Mitoni Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 20 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

DI halaman belakang rumah peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi. Tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan datang menjemputku. Aku akan menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama. Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku. Sebelum ajal, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan, dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir ke bumi agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan. Dan, setiap anak telah melahirkan anak-anak mereka, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih. Ia baru dua tahun menikah dan belum mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orang tua dengan cara yang sama. Eka Yuningsih, anak pertamaku. Ketika ia mengandung anak pertama, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami—ayah dan ibunya—menggelar acara mitoni. Demikian pula anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir. Juga, anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anakku dan cucuku yang masih di dalam rahimnya dengan air bunga. Tentu saja aku tahu anak-anak itu menginginkan dawet ayu dan makanan yang kami sediakan untuk hajatan. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaaah,” jawab mereka serempak. Namun, semua upayaku agar mereka diam sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perut mereka yang seluas langit dan sedalam lautan tak juga kunjung puas. Meskipun bermangkuk-mangkuk dawet ayu dan jajanan sudah masuk. Ah, dasar anak-anak.

Semua tampak menjadi sibuk dan repot, memang. Namun, kerepotan itu membuat kami—para orang tua—bahagia. Aku dan mereka tahu bahwa semua kerepotan dan keringat para kerabat dan tetangga yang berkumpul dalam acara mitoni itu adalah pancaran tangan kami semua yang menjemput cahaya berkah dari langit. Cahaya berkah yang kemudian kami berikan pada anak dan cucu yang masih ada di dalam kandungan. Agar kelak, mereka pun tumbuh dan meneruskan berkah itu kepada anak cucu mereka melalui cara ini pula sebagai orang Jawa.

Baca juga:  Semangkuk Perpisahan di Meja Makan

Dahulu, di masa kecilku, aku juga seperti mereka. Anak-anak kampung yang ceria ketika ada hajatan, tak terkecuali mitoni. Aku bersama kangmasku, setiap kali mendengar kabar tetangga yang punya hajat itu, segera berlari gembira di sepanjang jalan kampung dan berebut mengumpulkan kereweng dengan teman-teman lain. Kereweng itu nanti kami tukarkan dengan segelas dawet dan makanan lain. Kami juga diizinkan ayah menonton pergelaran wayang orang atau wayang kulit setelahnya. Biasanya, anak-anak punya cara agar mendapatkan tambahan dawet ayu. Mereka antre sampai berkali-kali, hingga simbok-simbok yang menjaga dan melayani dawet ayu menegur kami dengan suara serak dan muka cemberut, “Sudah, gantian sama yang lain. Masak muter terus-terusan.”

Kami selalu suka dengan semua hajatan, tanpa kecuali. Kami sadar, semua itu cara para leluhur agar kami bersyukur dan menghargai lingkungan. Atas tanah yang menumbuhkan semua kebutuhan kami dan juga kepada Sang Hyang Widi di atas langit. Seperti kata bapakku, Sastro Wiguno, mitoni adalah cara orang Jawa mencintai, menghargai kehidupan mereka di muka bumi. Juga tentang persoalan bagaimana kelak seluruh keturunan bisa menjalani kehidupan dengan berkah orang tua mereka yang telah mengemban amanah untuk menjaga kehidupan dari generasi ke generasi.

Namun, sayang, Setyaningsih, anak bungsuku, berbeda. Ketika akhirnya hamil, ia menolak menggelar hajat mitoni. Katanya, adat itu sudah terlalu kuno. Tak lagi mencerminkan lingkungan sosial dan pendidikannya. Katanya, bangsa Barat, Amerika, tempatnya bersekolah, tak punya tradisi mitoni. Ia memang berniat mengadakan hajatan, tetapi dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih praktis. Ia sebut hajatan itu dalam bahasa Inggris, “baby shower”. Aku belum pernah mendengar sebelumnya, sampai ia katakan itu.

“Teman-teman sudah seperti itu semua, Bu,” katanya mencoba meyakinkanku.

“Apa bedanya, Nduk? Lagi pula kenapa harus seperti teman-temanmu?”

“Repot, Bu, hajatan seperti mitoni itu ribet dan tak rasional,” katanya padaku dengan enggan.

Baca juga:  Kematian

Mitoni TerakhirTentu saja tidak begitu, kataku sedih. Tentu saja di sana tak ada mitoni. Semua tempat punya caranya sendiri. Kupandangi mukanya yang bersih dan halus. Ia perempuan yang cantik. Bahkan lebih cantik daripada aku. Lebih pintar dariku. Semua yang diidamkan perempuan ada padanya. Ia bisa membentuk apa yang ia suka pada wajah dan tubuhnya, dengan uangnya. Begitu cantiknya dirinya dengan semua perubahan itu, sampai aku tak yakin apakah benar ia anakku, Setyaningsih. Semua berubah. Dari alisnya, bentuk bibirnya, dan hidungnya yang menjadi mancung. Hampir semuanya tak lagi milikku atau suamiku. Aku mulai sadar, dunia ini memang mudah berubah. Semua akan selalu berubah. Tak ada kepastian, selain kematian, bukan?

