Lelaki yang Mati di Bukit Kiamat

Karya . Dikliping tanggal 2 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen

Suasana petang itu sungguh melukiskan kesukaan yang tak bertara. Jalinan kesukaan itu nyata kualami di sebuah bukit yang tak terhirup aroma keramaian atau hiruk pikuk manusia beserta perkakas-perkakasnya juga pelbagai masalahnya . Di sana, di bukit kecil itu, aku menemukan surga yang jatuh ke bumi. Aksesoris alam terpampang lewat buratan sang lembahyung menyambar nyiur yang melambai-lambai di atas pohonnya. Nyiur-nyiur yang berdiri kokoh pada ranting pohonnya memagari sebuah tasik terbuang di bawah kaki bukit itu. Suasana bertambah meriah saat terdengar orkes alam yang berlantun dalam nyanyian burung-burung senja sebelum kembali ke sarangnya.

Aku berdiri tegak di sana. Di atas tumpukan batu yang membentuk sebuah arca mini, yang dalam bahasa ibu orang-orang kampungku menyebutnya taroman. Tempat mempersembahkan sesajian atau hasil panen untuk leluhur nenek moyang. Aku di sana mulai merentangkan tanganku. Kubiarkan desiran angin mengusap lembut wajahku. Kesejukannya menyusup masuk melalui mulut menembusi kerongkonganku lalu dengan lembut menyentuh kalbuku. Aku terbuai dalam buaian angin senja. Nelangsa mendera jiwa. Khayalan membuncah dalam nubari, menjalar hingga ke budi. Dan aku bergumam dalam mata terpejam penuh sesal, “Aku ingin mengubah dunia diskotikku selama ini. Aku tak ingin lagi menjadi hamba yang mempertuan miras, nikotin dan sabu-sabu. Kini telah kutemukan tempat indah nan permai. Aku tak perlu lagi bersekutu dengan preman yang menjadi tukang palak sopir angkot di jalanan setiap hari. Uangnya hanya digunakan untuk beli tuak. Setelah tuak sudah di depan mata, selalu saja ayam Pak Lurah jadi korban untuk dijadikan lepeng. Demikianlah hidupku dan nasibku sebagai lelaki preman. Prinsipnya bahwa selagi masih hidup segala sesuatu dinikmati memang hari ini, sebab ketika esok ajal menjemput segala sesuatu itu tidak dibawa serta. Tetapi aku sudah bosan dengan semua ini. Apa artinya hidup jika tidak digunakan agar berguna bagi orang lain? Seperti Bun…” sejenak kuterdiam. Lidahku terasa keluh untuk terus berujar dalam khayalku. Aku terduduk dalam sesal. Terngiang di telingaku kata-kata ini, “Lelakiku dipunggungmu aku menaruh bebanku, dirusukmu, aku mencari perlindungan. Mengapa kau membuangku ke telapak kakimu? Lalu dengan beringas kau menginjak hingga remuk dan jadi debu”

“Akhhhhh….!!!!” teriakku memecah kesenyapan di bukit ini. Burung-burung senja terbang menjauh oleh teriakanku. Daun-daun berguguran perlahan. Lembahyung di bukit itu menyelinap seketika di balik gundukkan ibu pertiwi dan mendatangkan kekelaman yang menamparku dengan kepiluan. Dengan tertatih kuturuni lereng bukit itu dalam gelap. Di benakku terbersit sebuah sadar dalam tanya,”Kemana aku harus pergi? Siapakah yang sudi memberikan tumpangan pada lelaki sepertiku malam ini? Bunda dan Lorrete?” aku menghentikkan langkah sejenak. Kebingungan memenjarakanku dalam kelam malam itu. Asaku pupus terhunus sesal yang mendalam. Dengan sisa tenaga, kupaksa mengayuh langkah. Namun, tetiba aku terpeleset. Aku kehilangan keseimbangan badan. Aku terjatuh. Untunglah tanganku masih mampu meraih sebatang pohon yang ada di dekatku. Lalu, gelap.

Baca juga:  Kakek Ane

***

Samar-samar aku mendengar pekikan suara perempuan di sebelah utara dari posisiku. Aku merasakan sakit di kepalaku. Dengan kedua belah tangan kuraih kepalaku dan kupaksakan pikiranku mengembara menyusuri aliran sungai perasaan yang tak karuan. Kucoba tersenyum hambar, tanpa secuilpun intensi syukur. “Mengapa aku masih dibiarkan hidup? Bukankah selayaknya ragaku dibiarkan hanyut di bukit ini dan jiwaku dibiarkan berkelana menuju neraka? Akhh.. ini tak adil” protesku. Seketika aku terhenyak lebih dahsyat oleh suara pekikan yang telah ubah jadi tangis perempuan yang makin keras, “Tolong, jangan jual tubuhku! Aku masih gadis!” Mendengar itu, aku bangkit sebisaku, berlangkah perlahan menuju pemilik suara isakan itu. Dalam kekalutan hati, aku mengintip dari balik semak. Kubuka mata lebar-lebar, “Apakah aku sedang bermimpi?” tanyaku dalam hati ketika pandanganku jatuh tepat pada sebuah gedung mewah. Serupa diskotik. Di beranda gedung itu, ada lima orang lelaki kekar mengerumuni seorang gadis yang sedang terisak. Di sudut beranda itu samar-samar perempuan setengah baya berstelan mewah duduk di kursi sembari menyulut rokok sekenanya. Ia sibuk dengan kenikmatannya sendiri. Tanpa peduli pada isakan gadis kecil itu. Kuhirup udara dalam-dalam, lalu kuembuskan lagi. Tanganku kucubit untuk meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi dan membuka nalar sadarku. Nyata aku sedang menghadapi bahaya. Aku ingin berlalu pergi. Tapi isakan gadis itu mengingatkanku pada ibuku dan saudari kecilku. Aku ingin maju, lalu menyelamatkan gadis itu dari genggaman para lelaki kekar itu, tapi aku takut. Tubuhku tak kuat melawan kekekaran mereka. Aku merogoh ponsel di saku celanaku dan langsung mengirim pesan singkat ke nomor aparat berwajib. Tiada balasan seketika. Gadis itu terus terisak. Aku semakin kaget dan amat tersentak. Nafasku tersengal. Dadaku sesak. Ketika kucoba mendekat dan aku melihat lebih jelas. Gadis itu Lorete, saudariku. Dan perempuan setengah baya di sudut beranda itu ibuku. Dengan sembilu yang tertancap di hatiku dan ketidakyakinan yang menumpuk di kepalaku, aku berujar, “Ibu…. Lorrete….!”

Baca juga:  Anggra

Setelah itu aku bungkam. Dan gelap lagi di mataku. Sesungguhnya hidupku dan tindakanku sebagai laki-laki bagi Ibu dan saudariku selama ini telah meninggikanku ke atas bukit kiamat, dan sekaligus telah menjatuhkanku ke curam maut paling dalam.

Mario D. E. Kali. Penulis adalah Mahasiswa aktif STFK Ledalero yang berasal dari Kinbana, Belu, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Ia bergabung sebagai anggota komunitas sastra Arung Sastra Ledalero (ASAL). Ia suka menulis puisi dan cerpen sebagai ibadah bagi Bapak Mama yang telah tiada.

Keterangan

[1] "Lelaki yang Mati di Bukit Kiamat" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen ini pernah tersiar pada edisi arsip pribadi dan kemudian dikirim ke klipingsastra