Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum

Karya . Dikliping tanggal 16 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

BAYANG-BAYANG bergoyang sibuk malam itu, ketika mereka duduk berhadapan dan dipisahkan meja makan penuh piring-piring kotor bertumpuk di atasnya.

“Anak-anak sudah tidur semua?” si lelaki memecahkan hening yang menggenang.

“Aku yakin mereka sudah tidur semua,” jawab si perempuan. Ia menarik napas panjang seperti mencari harum dan hangat udara yang tak lama lagi tak akan bisa ia rasakan.

“Aku tidak ingin ini terjadi,” ujar si lelaki.

“Tapi aku menginginkannya.”

“Kau harus memikirkan ulang gagasan ini sebelum semua terlambat.”

“Aku telah memikirkannya ulang, berkali-kali, bahkan mungkin ribuan kali. Dan aku selalu sampai pada satu kesimpulan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan aku tidak akan menyesalinya.”

“Tentu saja kau tak akan menyesalinya. Kau tak akan lagi punya waktu untuk itu. Tapi aku, aku! Siapa yang bisa menjamin bahwa aku tidak akan menghabiskan sisa umurku dalam penyesalan dan kemurungan? Dan siapa yang bisa memastikan bahwa aku tidak akan gila karena itu semua?”

“Kau boleh berduka. Tapi kau tak boleh menyesal. Apalagi menjadi gila. Kau harus mempertimbangkan betapa aku menginginkan ini semua dan bahagia karenanya kalau-kalau kau memutuskan menjadi gila.”

“Menjadi gila bukanlah pilihan yang bisa kuputuskan begitu rupa.”

“Kalau begitu ini juga bukan pilihan yang bisa kau putuskan begitu rupa. Tak ada lagi pilihan untuk meneruskan atau membatalkan. Ini keharusan. Ini satu-satunya jalan. Dengan kata lain yang lebih religius, ini adalah takdir yang tak bisa kita elakkan. Eh, kau mau bir?”

“Sepuluh botol bir pun tidak akan membantu,” si lelaki meloloskan sebatang rokok putih, menyalakannya, mengisap asapnya dalam-dalam sebelum kemudian menciptakan lingkaran-lingkaran putih yang segera terbang ke atas dan lenyap diembus udara bergerak dari kipas angin di langit-langit ruang makan itu. Beranda terlihat begitu singup. Dan cahaya lampu masih saja setia menciptakan bayang-bayang sepasang kursi di lantai beranda yang berkilat.

“Mungkin kau perlu dua butir calmlet untuk menemani birnya. Itu tidak pernah gagal membuat kita tenang, bukan?”

“Tapi aku tidak yakin itu akan berhasil dalam keadaan seperti sekarang ini.”

“Sudahlah. Kau tak perlu terlalu memikirkannya.”

“Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya?”

“Sudah kubilang perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan keluargaku adalah orang-orang yang terbiasa berkorban untuk itu. Aku yakin kau belum melupakan kakakku.”

“Tentu saja. Tapi ini persoalan yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana? Dia juga berjuang, ingat itu. Dia berangkat ke Jakarta pada hari Senin setelah korespondensi panjang dengan teman-teman pergerakannya. Teman-temannya bersumpah ia terlihat berkeliaran di Jalan Diponegoro pada hari Sabtu kelabu itu. Lalu ia menghilang. Belum genap seminggu ia berada di Jakarta dan ia menghilang. Banyak yang yakin ia tewas dan mayatnya dibuang entah ke mana oleh pihak-pihak yang kita tahu siapa. Lihatlah. Bahkan sebagai statistik pun ia tidak tercatat. Komnas HAM menyatakan lima orang meninggal dan 149 orang terluka, termasuk aparat. Tapi ia tidak termasuk di antara itu semua. Dan kau tahu apa yang dikatakan bapakku waktu itu?”

Baca juga:  bersiap menonton ludruk - mengenang nyi demang - galogosakti mengejar caluring

“Aku tahu,” si lelaki mematikan rokok yang masih panjang dan memegang keningnya. Jari telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk kening berkilat tersebut.

“Perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan tidak semua pengorbanan harus tercatat. Persis seperti ribuan orang lain yang mati pada masa penjajahan kolonial atau perang kemerdekaan.”

