Aroma Darah di Antara Bunga Eastern Redbud

Karya . Dikliping tanggal 25 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Awal musim panas tahun ini, Westmount terguncang oleh penemuan mayat lelaki tanpa busana di sungai St Lawrence. Mayat itu tersangkut di tiang besi penyangga jembatan. Jauh lebih menggemparkan karena mayat itu ditemukan tanpa alat kelaminnya. Tak ada luka lain di sekujur tubuhnya, selain alat kelaminnya yang raib. Peristiwa ini pun menggemparkan seantero warga Westmount. Pasalnya, Westmount termasuk wilayah di Montreal yang jarang terjadi kasus kejahatan.

Di Westmount, pencurian di ruang publik hampir tak pernah ada. Bahkan di malam hari, jalanan bersih tanpa orang-orang mabuk. Wajar jika peristiwa ini menyulut amarah warga Westmount. Bagaimana bisa kejahatan luar biasa itu menimpa di wilayah mereka. Koran-koran, televisi, dan radio gencar menyiarkan kasus pembunuhan keji ini. Kepolisian setempat sibuk memecahkan kasus ini. Wali kota turun ke jalan menenangkan warga yang panik. Khawatir peristiwa ini akan terulang kembali.

Lima hari sejak penemuan mayat itu, pihak kepolisian belum memberikan kabar baik. Pelaku belum tertangkap. Bahkan siapa pelakunya pun belum diketahui. Pihak kepolisian sulit menemukan jejak pelaku dari tubuh korban karena telah terendam lama di dalam air. Penyebab kematian sudah jelas, akibat kehilangan banyak darah. Warga Westmount semakin resah.

Korban adalah pegawai kantor biasa di perusahaan nasional. Ia bukan selebritas, pejabat, bandar narkoba, mafia, dan sebagainya, yang pantas dibunuh dengan cara yang jauh dari kata manusiawi. Warga Westmount sendiri pun jarang yang mengenalnya, kecuali tetangga apartemennya. Korban bernama Adam, lelaki kulit putih yang tak memiliki catatan kriminal apa pun dan pekerja keras di kantornya.

Warga Westmount turun ke jalan. Mereka berdemo menuntut keadilan bagi Adam. Wilayah damai mereka harus dibersihkan. Mereka menuntut pihak kepolisian serius mendalami kasus ini. Demo tak akan dihentikan sebelum pelaku tertangkap. Sedangkan koran-koran dan televisi mulai berspekulasi jauh. Menduga korban salah satu mafia paling dicari pihak keamanan negara Kanada atau buronan teroris yang menyamar menjadi warga biasa.

Eva, yang tengah menyiapkan gerai mobil makanan poutine di taman dekat Rumah Sakit CLSC Verdun, melihat rombongan warga naik truk berduyun-duyun berdemo ke kantor kepolisian dan wali kota. Ia tak menyukai situasi Westmount yang kacau. Warga sepertinya hanya berfokus pada peristiwa itu. Hailey, bos sekaligus pemilik gerai mobil makanan poutine, yang sedang menggoreng kentang berulang kali berdecak.

“Apa mereka tak lelah? Akan jauh lebih baik mereka tak mengganggu kerja kepolisian. Bukankah aksi mereka hanya akan menghambat penyelidikan peristiwa itu? Mereka hanya membuang-buang tenaga saja,” keluh Hailey.

Eva menatap bangku-bangku yang ia tata sebagai tempat duduk pembeli yang datang. Kosong. Sejak buka, belum ada satu pun pembeli. Ia tak memungkiri, pembeli berkurang sejak peristiwa itu mencuat ke permukaan. Jika penghasilan sedikit, itu artinya Hailey akan cerewet sepanjang hari.

“Aku berharap keparat itu segera tertangkap. Ia harus dihukum seberat-beratnya. Jika aku mengetahui siapa ia, akan aku benamkan wajahnya ke penggorengan penuh minyak panas ini,” lanjut Hailey sambil mengangkat kentang goreng yang sudah matang.

Baca juga:  Sesuatu Telah Pecah di Senja Itu

Eva masih diam mematung. Wajahnya memucat. Ingatan akan malam penuh aroma darah itu berkelebat di kepalanya. Aroma darah yang kini mengocok isi perutnya. Lambungnya ngilu. Terasa diperas dan ditarik ke sana ke mari. Dan aroma darah itu masih ia ingat dengan jelas hingga sekarang.

***

Malam ini, Eva merasa awal musim panas terasa lebih menyengat dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Di Westmount, musim panas menjadi musuh tersendiri. Para warga tak terbiasa dengan terik matahari yang menyakitkan mata di siang hari dan malam hari yang berkeringat. Hampir tengah malam, Eva masih betah duduk sendirian di taman kecil dekat Rumah Sakit CLSC Verdun.

