Lelaki Surga

Karya . Dikliping tanggal 18 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SUATU pagi di bulan Desember 2118, seorang lelaki turun dari surga melalui kran air yang sedang terbuka. Ia menyusuri pipa-pipa logam, pipa-pipa paralon dan akhirnya melewati kran stainless mendarat di sebuah wastafel di apartemen ini. Kulit lelaki itu beberapa kali tergores benda-benda tajam yang mencuat di beberapa bagian pipa.

Kini ia berada di sini, di sebuah kamar apartemen yang entah di mana. Ia menarik napas dalam-dalam menikmati oksigen, menikmati penyejuk ruangan yang menyala, dan berjuang untuk tidak buru-buru berusaha mencari tahu di mana ia kini berada.

Tidak ada orang di ruangan utama apartemen ini. Ia sendirian, tetapi ia tidak begitu yakin. Ia muncul dari lubang kran air dengan pakaian serba putih yang kini basah dan bernoda lumut hijau kecokelatan, rambutnya berwarna kemerahan yang disisir ditarik ke belakang. Lelaki itu melirik ke kiri lalu ke kanan, mengamati sekeliling. Gerak-gerik lelaki itu terlihat perlahan dan tampak santai.

Baca juga:  Desember Dua - Desember Tiga - Desember Empat

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke sebuah kamar. Perempuan itu memejamkan mata. Membukanya. Menyipitkan mata. Kenapa cahaya ini terang sekali? Perempuan itu lantas terbangun dengan gusar ketika ia mendengar suara air yang mengalir dari kran. ”Ah, aku lupa menutup kran air,” pikirnya. Ia membuka matanya, mengira dirinya terbaring di tempat tidur bukan miliknya. Ia bangkit menuju pintu kamar.

Langkah perempuan itu terhenti begitu ia melihat sosok lelaki dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia lantas mendorong pintu. Perempuan itu sedang gundah, tertegun karena kehadiran lelaki berpakaian serba putih dengan rambut kemerahan.

Lelaki itu tersenyum penuh arti saat melihat perempuan itu tertegun. “Ini saatnya!”

Baca juga:  Semoga Belum Terlambat

Kepala perempuan itu berdentam begitu keras sampai ia berpikir kepalanya akan meledak. Ia merasa lidahnya terasa kering dan terbakar seolah ada makhluk kecil merayap masuk dan mati di dalamnya. Lelaki itu adalah satu-satunya hal yang patut dikenang dari kehidupan perempuan itu sebagai manusia yang mengidap penyakit parah tak tersembuhkan.

***

Suatu pagi di bulan Desember 2018, Aku meninggalkan istriku tanpa memberikan penjelasan apa pun, aku pergi meninggalkan apartemenku di Kalibata City, Jakarta Selatan. Semalamnya aku pun tak pulang ke rumah. Aku hanya kembali untuk berkemas seolah aku akan mengadakan perjalanan dinas.

Memang bukan sekali itu saja aku meninggalkan rumah, menginap entah di mana. Berkali-kali pula aku berkencan dengan perempuan-perempuan lain, dan ini berlanjut dengan pertengkaran antara aku dan istriku, disusul oleh pembaharuan janji setia, yang akan kulanggar pula sesaat sesudahnya. Kali ini, aku pergi dan tak akan benar-benar kembali.

Baca juga:  Ars Longa, Vita Brevis

Namun, 100 tahun kemudian aku diminta turun dari surga melalui kran air yang sedang terbuka ke sebuah apartemen sebagai malaikat pencabut nyawa. ❑-e

Jakarta, 11-11-2018


Bamby Cahyadi, lahir di Manado 5 Maret 1970. Ia hanya menulis berbagai tema cerita pendek. Kesehariannya ia bekerja di industri Food and Beverages sebagai Operation Manager. Buku kumpulan cerpen terbarunya ’Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah’ (2016) | “Kedaulatan Rakyat“.

Keterangan

[1] "Lelaki Surga" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 17 Maret 2019