“Bagus kalau kau masih ingat,” jawab si perempuan. Ia bangkit lalu berjalan menuju kulkas tidak jauh dari tempat duduknya. “Dan kalau seandainya bapakku masih hidup, ia akan mendukung apa yang aku lakukan. Ia akan memelukku penuh keharuan. Ingat, ia terharu. Bukan bersedih,” lanjut si perempuan. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol bir. “Kau mau juga?” tanyanya sambil menoleh ke si lelaki.

“Tidak. Aku tidak ingin bir atau calmlet. Sudah kubilang aku tidak mau. Satu-satunya yang kuinginkan adalah kau membatalkan rencana tolol ini.”

“Ini bukan rencana tolol. Kau tahu itu. Kita telah membicarakannya. Bukan hanya kita, melainkan juga tim sukses kita. Ini adalah kesepakatan. Ini adalah bagian dari demokrasi. Dan kau tidak bisa membatalkan begitu saja keputusan yang dihasilkan dari diskusi yang mengusung semangat demokrasi seperti ini begitu saja. Kukira, kita tidak perlu lagi membicarakan ini semua atau tim sukses kita akan mengenang kita sebagai bagian dari orang-orang yang mengkhianati demokrasi, mengingkari hasil musyawarah mufakat.”

“Seandainya kita punya cukup banyak uang.”

“Oh, jangan mulai berdebat tentang apa yang sudah kita diskusikan dan simpulkan sebelumnya. Kebiasaanmu ini benar-benar menyebalkanku.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kita tidak hidup di masa lalu. Sekarang, media sosial menguasai kehidupan kita, dan karenanya arus informasi mengalir tanpa bisa kita bendung. Orang-orang sudah cukup cerdas untuk menerima uang kita, namun memilih calon lain di hari pemilihan. Alih-alih menjadi strategi pemenangan yang jitu, taktik seperti itu bisa menjadi bumerang bagi kita. Bisa saja mereka merekam itu dan mengunggahnya ke media sosial. Dan ujung-ujungnya, bukan hanya perjuangan kita yang gagal, namun kita juga mesti berhadapan dengan hukum.”

“Mungkin apa yang kau katakan memang benar.”

“Itu memang benar. Bukan ‘mungkin benar’. Yang kita butuhkan sekarang adalah drama. Ingat itu. Drama.”

“Kukira kita bisa memperbaiki materi kampanye kita. Kita bisa merumuskan kembali program-program yang akan kita jalankan kalau kita memenangkan satu kursi di pemilu legislatif.”

Baca juga:  Kalangkang

“Oh, kenapa kau kembali membicarakan itu? Program-program dan janji-janji itu klise belaka. Hanya pemantas dan pemanis agar kampanye tetap tampak seperti kampanye. Apa yang akan kau perbaiki? Semua kandidat sesungguhnya memiliki program yang sama. Pendidikan dan layanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja, pengoptimalan kinerja pemerintah, pemberantasan korupsi, peningkatan keamanan, dan hal-hal semacam itu. Jika ada yang berbeda, maka itu hanyalah redaksional kalimatnya belaka. Intinya sama. Dan para pemilih tidak lagi peduli pada itu semua. Yang diinginkan orang-orang adalah drama. Dan drama itulah satu-satunya bahan kampanye yang bisa kita perbaiki. Semakin kita menempatkan diri sebagai pihak yang teraniaya, semakin orang bersimpati kepada kita. Dan bila mereka sudah bersimpati, maka mereka akan memilih kita. Sesimpel itu. Masak orang seperti kau tidak bisa mengerti hal sesederhana ini sih?”

Si lelaki kembali menyalakan sebatang rokok. Si perempuan meneguk bir langsung dari mulut botol dengan sebuah tegukan besar. Ia bersendawa sebelum menaruh botol itu di atas meja makan.

“Apakah kau tidak merasa takut?” si lelaki bertanya setelah menitikkan latu ke asbak di depannya.

“Tidak. Karena aku tahu kau akan menjadi anggota dewan. Dan kau akan menjadi anggota dewan yang baik. Dan itu bagaimana pun adalah langkah awal. Kelak, siapa tahu kau bisa menjadi kepala daerah atau bahkan presiden.”

“Aku menyesali keputusan yang kubuat dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku menyesal mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Kupikir, berjuang tidak harus dilakukan dengan cara itu.”

