Malam di Luar Hujan

Karya . Dikliping tanggal 13 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Malam di luar hujan. Wanita itu berpesan agar kematiannya dirahasiakan. Sungguh permintaan yang membuatku takjub. Bagaimana mungkin seseorang meminta agar sebuah kejadian penting dalam hidupnya, dirahasiakan dari siapapun?

“Jangan menolongku, dan jangan beritahu siapapun. Biarkan tubuhku membusuk di sini,” ucapnya ketika napasnya telah tersengal, dan tak lama kemudian tubuhnya benar-benar tak bergerak lagi…

Baik. Kita mundur ke lima belas menit sebelumnya, yakni ketika aku sedang berjalan-jalan di tengah hutan yang terletak tak jauh dari desa. Dalam remang malam hujan, pada sebuah jalan berlumpur yang membelah hutan, tiba-tiba kulihat sebuah mobil berhenti, sorot lampu mobil masih menyala ketika pintu dibuka dan tampak tiga orang keluar menggotong sesosok tubuh wanita.

Aku segera bersembunyi di balik salah satu pohon yang batangnya telah dipenuhi lumut. Kusaksikan bagaimana wanita itu diletakkan begitu saja di atas tanah yang dipenuhi daun-daun kering terendam lumpur, lalu tiga orang itu kembali ke dalam mobil, dan melaju ke arah kegelapan, diiringi suara gemerisik pohon dan hujan. Setelah kupikir situasi aman, segera kudekati sosok tubuh tersebut, yang ternyata masih bernyawa, dan bahkan masih bisa berbicara.

“Bertahanlah Mbak, rumah saya tak jauh dari sini, kita cari bantuan.

Namun wanita itu hanya menatapku, menggelengkan kepalanya, dan mengucapkan kalimat seperti yang telah dikutip di awal cerita ini…

Aku heran. Jika orang-orang tadi adalah pembunuh, tentu mereka bukanlah pembunuh profesional. Wanita ini masih bernyawa, bahkan masih bisa mengajukan sebuah permintaan. Ataukah memang ia sengaja tak dibunuh? Ini juga terlalu riskan, sebab sekilas aku melihat wajah orang yang menurunkannya. Mereka tak memakai topeng, penanda bahwa tak perlu ada yang harus ditutupi.

Namun segalanya seperti telah diukur begitu detail. Toh setelah meminta agar kematiannya dirahasiakan, wanita ini mengembuskan napas terakhir dengan tersenyum. Aku terpana. Kecantikan wajahnya masih tersisa dari kulit wajahnya yang memucat. Tapi buat apa kecantikan jika telah menjadi mayat? Dan itu membuatku panik. Hujan menjadikan suasana semakin mencemaskan. Kutinggalkan ia di sana. Pasti besok akan ada orang lain yang menemukannya dan mengabarkannya pada warga. Aku keluar dari hutan, menuruni bukit, dan kembali ke rumah di mana hanya ada nenekku yang sudah terlalu tua, yang tak mungkin bisa diajak bicara tentang apa yang baru saja terjadi.

Baca juga:  Utang yang Tak Terbayar

Namun sepanjang sisa malam itu, pikiranku tetap dipenuhi dengan beragam pertanyaan dan kemungkinan. Apa yang telah dilalui oleh wanita itu? Siapakah dia? Apakah ia tidak ingin membalas dendam?

Sehari berlalu, ternyata belum ada yang mengabarkan penemuan mayat. Apakah jasad wanita itu masih di sana? Mungkinkah tidak ada yang menemukannya? Ataukah para pembunuh itu kembali dan memindahkannya? Tiba-tiba aku menyesal karena tak menggotong mayatnya.

Suatu kali, ketika sedang duduk di warung lotek Gerobak Ijo, hampir saja kuungkapkan kegelisahanku pada orang-orang, tapi semuanya sibuk mengarahkan pandangan ke televisi. Memang, negeri kami sedang merayakan presiden baru, ada acara pelantikan dan konvoi di jalanan ibu kota. Aku tidak terlalu peduli pada itu semua sampai mataku menangkap tiga orang sosok yang berada di belakang pemimpin baru tersebut.

