Memungut Rintik Hujan

Karya . Dikliping tanggal 29 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

AKU kira, kekacauan memang tak mesti dimulai dari sesuatu yang besar dan mengerikan. Sebab seminggu lalu, seorang laki-laki paruh baya bilang kepada orang-orang bahwa ia bisa memungut rintik hujan. Seperti kena teluh, beberapa orang membenarkan dan ikut mempercayainya. Bahkan beberapa tokoh dan orang-orang penting pun ikut membenarkan. Meski beberapa tidak, tapi tetap saja, hujan yang semula sederhana; sebatas air tumpah dari langit berubah menjadi persoalan serius. Dan dari situlah kekacauan ini dimulai.

“Itu sama sekali tak masuk akal …” kataku.

“Tapi sungguh, ia memang bisa memungut rintik hujan.”

“Dengan tangannya?”

“Benar. Dengan tangannya. Laki-laki itu benar-benar ajaib,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah benar-benar mengagumi keajaiban yang jarang.

Baca juga:  Bingkisan Masa Lalu

“Kau pernah melihatnya, dengan mata kepalamu sendiri?”

“Hmmm sebenarnya belum. Tapi aku benar-benar percaya,” jawabnya singkat.

“Kalau begitu kau sama sintingnya! Kalian hanya delusi, berhalusinasi,” tegasku. Matanya nanar menatapku. Mata itu, seperti mata orang-orang lain yang percaya bahwa di dunia ini rintik hujan benar-benar bisa dipungut!

“Banyak ahli dan peneliti hujan bilang ia cuma ngibul, bahkan para penyair yang konon dekat dengan hujan pun berkata sama. Kenapa kau masih percaya?” gumamku.

“Kau, dan orang-orang itu sama bodohnya! Kalian itu hanya digiring supaya menolak fakta. Sudahlah, tinggal percaya memang apa susahnya? Di dunia ini tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Dan laki-laki itu, semacam dapat ilham sehingga tangannya bisa memungut rintik hujan, titik!”

Baca juga:  Tuhan dan Sebatang Lidi

“Baik, baik. Aku akan percaya dengan satu syarat: jelaskan bagaimana caranya dan tunjukkan di depan mataku.”

Sementara di sini aku sedang bercakap-cakap, keadaan di luar sebenarnya semakin kacau. Orang-orang terbelah menjadi dua kelompok yang berbeda: antara yang percaya dan tidak. Satu-satunya hal yang sama dari mereka hanyalah: sama-sama kukuh; sama-sama menyebalkan. Peneliti hujan yang berada pada kelompok penolak berbondong-bondong mengeluarkan kajian bahwa hujan memang hanya hujan, satu-satunya yang bisa memungut hanya tangan dingin penyair, dalam bentuk puisi, kata mereka. Para tokoh yang percaya pun tak mau kalah, mereka juga mengeluarkan kajian bahwa sangat mungkin rintik hujan bisa dipungut oleh tangan. Kekacauan semakin menjadi ketika cerita itu semakin meluas: menyebabkan orangorang saling curiga dan debat hanyalah omong kosong hingga berbusa. Hingga puncaknya, mereka sama-sama lupa apa yang bisa dibikin oleh hujan …

Baca juga:  Sepucuk Angpau Merah - Sindrom Manusia - Kalau - Hujan dan Sepoci Kopi

Kadang, kekacauan memang bisa bermula dari sesuatu yang sederhana. Apakah ini akan berlanjut hingga musim hujan yang akan datang? ❑-e


Haryo Pamungkas, lahir di Jember. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring | “Kedaulatan Rakyat.

Keterangan

[1] "Memungut Rintik Hujan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 28 April 2019