Menembus Pintu

Karya . Dikliping tanggal 9 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Banjarmasin Post, Koran Lokal

Uba membereskan semuanya. Mengembalikan pinjaman uang dari teman, termasuk biaya pembuatan patung ukir bergambar wajahnya. Mantel, jaket, dan apa saja yang ia kira bukan kepunyaannya namun tak mengingat milik siapa ia titipkan ke ibu kos. Benda-benda pemberian gadis manis yang akhirnya memilih hidup bersama lelaki lain ia susun ke dalam kardus. Ia poskan pagi sesudah minum obat penurun demam.

Uba akan pulang ke tempat lahirnya. Di sana ia bisa menemani bapak yang sudah semakin tua, menemani bapak yang selalu tak pernah ia lihat berdaging pipinya setiap pulang kampung. Ia meninggalkan lelaki itu selama kurang lebih sepuluh tahun, kerap lalai berkabar apakah ia baik atau buruk dan inilah saatnya membayar lunas itu semua. Berhenti bekerja. Menunaikan janji. Menyelesaikan tagihan-tagihan. Mengembalikan apa yang pernah dipinjam serta melupakan gairah ibukota. Ia tidak ingin seandainya sesuatu terjadi tiba-tiba kepada orang yang ia sayangi. Siapa yang tahu bila ternyata bapak justru telah mati entah di sudut mana di kebun dan membusuk.

Sepuluh hari lalu Uba kaget tidak biasa. Perasaannya terperosot ke dasar berharap itu hanya mimpi buruk. Ia ditelepon entah siapa, menanyakan pemuda di sebelah kamar kosnya. Ia yang ketika ditelepon sedang galau, sedang menghilang dari siapa saja sebab hari itu gadis yang ia cinta dipersunting lelaki lain. Amat dongkol ia mengangkat nomor yang memanggil dirinya sampai ratusan kali—maksudnya ada banyak orang yang mencoba menghubunginya.

“Ini Uba, ‘kan?”

“Siapa?” Uba gelisah karena si penelepon mengetahui namanya. Pastilah yang menelepon dengan cara seperti ini paham tentang dirinya, dan ia menjadi ketakutan karenanya. Seseorang itu mengaku bapak dari seseorang dan si bapak menangis tersedu-sedu sampai bicaranya seperti tercekik dan Uba dimintai tolong melakukan satu hal.

Baca juga:  Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet

Selesai bicara badan Uba jadi tak enak. Ia rasakan persendiannya ngilu seolah ada menggigit-gigit di dalamnya. Dadanya bergemuruh nyeri disusul demam mulai naik. Ia berlari-lari kecil. Berhenti di bawah pohon meranggas lalu menyetop bus ke rumah kos.

“Ihut! Ihut!” teriakannya keras, berpuluh-puluh kali. Ia gedor-gedor pintu kamar sampai buku jarinya merah. Ia sepaki dinding sampai tapak sepatunya tanggal dan tetap tak ada sahutan. Hanya televisi serta mesin AC sayup-sayup mirip suara hantu di kejauhan malam.

Ia kian gelisah terbayang bapak yang sebelumnya menelepon sambil nangis. Saat memikirkan cara agar pintu kamar kos tetangganya itu terbuka sementara si pemilik kos tidak punya kunci cadangan, pada saat Uba menunduk memegangi sepatunya yang rusak mendadak ada lubang kecil menangkap bola mata Uba sampai jantungnya berdebar dahsyat. Uba mengintip. Dilihatnya suatu hal aneh. Suatu yang tak biasa. Sesuatu yang telanjang kaku membuat dirinya merinding dengan perasaan sakit menjalari tubuh.

Daging Ihut mengisut. Penuh bercak merah kehitaman dan aroma basi mulai menguar ke sekitar. Uba sama sekali tidak ingat kapan terakhir kali bertegur sapa dengan tetangga kosnya, padahal jarak mereka hanya sebatas lembaran papan. Berdasarkan peristiwa inilah Uba berhenti bekerja lalu pulang kampung selamanya. Tetangga kos yang tinggal di tengah-tengah keramaian ibukota saja bisa tidak diketahui kondisinya. Apalagi bapak yang hidup berjauh-jauhan dengan para pemilik kebun: bisa mendapat belulang bila begini, pikir Uba, ngeri.

