyiakan kesempatan bertemu para penyanyi kreatif, teman lamanya. Dia mengajak Deril, sang kekasih, anak muda lulusan Arsitektur ITB seumuran, yang juga pemusik.

Semula Laura ingin meniti karier di bidang tarik suara, tetapi keindahan tubuh dan kecantikan wajah membuat dia tak bisa menolak tawaran jadi model dan terjun ke dunia entertainment dengan bayaran menggiurkan.

Pesta usai. Deril mengajak Laura ke hotel. Di hotel, Deril tak sabar untuk segera mencumbu Laura. Entah kenapa, Laura seperti setengah sadar ketika bersedia memenuhi ajakan Deril. 

Mereka bercumbu dan Deril merekam seluruh adegan.

”Mengapa kaulakukan itu, Deril?”

”Yah, sebagai koleksi pribadi. Untuk mengenang kemesraan kita, ketika aku jauh dari kamu.”

Beberapa kali Laura meminta dihapus. Namun Deril meyakinkan akan menyimpan dalam file pribadi yang terkunci dengan sandi tak mungkin orang lain buka.

Mula-mula aman-aman saja. Namun tak lama terjadilah sesuatu yang tak diharapkan. Laura menangis dan berteriak, ”Ada yang meminta uang sepuluh miliar?! Bagaimana rekaman itu bisa di tangan Donny, teman kamu pencandu narkoba itu?”

Deril menjelaskan, ”Waktu itu aku menonton rekaman seorang diri. Pas aku tinggal sebentar ke kamar, Donny datang. Dia mungkin menyaksikan dan merekam dengan flash disk.”

”Ya, ampun, Deril! Sekarang dia minta tebusan sebesar itu. Mengancam akan mengedarkan kalau tidak dibayar. Kita dapat duit dari mana? Masya Allah!

Deril dan Laura tak memenuhi permintaan. Rekaman pun beredar; publik mudah mengunduh dari internet. Jadi kasus besar. Deril diputus pengadilan bersalah dan dipenjara tanpa bisa menuntut Donny karena ketiadaan bukti yang mencukupi.

***

Laura sedih setiap kali melewati jalan protokol yang bertabur baliho raksasa. Semua iklan sabun ternama dengan model dia satu per satu diturunkan.

Namun kehidupan terus berjalan. Suatu hari, saat bersama sang ibu di Coffee Shop Grand Hyatt Nusa Dua Bali, seorang anak muda tampan menghampiri. Dia memperkenalkan diri, membawa buket, mengaku bernama Rico Branoto. Dia ingin menjalin hubungan cinta. Oh, semua itu hanya kenangan.

Laura terenyak ketika Rico bicara, ”Oh, itu maksud kamu selama beberapa bulan ini mendekatkan saya dengan Tasya?! Tidak, Laura. Kita segera harus menikah! Apa pun konsekuensinya. Tak ada yang bisa menghalangi. Aku tak mau kehilangan kamu!”

Baca juga:  Yang Datang Malam Hari

”Rico, sejak perkenalan kita tiga tahun lalu, aku tahu kamu tertarik padaku, kemudian mencintai dan tak peduli tentangan keluargamu. Aku bahagia kaucintai secara tulus. Tapi itu aku tak bahagia. Setelah perkawinan nanti, aku harus berada di tengah orang-orang terpandang yang mencibir, memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepala, bukan sebagai model, melainkan gadis mesum yang tak layak bersama mereka. Itu siksaan batin bagiku. Biarlah musibah jadi ganjaran yang mengubah dan mengajari aku bersikap menantang kehidupan. Bukan lagi sebagai selebritas, figur publik, melainkan perempuan yang terpuruk. Namun aku tak akan menyerah. Aku akan mengabdikan diri bagi kepentingan bernilai moral lebih tinggi.”

”Pengabdian apa?” tanya Rico.

”Mungkin ini hikmah. Sejak berniat bertobat, aku merasa mendapat berkah. Datang beberapa tawaran yang kurasa lebih mendatangkan maslahat dalam kehidupan daripada terus jadi artis.”

”Oh ya? Kalau begitu, kau patut bersyukur.”

”Salah satu berkah itu datang dari papamu!”

”Hah! Kapan kamu bertemu Papa?”

