Surga Simpanan

Karya . Dikliping tanggal 13 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

SEORANG perempuan dengan gincu merah serupa lampion berdandan di depan cermin. Sesekali ia melirik jam dinding. Bulan tenggelam ke dalam pelukan awan. Jam sebelas lewat. Makin jarum panjangnya bergeser, makin cepat pula perempuan itu untuk segera menyelesaikan dandanannya. Sudah lima belas menit ia merapikan tubuhnya, mengenakan rok pendek di atas lutut dan membiarkan belahan dadanya terbuka. Secepat mungkin ia harus berangkat, tanpa bilang hendak ke mana kepada bocah sepuluh tahun yang berdiri di belakangnya sejak tadi.

Perempuan itu melangkah keluar, menutup daun pintu pelan-pelan sampai tak menimbulkan bunyi sedikit pun. Dari dalam rumah, Hardi menyingkap gorden. Kaca yang transparan memperlihatkan ibunya dijemput seorang lelaki. Kening Hardi berkerut membentuk garis terombang-ambing, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang ibu dijemput lelaki berbeda setiap malam.

Hardi tidak pernah sekali pun mendengar dongeng sebelum tidur sebagaimana kerap dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia meringkuk kesepian seorang diri di dalam kamar. Hardi tidak pernah tahu siapa nama ayahnya, apalagi mengetahui seperti apa rupa sang ayah. Semula Hardi mengira seorang lelaki yang datang menjemput ibunya ke rumah tak lain adalah ayahnya sendiri. Tetapi, perkiraan itu meleset. Tidak mungkin ia punya banyak ayah.

Hardi telentang di atas ranjang. Dalam pejam matanya, Hardi mendadak ingat saat kali pertama bertanya kepada sang ibu perihal siapa ayahnya dan di mana keberadaannya. Ia sungguh ingin menemui lelaki itu di mana pun berada. Pertanyaan Hardi malah dijawab dengan tamparan keras yang mendarat di pipinya. Wajah perempuan itu mengeluarkan api. Terjatuh ke lantai pandangan Hardi. Bocah itu mengatur laju napasnya. Degup jantungnya bersahutan dengan detik jam dinding.

Kemurkaan Nima, ibu Hardi itu, bukan tak beralasan. Ia terbaring sakit selama enam puluh hari seusai melahirkan Hardi. Sebelum itu juga, Mak Murken, dukun beranak, harus mengurut perutnya yang buncit sampai ia harus merasakan sakit yang teramat karena posisi bayinya sungsang. Jadi, wajar saja bila Nima murka dengan pertanyaan Hardi perihal siapa lelaki yang menanamkan janin di rahimnya itu.

Sampai saat ini Nima sendiri tidak pernah tahu sperma lelaki siapa yang berhasil membuahi rahimnya itu. Perempuan itu tidak pernah menghitung berapa jumlah lelaki yang tidur dengannya dalam semalam. Ia tidak pernah mau ambil pusing soal itu. Baru setelah Nima lambat datang bulan, pikirannya mulai bercabangcabang, menduga-duga jika ada sesuatu yang tumbuh dalam perutnya. Keterkejutan melingkar di wajah Nima setelah Mak Murken, dukun beranak di Jalan Garincang itu, mengatakan bahwa ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya.

Baca juga:  Tikus

Tentu saja Nima meminta Mak Murken untuk menggugurkan kandungan itu. Nima tak pernah berharap ada janin tumbuh di dalam perutnya. Terlebih, ia sendiri tidak tahu siapa lelaki yang berhasil membuahi rahimnya tersebut. Mak Murken menggelengkan kepalanya. Ia menolak permintaan Nima. Dengan tegas Mak Murken mengatakan tidak akan pernah mau menuruti keinginan Nima.

”Saya tidak mau berdosa, saya bukan pembunuh.”

”Ini aib. Bantulah saya membuang aib ini, Mak. Sama sekali tidak berdosa, justru pahala bagi Mak.” Nima terus membujuk, coba meluluhkan hati Mak Murken. Tapi, tetap saja Mak Murken menggelengkan kepalanya.

”Tetap jaga kandunganmu sampai lahir. Semoga anak yang kau kandung itu menjadi simpananmu menuju surga.”

