Eva dalam Dua Cerita Berbeda

Karya . Dikliping tanggal 6 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

01
Everything you see in a dream is but a reflection, a face in a mirror.
(Jose Saramago)

Ini adalah kesenangan bagiku; mengutip kalimat seorang penulis terhormat, Jose Saramago. Aku merasa sedikit lebih istimewa, atau jika boleh jujur, jauh lebih istimewa dibanding tetanggaku yang saban hari kerjanya mengurusi makanan babi-babi dan bebek-bebek dan ayam-ayam peliharaannya. Atau, tetanggaku yang lain lagi, sepasang suami-istri yang gemar beradu makian; aku mengoleksi dua belas kalimat makian dari dua kabupaten berbeda, kampung asal sepasang suami-istri itu, tetanggaku, tapi tak elok jika kutuliskan pada halaman-halaman ini, bersanding dengan kutipan Jose Saramago. Bukan, bukan berarti tetanggaku kalah penting dari Jose, tetapi karena tak baik menggabungkan yang kudus dengan yang buruk. Meski pengetahuanku tentang sastra terhitung nol, aku paham betul, tak layak melempar mutiara ke kandang babi; kalimat Jose Saramago adalah mutiara, dan kandang babi…

Satu-satunya hal yang elok dari pertengkaran sepasang suami-istri ini adalah penyebabnya. Sang istri memiliki tanda lahir, dua ekor ular berpagutan, segaris dengan ruas tulang punggungnya, jantan dan betina. Tanda lahir itu tak menyukai si suami. Tak jarang si suami merasa tubuhnya dirayapi ular, atau ada sepasang ular yang tidur laiknya manusia di antara ia dan istrinya; dalam tiap pertengkaran ia menyebut-nyebut sepasang ular, menyebut-nyebut bagaimana ia nyaris dipagut, bagaimana ia, seorang lelaki yang bersih lakunya, hendak dihabisi di atas ranjangnya sendiri oleh sepasang ular yang mendengki, sepasang ular yang berasal dari tubuh istrinya. Ular yang tak kelihatan, bantah si istri. Ular yang hanya ada dalam khayalanmu, teriak si istri sambil melempari si suami dengan kerikil di pekarangan rumah. Si suami biasanya menghilang selama tiga hari, kembali pada pagi keempat, kabur pada pagi kelima. Siklus pertengkaran keduanya berulang pasti seperti siklus terbit-tenggelamnya matahari. Tetanggaku yang saban hari mengurusi babi-babi, bebek-bebek dan ayam-ayam percaya pada omongan si suami. Jika ada seekor-dua ekor ayam peliharaannya menghilang, ditudingnya sepasang ular jantan-betina yang berumah di tubuh istri tetangga telah menyelinap ke kandang dan menyantapnya. Ia menyindir-nyindir; Perempuan, kalau kau memelihara ular di tubuhmu, kau bertanggung jawab memberinya makanan dari apa yang ada di dapurmu sendiri! Pernah kutanyakan, mengapa tak terus terang saja berkata-kata, sembarang perempuan bisa tersinggung jika ia hanya menyebut target ujarannya sebagai “perempuan”. Takut mati, kilahnya. Jika si target tersinggung, ular di tubuhnya akan balas dendam, katanya lagi.

Tentu, tentu saja. Aku mengiyakan ucapannya. Dalam hidup, kita harus selalu berhati-hati meski kadang berhati-hati hanya berarti menjaga keselamatan diri sendiri. Tentu, tentu saja; apa pedulimu jika kecurigaanmu tak berdasar? Yang kau perlukan cuma seseorang yang rela dijadikan kambing hitam bukan?

Baca juga:  Parfum

“Apa benar di tubuhmu ada ular?”

Ujung jemariku menghitung jumlah ruas tulang belakangnya, atau karena belakangan ini aku sering sekali membaca puisi-puisi di koran, kuistilahkan sebagai membaca peta tubuhnya. Ia berbalik mempertontonkan punggungnya yang telanjang. Sepasang ular birahi saling memagut, menggelinjang gelisah.

“Bercinta dengan tubuhku adalah seni menunda maut, suamiku tak menguasainya.”

“Dan, ia berbohong?”

