Banjir yang Dikirim ke Campoan

Karya . Dikliping tanggal 18 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Sapraji berdiri di bibir pintu. Matanya melihat air banjir yang tak kunjung surut sejak semalam. Rumah berupa bangunan kecil yang kini ditempatinya itu dikepung air. Begitu pun juga yang terjadi dengan seluruh rumah warga desa Campoan.

Tidak pernah banjir menghampiri desa Campoan. Ini kali pertama desa yang jaraknya dekat dengan kabupaten tersebut direndam banjir oleh hujan yang turun hanya satu jam. Pastilah ada alasan, mengapa air itu tak kunjung surut. Pikiran Sapraji menduga-duga. Ia menghela napas panjang.

Matahari yang baru saja merangkak di permukaan langit tak sanggup membuat orang-orang bergairah melakukan aktivitas pagi hari. Mereka malas keluar rumah. Mereka lebih suka mengungkung diri dalam rumah sambil berharap air segera surut. Sapraji duduk santai di teras rumah. Secangkir kopi buatan istrinya terhidang di meja.

Laki-laki berbadan kerempeng serupa batang lidi itu mengerutkan kening. Berpikir keras, mencari sebab musabab banjir yang tiba-tiba mengepung desanya. Baginya itu pertanda sesuatu yang buruk telah terjadi. Aneh bagi Sapraji yang memang dilahirkan di desa itu melihat banjir merendam desanya secara tiba-tiba.

Ia meneguk kopinya dengan cara yang sangat santun. Sejak Sapraji dilahirkan di desa Campoan hingga menikah dengan Maimunah dan memiliki dua anak tak pernah ada banjir menerjang desanya. Dan bagi Sapraji sendiri rasanya mustahil banjir akan menyergap desanya dikarenakan desa tersebut memiliki banyak resapan air. Pohon-pohon tumbuh dimana-mana. Sungai mengalir lancar. Ladang dan sawah membentang seluas mata memandang.

“Mungkin karena banyak hotel dan villa berdiri, jadi makin sedikit resapan air. Bukannya warga disini banyak yang menjual tanahnya. Terlebih bandara juga sudah selesai dikerjakan. Bukannya dulu itu adalah sawah penduduk. Lalu siapa yang salah?” Maimunah memandang suaminya, meminta jawaban.

Sapraji menggeleng tidak tahu dan berujar, “Orang-orang memang sudah tak peduli pada ruang untuk air. Sungai pun dijadikan tempat pembuangan sampah.”

Sapraji baru sadar, ternyata desanya memang mulai berubah dari tahun ke tahun. Tak banyak lagi warga desa yang menggarap sawahnya. Mereka memilih menjual tanahnya dengan harga selangit. Kepala desa Campoan ikut membujuk warganya agar tanahnya dilepas saja untuk pembangunan bandara, hotel, villa dan bangunan-bangunan menjulang lainnya.

Kepala desa itu mengatakan, itu semata-mata membantu pemerintah kabupaten untuk mempromosikan wisata di kabupaten tersebut. Beberapa sawah warga Campoan harus dijual supaya pembangunan berjalan lancar. Mereka tidak menolak keinginan yang disampaikan kepala desa. Apalagi sawah mereka dibeli dengan harga yang tak pernah mereka sangka. Harganya berlipat-lipat dari harga tanah biasanya.

Baca juga:  Lukisan dan Permen

Sapraji menjadi satu-satunya orang yang menolak bujukan kepala desa untuk menjual tanahnya. Berkali-kali kepala desa Campoan membujuk Sapraji agar tanah miliknya dilepas, sebab tanah tersebut mengganggu jalannya pembangunan bandara. Tapi berkali-kali pula Sapraji menolak permintaan itu. Teguh pendirian Sapraji yang mengatakan sampai nyawa sekalipun taruhannya tak akan pernah dijual tanah yang ia dapatkan dari warisan kakeknya tersebut.

“Apa jadinya kalau saya jual tanah itu. Apa yang saya akan wariskan pada anak cucu kelak. Menjaga tanah sama artinya menjaga anak cucu. Lagi pula, apa anda tidak cemas banjir akan menyergap desa kita?”