Sepanjang perjalanan pulang, Nima kepikiran dengan kata-kata terakhir Mak Murken. Kata-kata Mak Murken seperti memiliki kekuatan luar biasa menyentuh ulu hatinya yang terdalam. Pikiran Nima tambah bercabang, antara mempertahankan bayi dalam kandungannya atau menggugurkannya.

Butuh waktu lama bagi Nima untuk mengambil keputusan. Tercenung dan berpikiran macammacam tempurung kepalanya. Tidak mudah bagi perempuan seperti Nima memutuskan persoalan rumit yang tengah ditimpakan Tuhan kepadanya. Berhari-hari Nima berpikir keras, mencari keputusan yang pas sampai akhirnya mengambil sikap tetap merawat janin yang tumbuh dalam perutnya itu.

Selama sembilan bulan Nima juga harus membiarkan dirinya dikutuk, dikata-katai oleh para tetangga. Selalu setiap pagi gendang telinga Nima mendengar orang-orang mengatainya sebagai pendosa. Bahkan, mereka terangterangan berkata lantang di depan wajah Nima. Perempuan itu tidak balas mengutuk. Nima malah tersenyum, menerima cibiran dan cacian itu apa adanya. Nima mengaku bukan perempuan suci. Bahkan, pernah Nima berkata bahwa ia memang tengah mengandung anak hasil perbuatan dosanya sendiri.

”Jangan kamu bertanya siapa ayahmu. Masih untung kau lahir ke dunia, masih untung kau dirawat!” Nima mengatakannya kepada Hardi. Bocah itu menundukkan wajahnya.

Sejak itu, Hardi tak pernah berani lagi bertanya soal siapa ayahnya. Hardi dapat memahami cerita yang dituturkan ibunya. Hardi tak sanggup membendung air matanya untuk jatuh di atas bantal. Ia menangis bukan lantaran pekerjaan ibunya. Tetapi, bocah itu merasa kenapa dirinya dilahirkan tanpa tahu siapa ayahnya. Apa mungkin aku titisan dari banyak lelaki yang tidur dengan ibu? Hardi menyimpan pertanyaan itu sendiri dalam dadanya.

***

Surga SimpananMenjelang sore, entah malaikat dari mana yang menyambangi Hardi, di usia yang cukup tua untuk ukuran bocah seperti dia belajar salat. Setelah sekian lama Hardi berjalan di lorong gelap, akhirnya malaikat itu menuntunnya ke masjid, tempat anak-anak seusianya belajar salat dan mengaji kepada Haji Ibrahim selepas Magrib. Bocah itu berdiri di depan masjid dengan rupa kebingungan. Haji lbrahim mengajaknya ke dalam.

Baca juga:  Laki-laki di Ketiak Istri

Hardi beroleh pertanyaan dari Haji Ibrahim. Lirikan anak-anak yang lain membuat Hardi agak gugup untuk menceritakan siapa dirinya. Hardi menceritakan saja yang sebenarnya. Sesungguhnya sudah sejak lama Hardi ingin belajar mengaji di masjid itu, tapi Nima tak pernah mengizinkannya

lantaran khawatir orang-orang akan mengutuk, mengata-ngatai Hardi sebagaimana yang dialaminya dulu. Kedatangannya ke masjid ini pun tanpa sepengetahuan sang ibu. Lagi pula, kata Nima kepada Hardi waktu itu, tak usahlah pandai mengaji kalau mulut tetap diperdaya iblis, digunakan untuk mengata-ngatai orang. Hal itu diucapkan Nima, mengingat ia pernah dikutuk orang-orang yang saban Magrib dilihat Nima berbondong-bondong menuju ke masjid itu.

Hari pertama Hardi membuka siapa sesungguhnya dirinya dan hari pertama itu pula bagi Hardi belajar agama kepada Haji Ibrahim. Ia disambut baik oleh anak-anak yang lain. Mereka menerima Hardi apa adanya. Tidak sedikit pun mulut mereka merobek perasaan Hardi. Haji Ibrahim mengagumi kepandaian Hardi dalam belajar mengaji. Sangat cepat Hardi menangkap pelajaran mengaji yang diuraikan Haji Ibrahim.

Hampir satu bulan Hardi diam-diam belajar mengaji di masjid. Nima tak melihat gelagat mencurigakan yang ditunjukkan anak lelakinya itu. Empat bulan ini Nima selalu berangkat bersamaan dengan azan Magrib dan saat itu pula Hardi membawa langkahnya ke masjid. Kadang Hardi terlambat datang karena sang ibu mengunci pintu rumah dan membawa serta kunci itu. Dengan susah payah Hardi terpaksa mencongkel jendela dapur.

