Titik Nol

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Hari masih begitu muda. Kau belumlah ada. Maka kuceritakan kisah ini. Semoga kau suka. Sebab semuanya bermula di sini. Pada gulungan kabut tebal di utara dan hamparan api berkobar di selatan.

Niflheim: dingin seperti cinta mati

Muspell: membara seperti cinta pertama

Niflheim tak menjanjikan apa-apa selain dingin dan kebekuan yang abadi. Di balik selimut tebal kabutnya mengalir sebelas sungai berbisa yang mampu membunuh sesiapa saja yang meminumnya. Semua bersumber di Hvergelmir-pusat segala, gejolak yang tak pernah reda, dendam yang tak pernah tuntas, nafsu buas yang tak bisa lagi kau bungkus dengan apa pun. Sedang Muspell adalah api abadi, neraka bagi siapa saja yang berani menginjakkan kakinya. Semuanya membara di sana: tanah, batu-batu, debu, juga udara. Dan di tepian kobaran api, titik di mana kabut menjelma jadi cahaya, Surtr tegak berdiri. Pedangnya tertancap di tanah dan menyala-nyala. Sosok ini sudah berdiri di sana entah sejak kapan. Surtr ada sebelum segalanya ada. Katakanlah demikian. Percayalah demikian. Berdiam di sana. Seperti berjaga. Tak pergi ke mana-mana. (Kelak ia akan pergi sekali saja. Pada waktunya nanti. Dan ia tak bakal kembali. Tak ada yang bisa kembali lagi setelah kepergiannya. Juga kita. Saat ini aku yakin ia masih di sana. Di tempatnya semula. Di bawah debunya semula. Jangan pergi dulu, Surtr. Berdiamlah di sana. Setidaknya sampai cerita ini selesai.)

Di antara Niflheim dan Muspell, di antara yang dingin dan panas, ada celah di mana kelak kita bertemu-memang, selalu ada celah meski kecil dan tak mudah. Sebutlah ia Ginnungagap, sebuah ruang antara. Sungai-sungai dari utara, di sinilah mereka bermuara, mengeras menjadi dataran es, membeku menjadi bongkahan-bongkahan yang dingin dan sepi. Di ruang antara inilah segala sesuatu mulai tumbuh. Pertama, terciptalahYmir dari sepi yang paling getir, dari angin yang paling dingin. Ia raksasa tanpa kelamin. Kita tak bisa menyebut jantan atau betina. Tubuhnya besar. Lebih besar dari apa yang bisa kaubayangkan atas kebesaran. Tak berselang lama, terciptalah Audhumla, seekor sapi yang juga besarnya bukan kepalang. Sapi raksasa yang lahir tanpa tanduk. Kerjanya hanya menjilati balok-balok es-yang menurutnya asin. Tak ada yang lain. Rumput belum ada di hari yang masih muda itu. Maka jadilah bongkah-bongkah es sebagai makanan dan minumannya. Sedangkan Ymir bertahan hidup dengan air susu yang dihasilkan Audhumla. Susunya segar. Berlimpah. Memancar dari puting-putingnya. Mencipta sungai-sungai baru. Sungai susu.

Ymir makin hari makin besar. Susu Audhumla mempercepat pertumbuhannya. Sementara sapi raksasa itu tak henti memamah balok-balok es. Lidahnya yang besar menjilat dengan rakus bongkahan-bongkahan air yang beku itu seperti kanak-kanak-saat itu belum ada-menjilat es potong dari warung sebelah. Dan inilah ruang antara, ruang yang menjanjikan begitu banyak kemungkinan penciptaan. Ruang ketiga di mana ruang pertama dan ruang kedua sudah tak mampu menjanjikan apa-apa lagi: tua, pasti, dan tak terbantah lagi. Balok es yang tiap hari dilumat ludah Audhumla pelan-pelan mulai berubah menjelma jadi berhelai-helai rambut di suatu hari. Menjadi kepala di hari berikutnya. Dan menjadi sesosok tubuh laki-laki di ujung hari yang lain. Dialah Buri yang kelak dikenal sebagai moyang para dewa. Hiduplah ia berkawan dengan Ymir, sapi dan sepi.