Uba mengoles balsem ke leher, dahi, tengkuk serta bagian belakang pinggangnya. Selanjutnya ia arahkan botol balsem ke hidung. Ia hirup, ia pejam mata. Ia tutup botol balsem, ia simpan ke saku lalu rapatkan jaket dan kenakan topi. Kaca bus di sisi kiri ia tutup habis. Cuaca tampaknya membuat ia melakukan ini: ada percikan petir menggores pelangi di utara.

Baca juga:  Persekutuan Cahaya

Setelah bus yang ia tumpangi istirahat makan siang ia minum empat butir obat sekaligus. Ia berharap tidur selama perjalanan agar segar saat nanti jumpa bapak. Ia tak perlu cemas tidak sampai atau bus lupa menurunkan dirinya di tempat seharusnya. Ia sudah bilang ke pak supir serta kerneknya.

Dari kejauhan Uba melihat seluruhnya hijau. Itu kebun salak masyarakat desa. Di tengah-tengah kebun itu ada jalan tanah menuju kebun bapak, tempat dulunya ia dilahirkan. Uba sempat kepikiran di posisi mana di kebun itu dulu lelaki yang akan ia temui sebentar lagi menanam ari-arinya. Apakah di bawah pohon nangka yang kini berusia tiga puluh lima tahun lalu mungkin akan ditebang bapak karena pohon itu mati begitu saja?

Satu jam melewati hamparan salak dengan berjalan kaki senyum Uba mengembang. Gubuk tidak terlampau jelek. Di bagian belakang ada kandang, itu mungkin kandang ayam. Nanti kuminta bapak memotong salah satu ayam jago itu, pikirnya. Ia merasa terharu membayangkan bagaimana nanti dirinya menggigit daging di sekitar betis ayam sampai ke jari-jarinya dan ia akan meretakkan tulang ayam untuk mengisap yang terasa gurih di dalamnya. Bila orang gemar makan betis ayam, kelak, merantaunya sering lupa kampung halaman, kata bapak waktu itu. Uba tak percaya. Itu hanya akal-akalan bapak saja karena bapak suka juga betis ayam. Sekarang ia merasa bersalah. Sepuluh tahun merantau baru tiga kali menjenguk kampung, itu pun karena bapak pura-pura sakit.

“Bapak!” Uba mendekati bapak yang waktu itu menangkap anak-anak ayam untuk dimasukkan ke kandang. Bapak tak jawab. Uba berpikir barangkali bapak sudah mulai tuli karena jarang ada yang mengajak bicara. Di kebun hanya ada pepohonan. Hewan ternak dan berbagai jenis binatang.

Baca juga:  Anak Penyu, Tuhan dan Lelaki Itu Tak Kunjung Datang

“Anju!” Uba menamai bapak dengan cara kurangajar seolah ia itu masih anak kecilnya yang baru pintar bicara.

Dilihatnya sekeliling, semua sudah berubah. Batang nangka meranggas. Ranting-ratingnya rontok. Ia lihat ada yang jatuh nyaris mengenai kepala bapak dan ia teriak sekeras-kerasnya. Saat Uba menepuk bahu di depannya sembari berdebar-debar menunggu reaksi ia yakin bapak pasti masih pura-pura. Awas saja nanti, pikirnya geli.

Uba lalu melempar ransel dan berdiri tepat di depan bapak. Ia menunggu lelaki kering itu selesai menangkapi anak-anak ayam. Tak peduli bila nanti bapak menganggap dirinya bocah yang perlu ditarik daun telinga atau lengannya ditinju lebih keras lalu ia sangat suka dikejar-kejar sampai bapak kelelahan.

“Bapakku,” kata Uba. Bapak tinggal menunggu ayam besar-besar saja datang sendiri karena masih
sibuk mencari telur-telur semut di sekitar pokok salak.

Dari belakang Uba memeluk lelaki kesayangannya itu erat-erat. Aku pulang, Pak, bisiknya. Namun yang terjadi kemudian hanyalah gubuk ditutup perlahan oleh bapak. Bunyi krek di pintu membuat Uba terpukul. Tatapannya berubah sendu. Dari kejauhan ia lihat bayangan dirinya berjalan menembus pintu, menembus bapak. **

Riau, September 2017


Jeli Manalu lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” | “Banjarmasin Post“.

Keterangan

[1] "Menembus Pintu" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Banjarmasin Post, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 7 April 2019