Cerita Dua Robot dan Pemuda Penyendiri

Karya . Dikliping tanggal 27 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Cerita ini ditulis oleh seorang robot dengan nomor kode ES-2033-GRK. Ia robot pintar yang bagian kepalanya sudah dijejali beberapa keping cip berisi cerita-cerita pendek dan panjang gubahan sastrawan dari berbagai belahan dunia. Dari Salman Rushdie sampai pengarang kurang terkenal asal Kepulauan Faroe, Sebastian Ebissie. Begini ceritanya:

Aku melihat siaran televisi pagi ini penuh dengan berita Raja Eskar menangis di dalam istananya. Ia menangis tanpa henti sepanjang beberapa hari terakhir dan membuat istri dan para selirnya gelisah. Anak-anaknya gelisah. Para menterinya gelisah. Pengawal-pengawalnya gelisah. Seluruh rakyatnya gelisah.

“Kau tahu kenapa dia menangis terus-menerus?” tanya Rom, yang tiba-tiba saja berada di sebelahku. Ia duduk menyilangkan kaki sambil menggenggam sebuah gelas setengah isi dengan asap mengepul. Aku heran mengapa ia tak punya menu minuman selain teh ekstra panas yang membuat suhu tubuhnya meningkat drastis. Dan membuatnya cerewet bukan main.

Kugidikkan bahu. Penyiar itu juga barusan mengatakan penyebab tangisan Raja Eskar masih terus diselidiki. Sebagai pemirsa, aku tak mungkin lebih tahu daripada penyiar, apalagi tempat istana Raja Eskar sangat jauh dari sini. Istana Atlaham, kudengar-dengar, berjarak hampir tiga ribu kilometer dari rumahku. Rumah yang kutinggali bersama Rom dan Gustam.

“Dia menangis karena dia tidak bahagia. Begitu saja tidak tahu. Dasar bodoh!” Rom mengucapkan itu sambil terkekeh-kekeh. Cairan memuncrat dari mulutnya dan mengenai tubuhku. Panas dan lengket. Serta-merta aku bangun dan mencengkeram lehernya.

“Aku tidak bodoh! Gustam malah selalu bilang bahwa aku adalah robot terpintar yang pernah ada. Kau yang bodoh. Dasar robot tidak berguna!”

Aku mendorong tubuhnya sampai terjatuh. Bunyi benturan benda keras terdengar nyaring. Tubuh besinya membentur lantai. Ia tampak lunglai. Namun, segera ia bangkit dan menyambarku. Ia melancarkan pukulan dan tendangan dengan penuh kekakuan. Aku membalasnya dengan pukulan dan tendangan serupa. Perkelahian tak terhindarkan. Suara di televisi menjadi tak kedengaran lagi karena keributan antara aku dan Rom sangat gaduh. Desing-desing. Denting-denting. Debum-debum. Aku telah berhasil mematahkan sebelah kaki Rom ketika Gustam keluar dari kamar dalam keadaan semrawut dan berkata terheran-heran.

“Ada apa ini?”

Aku menjelaskan semuanya. Rom, dengan terbata-bata, juga menjelaskan semuanya dengan versi yang berbeda. Gustam menatap kami bergantian. Sesudah itu ia berbicara dengan volume tinggi. Matanya yang masih rebekan mencelat dan dagunya bergetar.

“Kalian mempertengkarkan hal yang sangat tidak penting. Bagaimana mungkin sepasang robot bertengkar karena berita seorang raja yang menangis. Kalian seperti manusia saja, bertengkar karena hal yang bukan hanya tidak penting, tapi juga tidak ada kaitannya sama sekali dengan kehidupan kalian.”

Baca juga:  Keluarga yang Menanti Hujan

Aku menunduk. Begitu pula Rom. Gustam mematikan televisi sebelum kembali pergi ke dalam kamar. Sesaat sebelum televisi dimatikan, samar-samar aku mendengar Raja Eskar menangis karena lidahnya tak bisa lagi mencecap rasa manis.