Baca juga:  Talak Tiga

Segalanya seperti baru saja dimulai. Siapa pula yang sanggup menghentikannya. Segalanya seperti terus tumbuh bahkan dalam tidur yang paling dalam. Begitulah dalam sebuah tidurnya yang kosong tanpa mimpi-mimpi belum ada waktu itu-Ymir beranak pinak. Dari ketiak kirinya lahir sepasang raksasa, jantan dan betina. Dari balik sepasang kakinya yang besar lahir seorang raksasa berkepala enam. Ya, di hari yang masih begitu muda, sebuah bangsa bisa tercipta dalam sebuah tidur tanpa mimpi. Mereka kawin-mawin dan berbiak dengan cepat. Ratusan raksasa segera memecah kesepian Ginnungagap. Sungai-sungai susu Audhumla penuh dengan bayi-bayi raksasa yang berenang sambil minum susu. Bangsa baru ini pun menyebar ke seluruh penjuru. Ke utara yang dingin lantaran berbatasan dengan Niflheim. Juga ke selatan yang hangat seperti musim sepi sebab berhadap-hadapan dengan Muspell dan bayang Surtr yang kadang tampak dengan jelas di saat-saat tertentu-bayang-bayang yang mengerikan entah karena apa.

Titik NolLalu bagaimana halnya dengan Buri? Apakah ia tetap bertahan hidup seorang diri? Jilatan ajaib Audhumla hanya berlaku satu kali. Tak ada Buri-Buri lain yang lahir dari bongkahan es. Buri pun tak bisa beranak pinak dalam tidur sebagaimana Ymir-tak ada yang mendadak lahir di ketiak atau sepasang kakinya. Sementara hampir tiap hari ia menyaksikan bayi raksasa terus bertambah banyak. Ia makin merasa kesepian. Sendirian di antara keramaian bangsa raksasa yang makin mengepungnya. Buri baik-baik saja sebenarnya. Ia bergaul akrab dengan para raksasa itu. Tapi tetap saja ia berbeda dengan mereka. Ia bukan raksasa. Itulah yang membuatnya merasa sendiri. Hingga di satu hari ia memberanikan diri mengajak seorang raksasa betina bercinta. Ya, tiba-tiba saja ia ingin bercinta setelah berkali-kali ia melihat para raksasa itu bercinta di depan matanya. Raksasa perempuan itu mengiyakan ajakan Buri. Dan bercintalah mereka di balik bongkahan es. Untuk pertama kalinya Buri merasa tak sendiri. Dengan rakus ia melumat bibir pasangannya, menindih tubuhnya berkali-kali, hingga di sebuah puncak ia berteriak dengan keras. Sangat keras. Memecah kesepian hatinya.

Dari persetubuhan di balik bongkahan es itu lahirlah Bor, makhluk setengah dewa setengah raksasa pertama di Ginnungagap. Buri merayakan kelahiran Bor. Keinginannya untuk mendapatkan keturunan telah tercapai. Perkawinan silang adalah jalan keluarnya. Buri bercinta sepanjang hari. Berharap akan lahir Bor-Bor yang lain. Berharap akan segera tercipta sebuah bangsa selain bangsa raksasa. Tapi keajaiban sekali lagi hanya berlaku satu kali. Maka ketika Bor menginjak dewasa ia segera memintanya untuk mengawini salah seorang raksasa betina. Bor memilih Bestla, raksasa betina yang terbaik di antara kawanannya. Dari perkawinan Bor dengan Bestla, lahirlah Odin, Ve, dan Vili. Buri bernapas lega. Garis keturunannya bertambah panjang. Dan ia bisa mati dengan tenang.

Baca juga:  Sesotya Murca Saking Embanan - Bantala Rengka - Suta Manut Marang Bapa - Waspa Kumembeng Jroning Kalbu - Pancuran Mas Sumawur ing Jagad

Odin, mungkin kau pernah mendengar namanya. Dewa dari segala dewa. Ayah dari Thor si Dewa Petir. Tapi bersabarlah, cerita belum akan sampai ke sana. Hari masih begitu muda. Kembali pada Odin, Ve, dan Vili. Mereka telah beranjak dewasa. Buri sudah mati. Bor menyusul tak lama kemudian. Tinggal mereka bertiga saja. Hidup bersama Ymir dan bangsa raksasa.

Berbeda dengan ayah dan kakeknya, Odin bersaudara tumbuh menjadi pribadi-pribadi tak pernah puas dengan keadaan yang melingkungi mereka. Celah di antara Nifhleim dan Muspell telah habis mereka jelajahi. Tak ada apa-apa lagi yang mampu menggairahkan mereka. Gerombolan raksasa juga tampak menyebalkan di mata mereka. Para raksasa itu hanya bisa beranak pinak dan membuat keramaian. Bertarung satu sama lain dan berpesta. Ginnungagap jadi terlalu membosankan buat mereka. Sementara Niflheim dan Muspell terlalu mengerikan untuk mereka masuki. Odin, Ve, dan Vili mulai membayangkan masa depan.