Jantungku hampir meledak.

Itu pembunuh yang kulihat! Mereka ternyata kaki tangan pemimpin sebuah negara!

Sebuah negara, saudara-saudara! Sidang pembaca yang terhormat. Para penikmat sastra media cetak di mana pun Anda berada. Sungguh wajah dingin yang menyeret yang mengempaskan perempuan itu di hutan tengah malam, ternyata anak buah pemimpin negara.

Aku tertegun. Takjub pada kenyataan ini. Pikiranku berkecamuk dan mulai berpikir ke arah yang tak kuduga sebelumnya. Bagaimana kalau presiden baru itu yang membunuh wanita tersebut lalu menyuruh anak buahnya membuang jasad wanita itu di tengah hutan? Aku seperti menjadi saksi kunci yang memiliki peranan penting. Di tanganku nasib pemimpin yang baru, yang bahkan mungkin nasib negara ini. Kalau aku bersuara, gemparlah negeri ini, kacau, demonstrasi mungkin meletus di mana-mana.

Aku lalu pulang dan bercermin. “Lihatlah dunia! Salem, pengangguran kelas kakap ini, sekarang memegang kendali akan sebuah skandal besar. Pemimpin yang baru itu, adalah seorang pembunuh!”

Tunggu. Barangkali aku bisa mendapat uang kalau kuberitahu bahwa aku melihat wanita yang mereka bunuh.

Sore itu juga aku kembali ke hutan, tapi suasana sudah banyak berubah. Apakah wanita itu telah dikuburkan hujan? Kucari jejak-jejaknya tapi sia-sia. Esoknya aku kembali dengan membawa pacul, kugali beberapa bagian, berharap jasadnya bisa ditemukan. Namun tak ada yang kudapati selain sebuah sepatu yang hanya sebelah. Sepatu wanita itu. Tapi kupikir ini sudah cukup.

Baca juga:  Kedai Senja

Berapa yang kuinginkan? Satu milyar? Aku tidak pernah memegang uang lebih dari lima puluh ribu, jadi kupikir satu milyar itu uang yang hanya ada di dalam surga.

Aku sudah membayangkan mengetik cerita pendek di kafe mewah, sambil minum kopi dan disapa pelayan cantik. Mengetik jalinan kata-kata di atas cangkir dengan merk terkenal. Aku tidak akan miskin lagi.

Haha! Persetan dengan kemiskinan! Ini pasti jawaban dari Tuhan. Segera kutulis surat yang hanya berisi sebuah kalimat: “Saya tahu yang Anda lakukan saat malam ketika di luar hujan.” Lantas kukirimkan ke alamat istana presiden yang tercantum di internet.

Begitulah, hingga empat hari kemudian, aku pun dijemput…

***

Ketika badanku duduk terikat, aku baru menyadari, segalanya tidak seperti yang dibayangkan.

“Rupanya aku tak melihat kalau waktu itu ada orang,” kata seorang pengawal.

“Jadi Anda ingin apa?” presiden itu lalu bertanya kepadaku.

“Emm, saya hanya ingin hidup lebih baik, dengan punya uang.”

“Uang? Ini! Ini!” katanya lagi sambil menghujani kepalaku dengan uang merah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Bahkan aku tidak tahu bahwa uang merah segar itu pernah ada. “Ha-ha-ha-ha!” pemimpin negeri itu lantas tertawa.

“Ha-ha-ha-ha!” pengawal yang paling besar juga tertawa hingga terpingkal-pingkal.

“Ha-ha-ha-ha!” pengawal lain ikut tertawa lebih terpingkal-pingkal.

“Ha-ha.” Aku juga ikut tertawa, tapi lirih.

“Orang bodoh ini ingin kaya dengan memeras. Tak kusangka di negeriku ada orang semacam ini.”

