Selamat Tinggal Cinta Pertama

Karya . Dikliping tanggal 29 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah Guruku

HARI INI ADA ulangan harian. Ternyata semua siswa mampu mengerjakan dengan baik. Berarti apa yang ia ajarkan bisa diterima semua siswa. Memang bagi Pak Rudy, bukan harta benda yang diimpikan. Namun, mencerdaskan anak bangsa itulah yang ia harapkan. Demikianlah guru yang satu ini. Maka tak heran apabila semua siswa menyukainya. Ditambah lagi Pak Guru ini masih lajang. Tentu saja ini membuatnya lebih mempunyai ruang gerak dan waktu yang lebih. Lebih jauh lagi, ternyata ada juga beberapa siswi yang naksir sama Pak Rudy.

Salah satu siswi yang naksir berat pada guru yang satu ini adalah Dea. Siswi kelas XII. Bagi sebagian besar siswi, tentunya ini suatu hal yang luar biasa. Apalagi Pak Rudy itu tidak tampan. Orangnya biasa saja dan tongkrongannya tidak yahud, kata anak gaul. Entah mengapa. Yang jelas, di mata gadis itu sosok Pak Rudy memang luar biasa.

 

MALAM itu, Dea bermain di kost Pak Rudy. Seperti biasanya, siswi yang satu ini datang dengan membawa oleh-oleh kesukaan gurunya. Bika Ambon. Alasannya sih minta diajari Bahasa Inggris. Tentu guru yang baik hati ini tidak akan menolak permintaan les privat siswinya. Apalagi yang cerdas dan mau belajar seperti Dea. Karena jarang sekali ada siswa yang mau belajar langsung dengan gurunya di luar jam pelajaran yang telah ditentukan.

Dalam hati Pak Rudy sama sekali tidak pernah menyadari bahwa gadis itu menyimpan rasa cinta padanya dengan amat dalam. Maka ia pun tetap memperlakukan siswinya itu sama dengan siswi yang lain.Tidak ada perbedaan sedikit pun. Yang ada hanyalah perasaan kagum dan bangga. Dea adalah siswi yang rajin dan pandai di kelasnya. Beberapa kali mengharumkan nama sekolah lewat berbagai lomba yang diikutinya. Seperti debat, speech contest, storytelling yang semua itu menggunakan bahasa Inggris. Berkat ketekunan semua itu dapat dicapai. Baginya guru hanyalah sebagai pembimbing saja.

Yang lebih mengagumkan lagi, sebagai anak orang kaya, Dea tidak tampak membanggakan kekayaan orang tuanya secara berlebihan. Ia suka membantu teman-temannya yang membutuhkan. Selain itu, ia juga tidak terkesan manja dan mau bekerja keras. Maka tak heranlah jika banyak siswa yang tergila-gila pada anak didiknya itu. Berbagai cara telah mereka lakukan. Maklumlah anak muda. Kadang ada yang caranya halus, ada juga yang blak-blakan sampai membawa kehebohan di sekolah. Tapi tak ada satu pun yang pernah menyentuh hatinya. Ia tak tahu bahwa Pak Rudy lah yang berhasil menaklukkan hati gadis itu.

Baca juga:  Saudara-Saudara Sejalan Poros

Pelajaran berjalan dengan lancar. Gadis itu benar-benar mengagumkan. Kemampuannya terasah dengan baik. Pak Rudy hanya bisa berdoa semoga kelak Dea mampu mendapatkan segala yang dicita-citakan. Setelah itu, Dea mengajak gurunya untuk makan malam di Taman Menteng. Sekalian refreshing. Pak Rudy tidak kuasa menolaknya. Mereka berdua menikmati indahnya suasana Menteng di malam hari. Rasanya Dea senang sekali bisa dekat dengan orang yang paling disayangi di dunia ini. Ia berharap suatu saat, setelah lulus dari SMA ia akan menyatakan cintanya pada Pak Rudy. Jadi, sekarang bukan waktu yang tepat.

Ia juga sadar bahwa jika itu dilakukan sekarang tidak akan berhasil. Tentu guru itu akan terikat oleh kode etik. Tidak mungkin bagi guru sebaik Pak Rudy akan berpacaran dengan anak muridnya sendiri. Nah, kalau sudah lulus tentu ceritanya sudah beda lagi. Inilah saat yang dinantikan oleh Dea. Sebelum malam larut, mereka kembali ke rumah.

 

HARI berganti. Waktu berlalu. Tak terasa kelulusan sudah hampir dekat. Dea mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Jangan sampai ilmu yang telah ia dapatkan tiga tahun bisa hancur hanya dalam hitungan dua jam. Ia tetap optimistis mampu menyelesaikan ujian itu dengan baik.

Orang tuanya melanjutkan agar Dea melanjutkan pendidikan di Amerika. Selain bisa mencari pengalaman lebih banyak, ia juga bisa belajar lebih mandiri lagi. Dea menolaknya. Sebab menurutnya mencari pengalaman dan belajar mandiri tidak harus pergi ke luar negeri. Di Indonesia juga bisa kok. Bahkan, ia bertekad kalau pergi ke negeri orang jangan sampai menjadi pecundang. Harus become number one! Malah kalau bisa, datang ke Amerika jangan sebagai mahasiwa, tapi sebagai dosen mereka.

