Di Balik Bingkai Formosa

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Aku mendekap ponsel kuno yang kubawa dari rumah, tak kupedulikan angin malam yang dingin membungkus tubuhku hingga menggigil. Sedih, terpukul, dan merasa bersalah. Semua menjadi satu. Ingin kumaki sendiri diri karena menjadi seorang ibu yang tega meninggalkan buah hati dalam kurun waktu bukan seminggu, sebulan, ataupun setahun.

“Sabar, Nduk. Nanti dia juga akan tahu dan mau bicara dengamu di telepon,” hibur Ibu di ujung sana.

Namaku Kinarsih. Aku adalah wanita yang memiiki satu putra dan tengah mengarungi lautan perjuangan di negeri orang. Awal kedatanganku ke Taiwan pada 2011 silam merupakan waktu terberat yang harus kulalui. Beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebuah negara yang belum pernah kukunjungi sebelumnya, meski di dalam mimpi. Banyak perbedaan yang harus kupelajari, mulai dari bahasa, adat istiadat, kebudayaan, hingga cara-cara kerja dan penerapan keseharian. Di awal kedatangan, aku pun melaksanakan ibadah secara sembunyi-sembunyi, karena belum berani terang-terangan meminta izin kepada majikan. Menunggu waktu tepat, untuk mengutarakan.

Hal terberat kedua adalah menahan rindu pada Dimas, buah hati yang kumiliki. Tujuh tahun lalu, menjelang perayaan ulang tahunnya yang kedua, putra semata wayang aku tinggalkan. Masih terngiang jelas, bagaimana dia menangis, saat ibu menggendongnya ke belakang, agar tak melihat kepergianku yang akan meninggalkannya pergi merantau.

“Maafkan mama, Nak. Mama bukanlah orang tua baik, yang bisa menemanimu bermain dan membacakan dongeng menjelang kau tertidur. Namun, mama akan menjadi lebih jahat, jika membiarkanmu tak memiliki masa depan, dan putus sekolah karena tak ada biaya.”

***

Aku berharap dapat mendengar suaranya memanggilku mama, meskipun kami berjauhan. Agar suara renyah itu, dapat mengobati bongkahan rindu yang kian hari kian menggunung. Membuat dadaku sesak, menahan tangis yang terisak, selalu tersimpan di palung hati yang terdalam. Sayangnya, acapkali kutelepon Dimas selalu diam. Dahulu, aku hanya memiliki ponsel kuno tanpa kamera dan akses internet yang dapat berselancar di dunia maya. Tidak seperti sekarang, sekatan jarak dan waktu, tak mengurangi kedekatan, berkat kemajuan teknologi. Mendengar suara ibu dan bapak merupakan kekuatan tersendiri bagiku dalam berjuang di negeri orang.

Masih hangat di dalam ingatan. Bagaimana sibuknya aku menjadi seorang mama sekaligus papa bagi Dimas. Pasca perceraian rumah tangga kami, aku memilih pisah dari orang tua. Menyewa ruko dan membuka usaha bengkel, sembari berjualan sembako. Adik dan keponakanku yang menjadi montir reparasi motor. Aku sengaja menyingkir, karena tak ingin membebani bapak dan ibu yang telah luka karena kegagalan rumah tanggaku. Sejak awal, beliau tak menyetujui pernikahan ini. Namun atas nama cinta, aku memohon agas restu tetap kudapatkan. Meskipun akhirnya, prahara rumah tangga tak terelakan. Dua tahun kulalui hidup mandiri dengan penuh ketegaran, setelah akhirnya aku memutuskan meninggalkan kampung halaman. Mengobati luka yang menganga, sekaligus mempersiapkan masa depan Dimas agar jauh lebih baik. Taiwan adalah tujuanku.

Baca juga:  Impianku (Habis)

***

Di Balik Bingkai FormosaGerimis turun membasuh bumi, membuat cuaca dingin kian mencekat. Kesiur angin malam kian membuat hening suasana. Waktu berlalu menggerus apa pun yang berada di lingkarannya. Waktu jua yang menyirami kesedihan hingga hilang tak berbekas. Karamnya rumah tangga, hati yang tersakiti, dan harus berpisah dengan putra semata wayang. Semua terasa lengkap menjadi paketan cobaan yag harus kurasakan, sekaligus pemantik semangat dalam perjuangan. Menyerah, dan kalah. Atau berjuang demi kemenangan.

Sibuknya aktivitas adalah senjata ampuh mengusir sepi. Sedari pagi membuka mata, sederet pekerjaan telah menanti. Mulai dari mengurus kakek dan nenek, memasak untuk keluarga besar yang terdiri sebelas orang, membersihkan rumah, merangkap pabrik dan hewan piaraan. Semuanya telah terjadwal di setiap jamnya. Menelepon keluarga adalah obat penghilang lelah paling mujarab. Karena di sini aku tidak boleh bercakap dengan tetangga, apalagi sesama pekerja dari Indonesia.

