Tersandar di Sialang Pasung

Karya . Dikliping tanggal 11 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

JIKA Anda naik perahu kayu dari Selatpanjang menuju dermaga Sialang Pasung di Pulau Rangsang, Anda akan mendapati sebuah perahu besar yang tampak kesepian, tertambat pada tambang dan tiang-tiang bambu yang kokoh.

Perahu itu kini memang tak lagi digunakan, tapi ia memiliki sebuah cerita yang telah membentang selama seratus tahun lebih. Cerita yang bermula pada masa para penjajah Belanda masih berkeliaran di Kepulauan Meranti.

Alkisah, di masa itu, hiduplah seorang gadis jelita dari Pulau Rangsang, sebut saja namanya Nalea. Ia anak dari seorang pencari sagu. Meskipun hidup dalam keluarga sederhana, kecantikannya yang mulai terlihat di usia remaja itu begitu cepat tersebar luas dari mulut ke mulut, hingga dari laut ke laut.

Di antara orang-orang yang mendengar cerita itu adalah Kolonel Rafael von Hammersdeer, yang saat itu bertugas di pelabuhan Camat Tebingtinggi. Seperti diembuskan angin laut, Kolonel Rafael penasaran dengan kabar tentang Nalea. Apalagi, para kuli angkut suka membicarakan kecantikan Nalea di sela-sela kesibukan mereka, sambil berangan-angan untuk mendapatkannya. Maka dengan jabatannya yang tinggi, Kolonel pun mudah saja berangkat bersama pengawalnya ke pulau Rangsang, dan langsung mencari rumah gadis itu, yang terletak di belakang Musala Baiturrohim.

Baca juga:  Cirahayu

Ketika akhirnya bertemu dan melihat kecantikan Nalea, Kolonel Rafael von Hammersdeer seperti hendak pingsan, ia seakan melihat sesuatu yang lebih rapuh dari cahaya, tapi lebih tajam dari kilat yang menyambar hatinya. Ia pun langsung meminangnya. Orangtua Nalea langsung setuju, disebabkan Kolonel membawa sejumlah uang dan sertifikat tanah yang siap ditandatangani, tapi Nalea menolak mentah-mentah.

Tersandar di Sialang Pasung“Aku tidak bisa dipinang kecuali dengan memenuhi syarat yang kubuat sendiri,” ujarnya, mencoba mempermainkan perasaan.

“Apa itu?” tanya sang kolonel muda.

“Begini. Kau harus membuat perahu terbesar dalam satu malam. Kemudian pagi harinya harus sudah tiba di tepi dermaga.”

Kolonel tertawa terpingkal-pingkal, “Apa kamu ingin menipuku seperti kisah-kisah semacam Candi Roro Jonggrang atau Gunung Tangkuban Perahu?”

“Apa maksudmu?”

“Jangan main-main, aku tidak sebodoh itu menjadi korban legenda-legenda.” Nalea mulai kebingungan. Memang benar, diam-diam ia bercita-cita menjadi tokoh mitos dan legenda yang diceritakan turun-temurun. “Dengar wahai Nalea binti Anip, cerita semacam itu sudah terlalu banyak. Aku jelas bisa membuat perahu dalam satu malam. Dan esok kita bertemu di dermaga Sialang Pasung.”

Baca juga:  Pedagang Senja

Setelah berkata seperti itu, sang kolonel pun pamit kembali ke seberang. Ia lantas mengerahkan ratusan pekerja untuk membuat perahu. Sementara itu, bayangan Nalea bahwa dirinya akan dikenang menjadi bagian dari legenda setara Sangkuriang, Malin Kundang, atau Bandung Bandawasa, kini mulai lenyap. Ia bahkan tak bisa lagi bermimpi menandingi ratu pantai selatan.

Maka malam itu, ratusan orang bekerja di pelabuhan Camat, sebenarnya mereka hanya memperbaiki sebuah perahu tua yang sudah ada, sehingga semuanya bisa selesai bahkan sebelum azan subuh. Dan pagi itu juga, sang Kolonel berlayar ke seberang dengan perahu tersebut. Sedangkan Nalea masih berharap pernikahan itu gagal, ia memanggil beberapa nelayan untuk diam-diam menyusup dan melobangi perahu. Namun para nelayan itu menolak.

“Tidak bisa, kami juga tidak ingin jadi tokoh jahat dalam legenda.”

Akhirnya ketika perahu bersandar dan Kolonel von Hammersdeer turun dengan gagahnya, Nalea pun mengerti, ia tak bisa apa-apa. Pagi itu juga, di dermaga Sialang Pasung, keduanya benar-benar menikah dengan mahar sebuah perahu.

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-1 April 2015

Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Konon, setelah kemerdekaan didapat Indonesia, Nalea dibawa suaminya ke Belanda. Di sana, Nalea berbisnis mi sagu. Ternyata bisnis itu sukses besar. Tampanya Nalea tidak terlalu menyesal meskipun gagal menjadi cerita legenda yang diingat masyarakat.

Sedangkan perahu besar itu masih tersandar di dermaga Sialang Pasung, dalam keadaan masih kokoh kayu dan papannya, kecuali di beberapa bagian catnya telah mengelupas. Perahu itu kini tak pernah digunakan lagi, dan tak seorang pun peduli pada kisahnya.❑- g

*)Selatpanjang dan Pulau Rangsang terletak di Kepulauan Meranti, Riau


Sungging Raga, banyak menulis fiksi. Buku terbarunya “Apeirophobia” (Basabasi, 2018). Saat ini tinggal di Tangerang, Banten) | “Kedaulatan Rakyat“.

Keterangan

[1] "Tersandar di Sialang Pasung" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 10 Maret 2019