“Menurutmu, kau tidak sedang berbohong, A? Katakan, apa itu kebenaran?”

02

Kau mengingat sosoknya sebagai bocah lelaki berusia enam tahun yang gemar bertualang hingga sering tersesat. Beberapa kali, orang asing mengantarnya pulang ke rumah, memberi jaminan kepada kedua orang tuanya, ia sudah diberi makanan dan minuman cukup sebelum dikawal pulang. Sering, ia ditemukan salah satu adik lelaki ibunya, seorang polisi, tengah berdiri sendirian di tepi jalan menuju perkebunan kopi angker milik para biarawan Katolik. Diajak teman-teman bermain petak umpet, katanya. Setelah selesai bermain petak umpet, kami akan berjalan kaki ke rumah sakit, menjenguk ibu salah satu teman yang baru melahirkan, katanya lagi. Tapi, teman-temanmu tak nampak, maka kau harus pulang ke rumah, dan berpesan agar mereka tidak mengikutimu, atau mengajakmu bermain, kata adik lelaki ibunya.

Kau mengingat sosoknya sebagai bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan meski mengenal setiap jengkal kebun kopi angker seperti mengenali ruang-ruang dalam rumahnya sendiri. Juga, mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Beberapa ia ceritakan padamu, diakhiri dengan kalimat sakti; Eva, kau boleh percaya atau tidak percaya, tapi kalau apa yang saya ceritakan ini kelak terjadi, kau tidak boleh menceritakan hal ini kepada siapapun. Truk yang dikemudikan ayah si A akan terjungkal ke jurang, si B akan kawin lari dengan si C dan minggat dari kota, kau lihat motor yang memuat tiga murid SD itu? Motor itu akan mengalami kecelakaan di perempatan jalan, tapi semuanya akan selamat.

“Nenek saya sedang sekarat, apakah dia akan meninggal?”

Hingga hari ini kau tak pernah bisa melupakan jawabannya, jawaban seorang bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan, yang mengenal setiap jengkal kebun kopi angker dan mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari. Nenekmu akan meninggal tujuh hari sebelum kau menikah, jadi kau masih punya banyak sekali waktu untuk mendengarkan omelannya yang seperti burung beo itu. Dia akan segera sehat. Kau akan jadi pengantin yang sedih. Sedih dan terasing. Saya melihatmu berada di negeri yang jauh… Negeri yang jauh… Ia lantas bersiul, sementara kau menghitung jumlah tahun yang tersisa sebelum nenekmu meninggal. Kau tidak mengangankan pernikahan, kau mengira-ngira berdasarkan usia rata-rata para perempuan di keluargamu ketika mereka memutuskan untuk menikah. Dua puluh lima. Berarti masih ada delapan belas tahun sebelum kematian itu tiba. Adakah cara mengakalinya? Saya tak ingin nenek mati, dan saya tidak ingin menikah. Wajahmu mengiba; sebenarnya, wajahmu kau atur agar terlihat mengiba — ini adalah teknik berpura-pura yang kau pelajari dari sepupu-sepupumu, yang jumlahnya tiga belas, yang menggunakan teknik yang sama agar diberi uang jajan oleh nenek. Ada. Tentu saja ada. Di tengah kebun kopi ada pohon mangga yang buahnya manis-harum. Kalau kita ke sana, dan melakukan upacara pernikahan, tentu malaikat akan kebingungan dan mengubah catatannya. Waktu meninggal nenekmu belum tiba, waktumu menikah telah tercatat. Kau tahu, anak kecil kadang-kadang bisa mengecoh takdir, seperti Nabi Isa menciptakan burung dari tanah liat, burung-burung itu terbang ke langit…