Anakku, Setyaningsih, juga tampak jauh berubah. Ia tak lagi seperti anak yang dulu selalu kurawat dan kuberi pendidikan agar tumbuh menjadi perempuan Jawa yang ikut merawat miliknya sendiri, dengan percaya diri.

Tampaknya ia begitu terpesona dengan dunia yang berbeda dari yang dimilikinya. Ia juga selalu berbahasa lain, yang saudara-saudaranya tak menggunakannya. Berpakaian seperti noni-noni berambut jerami yang menjadi teman-temannya. Suaminya, sama saja. Pramono, seorang pengusaha sukses yang lebih banyak hidup di negara asing dan mulai kesulitan melafalkan bahasa lokal. Ia nurutin saja semua apa yang dikatakan istrinya. Katanya, Ibu tak usah repot-repot bikin mitoni. Biar kami sendiri yang menangani.

Dari tujuh anak perempuanku, Setyaningsih memang berbeda. Persis seperti pepatah lama, tak ada yang sempurna dari semua telur milik kita. Aku tak menyalahkannya, terutama bagaimana ia mendapatkan sekolah yang mampu membuatnya berpikir lebih baik daripada kebanyakan orang. Aku hanya ingin ia menjadi dirinya sendiri. Menjadi orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu. Itu saja. Usiaku mungkin akan selesai dalam hitungan waktu. Aku hanya ingin menjalaninya sekali lagi saja. Merasakan bagaimana indahnya memberikan berkat pada anak cucuku yang masih sempat kulihat. Memberkati bersama para kerabat, tetangga, dan anak-anak sekitar yang lucu nan bandel, dalam acara mitoni.

Eka Yuningsih sudah membantuku menyampaikan semua keinginanku pada Setyaningsih. Katanya, aku harus bersabar. Tidak perlu ngotot dan memaksa adiknya yang sudah punya pendapat sendiri. Dia ingin membuat acaranya sendiri, seperti semangat zamannya yang ingin seperti bangsa lain. Bangsa lain yang ingin menjadi bangsa lainnya lagi.

Baca juga:  Tamu Menjelang Magrib

“Mungkin paling penting adalah doa ibu saja,” bujuk Yuningsih padaku setelah gagal membujuk adiknya.

“Ibu, jika tetap berkeras hati juga nanti malah jatuh sakit. Ibu harus jaga kesehatan agar bisa menyaksikan cucu-cucu tumbuh.”

“Apakah Ibu salah jika ingin merasakan mitoni dari kandungan anakku. Mitoni terakhir yang tak akan aku rasakan lagi setelah kematianku nanti?” Yuningsih kulihat bimbang. Ia hanya diam dan mencium tanganku.

“Ibu jangan bicara seperti itu,” katanya kemudian.

Di halaman belakang rumah warisan suamiku ini, aku duduk menatap pohon randu alas yang meranggas. Yang tak lagi berdaun di musim kemarau. Mendengarkan tembang Megatruh yang mengingatkan manusia agar selalu siap dijemput kematian. Di sana, aku merenung dalam sendiriku. Mungkin aku salah. Mungkin aku semacam orang tua yang kaku. Mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku kepada anakku. Orang tua yang sudah tidak sesuai dengan keinginan zaman. Keinginan anak-anaknya. Tidak tahu keinginan anak-anaknya? Hmm..

Sekilas, aku lihat langit yang penuh awan di sela-sela ranting pohon randu alas yang meranggas. Aku bersedih mengingatnya. Tapi, kesedihanku bukan semata karena tak dituruti keinginanku. Mungkin memang iya. Aku tak boleh berbohong. Tapi, kesedihanku juga karena mengingat bahwa kematianku nanti, mungkin berarti juga kematian warisan leluhurku di tanahnya sendiri. Kematian doa-doa yang penuh berkah dari langit. Ah, semoga tidak. Aku masih berharap Setyaningsih, anakku yang cantik itu, sadar. Sehingga, aku masih bisa memberkati anak cucuku dalam mitoni yang terakhir. Sebelum ajal menjemputku.

Aku hanya ingin ia menjadi dirinya sendiri. Menjadi orang Jawa. Menjalani tradisi yang sudah menjadi baju masyarakatnya sejak dulu. Itu saja.

Catatan:
[1] Kereweng, pecahan genting, dalam acara mitoni biasanya digunakan sebagai alat transaksi untuk ditukarkan dawet dan lain-lain.


Ranang Aji Sp, tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Buku kumpulann cerpennya Serigala yang Berzikir di Akhir Waktu, terbit pada 2018. Selain cerpen, aktif menulis puisi dan novel. [Jawa Pos]

Keterangan

[1] "Mitoni Terakhir" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 19 Mei 2019