***

Cerita ini ditulis oleh seorang robot dengan nomor kode ES-2034-SRA. Ia robot pintar-meski tidak sepintar ES-2033-GRK-yang bagian kepalanya sudah dijejali beberapa keping cip berisi cerita-cerita pendek dan panjang gubahan sastrawan dari berbagai belahan dunia. Dari Jorge Luis Borges sampai pengarang kurang terkenal asal Haiti, Emmanuel Cortes. Begini ceritanya:

Noel selalu bangun lebih pagi dariku. Itulah sebabnya aku selalu gagal menguasai televisi pagi hari. Aku jadi tidak bisa menyaksikan kartun-kartun kesukaanku. Noel tidak begitu suka pada kartun. Ia melulu nonton berita seakan-akan itu adalah tayangan terpenting dan satu-satunya yang ada di dunia.

Pagi ini ia terlihat serius memandangi layar. Kepalanya tertuju lurus pada piksel-piksel gambar di hadapannya yang bergerak dalam kecepatan puluhan gambar per detik. Kali ini tersiar gambar seorang lelaki tua berjubah emas yang tertunduk di atas singgasana. Sejumlah perempuan muda dan lelaki-lelaki yang gagah serta tampan mengelilinginya. Mereka semua menghibur lelaki tua yang tampaknya sedang bersedih.

Lelaki tua itu adalah seorang raja. Namanya Raja Eskar. Ia terus-menerus menangis dalam beberapa hari terakhir dan tak ada orang yang tahu penyebab tangisan tersebut dan cara mengatasinya. Tak ayal, semua penduduk istana pun kelimpungan dan terserang kegelisahan yang akut. Begitu ringkasan ocehan si penyiar yang dapat kutangkap.

Cerita Dua Robot dan Pemuda PenyendiriTayangan itu telah ada berulang-ulang dan membosankan. Aku meninggalkan Noel dengan berita raja yang menangis. Aku pergi ke belakang menyeduh segelas teh ekstra panas favoritku. Hanya butuh beberapa menit segelas teh tersaji. Segelas teh dengan rasa manis yang pas dan suhu amat panas. Aku menenggaknya dengan penuh hasrat. Isi gelas tinggal separuh ketika aku duduk di sofa sebelah Noel yang keseriusannya belum berkurang sedikit pun.

Di televisi, seorang raja masih menangis dan seorang penyiar masih mengoceh. Entah karena pengaruh teh ekstra panas atau berita yang melulu diulang seperti pengumuman orang hilang, aku merasa geram dan tak bisa tinggal diam.

“Kau tahu kenapa dia menangis terus-menerus?”

Aku menanti jawaban Noel. Dalam beberapa detik, pandangannya tak berpaling dari layar dan itu membikin kekesalanku melonjak. Setelah cukup lama diam, ia menggidikkan bahu tanpa menoleh ke arahku. Dan itu membuatku terpancing.

Baca juga:  Pabrik Skripsi

“Dia menangis karena dia tidak bahagia. Begitu saja tidak tahu. Dasar bodoh!” kataku sambil puas menertawakannya. Mulutku terbuka lebar sehingga air teh yang belum tertelan memuncrat dan membasahi tubuh Noel.

Tiba-tiba ia berdiri dan meraih leherku dengan keras.

“Aku tidak bodoh! Gustam malah selalu bilang bahwa aku adalah robot terpintar yang pernah ada. Kau yang bodoh. Dasar robot tidak berguna!”

Ia mendorong tubuhku yang kurang seimbang. Aku terhuyung bersama setengah gelas teh ekstra panasku yang menumpahi lantai. Tubuhku terasa sakit dan panas. Aku bangun dan membalas perlakuan Noel. Perkelahian tak terhindarkan. Aku dan ia adu pukul, adu tendang, berusaha saling melukai diri masing-masing. Desing-desing. Denting-denting. Debum-debum. Aku telah berhasil mematahkan sebelah tangan Noel ketika Gustam yang hanya mengenakan kaus oblong dan kolor datang dan terheran-heran serta memarah-marahi kami. Ia lalu menyamakan kami dengan manusia dan itu membuatku merasa sangat terhina. Tapi, apa yang dikatakannya memang benar. Aku menunduk. Begitu pula Noel. Gustam mematikan televisi sebelum kembali pergi ke dalam kamar. Sesaat sebelum televisi dimatikan, samar-samar aku mendengar Raja Eskar menangis karena lidahnya tak bisa lagi mencecap rasa manis. Konyol sekali. Dan dugaanku tak salah, ia pasti tidak bahagia karena hal itu.