Baca juga:  Penantian Bunda

Tentu alasan itu bukan tanpa sebab. Pastilah, Dea enggan untuk berpisah dengan guru kesayangannya itu. Apalagi setelah lulus SMA tentu langkahnya untuk lebih dekat dengan pujaan hatinya itu akan lebih bisa mantap.

Orang tuanya menyerah kalah melihat ketegaran putri tersayangnya itu. Apalagi mereka sadar jika memaksakan kehendak akan berakibat fatal bagi masa depan Dea. Karena masa depan adalah milik anaknya, bukan milik mereka. Orang tua hanyalah sebagai pengemban amanat agar anaknya bisa menjadi lebih sukses daripada mereka.

 

SETELAH ujian berakhir semua heran. Beberapa hari kemudian, Pak Rudy tidak masuk kerja. Menurut berita yang didapat, katanya ada urusan keluarga mendadak. Jadi, harus segera pulang ke kampung. Ke daerah Tegal.

Dea penasaran. Mengapa Pak Rudy tidak memberi tahu hal itu. Pasti karena beritanya mendadak sehingga tidak ada yang diberi tahu. Jangan-jangan ada keluarga yang meninggal. Atau ada yang tertimpa musibah. Tidak mungkin kan orang bisa tiba-tiba pergi meninggalkan tugasnya kalau tidak karena suatu yang urgen banget. Apalagi semua siswa juga tahu kalau pak gurunya ini bukan tipe suka bolos mengajar.

Berbagai pertanyaan menghujani semua siswa. Mereka merasa kehilangan sosok guru idola mereka. Maka diputuskan, setelah selesai pelajaran, mereka akan bareng-bareng nekat ke Tegal.

 

SAMPAI di Tegal jam satu malam. Mereka melanjutkan perjalanan menyewa truk yang sedang diparkir di jalan. Pak sopir hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kenekatan anak-anak itu. Maklumlah masih anak muda. Maka, mereka diantarkan langsung sampai di alamat Pak Rudy.

Sesampainya di sana, mereka disambut oleh kakak Pak Rudy. Mereka dipersilakan menemui guru kesayangan mereka. Karena ruangannya sempit, yang boleh masuk ke kamar Pak Rudy hanya tiga orang. Dea, Mitha, dan Rehan.

Ternyata, Pak Rudy sedang menunggu ibundanya. Wanita senja itu kelihatan sedang dalam keadaan sakit parah. Dea hanya bisa meyampaikan empatinya dengan menggenggam erat tangan guru itu. Air matanya mengalir seolah turut merasakan penderitaan gurunya.

Baca juga:  Mata Ratri

Tiba-tiba ibundanya mengangkat tangan. Pak Rudy mendekatinya. Ternyata ibunya minta dipanggilkan Ponah, gadis sebelah rumah. Maka dengan segera gadis itu datang.

Ibunda Pak Rudy menyampaikan sesuatu yang di telinga Dea terdengar bagai sambaran petir. Beliau meminta Pak Rudy sesegera mungkin menikahi Ponah. Pak Rudy dan Ponah mengiyakan perkataan itu. Beberapa detik kemudian, jasad halus wanita itu meninggalkan dunia fana dengan tersenyum manis. Pak Rudy hanya bisa memejamkan matanya. Dari sudut matanya, ada aliran air mata.

Bagi Dea, ini adalah musibah besar. Tak sedikit pun terbayang akan terjadi hal itu. Baginya ini suatu hal yang sangat menyakitkan. Tapi dia harus tegar. Tangisannya terdengar sangat menyayat hati. Mungkin bagi orang lain, mereka mengira bahwa tangisan itu adalah karena ia juga merasa kehilangan. Benar. Ia merasa kehilangan. Ia kehilangan Pak Rudy, bukan ibunda guru itu.

Malam itu juga, ia meninggalkan Tegal menuju Jakarta dengan membawa kehancuran. Ia berusaha tegar, tapi tidak bisa. Bagaimanapun juga, Pak Rudy adalah cinta pertamanya. Baginya, lelaki tampan bisa dilihat dan didapat di mana pun berada. Tapi lelaki yang cerdas, penuh pengertian dan bisa membuat hati nyaman itu yang tidak pernah ia jumpai di hidupnya. Baru dengan Pak Rudy lah ia mendapatkan segalanya. Dan kini semua harus direnggut.

Orang tuanya heran sekali ketika Dea mengubah keputusannya untuk berangkat ke Amerika. Mereka hanya pasrah atas keputusan mendadak itu. Maka berangkalah Dea ke negeri Obama Al Barrack itu dengan membawa luka dalam sekali. Ia berharap bisa menyembuhkannya seiring berjalannya waktu. Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal cinta pertama.


Keterangan

[1] "Selamat Tinggal Cinta Pertama" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah Guruku ini pernah tersiar pada edisi No. 02 – Maret 2009