Baca juga:  Getah Nangka - Lendir Bekicot - Mengisi Teka-Teki Silang

Kau tak bisa mengingat dengan persis rute yang kalian lalui hingga tiba di sekitar pohon yang ia maksud. Seekor burung hantu beruhu-uhu, dan kau maklum jika ia keliru menafsirkan waktu. Matahari jam lima sore tak mengantarkan cahaya yang cukup ke dalam rimbun pohon kopi. Suasana temaram, dan kau mulai mengingat pesan para orang tua; kanak-kanak tak boleh berjalan-jalan jauh sendirian ketika matahari hendak terbenam, roh mereka yang lemah akan terbuai melihat cahaya jingga keemasan di ufuk barat, hingga mereka akan terus berkelana mengejar warna yang sama dari batas langit yang satu ke batas langit yang lain… Tapi, di kebun kopi, ketika kau mendongak, yang nampak hanya rimbun dedaunan hijau-gelap. Hantu-hantu gentayangan di kebun kopi, hantu-hantu pekerja dari jaman Belanda yang mengira dirinya belum mati. Kau tak melihat orang-orang yang acuh bekerja, atau bayangan-bayangan-bayangan, atau siluet manusia yang kakinya tak menapak tanah; hantu yang diceritakan para orang tua. Kau mulai meragukan kebenaran cerita-cerita yang kau dengar. Dalam suasana muram saat itu, hanya nampak olehmu, punggungnya yang tegap dan rambutnya yang hitam gagak dipangkas 2-1-2, barangkali di tukang pangkas tuli yang dalam benakmu sudah berusia sama tuanya dengan kota tempat kalian bermukim.

Baca juga:  Suatu Malam dalam Hidup Mala

Eva dalam Dua Cerita BerbedaKalau kita memakan buah ini, sampai habis, masing-masing separuh, Surga mencatat pernikahan kita. Kau mau tahu sebabnya? Di pohon ini malaikat pencatat takdir sering beristirahat. Sambil beristirahat, ia memeriksa catatannya. Kalau ada yang keliru, atau ada yang harus diganti, dia akan melakukannya di sini sebelum melapor ke Surga. Jangan khawatir karena kau tak bisa melihatnya. Apa urusannya memperlihatkan diri? Yang kita butuhkan hanya percaya, kita bisa membuatnya mengubah catatan dengan cara ini.
Kau masih mengingat sosoknya sebagai bocah berusia enam tahun yang tak berkawan meski mengenal setiap jengkal kebun kopi seperti mengenal ruang-ruang dalam rumahnya sendiri, juga mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Barangkali, ia mengingatmu sebagai istrinya, atau sebagai seorang anak perempuan yang ingin mengakali takdir. Barangkali juga, ia mengingatmu sebagai anak perempuan yang melemparinya dengan batu hingga ia jatuh, berdarah dan terbang lebih gegas ke angkasa bersama malaikat pencatat takdir untuk menghindarimu. Orang-orang mengingatnya sebagai bocah lelaki yang tak pernah kembali dari petualangannya bersamamu di kebun kopi. Kau tak ingin mengingatnya sebagai seorang bocah lelaki yang berubah menjadi seekor burung pipit raksasa setelah memakan buah bagiannya, berusaha mematuk kedua pupil matamu dengan paruhnya yang runcing tajam agar selamanya kau buta. Kau hanya ingin mengingat dirimu sebagai pemenang. Meski setelahnya, kata-kata meninggalkanmu, dan kau menganggap tubuhmu telah jadi tanah liat retak yang tak mungkin ditumbuhi apapun. Orang-orang memanggilmu bisu, dan linglung, kutukan untuk seseorang yang telah mengajak orang lain menjadi celaka; dan, jasadnya tak pernah ditemukan, barangkali, telah disembunyikan hantu-hantu. Sesekali, seekor-dua ekor burung pipit terbang rendah di halaman rumahmu. Pembohong! Umpatmu dalam hati. Kau yakin mendengar suaranya tertawa, balas mengejek. Ia masih bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan, yang mengenali setiap jengkal kebun kopi seperti mengenali ruang-ruang dalam rumahnya sendiri. Kau telah jadi tubuh dewasa, tetapi kau masih tak ingin mengingatnya sebagai burung pipit raksasa yang ingin mematuk kedua pupilmu agar kau selamanya buta. Siapa yang akan percaya? Bahkan, kata-kata pergi meninggalkan lidahku. Barangkali karena kata-kata telah mengetahuinya lebih dulu.


Fransiska Eka saat ini berdomisili di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur | “Koran Tempo

Keterangan

[1] "Eva dalam Dua Cerita Berbeda" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 4-5 Mei 2019