Satu jam yang lalu, Eva dan Hailey menutup gerai poutine mereka. Sebenarnya tak ada jam buka yang pasti, dimulai dari waktu makan malam tiba sampai menjelang tengah malam. Di sisi bangku taman yang ia duduki, seporsi poutine sisa jualan telah mendingin. Ia tak berminat memakannya. Sedangkan di sisi yang lain, beberapa kaleng bir tandas isinya. Malam musim panas akan sempurna oleh kehadiran bir.

Eva menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ditatapnya sisi timur taman. Di sana, tempat ia dan Hailey mangkal berjualan poutine. Sekarang tempat itu kosong. Ia sedang mengkhawatirkan Hailey, sahabatnya sejak taman kanak-kanak. Tadi sebelum ia menutup gerai, ia sempat berdekat dengan Hailey. Eva menyinggung perihal gerai poutine mereka yang tak ada peningkatan. “Apa kita masih bisa menyewa sebuah gedung dengan pendapatan sebesar ini?” tanya Eva setelah Hailey menghitung pendapatan hari ini. Ia seharusnya tahu Hailey sangat sensitif perihal gerai poutine. Dan ia marah. Eva hampir saja mengatakan ia ingin berhenti dari kerja sambilannya karena terbawa emosi, tapi ia masih bisa menahan diri mengingat bagaimana sahabatnya banyak membantunya di masa lalu.

Tiga tahun yang lalu, Eva langsung menyanggupi permintaan Hailey bekerja sambilan di gerai poutine yang akan ia buka. Pagi harinya ia kuliah. Malam harinya ia bekerja sambilan. Hailey sangat terobsesi memiliki restoran poutine waralaba di seantero Kanada. Dan Eva memberikan semangat tanpa memikirkannya dahulu. Ia baru menyadari betapa sulit bersaing dengan restoran cepat saji dan waralaba yang datang dari Amerika Serikat. Hailey percaya diri, resep poutine turun-temurun dari keluarganya adalah yang paling khas di Kanada. Tapi seenak apa pun poutine, tetap akan kalah bersaing dengan restoran cepat saji dari Amerika Serikat yang juga menyediakan poutine. Tempat yang nyaman tidak dimiliki Hailey.

Cepat atau lambat, Eva tetap akan berhenti dari pekerjaan sambilannya. Musim panas ini berakhir, ia memasuki semester akhir. Waktunya akan banyak terkuras untuk mempersiapkan tugas akhir. Dan ia ingin berhenti secara terhormat tanpa menyakiti hati dan obsesi Hailey. Di sisi lain, ia ingin menemani Hailey mewujudkan obsesinya walaupun ia tahu bagaimana hasilnya.

Rombongan mobil melintas di jalan samping Eva duduk. Udara kering menerbangkan debu-debu, menampar pipinya. Debu-debu kotor tak cukup menyakitinya. Pohon-pohon eastern redbud yang memenuhi isi taman, wangi bunganya mencuri indra penciumannya ketimbang debu-debu kotor. Ia menyukai eastern redbud. Pohon dengan bunga berwarna merah muda dan wanginya yang manis mengundang ingin dicicipi. Tapi ia lebih menikmati aromanya ketimbang merasakan manis bunga itu di lidahnya.

Baca juga:  Catatan Kebodohan

Eva memejamkan mata. Merasakan wangi bunga estern redbud lebih dalam. Ia membayangkan mandi di antara bunga-bunga eastern redbud. Sedangkan air mengucur deras dari atas tebing. Air yang berwarna merah darah. Darah? Seketika penjelajahannya sirna. Ia membuka mata dengan napas pendek dan terputus-putus. Ia amat membenci darah dan aromanya. Setiap ia mencium aroma darah, kepalanya dipenuhi oleh kolam darah dari darah ibunya yang meninggal bunuh diri dengan cara merobek perutnya.

Pandangan Eva menyapu ke penjuru taman. Mencari sumber aroma darah di antara bunga eastern redbud. Ia merasakan aroma darah yang ia cium begitu dekat. Tak mungkin dari rumah sakit. Tiga tahun ia berjualan di taman ini, belum pernah ia mencium aroma darah. Di sisi utara taman, ia menajamkan penglihatan pada sosok yang familier. Emily, salah satu dokter bedah di rumah sakit dekat taman ini, masuk ke mobilnya.

Kepala Eva sangat pusing dalam kondisi ini. Lambungnya bergejolak. Aroma darah yang begitu pekat, kental, dan banyak. Penciumannya mengatakan sumber aroma darah itu berasal dari mobil milik Emily. Sejenak ia merasa aneh, tak biasanya Emily memarkir mobilnya di taman. Dan ia baru menyadarinya sekarang. Ia hafal kapan Emily selesai bekerja. Ia dokter yang baik dan tepat waktu.

Penciuman Eva mengatakan ia harus menjauhi aroma darah itu. Wajahnya telah memucat. Berulang kali ia pingsan ketika tak tahan dengan aroma darah. Tapi entah kenapa, ia malah mengikuti kepergian Emily. Dengan sepeda motor milik Hailey yang ia pinjam selama beberapa hari ini, ia mengikuti Emily yang menuju ke arah utara, menuju Jalan Rue Laurendeau. Terus lurus melewati Billboard Avanue, pemakaman umum, dan taman kanak-kanak. Di perbatasan Jalan Rue Laurendeau dengan Jalan 1e Avanue, Emily belok kanan menuju Jalan Rue Beatty.

