Hati Sang Pemilik Kucing

Karya . Dikliping tanggal 12 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Ramadhan tahun ini, Fadil hanya berharap satu hal. Semoga, ia mendapatkan jodoh. Usianya sudah kepala tiga. Dan ia sudah sangat ingin memberikan cucu untuk ibunya yang tinggal di kampung bersama adik satu-satunya.

Namun, jodoh, rezeki, dan maut Allah yang punya. Beberapa kali ia nyaris mendapatkan istri, tapi selalu saja ada halangan yang membuat mimpinya pupus.

Sejak SMA hingga tamat kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Fadil tidak mau pacaran. Baginya, selain tidak sesuai dengan keyakinan agamanya, pacaran juga hanya buang-buang waktu dan memberi harapan palsu alias PHP.

Dua tahun setelah lulus kuliah, ia menemui Aisah, teman mainnya waktu kecil di sebuah desa di Cianjur, Jawa Barat.

Ia bermaksud melamar Aisah. Tapi, ia terlambat.

“Mohon maaf, Kang Fadil. Akang terlambat. Minggu lalu, Kang Lukman, teman Akang yang kini jadi guru madrasah dan ustaz di kampung kita ini melamar Aisah. Ibu dan Bapak menerima lamaran tersebut. Sebetulnya, sejak Akang kuliah di IPB dan lulus sebagai dokter hewan, Aisah menunggu Akang. Tapi, Akang tidak pernah datang. Mungkin, kita memang tidak berjodoh. Tapi, Aisah yakin, Allah pasti sudah menyiapkan wanita yang lebih segalanya dari Aisah untuk menjadi istri Dokter Hewan Fadil,” kata Aisah yang kini menjadi seorang guru di sebuah SD Negeri di Cianjur.

Tahun berikutnya, Fadil bertemu dengan seorang ukhti yang sangat lembut dan selalu menundukkan pandangan saat bertemu dengannya. Namanya Qurrata A’yun. Keduanya bertemu di sebuah acara tabligh akbar yang digelar di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.

Fadil langsung mengutarakan niatnya untuk mengkhitbah gadis asal Banjarmasin yang saat ini tengah mengambil S-2 di Universitas Al-Azhar Jakarta.

Qurrata A’yun setuju. Tapi, dia akan minta izin terlebih dahulu kepada ayahnya. Saat itu, baru saja ujian semester. Minggu depan, tidak ada kegiatan kampus.

Qurrata A’yun pulang ke Banjarmasin. Namun, ia tidak pernah lagi kembali ke Jakarta. Pesawat yang ditumpanginya jatuh saat hendak mendarat. Pesawat terbakar. Lebih separuh penumpangnya tewas, termasuk Qurrata A’yun.

Butuh waktu tiga tahun bagi Fadil untuk melupakan gadis salihah bermata bening itu. Sampai akhirnya, teman kuliahnya, Adian, menghubunginya dan mengatakan bahwa salah seorang teman kuliah mereka, Nadira, sampai sekarang masih jomblo.

“Dil, kamu masih ingat Nadira, kan? Itu lho, gadis tinggi semampai yang kalau kuliah sering duduk di bangku sebelahmu?”

“Ingat dong.”

“Dia masih sendiri, lho. Sekarang dia berjilbab. Tambah cantik dibanding dulu waktu rambutnya masih kelihatan.”

“Rumahnya di Ciputat. Bagaimana kalau kita ketemu di McDonald’s dekat UIN Ciputat? Jangan khawatir, aku yang membayari. He he he.”

Sabtu sore, Fadil, Adian dan Nadira bertemu di restoran Amerika tersebut. Selesai makan kentang dan burger, Adian langsung ke pokok persoalan.

“Nadira, Kamu kan masih jomblo. Nah, ini si Fadil juga masih jomlo. Jangan terlalu lama menjomlo. Gak baik. Mending seperti aku nih. Umur 24 nikah. Sekarang udah punya buntut dua orang,” kata Adian.

Baca juga:  Merpati-Merpati Makkah

Fadil tersenyum kecil. Nadira tersenyum samar.

“Jadi, Fadil dan Nadira. Kupikir-pikir, mengapa kalian tidak menikah saja? Kalian kan sudah saling kenal sejak zaman kuliah. Sudah tahu kartu masing-masing. Ha ha ha.”

“Adian, terima kasih telah memfasilitasi pertemuan ini. Nanti saya kabari jawaban saya,” kata Nadira dengan suara perlahan, tapi tegas.

“Oke, siap. Kami tunggu ya,” kata Adian.

Besok sore, Adian menemui Fadil.

“Dil, maafkan aku. Ternyata Nadira menolak.”

Fadil menarik napas panjang. “Mungkin memang bukan jodohku,” ujarnya perlahan.

“Aku penasaran, makanya aku tanya Nadira, apa alasannya menolak Fadil. Jawabannya gak esensial banget.”

“Apa katanya?”