Setiap pelajaran

Terputuslah semua amal manusia ketika ia meninggal, kecuali tiga hal. Pertama, sedekah. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ketiga, doa anak saleh yang senantiasa mengalir kepada orang tuanya.

mengaji selesai, Haji

Ibrahim kerap menceritakan kisahkisah para nabi. Bukan hanya itu, Haji Ibrahim juga membuka pertanyaan kepada mereka mengenai apa pun. Mata Hardi berbinar-binar ketika Haji Ibrahim menuturkan setiap kehebatan mukjizat yang dimiliki para nabi. Hardi menganggukanggukkan kepalanya melihat gaya bicara Haji Ibrahim yang sangat memikat pendengarnya.

”Apa ada nabi yang dilahirkan tanpa seorang ayah?” Hardi melihat ke wajah Haji Ibrahim. Lelaki beserban itu tersenyum memandangi raut muka Hardi. Ia tahu ke mana maksud pertanyaan Hardi.

”Ada. Dia adalah putra Maryam. Nabi Isa.”

”Saya tak tahu siapa ayah saya. Apa ibu saya itu seperti Maryam?”

Baca juga:  Bulan Menangis di Atas Nisan

”Hanya ada satu Maryam di dunia ini. Selebihnya wallahu a’lam.”

”Apakah seorang anak bisa menyelamatkan ibu dari ancaman api neraka?” Hardi tahu betul apa pekerjaan ibunya. Untuk itulah ia bertanya, khawatir sang ibu dilumat api neraka di akhirat kelak.

”Terputuslah semua amal manusia ketika ia meninggal, kecuali tiga hal. Pertama, sedekah. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ketiga, doa anak saleh yang senantiasa mengalir kepada orang tuanya.” Hardi menghela napas, melegakan tenggorokannya yang terasa tersumbat sejak tadi.

Hardi pun kian terobsesi menyelamatkan ibunya dari ancaman api neraka. Ia bahkan mulai punya nyali menegur ibunya agar berhenti melayani setiap lelaki yang membeli tubuhnya. Berulangulang tangan Nima mendarat di pipi tirus Hardi, berulang-ulang pula Hardi mengingatkan ibunya pada kematian. Wajah Nima merah padam.

Nima tidak pernah kembali ke rumah sejak tiga hari lalu. Pastilah ia enggan pulang lantaran mulut Hardi kerap bicara kematian. Hardi memikirkan nasib ibunya. Bersila di atas sajadah, sembap matanya memohon kepada Tuhan agar sang ibu segera pulang. Rupanya, setelah sekian lama, terjawab doa Hardi pada sore yang kelam. Nima benar-benar pulang, hanya saja tanpa napas. Seseorang mengantarkan jasad Nima.

Haji Ibrahim datang menguatkan Hardi. Tumpah air mata Hardi dalam pelukan lelaki beserban itu. Kematian ibunya dengan cara tragis seperti itu membuat mata Hardi menerawang, membayangkan ibunya berada di tepi jurang neraka. Diseret tubuh Nima, lalu dilempar ke dalam api telaga. Sekejap api telaga itu mampu mengelupas seluruh kulit Nima, sekejap pula tubuh yang hancur itu kembali seperti sediakala, dan begitulah terusmenerus yang akan terjadi. Alangkah menakutkan bayangan itu di mata Hardi.

Penguburan dilakukan malam hari. Saat jasad Nima dibaringkan di liang lahad, terjatuh air mata bocah sepuluh tahun itu. Hardi menabur bunga-bunga di atas pusara sang ibu. Terus-menerus mulut Hardi membaca doa sambil mendongakkan wajah ke atas, pada langit petang yang temaram. Hardi melihat doa-doa itu bertarung di atas langit sebelum akhirnya sampai ke hadirat Tuhan.

Pulau Garam, Februari 2018


Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Sumenep Madura. Alumnus pondok pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, ini merupakan salah satu penulis dalam antologi cerpen Perempuan dan Bunga-bunga (2014) dan Sepotong Senja, Sepenggal Sangka (2016) | “Jawa Pos

Keterangan

[1] "Surga Simpanan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 12 Mei 2019