Dendam Pohon-pohon

Karya . Dikliping tanggal 16 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

JAUH sebelum wilayah ini menjadi perkotaan yang tidak bisa lepas dari hingar-bingar. Tuhan telah mengirimkan Si Air dan Si Pohon dari surga. Mereka adalah yatim piatu yang Tuhan turunkan untuk menjaga keseimbangan bumi. Karena Dia tahu bumi ini tidak bisa hidup tanpa Si Air, dan tidak akan bisa bernapas tanpa Si Pohon.

Meskipun mereka bersaudara, tapi mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Si air adalah pemarah, sedangkan di pohon begitu penyabar. Tahun demi tahun mereka tumbuh bersama-sama. Mereka saling menghidupi satu sama lain. Si Air dengan teratur memberikan tubuhnya demi terlahirnya pohon-pohon yang baru. Si Pohon dengan sangat sabar selalu membersihkan Si Air agar tetap jernih dan tidak tercemar.

Si Air pun semakin besar, dan Si Pohon telah memiliki banyak anak yang tersebar di seluruh bumi. Si Air akan marah ketika banyak pohon diperlakukan sembarangan oleh manusia. Ia ingin sekali membalas perbuatan manusia itu dengan mengalirkan seluruh tubuhnya ke permukiman. Tapi Si Pohon selalu menghentikannya, ia tidak ingin manusia mengalami musibah dan kesusahan.

Baca juga:  Pada Suatu Hari

“Mengapa kau selalu melarangku untuk membalaskan dendammu dan keturunanmu kepada manusia?”

“Aku tidak merasa dendam terhadap mereka, begitu pula dengan keturunanku.”

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini, sampai semua pohon habis ditebang oleh manusia, hah?!”

“Sudahlah jangan dibahas.”

“Tidak bisa seperti itu. Aku tidak terima kalau mereka terus menusuk tubuh kalian dengan paku hanya untuk memasang foto mereka, menebang leher lalu mencencang tubuh kalian menjadi beberapa bagian, dan membunuh kalian secara massal hanya untuk menanam sebuah beton. Aku tidak terima itu. Mereka lupa kalau mereka bisa hidup karena oksigen yang selalu kalian berikan, tapi apa balasan mereka? Mereka malah memperlakukan kalian seenaknya.”

“Kau tahu kenapa Tuhan mengirim kita ke sini? Dia ingin supaya kita selalu memberikan kehidupan kepada makhluknya yang sempurna itu.”

“Kau memang tidak pernah berubah, sejak dulu selalu seperti itu. Tapi apakah kau tidak benci atau sekadar capek menahan tubuhku yang seharusnya sudah merendam pemukiman manusia itu?”

Baca juga:  Misteri Seorang Tukang Cukur

“Tidak. Tidak sama sekali. Malah aku merasa senang bisa menjalankan tugasku dengan baik. Karena hanya dengan ini aku mengabdi kepada Tuhanku.”

Si Air pergi begitu saja. Ia sadar, percuma berdebat dengan Si Pohon karena akhirnya akan tetap samaóia kalah dan Si Pohon tidak akan pernah mengizinkannya membalas dendam.

Hari demi hari berlalu. Pohon-pohon di kota semakin dipenuhi tusukan paku di tubuhnya. Pelbagai macam wajah manusia dengan posenya masing-masing menempel pada tubuh mereka. Lengkap dengan biodata singkat dan visi misi sekaligus motto hidup masing-masing. Sedangkan di hutan, pohon-pohon semakin sedikit. Mereka perlahan namun pasti ditebang oleh manusia setiap harinya. Mereka ingin melawan tapi tidak bisa, karena mereka diciptakan dari kebaikan dan hanya bisa memberikan kebaikan, bukan balas dendam.

Siang itu Si Air mendapat kabar dari burung elang, katanya, Si Pohon sedang disembelih oleh manusia. Mendapat kabar itu, Si Air semakin marah kepada manusia. Cuaca yang sedang panas membuat Si Air dengan mudah menguapkan tubuhnya ke langit. Dan dengan cepat berubah menjadi awan berwarna kelabu yang siap menurunkan hujan. Setengah tubuh yang ia uapkan berubah menjadi hujan yang tidak berhenti selama tiga hari tiga malam.

Baca juga:  Tungku

Si Air meluapkan kemarahannya kepada manusia. Tubuhnya ia alirkan ke permukiman demi membalaskan dendam sahabatnya. Angin selaku teman baik hujan membantunya membalaskan dendam. Ia mengembuskan tubuhnya sekencang mungkin. Pohon-pohon di kota menumbangkan tubuhnya sendiri ke jalanan. Mereka tidak terima nenek moyangnya disembelih oleh manusia. Kekacauan seketika terjadi di kota itu. Gambar-gambar wajah manusia pun beterbangan digasak oleh angin lalu ditenggelamkan ke dalam tubuh Si Air yang meluap. ❑-e


A Habib. Lahir di Majalengka tahun 2000. Mahasiswa Ilmu Hadis UAD. Berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan Teater JAB. Tulisan-tulisannya sudah terbit di beberapa media, daring maupun luring, lokal maupun nasional | “Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Dendam Pohon-pohon" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 14 April 2019