“Karena katanya engkau kurang tinggi. Dia tingginya 170 cm. Dia mencari laki-laki yang tingginya minimal sama atau bahkan lebih dari dia. Aku agak tersinggung juga nih. Mosok gadis berjilbab mencari jodoh pakai pertimbangan tinggi badan?”

“Lho, apa salahnya? Apakah wanita berjilbab tidak boleh punya selera? Sudahlah, Dian. Kita doakan, semoga Nadira segera bertemu laki-laki yang dia harapkan.”

“Maafkan aku ya, Dil. Misiku gak berhasil.”

“No problem. Terima kasih atas perhatianmu yang luar biasa sebagai seorang kawan.”

“Sesama kawan, kita harus saling membantu, Dil.”

Setahun berlalu. Fadil berusaha memperbaiki diri. “Aku harus memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh seorang wanita yang salehah. Ia ikut komunitas One Day One Juz (ODOJ). Setiap hari, ia membaca Alquran satu juz, sehingga dalam sebulan ia bisa mengkhatamkan Alquran.

Ia pun ikut komunitas One Day One Ayat yang digagas Ustaz Yusuf Mansur. Kini, ia sudah hapal juz 30 dan 29.

Awal Ramadhan ini, Fadil memindahkan klinik kesehatan hewan miliknya dari Pondok Cabe ke Depok. Hal itu karena tempatnya yang lama terkena proyek tol.

Tapi, Fadil senang karena tempatnya yang baru lokasinya dekat masjid dan pesantren. Jadi, ia mudah menjaga shalat berjamaah. Apalagi, di masjid tersebut banyak kegiatan kajian Islam.

Suatu pagi menjelang siang, datang seorang wanita muda berjilbab dan bercadar membawa seekor kucing anggora cantik berwarna abu-abu.

“Assalamualaikum, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Kucing saya sakit, Dokter.” Masya Allah, suara itu begitu lembut, kata Fadil dalam hati.

Fadil memeriksa kucing tersebut. Kemudian, memberikan obat yang diperlukan.

“Mudah-mudahan dalam dua sampai tiga hari kucing Mbak sudah sembuh.”

“Berapa saya harus membayar biaya periksa dan obat?”

“Hari ini ulang tahun saya. Saya sudah berniat menggratiskan biaya periksa dan obat untuk siapa pun yang datang membawa hewan kesayangannya ke klinik saya.”

“Subhanallah. Hati Dokter mulia sekali. Semoga Allah membalas segala kebaikan Dokter.”

“Aamiin. Mohon maaf, Mbak, kalau boleh saya minta satu hal. Doakan saya supaya cepat dapat jodoh wanita yang salehah. Kalau bisa yang hafizah Quran,” entah dari mana Fadil tiba-tiba punya ide seperti itu.

“Aamiin. Saya doakan semoga harapan Dokter dikabulkan oleh Allah.”

“Terima kasih, Mbak.”

“Sama-sama, Dokter.”

Terdengar azan Zhuhur.

“Alhamdulillah. Maaf ya, Mbak. Saya mau langsung ke masjid.”

Baca juga:  Perempuan Hujan

“Baik, Dokter. Saya juga mau pulang.”

“Mbak gak bawa kendaraan?”

“Rumah saya dekat masjid.”

“Oh, baiklah Mbak. Sekali lagi, semoga kucingnya segera sembuh.”

“Terima kasih, Dokter.”

Tiga hari kemudian, Fadil baru saja selesai tadarus Quran, seusai shalat Zhuhur berjamaah, tiba-tiba ia didatangi Kiai Makmun, pimpinan pondok pesantren dan imam di masjid tersebut.

“Assalamualaikum, Dokter Fadil.”

“Waalaikumsalam, Kiai.” Ia langsung bangkit berdiri dan mencium tangan ulama yang dihormati masyarakat itu.

“Boleh saya bicara satu hal?”

Awalnya, Fadil agak bingung, tapi ia segera mengiyakan. “Boleh, boleh, Kiai.”

“Tapi, kita bicaranya di serambi depan aja ya.”

“Baik, Kiai.”

Fadil mengikuti Kiai Makmun ke serambi masjid.

“Dokter Fadil, saya tadi sempat mendengar bacaan Quran Dokter. Merdu sekali. Pernah belajar qiraah di mana?”

“Ah, Kiai. Saya jadi malu. Waktu SMA saya pernah belajar qiraah di Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Cianjur. Ya lumayan, sedikit-sedikit saya bisa lagu Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, sampai Jiharkah. Waktu SMA saya sempat beberapa kali ikut MTQ. Terakhir, saya juara kedua tingkat Provinsi Jawa Barat. Tapi, sejak kuliah sampai saat ini, saya jarang membaca Alquran dengan langgam. Saya hanya membacanya secara murotal. Apalagi, sejak saya ikut komunitas One Day One Ayat dan One Day One Juz,” kata Fadil.