“Bagaimana kabarmu, Nduk?” suara ibu memulai percakapan.

“Alhamdulillah sehat, Bu. Dimas sedang apa?”

“Baru saja tidur. Tadi siang kecapaian main mobilan yang dibelikan Omnya.”

“Bu, apa Dimas ndak pernah menanyakan saya?”

“Ya pernah, Nduk. Kadang pas minum susu dia bilang Mama … mama, sambil mencari di sekitar ruangan, atau menciumi fotomu saat sedang duduk memangku Dimas di ruangan TV.”

Deegghhh!…

Seolah bogem besar menghantam dadaku. Nyeri, terluka, tetapi tak berdarah. Nelangsa, saat membayangkan Dimas pertama kali mengucap mama, berjalan tertatih- tatih saat kuulurkan tangan dari kejauhan. Pipinya yang montok ikut bergerak-gerak saat berlari.

“Dimas, mama rindu, Nak.” Batinku lirih.

***

Satu tahun bekerja, Nyonya membawaku ke sebuah toko Indonesia. Saat itu, merupakan kali pertama aku keluar rumah. Setiap bulan, nyonya yang membantu pengiriman uang, membeli pulsa, dan beberapa barang Indonesia. Mie instant juga termasuk di dalamnya. Sepanjang jalan, aku melihat ingar bingar Kota Tauyouan dengan lampu berwarna warni, kendaraan berlalu lalang, seolah menjadi hiasan negeri dengan sebutan pulau Formosa ini. Beda dengan kampungku, bakda maghrib jalanan sudah lengang. Semua penghuni rumah enggan ke luar rumah, mereka menilih duduk santai di depan televisi sambil bercengkerama dengan keluarga.

Namun, aku merindukan semuanya. Suara jangkrik di malam hari, atau kodok yang bersautan setelah turun hujan. Salat berjamaah di mushala pinggir lapangan. Ataupun tegur sapa ibu-ibu saat membeli sayuran di pedagang keliling. Kebersamaan dalam bertetangga, yang nyaris tak pernah kujumpai di sini. Karena semua penghuninya sibuk berkompetisi meraup keberhasilan dan mengisi pundi-pundi kekayaan.

***

Tibalah kami di sebuah ruko kecil bertuliskan “Toko Indonesia”. Tempat itu menjual beranekaragam produk Tanah Air. Sayup-sayup kudengar dentingan musik dari balik ruangan. Beberapa menit kemudian keluar dua orang perempuan, yang satu rambut disemir cokelat, sedangkan satunya berambut lurus sebahu dengan hidung dan telinga penuh tindikan.

Baca juga:  Pelahap Kenangan

“Baru datang ya, Mbak?” sapa mereka.

 

“Ia Mbak. Baru setahun aku di sini.”

Begitulah realita bekerja di negeri orang. Lamanya jangka kerja kerap diprediksi dari penampilan seseorang. Jika telah bertahun-tahun di Taiwan, banyak yang tergerus gaya luar negeri dengan dandanan bak selebriti. Mengkoleksi barang bermerk, sehingga pulang tidak membawa apa-apa. Istilahnya. Finis kontrak, finis juga pendapatan.

Usai memilih barang belanjaan dan membayar semuanya. Aku pun menunggu nyonya yang sedang membeli barang di tempat lain. Pemilik toko adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan pria Taiwan. Orangnya cantik, ramah, khas para memilik toko. Dia memberiku sebuah majalah Indonesia edisi bulan lalu, sebagai hadiah karena aku belanja banyak.

“Mbak, ini bisa dibaca-baca di rumah, edisi bulan lalu. Karena yang bulan ini belum terbit,” ucapnya seraya menyodorkan majalah tersebut.

“Wah … terima kasih, Mba. Nanti saya baca-baca kalau malam.”

“Ia, Mba. Kalau mau beli apa-apa silakan datang saja. Di sini juga menyediakan penjualan HP dan elektronik lainnya.”

“Terima kasih, Mba. Nyonya sudah datang, saya permisi pulang.”

Setiba di rumah, dari sekian belanjaan yang kubeli, majalah yang pertama kali aku pegang. Setahun di sini sungguh membuatku ibarat katak dalam tempurung. Tidak tahu apa pun, hanya bekerja dan bekerja. Di dalam majalah tersebut terdapat beberapa cerita pendek, yang juga ditulis oleh rekan BMI. Profil mereka sedikit tertera di akhir cerita yang dipublikasi. Ketika aku membaca tulisan mereka, terbersit dalam hatiku, seandaianya aku pun bisa menuliskan kisah kehidupanku menjadi sebuah karya. Tentu ini sangat menyenangkan. Namun, ini tidak mungkin, karena aku tidak bisa menulis, bahkan tidak memiliki waktu untuk melakukannya. Semuanya tersita oleh pekerjaan.

