Ziarah

Karya . Dikliping tanggal 6 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

ADA yang berbeda ketika menjelang Ramadan di desa Gesikan, Pendowoharjo. Bagi kampung lain bila menghadapi hari-hari sebelum puasa akan digunakan oleh penduduknya untuk nyadran ke makam. Namun bagi desa Gesikan hal itu tak dilakukan. Menjelang Ramadan, mereka lebih memilih untuk mengunjungi sungai besar bernama: Kali Putih.

Penamaan sungai ini berasal dari mitos lokal yang tumbuh di masyarakat. Sungai itu diberi nama ëKali Putihí karena penduduk percaya, ada seekor naga putih yang hidup di dasarnya. Keyakinan warga itu pun sudah melekat erat sejak nenek moyang.

ZiarahDan, warga mengimani nama naga itu akan memberikan berkah serta perlindungan bagi kampung. Begitulah. Beberapa hari sebelum bulan puasa, warga Gesikan lebih banyak berkunjung ke Kali Putih. Di sana mereka bunga atau mengirim doa-doa layak nya orang yang sedang berziarah. Mereka percaya dengan melakukannya, arwah keluarga yang sudah meninggal dapat merasa nyaman di Surga. Dan, karena merasa penasaran dengan segala tradisi aneh penduduk desa dan Ibu, aku pernah bertanya: “Mengapa bisa demikian, Ibu?”

Ibu yang sejak kecil merawatku sendiri, karena Bapak telah meninggal bersama kapal yang membawanya ke Malaysia untuk bekerja, menjelaskan: “Naga Putih adalah kendaraan bagi orang-orang mati. Naga Putih akan menyampaikan semua doa kita.” Ibu memang mengikuti apa yang di akukan oleh kebanyakan warga.

Baca juga:  MIWF - Makassar Internasional Writers Festival 2015

Ibu meyakini prihal cerita mengenai seekor naga dan berkat suci yang ada di sungai itu. Ibu acap mendatangi Kali Putih beberapa hari sebelum bulan suci puasa tiba. Aku mengangguk mendengar cerita Ibu itu. Begitulah. Hingga kini bahkan Ibu masih melakukan hal yang sama bila Ramadan tiba. Ibu untaikan doa-doa kepada Bapak yang belum pernah kulihat sejak kecil.

***

Dua hari sebelum Ramdhan tahun ini, aku dan Ibu kembali melakukan tradisi itu. Kami mendatangi Kali Putih untuk mengirim doa di tepinya. Di sana kami menemui banyak warga yang keluarganya menghilang dan tidak memiliki makam yang jelas di dunia ini. Mereka tampak menebar menebar bunga dan mengirimkan doa-doa kepada orang-orang yang tercinta.

Namun, mereka tampak terpekur dengan wajah yang sulit aku jelaskan. Air muka yang menggenang di wajah Ibu pun sama dengan para penduduk yang aku temui di pinggir sungai. W ajah Ibu terlihat datar layaknya para penduduk, hingga aku bingung untuk mendefiniskannya: Apakah Ibu kini sedang bersedih atau bergembira? Aku akhirnya hanya diam saja tak mengusik. Namun hari itu setelah berdoa, Ibu tiba-tiba bertingkah aneh. Ibu terlihat sering melamun.

Baca juga:  Lempengan Emas

Kemudian ketika sampai rumah, Ibu mengatakan sesuatu kepadaku. “Aku melihat bapakmu!”

“Melihat bagaimana, Ibu?”

“Aku melihat bapakmu berdiri di dasar sungai tadi. Ia melambai-lambaikan tangan kepadaku.”

“Hus! Jangan bilang aneh-aneh!”

“Kau ingat? Naga Putih itu adalah kendaraan orang-orang mati. Mungkin ayahmu diantarkan untuk melihat kita.”

“Ibu hanya melamun!”

Ibu diam. Tak menanggapi. Namun ada yang ditahannya ketika menatapku. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

***

Selesai nyadran di kampung, aku kembali ke perantauan. Namun tiga hari kemudian, aku mendapatkan kabar Ibu masuk rumah sakit dengan keadaan kritis.

Malam itu seorang warga desa meneleponku. Ia mengabarkan padaku kalau Ibu berusaha menenggelamkan dirinya ke Kali Putih.

Baca juga:  Betina

“Ibumu tiba-tiba saja melompat ke dalam kali. Ia tenggelan dan nyaris mati. Untungnya ada warga yang melihat serta lekas menyelamatkannya.”

Mendengar cerita Ibu yang mengalami kecelakaan, aku kembali pulang ke kampung. Aku menemui Ibu terbaring lemah di rumah sakit. Namun, Ibu beruntung. Ia tidak apa-apa. Lima hari kemudian bahkan Ibu terbangun dari komanya. Tapi waktu terbangun Ibu becerita hal ganjil kepadaku.

“Kemarin aku bertemu bapakmu.”

“Bapak? Bertemu di mana, Ibu?”

“Aku bertemu bapakmu di dasar sungai. Ia benar-benar datang ke dunia ini dengan naga putih itu. Ia merindukan kita.”

Aku yang mendengarnya diam tak tahu harus menjawab apa. Tapi yang jelas ketika itu wajah Ibu terlihat sangat sedih menyimpan rindunya. q – c


Risda Nur Widia. Alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (2010). Kini melanjutkan studi di Pascasarjana UNY (2018) | “Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Ziarah" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 5 Mei 2019