“Memang tidak. Tapi ini adalah cara paling efektif untuk membangun negeri tercinta kita, tanah air kita. Terlalu banyak orang busuk di lembaga terhormat itu dan hanya kau yang bisa memperbaikinya. Kau tahu sendiri kan berapa dari mereka yang terkena operasi tangkap tangan KPK? Yang tidak hadir sidang? Bahkan yang menonton video porno waktu sidang? Ini sudah benar-benar konyol. Belum lagi komentar-komentar mereka di media sosial yang benar-benar tidak masuk akal dan malah memecah belah serta merusak bangsa ini ketimbang menyatukan dan membangunnya. Kau, sayangku, kau yang harus memperbaiki itu semua. Dan untuk itu, kukatakan sekali lagi kepadamu, aku rela berkorban. Ini langkah besar untuk kita.”

“Aku tidak akan bisa memperbaiki apa-apa kalau polisi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hakim menjebloskanku ke dalam penjara.’’

“Karena itulah hal pertama yang harus kau lakukan setelah mereka melantikmu menjadi anggota dewan adalah menyumpal mulut para penegak hukum itu. Bila kau tak mendekati mereka dan menawarkan sesuatu yang tidak mungkin mereka tolak, mereka akan menyerangmu.”

“Menyuap mereka?”

“Oh, istilah itu terlalu kasar. Tapi tak apalah. Masyarakat mungkin tidak bisa kau suap untuk memilihmu, tapi para penegak hukum itu, tidak diragukan lagi, akan bungkam dengan sejumlah uang atau proyek, atau hal-hal semacamnya di tangan mereka.”

Baca juga:  ajisaka - cungkup - minakjingga seda

“Itu kalau aku menang.”

“Kau akan menang. Itu pasti. Besok, mereka akan menemukanku telungkup di selokan dengan dada berlubang dan sebuah peluru bersarang di dalamnya. Kau akan mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan untuk menyantuni anak yatim piatu ketika entah siapa mencelakaiku dan kau akan bersedih. Kau tak perlu mengatakan apa-apa selain betapa kau mencintaiku dan betapa aku menaruh perhatian besar pada anak-anak, khususnya anak yatim piatu. Masyarakat akan tersentuh dengan itu semua. Dan tim sukses kita, seperti yang telah kita rencanakan, akan mengembuskan kabar melalui akun-akun bodong di media sosial bahwa lawan-lawan politikmu dalam perebutan kursi legislatif di daerah pemilihan inilah yang mencelakaiku. Masyarakat gampang percaya dan terprovokasi dengan berita-berita semacam itu. Percayalah. Drama yang luar biasa menarik akan terjadi. Dan bila setelah itu kau hanya ongkang-ongkang kaki, percayalah, kau akan tetap melenggang ke Senayan.”

“Aku tak tahu apakah aku akan sanggup melakukan itu semua. Anak-anak juga.”

“Kau akan sanggup melakukannya. Aku yakin itu. Dan kelak, anak-anak akan menceritakan kisahku dengan penuh kebanggaan. Mereka tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya akan tahu bahwa ibunya meninggal akibat kejahatan lawan-lawan politik bapaknya. Ibunya seorang patriot. Ibunya seorang pahlawan. Ibunya seorang legenda. Kau tahu, aku selalu ingin menjadi pahlawan dan legenda. Bukankah itu luar biasa?”

“Aku ingin memikirkan ulang ini semua.”

“Tidak. Jangan mulai lagi seperti itu. Sudah malam. Aku mengantuk. Besok adalah hari besar, ada hal mahapenting yang harus aku lakukan,” si perempuan bangkit dari tempat duduknya, ia menenggak sisa bir dalam botol. Lalu dengan mantap berjalan menuju kamar tidurnya. Sesampainya di pintu kamar, ia menoleh ke si lelaki yang tengah mematikan puntung rokok di asbak. “Aku ingin bercinta denganmu untuk terakhir kalinya,” katanya. Suaranya begitu tenang. Dan ia tersenyum. (*)

Catatan:
Kalimat Bayang-bayang bergoyang sibuk diambil dari puisi Goenawan Mohamad yang berjudul Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum.


Dadang Ari Murtono. Lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan. | Jawa Pos

Keterangan

[1] "Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 14 April 2019