Tiba-tiba aku ingin menyeduh segelas teh ekstra panas lagi dan menambah kadar gulanya.

***

Cerita ini ditulis oleh seorang pemuda bernama Gustam yang hidup sendirian dan enggan bergaul dengan orang-orang di luar rumahnya. Ayah dan ibunya wafat dengan meninggalkan warisan cukup banyak untuk biaya hidupnya selama beberapa tahun ke depan. Dengan uang warisan itu, ia merakit secara mandiri dua robot pintar, sebagai siasat untuk mengatasi kesepian. Ia berpikir robot tidak seperti manusia. Robot tidak akan menyusahkanmu, mengganggu hidupmu, atau membuatmu jengkel. Tapi, hari ini sepertinya ia mesti meralat pikirannya tersebut. Dan beginilah ceritanya:

Aku sedang mimpi bertemu dengan ayah dan ibu di sebuah tempat yang sangat indah-kurasa itu adalah surga-saat bunyi benda keras beradu dan terjatuh mengusik telingaku. Membuatku tergeragap dan jatuh dari tempat tidur.

Punggungku linu dan kenyataan bahwa mimpi indahku baru saja buyar semakin menambah besar penderitaanku. Tanpa mencuci muka terlebih dahulu, aku segera menuju ke tempat di mana keributan yang mengacaukan jalinan bunga tidurku berasal.

Baca juga:  Jakarta Bukan Kota yang Baik untuk Bersedih

Di ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga, Rom dan Noel sedang bergelut hebat seperti sepasang pegulat. Aku terperanjat dan setengah berteriak menyatakan keherananku.

Keduanya lekas lerai, lalu berdiri dengan tubuh yang tak utuh lagi. Noel kehilangan sebelah tangannya yang tercecer ke kolong meja. Rom kehilangan sebelah kakinya yang tercecer persis di sebelah patahan tangan Noel. Dengan raut seorang yang sedang membuat pengakuan dosa di hadapan pastor, keduanya menceritakan asal-mula keributan itu. Mereka saling menyalahkan dan memposisikan diri terzalimi. Namun aku bisa mendapat benang merah cerita dari keduanya. Siaran televisi, seorang raja yang menangis, serta caci-maki yang menyulut emosi dan berujung baku hantam.

“Kalian mempertengkarkan hal yang sangat tidak penting. Bagaimana mungkin sepasang robot bertengkar karena berita seorang raja yang menangis. Kalian seperti manusia saja, bertengkar karena hal yang bukan hanya tidak penting, tapi juga tidak ada kaitannya sama sekali dengan kehidupan kalian.”

Setelah mengatakan itu, aku mematikan televisi dan beranjak kembali ke dalam kamar. Samar-samar aku sempat mendengar penyiar berujar: “Kabar terbaru dari kerajaan memberitakan bahwa Raja Eskar terus-menerus menangis karena lidahnya tak bisa lagi mencecap rasa manis.”

***

Cerita ini ditulis oleh saya, sebagai penutup cerita dua robot bernama Noel dan Rom dengan penciptanya, Gustam, seorang pemuda penyendiri. Beginilah ceritanya:

Pada siang harinya, Gustam mengumpulkan Noel dan Rom di meja makan. Sambil mendekap pundak kedua robot yang keras dan hangat, Gustam berbisik. “Jangan sekali-kali kalian bertengkar lagi seperti tadi. Ingat, kalian bukan manusia, dan kedamaian kalian di rumah ini bagiku seperti lidah pencecap rasa manis bagi Raja Eskar. Kalian mengerti?”

Noel dan Rom mengangguk. Lalu keduanya saling bersalaman dan berpelukan. Gustam sangat bahagia melihat itu dan ia berpikir malam nanti akan bermimpi indah lagi-atau bahkan lebih indah.

Bandung, 27 April 2019


Erwin Setia, lahir pada 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018) —Koran Tempo

Keterangan

[1] "Cerita Dua Robot dan Pemuda Penyendiri" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi akhir pekan 25-26 Mei 2019.