”Setelah aku menerima dan menyetujui permintaan keluargamu untuk tak menikah dengan kamu, mamamu memelukku, menangis, dan menyampaikan papamu akan memberikan uang yang cukup untuk membiayai sisa hidupku. Aku menolak. ‘Bapak saya almarhum selalu memberikan kail, bukan ikan.’Mamamu pun bilang, ‘Oh, kalau soal itu, lebih baik bicara langsung dengan papa Rico.’Lalu bertemulah kami bertiga; aku, Tasya, dan papamu. Pertama, aku perkenalkan Tasya yang baru saja lulus sebagai dokter spesialis neurologi dan psikiatri yang ingin mendirikan klinik terapi untuk mengatasi kelainan orientasi seksual yang disebut LGBT. Dari sudut pandang medis, LGBT seharusnya bisa disembuhkan melalui cognitive theraphy. Namun perlu investasi tak sedikit. Aku berharap papamu bisa membantu. Bukan pemberian, melainkan pinjaman modal yang akan kami kembalikan.”

”Papa setuju?”

”Tak sepenuhnya! Beliau mengusulkan kerja sama joint venture; 70 persen saham milik papamu. Papamu minta kesepakatan itu kami rahasiakan. Dia bertanya, apa peran serta posisiku dan Tasya. Kubilang, Tasya akan jadi dokter kepala. Aku, selama klinik dibangun, akan ambil kursus hospital management. Kelak, jadi kepala klinik. Di tengah pembicaraan, papamu bertanya status Tasya. Kubilang, ‘Masih singgel, Om. Dia sibuk sekolah, lupa pacaran. Dia ambil S-1 di Akuntansi UKI, melanjutkan S-2 di UI sekalian mengajar. Setelah tabungan dia cukup, ambil Kedokteran UI.’Kusampaikan, lewat konsuling dengan Tasyalah aku tegar kembali, setelah pernah berniat bunuh diri. ‘Carikan jodoh, Om. Dia tak kalah cantik dari saya kan? Atau buat Rico saja,’candaku.”

Baca juga:  Riak dan Menjejaklah - Padamu Kubisikkan Sesuatu - Aku Sedang Tak Nafsu Nulis Puisi

Laura menatap Rico, lalu bicara lagi, ”Kelihatannya papamu nggak menolak.”

Rico terdiam. Dia pun memikirkan Tasya. Berbagai kemungkinan memendar di kepala. Selain cantik, Tasya terpelajar dan pintar. Sejenak kemudian Rico memandang Laura, lalu bertanya, ”Kehidupan apa yang akan kamu jalani?” ”Sementara atau seterusnya aku akan jadi single parent. Mengadopsi anak atau cari donor untuk bayi tabung. Tentu tidak di Indonesia, karena masih ilegal.”

Rico menyahut, ”Di sini bisa legal kalau aku yang jadi donor!”

”Maksudmu?”

”Kita menikah diam-diam di depan penghulu, tanpa surat dan dokumentasi. Hanya untuk Tuhan, menghindari zina,” kata Rico.

”Bagaimana mungkin kita merahasiakan?” tanya Laura. ”Kalau ketahuan, rencana investasi klinik bersama papamu bisa buyar. Aku tak mau jadi pecundang; berjanji, lalu berkhianat.”

”Demi cintaku padamu, aku setuju usulmu! Namun itu sebagai imbalan agar bisa menikahimu secara rahasia,” tegas Rico.

”Kamu bersedia menikah dengan Tasya?”

”Iya! Namun apakah Tasya bersedia?”

”Demi aku, dia mau.”

Mereka pun berjabat tangan, lalu erat berpelukan. Rico berpesan agar Laura menyimpan rahasia: dua kali pernikahan.

”Kalau ini sebuah kemungkinan, aku mau. Bila kita dikaruniai anak, baru kita buka: itu anak kita, kelak jika sudah besar,” sahut Laura.

”Aku akan menikahi Tasya di Belanda. Di Masjid Al-Ikhlas Badhovedorp, supaya Oma yang tinggal di sana bisa hadir. Beliau sudah tak bisa beranjak jauh dari kursi roda. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, akan kuhadirkan Ustaz Bustomi ke Makkah untuk jadi penghulu. Syukur beliau bisa menghadirkan Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais, imam besar Kakbah, sebagai saksi. Setelah itu kita bertiga umrah. Lalu aku dan kamu ijab kabul di depan Kakbah.”

***

Usai umrah, Laura Mayangsari sendirian di pesawat Garuda ke Jakarta. Meninggalkan Rico dan Tasya yang akan berbulan madu di Paris. Ingatan Laura melayang ke kota itu, kota romantis yang dulu sering dia singgahi bersama Rico. (28)


Nugroho Suksmanto, menulis cerpen dan novel | “Suara Merdeka“.

Keterangan

[1] "Cinta Laura" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 24 Maret 2019