Pesta Ular

Karya . Dikliping tanggal 2 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KOTA Terra telah berdusel barangkali tumplek menjadi satu para penggemar tarian ular. Kecuali aku. Terjijik menyaksikan pusar berliukan sanca. Tetapi, calon senat dari Partai Kelinci itu benar-benar cerdas menarik undangan.

Beberapa waktu lalu, tidak ada rencana pertunjukan tarian ular. Hanyalah pamflet atau spanduk melintang mengotori jalan, bahwa, Tuan Alejandro sang penyair pujaanku itu akan hadir dalam acara pesta rakyat.

Tetapi, semenjak tumitku mendekati panggung hingga kemeng, sang tokoh pencipta puisi bertemakan masakan itu tak kunjung menampakkan wujud. Aku hanya disuguhi dentuman gendang penggetar jantung. Bunyinya melengking. Bass-nya kutebak disetel maksimal. Nyaris, menjebolkan kupingku. Namun, rela saja aku demi sang idola. Kamera HP standby sejak diriku berhasil menyingkirkan emak-emak pinggir panggung hingga aku khawatir hujan akan lebih merintik membasahi kamera. Selalu siaga, kalau-kalau Tuan Alejandro akan tiba-tiba muncul dari bawah panggung atau malah ternyata tak terduga menyelinap di antara keramaian massa.

“Lama sekali, yah?” desirku.

Langit kota Terra semakin bertaburan rintik. Decak waswas ikut selaras jingkrak warga yang begitu antusias menonton penari ular yang kini jumlahnya mencapai puluhan orang. Kuterka, warga kota Terra juga tengah menunggu hadirnya pujangga kelas kakap yang karyanya merajai rubrik koran itu. Nyaris, para penyair pemula tidak ia beri ruang. Begitu pula rak-rak toko buku, semua dipenuhi karangannya. Penyair yang baru akan melambungkan namanya saja seolah ia gencet, ia larang berjualan kecuali hanya ia semata di kancah negeri litera.

Baca juga:  Segelas Kopi dan Cokelat Panas - Kehilangan - Sajak Tengah Malam

Tetapi, aku tidak memperdulikan. Gegara syairnya yang berjudul Mengawini Mentimun tersebut, aku jadi menggilai sastra. Begitu apik ia menyulam kata. Hingga akhirnya, terdengar dari penyiar mobil keliling; sesuai jadwal, ia akan hadir di pesta rakyat itu. Tiga jam berlalu tanpa pasti. Beberapa pengunjung yang mungkin saja cukup dikenyangi liukan ular, pulang dengan langkah lemas. Aku masih tertahan. Aku tahu pasti, Tuan Alejandro termasuk manusia terdisiplin di dunia. Pernah ia diundang membaca puisi di malam anugerah sastra di Pendopo Taurika pukul sepuluh malam tepat. Lima menit sebelum acara, pria bertubuh cengking itu sudah siap sedia. Tetapi… kenapa tidak terjadi pada malam itu? getunku.

Baca juga:  Sajak Omong Kosong - Meminjam Mata - Ada Api Membakar Api

“Tuan penyair, di manakah dirimu berada?”

Mata lelahku mengeliling jauh pada tiap jengkal gerombolan manusia mirip Paspampres mencari dan menanti hadirnya. Untuknya, satu novel bergenre thriller, urung kubaca demi meluangkan waktu sekadar bisa bersalaman atau berselfi dari kejauhan. Hingga kakiku telah mati rasa. Urat sepertinya terputus akibat berdiri menahan tubuh. Alhasil, aku melambaikan tangan.

Pelan, sembari tetap menoleh ke belakang. Barangkali, pria berpeci hitam itu akan muncul dan aku bisa segera membalikkan punggung lantas kembali balik ke panggung. Realitanya, satu hari kemudian, sebuah status di facebook mengabarkan; Tuan Alejandro tidak jadi berkampanye di kota Terra akibat takut ular. Usut punya usut, ternyata, ketua panitia disogok mendadak oleh Tuan Robusta, sang juragan kopi yang juga berdapil kota Terra yang semula acara tari perut biasa, malah dibubuhi liukan ular. Otomatis, mendadak sepihak penyair menjadi caleg itu tergidik-gidik. Mana mungkin ia berkampanye bersama hewan menyeramkan. Lebih baik meringkuk kembali ke hotel. Dan infonya, dari balik kaca, Tuan Alejandro menggumpalkan tangan bulat-bulat melihat Tuan Robustaósaingannya, mendepak kesempatannya untuk promosi diri pada rakyat kota TerraóTetapi, Tuan Alejandro tak berciut akal. Ia gegas mengontak sang ajudan. Satu amplop lembaran Uero, kemudian dikempitkan pada ketiak panitia. Lalu, beberapa menit kemudian, ular sanca raksasa terlepas menaiki pentas menyaploki kaki Tuan Robusta. Menggelimpang. Tubuh Tuan kopi itu seakan kehilangan darah. Kejang-kejang. Dan matilah ia. ❑-e

Baca juga:  Ayam dan Musang

Pasuruan 2019


M Ikhwanus S, lahir di Pasuruan, 14 September 1989. Kini tinggal di Surabaya. Melahirkan novel bertajuk Palestina. Selain sibuk mengarang cerpen dan membaca buku, ia juga bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan swasta | “Kedaulatan Rakyat“.

Keterangan

[1] "Pesta Ular" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 31 Maret 2019