Bayi Malaikat

Karya . Dikliping tanggal 2 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Pada hari kesebelas kelahiran Nul, orang-orang dusun tahu bahwa perempuan lebih kuat ketimbang laki-laki. Perempuan itu berdiri bagai tebing padas. Angin buruk yang berembus ke dusun tidak mampu menggoyahkannya.

Namun, lelaki itu, ia menarik diri dari dunia. Ia duduk di lincak di bawah pohon mangga. Menatap kosong ke depan, ke arah halaman dan jalan depan rumahnya. Orang-orang, awalnya, selalu menyapanya. Namun, ia membisu. Lalu, orang yang menyapanya semakin berkurang. Dan, pada hari ke delapan, praktis tak ada lagi yang menyapanya.

Ia duduk diam. Perempuan itu, istrinya, awalnya mencoba membawanya masuk. “Semua akan membaik,” kata perempuan itu. “Kita bisa menghadapinya bersama-sama,” bujuk perempuan itu. “Ayolah masuk, malu sama tetangga,” ujar perempuan itu. Namun, tak satu pun rayuan yang mangkus membuat lelaki itu beranjak. Maka, si perempuan tahu, suaminya telah menyerah.

Dokter terlalu mahal dan posisinya jauh. Puskesmas berjarak dua puluh empat kilometer dan seseorang mesti menempuh jalan rusak berlumpur untuk sampai ke sana. Namun, di dusun sebelah, ada seorang mantri sepuh yang biasa membantu menangani orang sakit, mulai dari demam hingga penyakit langka di daerah situ macam diabetes.

Menangani persalinan dan khitan (beberapa bocah yang akan dikhitan merasa risih dan malu karena ia seorang perempuan) termasuk keahliannya yang tak perlu diragukan lagi. Si lelaki memanggilnya dan mantri tersebut tiba ketika si perempuan sedang mengerang kesakitan di dipannya yang berbunyi nyaring setiap kali si perempuan menggeliat sehingga si mantri khawatir dipan itu akan segera ambruk.

“Dipan itu kuat,” kata si lelaki memupus kekhawatiran si mantri.

Tiga puluh empat menit setelah kedatangan si mantri, perempuan enam puluh tahunan itu merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Makhluk tak lazim akan segera keluar ke dunia yang fana ini. Kepala bayi itu mulai nongol. Kecil. Terlalu kecil untuk ukuran bayi normal. Jauh terlalu kecil. Hanya setengah kepalan tangan si mantri. Namun, begitu ia menarik kepala tersebut, ia menemukan kesulitan yang luar biasa. Berat. Sulit. Seakan terdapat badan yang besar setelah kepala tersebut.

Dan, si calon ibu semakin sengit berteriak. Setelah empat jam yang melelahkan dan penuh darah dan keringat, firasat sang mantri terbukti. Ia tertegun melihat makhluk di depannya. Janin manusia dengan kepala kecil, dengan tangan dan kaki hanya sepanjang tak lebih dari lima sentimeter dan lebih terlihat seperti tonjolan daging ketimbang tangan dan kaki, serta badan yang luar biasa besar. Bayi yang baru lahir tersebut lebih tampak seperti seekor ikan gembung raksasa yang tengah menggembung. Namun, tentu saja orang-orang di dusun lereng gunung itu tidak pernah tahu ikan gembung, apalagi ikan gembung raksasa.

Baca juga:  Malam Ini Sunyi Sekali

“Lihatlah anakmu. Aku tak tahu ia laki-laki atau perempuan,” kata mantri itu seraya mengelap tangannya kepada bapak baru yang menunggu di luar kamar dengan cemas. Lelaki itu masuk. Dan, tak sampai semenit kemudian, ia keluar, lantas menuju lincak di bawah pohon mangga di depan rumahnya, duduk di situ, diam, tanpa melakukan apa pun selain menatap kosong ke depan, hingga nyawanya putus sebelas hari kemudian, dalam usia dua puluh empat tahun lebih tiga bulan enam hari.

Si ibu jauh lebih tegar. Sebelum keluar untuk memanggil sang bapak baru, mantri yang berpengalaman bertahun-tahun membantu persalinan tersebut membersihkan tubuh perempuan itu, membantunya bersandar lebih tinggi, dan mengatakan supaya ia siap dengan apa pun yang akan terjadi. Perempuan itu mengangguk. Ia sedikit terkejut ketika mantri menunjukkan makhluk dalam gendongan. Ia lantas meminta anak itu.

“Ini anakku?”

“Itu anakmu. Tapi, aku tak tahu ia laki-laki atau perempuan.”

“Malaikat memang tidak berjenis kelamin,” kata perempuan itu seraya mendaratkan ciuman pertama di pipi si bayi. Ketika mantri keluar kamar dan suaminya masuk, ia meminta agar lelaki itu segera membacakan azan. Namun, seperti yang kita tahu, begitu si lelaki melihat wujud bayi itu, ia tidak pernah lagi mengeluarkan suara. Maka perempuan itu, dengan suara lemah dan bergetar, mengumandangkan azan sendiri untuk si bayi.

Sesuai adat istiadat, tetangga-tetangga segera berdatangan untuk menengok. Mereka membawa apa yang sekiranya diperlukan oleh si ibu baru dan si bayi. Popok, selimut, sabun bayi, sabun cuci, bedak bayi, dan sebagainya. Dan, tak satu pun dari mereka yang tidak terkejut ketika melihat bentuk si bayi. Namun, norma kesopanan menjaga mulut mereka dari mencela meski ada beberapa di antara mereka yang tidak dapat menahan keterkejutan secara reflek mengucap istighfar yang ditambah kalimat makhluk apa itu?