“Percayalah. Tidak akan banjir.” Kepala desa itu berusaha meyakinkan Sapraji.

Sapraji tersenyum sinis. “Jangan mendahului keputusan Tuhan.”

Sejak saat itu kepala desa Campoan itu tak pernah lagi menemui Sapraji. Ia hilang begitu saja. Tak terdengar kabar tentang kepala desa itu. Akan tetapi, Sapraji dibuat kaget saat mendengar kabar bahwa sawahnya sudah ikut digusur tanpa izin darinya. Bulldozer itu menghabisi semua tanaman padi milik Sapraji, tanpa rasa ampun.

Tempurung kepala Sapraji seakan mau meledak. Kepala desa itu sudah benar-benar membuatnya marah. Ia tahu betul watak kepala desa itu. Pastilah kepala desa itu yang mengizinkan, mengatakan bahwa pemilik sawah itu sudah mau menjual tanahnya. Ingin sekali Sapraji menemui kepala desa untuk menanyakan kebenaran itu.

Sapraji mengurungkan niat itu. Ia memilih menabahkan diri. Percuma saja Sapraji melawan kepala desa itu. Ia hanya seorang diri. Tak punya kekuasaan. Tak akan menang melawan kepala desa itu, terlebih kepala desa itu adalah perpanjangan tangan pemerintah kabupaten. Tak ada daya orang miskin macam Sapraji melawannya. Laki-laki itu pasrah. Air matanya berurai terus menerus.

“Banjir itu datang, karena kita sendiri yang memintanya.” Sapraji bergumam.

Kejadian sekian tahun lalu itu masih menghuni benaknya yang sempit. Maimunah melihat Sapraji yang sejak tadi melamum. Ia melihat rasa kesal melingkar di wajah suaminya itu. Gigi Sapraji bergemeretak. Tangannya berkali-kali memukul meja. Untung saja, gelas kopi yang tinggal ampasnya tak jatuh ke bawah.

“Kamu ingat kejadian dengan kepala desa?” Istrinya bertanya. Sapraji mengangguk.

“Inilah akibatnya sekarang.”

“Kita berdoa saja, semoga tak akan ada banjir lagi setelah ini.”

Baca juga:  Kutunggu Kamu di Selat Bosphorus

“Mustahil.”

“Kenapa?”

“Doa saja tak cukup.”

“Lalu?”

Sapraji tak menemukan jawaban. Pening kepalanya. Ia masuk ke dalam, meninggalkan istrinya sendiri dan membiarkan perempuan paruh baya itu menelan pertanyaannya sendiri. Maimunah mengerti kekesalan yang dialami suaminya.

Beberapa menit kemudian, Sapraji keluar rumah. Istrinya melihat Sapraji tergesa-gesa, menyibak air banjir yang tingginya hampir selutut orang dewasa. Maimunah memanggil suaminya dari belakang. Sapraji menoleh. Perempuan berjilbab biru tua itu menghampiri Sapraji.

“Mau kemana?”

“Rumah kepala desa.”

“Untuk apa?”

“Saya mau dia bertanggung jawab. Dia yang membuat desa kita direndam banjir.”

“Apa perlu?”

“Sangat perlu.”

Maimunah tak bisa menahan keinginan suaminya pergi ke rumah kepala desa yang terletak di ujung jalan. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah berupa bangunan mewah itu. Sapraji mengucap salam di depan pintu pagar. Seseorang membukanya terburu-buru. Rupanya, banjir juga ikut merendam rumah orang nomor satu di desa Campoan.

Menunggu di ruang tamu selama hampir tiga puluh menit, Sapraji was-was kepala desa tak akan menemui dirinya. Seorang pembantu rumah tangga memberinya secangkir kopi dan mempersilakan Sapraji meminumnya. Ia juga mengatakan kepada Sapraji jika kepala desa sedang ada tamu dari kabupaten dan beberapa orang penting lainnya.

Kepala desa Campoan itu sedang mengobrol di ruang sebelah, agak dekat dengan tempat Sapraji menunggunya, hanya terpisah oleh sekat kaca ruangan. Sapraji meneguk kopinya. Ia mulai bosan menunggu. Terdengar tawa terbahak-bahak dari ruangan sebelah. Keras sekali tawa kepala desa itu didengar oleh Sapraji.