Eva menduga tempat yang Emily tuju adalah taman Parc Verdun. Emily terus lurus hingga memasuki taman itu. Ini sisi paling utara taman itu, bagian taman yang sepi walaupun lampu penerangan bertebaran. Eva memarkir sepeda motornya di seberang jalan, di depan toko buku. Dari sana, ia berjalan mengendap-endap membuntuti Emily. Tampak Emily menggotong sesuatu yang terbungkus kain hitam. Dan apa yang terjadi selanjutnya tertangkap jelas. Aroma darah yang semakin menyengat, keringat dingin bercucuran, dan mayat telanjang dilempar ke dalam sungai oleh Emily.

***

Aroma Darah di Antara Bunga Eastern RedbudSejak malam itu, Eva tak lagi menjumpai Emily di tengah malam, pada jam biasa ia selesai bekerja. Tayangan di televisi yang hampir sama menjelaskan segalanya. Emily yang menangis meraung-raung di depan peti jenazah tunangannya dan sumpah serapah dilayangkannya kepada pelaku bejat yang menghabisi nyawa kekasihnya. Dokter bedah itu sedang berduka. Koran-koran dan televisi menulis kisah asmara mereka yang kandas. Warga Westmount turut kasihan pada Emily. Tapi tidak dengan Eva.

Baca juga:  Senja itu Membunuh Kalian

Kekacauan ini harus dihentikan. Eva merasa pihak kepolisian sulit menemukan jejak Emily, mengingat ia adalah dokter bedah yang sangat teliti dalam bekerja, termasuk dalam membunuh. Ada banyak hal yang Eva pikirkan, yang bermuara pada satu pertanyaan, kenapa Emily membunuh tunangannya sendiri dengan cara yang tak lazim?

Malam ini, setelah ia menutup gerai poutine bersama Hailey, ia memutuskan menemui Emily di apartemennya di Arlington Avanue. Ia ingin membujuk Emily untuk menyerahkan diri dan sebelum ia melakukannya, ia ingin mengetahui motif pembunuhan itu. Ia memasuki apartemen mewah di Westmount. Setelah ia bertanya nomor berapa kamar Emily, sekarang ia berdiri di depan kamar 225. Sebelum tangannya memencet bel, pintu lebih dulu terbuka.

“Selamat datang. Kau akhirnya ke sini juga,” sambut Emily.

Wajah Eva menegang. Tubuh Emily yang dibalut piama tidur berwarna putih, rambut tak tertata, dan wajah pucat tak terurus. Anehnya, Eva sekilas melihat binar kebahagiaan di wajahnya. Berbeda jauh ketika ia menangis tersedu-sedu di depan peti jenazah Adam. Ia merinding, menyadari Emily menebak kehadirannya malam ini.

“Kau tahu saya akan datang ke mari?” tanya Eva dengan suara parau.

“Tentu saja. Warga Westmount silih berganti datang ke sini untuk mengucapkan belasungkawa. Kau pun begitu?”

Bahu Eva merosot. Ketegangan sedikit berkurang. Kekhawatirannya sirna. Beberapa saat yang lalu, ia mengira Emily tahu dirinya berada di taman yang sama ketika ia membuang mayat Adam. Emily mengajak masuk ke apartemennya. Ketegangan yang menurun, kini kembali berpacu. Apartemen Emily didominasi warna putih. Bersih, khas apartemen yang ditinggali dokter. Tapi di tengah ruangan, pada meja makan, terdapat sebotol anggur mahal dari perkebunan Oxley Estate Winery dan dua gelas. Bagaimana bisa orang yang sedang berduka di meja makannya terdapat anggur?

Aroma manis bunga eastern redbud menenangkan pikirannya yang bergejolak. Di bagian kanan apartemen, ada perpustakaan kecil dan meja kursi. Di atas meja itu terdapat vas bunga yang berisi bunga eastern redbud. Ia berjalan menuju meja itu dan menyentuh lembut bunga eastern redbud.

Eva tersenyum kecil. Dan ia mencium aroma darah di antara bunga eastern redbud. Aroma darah yang sama pada malam itu. Sebelum ia bereaksi lebih lanjut, lehernya terasa dingin. Detik berikutnya, kulit lehernya terkoyak, disusul urat nadinya putus. 

Kebumen, 19 Mei 2019


Umi Salamah lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 21 April 1996. Menulis novel, cerpen, puisi, dan artikel. Karyanya termuat dalam berbagai antologi cerpen dan puisi di berbagai media cetak. Buku terbarunya berjudul Because You Are My Star (novel remaja kontemporer, Alra Media, 2017). Ia berguru pada sastrawan Ahmad Tohari —Koran Tempo

Keterangan

[1] "Aroma Darah di Antara Bunga Eastern Redbud" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 22-23 Juni 2019