Sesuatu harus berubah. Mereka tak bisa selamanya hidup seperti itu dari waktu ke waktu. Odin, Ve, dan Vili tengah merancang perubahan itu. Membunuh Ymir adalah awal dari sebuah perubahan. Mereka yakin kematian Ymir akan menjadi awal dari kehidupan baru. Maka diaturlah pembunuhan pertama itu dengan saksama. Dan saat yang tepat adalah saat Ymir tenggelam dalam tidurnya yang dalam. Dengan ujung-ujung batu es yang tajam, mereka menusuk seluruh tubuh Ymir. Mereka bertiga menusuk-nusuk dan menghantam Ymir dengan bongkahan-bongkahan es yang keras. Darah menyembur. Ymir menggeliat bangun tapi sudah terlambat. Ia bangun hanya untuk bertemu dengan kematiannya. Darah terus menyembur dengan deras dari seluruh tubuhnya. Banjir darah di Ginnungagap. Banjir dalam arti yang sebenarnya. Ribuan raksasa hanyut dan mati tenggelam. Semuanya mati kecuali sepasang raksasa, Bergelmir dan istrinya. Mereka selamat karena sempat naik ke dalam kotak kayu yang menjadi perahu bagi mereka dalam mengarungi derasnya samudra darah Ymir. Odin, Ve, dan Vili mendaki tubuh Ymir. Mereka bertahan berhari-hari di sana menyaksikan bencana hebat akibat ulah mereka. Darah Ymir menjelma samudra, membuat tubuhnya menjadi sebuah pulau yang terpencil. Ginnungagap telah lenyap.

Baca juga:  Hyang Maya Mengembara

Setelah keadaan tenang, darah tak lagi mengalir dari tubuh Ymir, raksasa-raksasa sudah tewas tenggelam dalam samudra darah-kecuali Bergelmir dan istrinya yang bisa kabur dengan perahu, Odin dan saudara-saudaranya mulai bekerja mencipta dunia baru. Mereka membuat tanah dari daging Ymir. Membuat gunung dan tebing-tebing dari tumpukan tulang-tulang Ymir. Membuat pantai pasir putih dari serpihan gigi Ymir. Tak lupa mereka membuat benteng pertahanan, berjaga jika para raksasa keturunan Bergelmir akan kembali dan membalas dendam. Benteng itu terbuat dari bulu mata Ymir. Daerah di dalam tembok itu mereka namakan Midgard. Di sinilah Odin bersaudara mewujudkan dunia impian mereka. Dunia yang indah: sungai-sungai jernih mengalir, gunung-gunung dan perbukitan yang hijau, padang rumput yang luas, hutan-hutan hijau yang lebat, pantai dan batu-batu karang. Dataran es Ginnungagap adalah masa lalu yang pelan-pelan akan mereka lupakan.

Tapi buat apa mereka ciptakan itu semua jika tak ada yang bisa menikmatinya. Odin dan saudara-saudaranya mulai gelisah. Mereka harus menemukan penghuni buat dunia baru yang mereka ciptakan. Permainan-permainan baru harus terus diciptakan. Jika tidak, mereka akan kembali bertemu dengan kebosanan. Bertiga mereka berkelana menyusuri dengan teliti lembah-lembah dan gunung-gunung, pantai-pantai yang jauh, untuk menemukan penghuni dunia rekaan mereka. Tapi tak ada. Mereka tak bertemu siapa-siapa. Hanya dua batang pohon yang teronggok di sebuah pantai, tergeletak bersisihan, sisa dari bencana yang belum lama berlalu. Sebatang kayu ash dan sebatang kayu elm.

Dua batang kayu ini mereka dirikan. Tingginya setinggi manusia. Odin lantas meniupkan napas kehidupan. Maka hiduplah kedua batang kayu ini. Mereka bernapas dan berdarah. Vili kemudian meniupkan hasrat ke dalam dua makhluk yang baru ini. Memberi mereka kemampuan berpikir dan bertindak. Dan Ve menyempurnakan tubuh kedua batang kayu ini. Mengukirnya menjadi sebentuk manusia: punya mata, telinga, hidung, leher, badan, dan sepasang tangan-kaki. Ia juga mengukir alat kelamin. Laki-laki pada kayu ash dan perempuan di kayu elm. Sepasang manusia baru saja tercipta. Keduanya berdiri berhadapan. Telanjang di sebuah pantai. Mereka adalah kita.

Aku Ask kau Embla.

Jogjakarta, 2019


Gunawan Maryanto adalah seorang sutradara, aktor, dan penulis. Lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Bekerja di Teater Garasi/Garasi Performance Institute sebagai associate artistic. Dalam 10 tahun terakhir mengelola IDRF (Indonesia Dramatic Reading Festival) selaku direktur artistik. Buku terbarunya adalah Sakuntala (GPU, 2018) | “Koran Tempo.

Keterangan

[1] "Titik Nol" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 2 - 3 Maret 2019