Banjir yang Dikirim ke CampoanDengan langkah yang gemetar, Sapraji bangkit dari duduknya. Melalui celah lubang kunci, Sapraji melihat ke dalam ruangan itu. Ia melihat kepala desa itu sedang berbincang-bincang dengan beraneka ragam binatang. Dalam penglihatan Sapraji, ada seekor tikus besar, buaya, kadal dan ular duduk di kursi bersama kepala desa.

Dikuceknya mata Sapraji, khawatir yang dilihatnya hanyalah ilusi. Tapi tetap saja yang dilihatnya adalah binatang-binatang menyeramkan yang ikut tertawa bersama kepala desa. Degup jantung Sapraji seperti hendak lepas dari tangkainya. Ia bertanya-tanya ke dalam dirinya, apakah kepala desa itu bersekutu dengan iblis?

Sapraji kembali ke tempat duduknya. Kepala desa itu datang menemuinya. Sapraji berusaha tersenyum dengan debar-debar tak kuran dalam dadanya. Kepala desa Campoan itu menanyakan maksud dan tujuan Sapraji. Kepala desa itu mengatakan tidak punya banyak waktu, sebab tamu-tamunya yang berada di ruang sebelah itu belum pulang.

Baca juga:  Surga Simpanan

“Saya datang meminta pertanggung jawaban.” Tanpa basa-basi Sapraji mengutarakan maksudnya.

“Pertanggung jawaban apa?”

“Anda harus bisa mengatasi banjir ini.”

“Saya bukan Tuhan.” Kepala desa itu menjawabnya dengan nada ketus.

“Bandara dan gedung-gedung itu penyebabnya. Dan itu semua ulah anda.”

“Ngawur! Itu program pemerintah. Saya hanya menjalankan.”

Sapraji diam. Ia melihat ekspresi wajah kepala desa yang mulai mengeluarkan api. Sapraji agak sedikit takut. Ia cemas jika kepala desa menyuruh para binatang yang ada di kamar sebelah menyerang dirinya. Tidak akan selamat ia dari serangan binatang-binatang buas itu. Tubuh Sapraji mulai bergidik mendengar suara-suara binatang di kamar itu yang seakan siap menghabisinya.

“Banjir itu karena ada hujan. Dan hujan itu datang dari langit. Siapa yang menurunkan hujan?” Kepala desa bertanya kepada Sapraji dengan suara ditekan.

“Tuhan.” Jawab Sapraji singkat.

“Kamu menolak banjir, sama artinya protes pada Tuhan.”

“Banjir datang bukan tanpa sebab. Tuhan berbuat bukan tanpa sebab. Kita sendiri yang membuat banjir itu. Dan itu ulah anda. Anda yang sangat bernafsu menghabisi sawah-sawah petani menjadi gedung menjulang. Inilah akibatnya. Apakah desa kita pernah banjir sebelum pembangunan itu berdiri?” Kepala desa itu tak memiliki jawaban.

Tanpa perlu menunggu jawaban dari mulut kepala desa itu. Sapraji pamit. Tergesa-gesa ia meninggalkan rumah kepala desa. Ia merasa jiwanya terancam sebab telinga Sapraji mendengar desis ular, auman macan, suara buaya dan kadal yang seperti akan membunuhnya. Berada di depan pintu pagar kepala desa itu, Sapraji sempat menghentikan langkahnya saat melihat dua mobil mewah masuk ke halaman rumah kepala desa.

Secara spontan mulut Sapraji mengucap istighfar seraya memegang degup jantung di dadanya setelah melihat penumpang di dalam mobil itu adalah segerombolan binatang buas. Matanya sempat melihat seekor tikus besar, buaya, kadal, kalajengking dan berbagai binatang lainnya yang sangat mengerikan.

Pulau Garam, Maret 2019


Zainul Muttaqin Lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Meraih Juara II Lomba Cerpen Se-Nusantara (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Sumenep, Desember 2017). Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019). Tinggal di Sumenep Madura. Email; lelakipulaugaram@gmail.com – Republika

Keterangan

[1] "Banjir yang Dikirim ke Campoan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 16 Juni 2019