Sepotong Es Tube di Bulan Ramadan

Karya . Dikliping tanggal 28 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Sepotong es tube sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat desa. Bahkan, mereka rela menunggu di ujung jalan, demi melihat sosok lelaki umur tiga puluhan datang. Adalah Muhaimin yang datang dari seberang desa membawa sejuta kesenangan bagi warga Desa Guah. Ia hadir saban sore setiap bulan Ramadan dengan membawa gerobak berisi es tube.

Gerobak yang biasa dibawanya ke Desa Guah disambungkan pada ujung belakang sepeda motor dengan menggunakan tali. Sejak beberapa tahun yang lalu, ia muncul dari seberang desa. Orang-orang Desa Guah tidak tahu persis identitas lengkapnya karena Muhaimin selalu mengalihkan pembicaraan ketika ada salah satu warga desa yang bertanya. Ia berusaha menutupi identitasnya, kecuali nama dan alamatnya, itu pun belum begitu jelas karena ia tidak pernah menyebutkan sacara sempurna alamat lengkapnya. “Saya Muhaimin dari seberang desa.” Itu saja yang ia infokan pada warga desa ketika didesak dengan pertanyaan.

Jawaban Muhaimin yang selalu berusaha menutupi identitasnya, menciptakan anggapan bahwa soal identitas Muhaimin tidak lagi penting. Warga desa tidak memaksa untuk mendapatkan identitas lengkap Muhaimin. Yang terpenting adalah mereka bisa mendapatkan es tube dari lelaki itu secara gratis. Iya, gratis. Muhaimin tidak pernah meminta bayaran sepeser pun atas es tube yang dibawanya dari seberang desa. Aneh bukan, ia datang dari seberang desa, dengan bersusah payah melewati jalan desa yang penuh batu nan licin karena tidak beraspal. Kemudian, memberi es tube dengan cuma-cuma.

Beberapa tahun yang lalu, saat ia datang pertama kalinya dengan gerobak berisi es tube, warga Desa Guah merasa ragu untuk menerima es tube itu. Mana mungkin ia datang jauh-jauh dengan memberikan es tube secara gratis, pasti ada sesuatu yang diinginkan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, warga desa mulai menerima es tube itu. Mereka yakin, bahwa Muhaimin bukanlah orang jahat.

Maklum, Desa Guah sama sekali belum terjamah oleh listrik. Sangat mustahil bagi warga di desa ini untuk mendapatkan es tube dengan mudah, apalagi mendapati kulkas di setiap rumah. Untuk mendapatkan es tube, mereka harus pergi ke luar desa yang dijual saban sore, namun itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Harus berjalan beribu langkah kaki. Bukan tidak mungkin, kehadiran Muhaimin bagaikan malaikat yang berubah menjadi manusia, dengan memberi keberkahan di bulan Ramadan. Setiap hari di bulan Ramadan, ia ti dak pernah alpa untuk datang ke Desa Guah dengan membawa gerobak berisi es tube.

Baca juga:  Keledai

Pohon jati menjadi saksi kericuhan warga desa yang selalu berdesakan ketika tubuh Muhaimin muncul dari ujung jalan. Di bawah pohon jati itulah tempat Muhaimin biasanya membagikan es tube. Warga desa selalu berebut, bak ikan yang baru saja dilempari makanan ke permukaan air. Ia dengan senang hati memberikan sepotong es tube pada setiap warga desa yang datang ke pinggir jalan itu.

Tubuh gerobak sama sekali tidak kelihatan, ditutupi oleh tubuh-tubuh orang desa yang berkerubung tanpa alas kaki. Satu sama lain saling bersahutan, agar diberi es tube lebih dulu. Mereka tidak mau antre. Namun, Muhaimin lebih tahu siapa yang lebih dulu antre. Di balik tangannya yang sibuk memotong es tube, matanya tidak luput dari pandangan orang-orang desa yang berdesakan.

“Tenang, pasti semuanya dapat!” Muhaimin mencoba untuk meredam kericuhan orang desa, yang menanti es tube sampai ada di genggamannya.

Muhaimin memberikan es tube yang sudah dipotong menjadi balok kecil. Daun pisang yang sudah lama berada di atas telapak tangan warga desa, siap menerima potongan es tube tersebut. Muhaimin merasa lega ketika orang-orang desa meninggalkannya dengan senyum kebahagiaan. Ada yang sampai mencak-mencak ketika berhasil membawa sepotong es tube, itu tidak lain adalah tingkah anak-anak. Semua warga desa yang hadir di gerobak Mu haimin mulai dari kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, mbahmbah, remaja, bahkan anak-anak.

Es tube yang berhasil didapatkan dari gerobak Muhaimin tidak lain dibuat untuk es kacang hijau, kolek dan jenis minuman yang menyegarkan untuk buka puasa. Bagi penduduk desa yang terkenal gersang dan sulit menemukan sumber air, menyeduh minuman es adalah surga dunia. Sekarang, mereka masih merasakan surga itu selama bulan Ramadan. Lepas itu, surga kembali pada habitatnya.

Memasuki pertengahan bulan, Muhaimin jatuh sakit. Badannya panas melebihi 40 derajat, kepalanya pusing dan batuk menyerang kerongkongannya. Namun, itu tidak menghalanginya untuk pergi ke Desa Guah untuk sedekah es tube. Istrinya sempat melarang, lantaran khawatir terjadi sesuatu yang buruk saat perjalanan. Lebih baik perbanyak isirahat agar segera sembuh, dan esok hari masih bisa pergi desa lagi. Muhaimin masih bersikukuh dengan pendiriannya. Ia berhasil meyakinkan istrinya bahwa ia akan baik-baik saja.