Baca juga:  Seorang Lelaki Tidak Mati Dua Kali

“Ia bayi panas. Siapa namanya? Nul, ya Nul, karena kata ibunya nama itu bisa buat laki-laki dan perempuan dan bayi itu tidak memiliki kelamin. Kata mantri, ia berkemih melalui lubang anusnya,” kata seseorang.

“Ya, dan ibunya selalu menambahi memang begitulah adanya malaikat,” sahut yang lain.

***

Perempuan itu bekerja begitu keras. Ia menggarap sepetak lahannya dengan sigap dan cepat sehingga pekerjaannya selalu selesai lebih awal ketimbang orang lain. Dan, karena tersisa masih banyak waktu, ia menerima permintaan tetangga untuk membantu menggarap sawah mereka.

Ketika tidak ada yang bisa dikerjakan di sawah, ia pergi ke hutan untuk memulung apa pun yang bisa dijual. Awalnya, ia selalu membawa anaknya bekerja dengan menggendongnya di punggung menggunakan kain yang dililitkan karena tidak ada yang menjaga bayi tersebut.

Namun, lantaran bayi itu selalu tidur sepanjang ia bekerja dan baru terbangun setelah ia selesai seolah tahu kesibukannya, ia mulai meninggalkan bayi itu di rumah dan pergi bekerja dengan tenang. “Benar-benar seorang malaikat,” gumamnya.

Selera makan si bayi benar-benar luar biasa. Pada umur dua minggu, ia sudah tidak lagi terpuaskan oleh ASI. Ibunya berharap dengan porsi makan yang jauh lebih besar ketimbang porsi makannya, tangan, kaki, dan kepala si bayi Nul akan segera tumbuh dan bayi itu terlihat wajar sebagaimana bayi pada umumnya.

Namun, perempuan itu keliru. Yang bertambah besar dari bayi itu hanya badannya. Badannya terus mekar. Hingga ketika menginjak usia tiga bulan, ukuran badannya hampir sebesar kambing dewasa bunting tua dengan kepala dan tangan dan kaki yang meski sedikit lebih besar, tapi tetap terlihat sangat kecil.

“Apakah akan segera keluar sayap dari badanmu itu, Nak?” gumam si ibu ketika meninabobokan Nul suatu malam.

Keesokan paginya, ketika perempuan itu pergi ke hutan, sekelompok remaja gendeng menyelinap ke dalam rumah dan mengambil Nul. Sekelompok pemuda itu sepertinya telah merencanakan kebiadaban tersebut sejak lama. Mereka hanya tak menyangka bahwa badan Nul telah membengkak sebesar itu sehingga tak mungkin menyembunyikannya. Mereka harus menggotongnya. Kepada orang-orang yang bertemu, mereka bilang dititipi si bayi oleh ibunya agar diajak jalan-jalan dan akan berada di rumah kembali sebelum ibunya pulang dari hutan.

Baca juga:  Mencintai dalam Diam

Di lapangan besar itu, para remaja gendeng tersebut membuka lapak yang lebih menyita perhatian ketimbang lapak apa pun di sana, bahkan ketimbang turnamen sepak bola itu sendiri. Orang-orang dari banyak dusun berkumpul untuk melihat bayi ajaib yang terkutuk dan hanya dilahirkan seribu tahun sekali, begitu menurut para remaja tersebut. Dan, untuk melihat bayi tersebut yang mereka sembunyikan di balik tirai, orang-orang harus membayar sejumlah uang.

Para remaja itu tak bakal menduga bahwa menjelang siang, terpanggang panas matahari yang tidak menutupi bagian atas selubung tirainya, bayi itu mengembang semakin besar, semakin besar, dan semakin ringan, lantas terangkat ke udara. Dalam beberapa menit kemudian, orang-orang tak perlu membayar untuk melihat bayi itu terbang ke atas, seperti balon udara. Dan semakin tinggi si bayi terbang, semakin besar ukuran tubuhnya. Bayi itu terus terbang tinggi hingga akhirnya ia menjelma titik di langit untuk kemudian tak ada mata yang bisa melihatnya lagi.

Para remaja mendadak panik. Mereka pulang dengan cemas dan gemetar. Sementara itu, si ibu sudah menunggu dengan air mata berurai. Dari para tetangga, ia tahu sekelompok remaja membawa anaknya. Siapa pun tahu reputasi para remaja itu sebagai perusuh dan pemabuk. “Kenapa tidak kau cegah mereka?” tanya ibu yang berduka dan menderita itu sambil tersengal.

“Aku tidak tahu kenapa aku tidak mencegah mereka. Kumohon maafkan aku. Maafkan aku.”

Meski terkenal perusuh dan pemabuk, nyatalah bahwa para remaja itu memiliki sifat jantan. Mereka datang ke ibu yang menangis itu, bersiap atas segala risiko, dan memulai permintaan maaf serta cerita mereka dengan kalimat: ia terbang ke langit. Seluruh orang di lapangan menjadi saksinya.

Alih-alih marah, ibu itu takjub dan terpukau.

“Ia kembali ke surga, malaikatku…”


Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan | “Republika“.

Keterangan

[1] "Bayi Malaikat" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 31 Maret 2019