“Tuan, jangan-jangan semua rakyat Anda memang seperti dia.”

“Ha-ha-ha-ha. Tukang peras kok diperas?”

“Ha-ha-ha-ha.”

“Jadi sepatu ini yang mau kau jadikan barang bukti untuk meminta uang kepadaku?”

“Ya. Itu baru sebelahnya,” aku mencoba mengancam.

Tawa kembali meledak.

Apakah aku diculik? Kalau aku diculik, pastilah aku dalam bahaya. Namun ini juga akan menjadi kesempatanku untuk menjadi seorang pahlawan. Kau tahu, orang-orang yang diculik akan selalu dikenang, mungkin kelak namaku akan menjadi sebuah nama jalan. Siapa yang tahu? Jalan Salem. Siapa Salem? Itu, orang yang dibungkam karena ingin mengungkap kasus besar. Wah, pasti anak keturunanku lebih mudah mendapat pekerjaan.

Kalau begitu, sekalian saja aku mengarang cerita, bahwa sepatu yang sebelahnya telah kuserahkan kepada temanku yang bekerja di surat kabar. Pastilah ia kalang kabut. Tapi belum sempat aku bicara, tiba-tiba sebuah hantaman keras membuat mataku gelap, diikuti rasa sakit menyerang sekujur tubuh, bertubi-tubi, dan seperti ada darah. Sayang sekali, bagian ini tidak bisa diceritakan utuh karena mengandung unsur kekerasan yang tidak baik untuk pembaca yang budiman.

Baca juga:  Tersandar di Sialang Pasung

***

Dalam ngilu, dalam sisa kesadaran dan rintihan kepedihan, kurasakan diriku digotong oleh dua orang. Tetes hujan mengenai wajah, seperti jawaban dari doa-doa yang pernah kupanjatkan. Langit gelap, entah ini di mana. Mereka lalu membawaku ke dekat sebuah jurang.

“Lemparkan saja.”

“Kalau di bawah ada orang?”

“Biar saja. Pasti nanti dikira mati bunuh diri atau jatuh.”

Itulah percakapan terakhir yang kudengar, sesaat sebelum tubuhku diayunkan dan diempaskan…

Apakah orang-orang itu mengira semuanya beres? Tidak. Mereka pikir aku benar-benar lugu, padahal aku pernah kuliah meski tidak selesai, aku tetapi aku seorang penulis meski tidak pernah mendapat penghargaan. Biar pun tubuhku mungkin tidak ditemukan, tapi aku telah menduga semuanya. Sesaat sebelum ditangkap, segala kejadian tentang wanita itu dan diriku telah ditulis di sini, dalam cerita ini, dan kukirimkan ke media, hingga tiba di tangan Anda sekarang.

Jadi, jika Anda selesai membaca cerita ini dan memilih tidak ingin ikut campur, saya harap Anda segera menyembunyikannya dan bersikap seolah tidak pernah membacanya, karena barangkali malam nanti ada beberapa orang datang mengetuk rumah Anda, dan saya sudah tidak ikut bertanggung jawab jika terjadi apa-apa…*


Sungging Raga , lahir pada 25 April 1987. Sempat menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada. Mulai menulis fiksi sejak 2009. Di antara bukunya yang telah terbit adalah Sarelgaz (Indie Book Corner) dan Reruntuhan Musim Dingin (Diva Press). Sedang menyiapkan buku terbaru berjudul Apeirophobia. Saat ini tinggal di Tangerang, Banten. | “Kompas” 

Ledek Sukadi, lahir pada 19 Oktober 1969 di Wonogiri, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Tahun 1992 meraih penghargaan Pratita Adi Karya Seni Lukis Terbaik kemudian medali emas dari Pemerintah Jepang dan pemenang 100 Pelukis PT Humpus Jakarta. Ia menetap di Yogyakarta dan secara aktif mengikuti berbagai pameran.

Keterangan

[1] "Malam di Luar Hujan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Kompas ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 12 Mei 2019