Baca juga:  Pendongeng Kematian

“Tidak ada yang lebih penting bagiku daripada bisa bermanfaat bagi orang lain. Aku masih belum berbuat apa-apa hari ini. Aku harus bisa memberi manfaat pada orang lain, yaitu dengan sedekah es tube.” Muhaimin mengembangkan senyum, seraya mencium kening istrinya.

Sepotong Es Tube di Bulan RamadhanDi pertengahan jalan, ia kelelahan. Ia turun dari sepeda motornya, lantas duduk di atas rumput-rumput, badannya dinaungi oleh pepohonan. Ia mengatur napas, menghirup dari hidung dan mengeluarkan dari mulut dengan pelan-pelan. Ia mengusap peluh yang membasahi tubuhnya. Beberapa menit kemudian tubuhnya lebih segar lantaran mendapatkan udara segar melalui embusan angin pelan. Sebelum beranjak menaiki sepeda motornya untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang menghampirinya.

“Muhaimin!” Sosok lelaki separuh baya itu menyapanya. Celurit dan karung yang berisi rumput itu segera ia letakkan di tanah. Wajahnya oval, badannya tinggi, kepalanya ditutupi oleh tudung berwarna merah.

“Iya.” Muhaimin mengernyitkan dahi, menurut ingatannya, ia tidak pernah bertemu dengan lelaki separuh baya itu. Namun anehnya, lelaki itu mengetahui namanya.

“Rupanya kamu terlihat lelah. Mengapa kamu bersusah payah pergi ke Desa Guah untuk bagi-bagi es tube?” Lelaki itu sepertinya banyak tahu tentang dirinya.

“Bagaimana kamu bisa tahu itu?” Muhaimin masih belum menjawab pertanyaan lelaki itu.

“Aku tahu banyak tentang kamu. Di sini daerah kekuasaanku, dan kamu sering lewat jalan ini. Maka dari itu, tolong beri alasan mengapa kamu berbagi es tube ke Desa Guah, dengan ini aku akan merasa ikhlas jika kamu lewat di jalan yang masih terhitung lahanku.”

“Baiklah!” Tanpa berpikir panjang, ia mengiyakan. Kemudian ia duduk. Disusul oleh lelaki separuh baya itu. Setelah duduk, akhirnya ia memulai ceritanya—yang kalau saya bahasakan, begini ceritanya:

Dulu, di suatu bulan Ramadan, Muhaimin diminta ibunya untuk membeli es tube di toko. Sampai di toko, banyak pelanggan yang berdatangan untuk membeli sesuatu. Penjaga toko sibuk, hingga Muhaimin terabaikan. Kemudian, pikiran buruk menghampirinya. Tangannya yang sedari tadi sibuk memilah milih es tube di boks es, saat orang-orang sibuk bertransaksi, ia mengambil kesempatan untuk menjilati es tube yang ada di boks.

Kerongkongannya yang sudah lama menahan dahaga lantaran puasa, akhirnya bergembira setelah menikmati kesegaran es tube. Ia terburu-buru mengelap bibirnya yang basah agar tidak sampai ketahuan orang-orang. Setelah toko sepi, menyisakan penjual toko dan Muhaimin, akhirnya ia menyodorkan uang yang diberikan ibunya untuk ditukar dengan es tube.

Baca juga:  Malam-Malam Dazai

Dalam perjalanan, hati dan pikiran Muhaimin tidak karuan. Benar tenggorokannya gembira karena dahaga sudah menghilang, namun hatinya merasa tidak tenang lantaran perbuatannya itu. Ia sadar dengan perbuatannya barusan, bahwa itu termasuk tindakan mencuri. Ia mendapatkan dosa dua sekaligus; dosa mencuri dan dosa membatalkan puasa. Ia ingat betul, bahwa ibunya pernah berpesan untuk tidak makan barang haram. Dan kini, ia telah melanggar peraturan ibunya itu. Tubuhnya sudah dimasuki barang haram. Air es itu akan mengalir menjadi darah di dalam tubuhnya, serta menjadi daging. Seluruh tubuhnya berarti menjadi haram.

Muhaimin meneteskan air mata lepas menceritakan pengalaman buruknya. Ia berpesan pada sosok lelaki separuh baya itu untuk tidak menceritakan pada siapa pun perihal pengalamannya. Istrinya pun tidak pernah tahu. Lalu, ia pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Sampai di bawah pohon jati. Warga desa sudah menunggu dengan wajah riangnya. Muhaimin menutupi wajah lemasnya dengan senyuman, menyembunyikan tubuhnya yang kurang enak badan. Di sela-sela memberikan sepotong es tube, orang-orang ramai membicarakan sosok lelaki separuh baya yang terbiasa muncul tiba-tiba dan hilang dengan tiba-tiba. Celurit dan karung yang berisi rumput menjadi benda kesayangannya. Wajahnya oval, badannya tinggi, kepalanya ditutupi oleh tudung berwarna merah.

Menurut cerita orang, itu adalah salah satu wali Allah yang hanya mau bertemu dengan orang-orang tertentu, ada yang percaya dengan cerita itu, ada juga yang masih meragukan kebenarannya. Setelah Muhaimin genap mendengarkan cerita dari orang-orang, ia jadi percaya bahwa orang yang baru saja ditemuinya di tengah jalan itu adalah orang yang diceritakan oleh warga desa yang menerima sepotong demi sepotong es tube. Muhaimin mengembangkan senyum, hati bersyukur karena dipertemukan dengan kekasih Allah.


Fitria Sawardi. Penulis merupakan pegiat literasi dan pembina komunitas kepenulisan sastra “laskar pujangga”. Sekarang kesibukannya mengajar di SMP Islam Sabilillah Malang – Republika

Keterangan

[1] "Sepotong Es Tube di Bulan Ramadan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 26 Mei 2019