Tepat dua tahun aku bekerja di rumah tersebut, nenek yang kujaga meninggal dunia. Padahal aku mulai terbiasa dengan ritme keadaan dan situasi di sana. Namun, karena nama pasien di kontrakku adalah nenek, terpaksa aku harus keluar dari rumah tersebut. Saat itu, kontrakku masih tersisa satu tahun. Sempat berpikir, Tuhan tak pernah adil kepadaku. Karena di luar sana, banyak yang bekerja dengan penuh kebebasan hingga beberapa kali menambah kontrak. Namun, semuanya tidak berlaku padaku, yang selalu menuai kesedihan dengan rundung air mata yang mendalam. Namun, aku percaya, DIA takkan menguji umatnya di luar batas kekuatan yang dimliki.

Aku bingung memutuskan, pulang atau berganti majikan. Namun, dalam hati aku berjanji, tidak akan pulang sebelum membawa kesuksesan. Ganti majikan itulah pilihanku. Agensi membantu segala proses perpindahan, meski harus menunggu sepuluh hari. Hingga akhirnya aku bekerja di tempat ini—majikan kedua—yang mengajarkan banyak air tentang kehidupan, kesabaran, dan perjuangan untuk meraih masa depan.

Baca juga:  Kawan Keluarga

Saat ini merupakan kali ketiga kontrak kerjaku di Taipei dengan majikan yang sama, saat kutandatangi kontrak setelah kematian nenek. Selama tujuh tahun bekerja, dua kali aku mengambil waktu cuti ke Tanah Air. Menemui Dimas dan keluarga yang kusayangi. Meskipun pada awal kami bertemu, ia sangat pemalu. Cenderung seperti tidak kenal. Namun, ikatan batin antara anak dan ibu tak akan hilang. Dengan cepat kami akrab, dan waktu dua bulan cuti, terasa sangat cepat.

Sekarang ia telah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar (SD). Dimas harta istimewa yang kupunya, titipan Tuhan yang harus kujaga dengan amanah. Meskipun berjauhan, tak mengurangi perhatianku kepadanya. Apalagi, setelah adalah ponsel pintar, kian memudahkan kami dalam berkomunkasi.

Melalui sambungan seluler, kami menjalin komunikasi. Meluruhkan rasa rindu yang tak bertepi. Dimas tumbuh menjadi anak cerdas, meskipun tergolong pendiam. Suara renyahnya kerap melafazkan doa-doa yang diamalkan pada rutinitas keseharian. Seperti doa makan, hendak tidur, hingga doa ayah dan ibu. Saat mendengarkan doa ini hatiku luruh. Seorang bocah kecil yang kutinggalkan saat umur dua tahun, kini sudah bisa mendoakanku. Menyebut namaku dalam rapalnya.

“Tuhan, sungguh ini karunia yang tak ternilai hargamu. Akan kupertaruhkan seluruh kehidupanku untuk masa depannya.”

***

Perlahan aku bangkit, menatap tegar pada kehidupan. Waktu selalu tepat untuk melakukan sesuatu yang benar dan menemukan jati diri. Dimulai pada kontrakku yang kedua, aku mendapatkan hak berlibur satu bulan sekali, kugunakan waktu tersebut mengikuti kegiatan bermanfaat yang diadakan oleh organisasi pekerja migran, atau wadah-wadah majelis taklim Indonesia yang berada Taiwan. Tujuanku satu; menambah ilmu dan pengetahuan, untuk bekal pulang ke Tanah Air.

Langit memang tak selalu cerah, perjalanan hidup pun tak selamanya indah. Terkadang akan ditemukan kerikil tajam yang siap menghunjam, serta duri yang akan menyakiti. Ada rasa sakit, kesedihan, kesusasahan, bahkan merasakan kehilangan.Tapi aku yakin, di setiap detik peijalanan hidup yang kita lalui, pasti ada pelajaran dan hikmah kehidupan yang kita pelajari.

Taipei, 16 Februari 2018

Catatan:
*Formosa = Sebutan lain negara Taiwan.


Eti Nurhalimah wanita penggemar kopi yang gemar berimajinasi. Beberapa kali menjuarai perlombaan menulis, peraih juara III VOI Award RRI 2017, Jury Award Taiwan Literature Award Migran (TLAM) 2017 di Taiwan, dan juara I lomba menulis cerpen Inspiratif Forum Pelajar Muslim Indonesia Taiwan (F0RMMIT) 2018. Etty merupakan pekerja migran dan berstatus mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan. Buku Perdananya bertajuk Wanita di Balik Badai terbit pada 2015. Penulis bisa disapa melalui etimelati18@gmail.com | “Republika“.

Keterangan

[1] "Di Balik Bingkai Formosa" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 3 Maret 2019