Hati Sang Pemilik Kucing“Luar biasa. Saya bangga kepada anak-anak muda zaman sekarang. Mereka pintar ilmu dan teknologi, dan mereka juga gemar membaca Quran. Sebagian di antaranya hapal Quran, bahkan juga menguasai lagu-lagu dalam Alquran seperti Dokter Fadil.”

“Pak Kiai terlalu melebih-lebihkan. Saya hanyalah orang muda yang lagi mencari, Pak Kiai. Mencari identitas diri, berupaya mengenal diri, agar bisa mengenal Sang Pencipta dengan baik.”

Kiai Makmun menepuk bahu Fadil sambil tersenyum.

“Dokter Fadil, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Dokter mengobati kucing milik putri saya, Nurul Izzah. Alhamdulillah, kucingnya sudah sembuh dan dia sangat senang. Apalagi, katanya Dokter menggratiskan biaya periksa dan obat,” kata Kiai Makmun.

“Oh, gadis berjilbab dan bercadar itu putri Pak Kiai?”

“Iya, Dokter. Putri bungsu saya. Baru enam bulan lalu lulus dari Institut Ilmu Quran (IIQ) Ciputat. Alhamdulillah, dia hapal 30 juz.”

“Subhanallah. Semoga Allah selalu memberkahi hidupnya.”

“Aamiin.”

Kiai Makmun berhenti sejenak. Belum pernah Fadil seperti ini. Hatinya berdebar-debar.

“Begini, Dokter. Alhamdulillah Dokter telah merawat kucing tersebut. Kini, saya mau bertanya satu hal, seperti doa yang Dokter minta kepada putri saya, maukah Dokter merawat hati sang pemilik kucing tersebut?”

Belum sempat Fadil menjawab, tiba-tiba Nurul Izzah melintas. Ia mengenakan gamis putih susu, dipadukan kerudung cokelat tua dan cadar cokelat muda. Tiga hari tidak bertemu, gadis itu di mata Fadil jauh lebih cantik.

“Nah itu Nurul. Sini, Nak,” kata Kiai Makmun.

Nurul mendekat. Ia mencium tangan abahnya.

Kemudian, ia menoleh ke Fadil, “Assalamualaikum, Dokter,” sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya.

Baca juga:  Boko

“Waalaikumsalam, Mbak Nurul.”

“Panggil Nurul saja, Dokter,” ujar Kiai Makmun.

“Iy…iya, Pak Kiai.”

“Nurul,” kata Kiai Makmun.

“Ya, Abah.”

“Engkau seorang hafizah. Maukah engkau menyempurnakan hafalan Quranmu dengan memilih imam seorang dokter hewan yang juga qori? Insya Allah anak-anak kalian akan jadi hafiz dan sekaligus juga qori yang hebat,” suara Kiai Makmun lembut, tapi setiap kata terdengar sangat jelas dan gamblang di telinga Fadil dan Nurul.

“Pilihan Abah pasti yang terbaik. Nurul sami’na wa atho’na,” sahut Nurul sambil menundukkan wajahnya.

“Alhamdulillah,” kata Kiai Makmun.

Tiba-tiba, cadar Nurul lepas dan jatuh ke lantai masjid. Fadil terkesima melihat wajah yang begitu cantik sempurna dan bercahaya. Nurul pun terkesiap. Wajahnya yang putih bening mendadak merona merah delima. Apalagi, saat matanya bertemu dengan mata Fadil, meski hanya sedetik. Keduanya salah tingkah. Fadil langsung memalingkan pandangan. Nurul bergegas memungut cadarnya dan segera memakainya kembali. Kiai Makmun menyaksikan pemandangan tersebut sambil tersenyum.

“Nah, Fadil. Kapan engkau datang bersama orang tuamu ke gubuk kami yang sederhana dan berada di pinggir masjid?”

“Ayah saya sudah meninggal, Kiai. Insya Allah, besok saya akan jemput Ibu saya di Cianjur. Hari Jumat pagi saya dan Ibu insya Allah silaturahim ke rumah Kiai.”

“Baik, Fadil. Kami tunggu. Sesuatu yang dimulai dari serambi masjid, insya Allah berkah dan maslahat dunia dan akhirat.”

“Aamiin, terima kasih, Kiai,” Fadil mencium tangan Kiai Makmun.

Lalu, menangkupkan tangan di dadanya seraya tersenyum ke arah Nurul.

“Mbak Nurul,” ujarnya.

“Nurul,” kata Kiai Makmun.

“Eh iya, Nurul,” kata Fadil.

Nurul tersenyum manis di balik cadarnya. Matanya bercahaya. Dan Fadil merasakan kehangatan cahaya itu menembus jauh ke dalam sanubarinya.

Kiai Makmun dan Nurul berlalu. Fadil memandang sosok gadis itu hingga menghilang di balik gerbang masjid.

Seperti halnya rezeki dan maut, jodoh akan menghampiri sang pemilik yang sudah ditentukan oleh Allah. Dan Fadil selalu yakin, bahwa takdir Allah adalah yang terbaik baginya.

Fadil langsung sujud syukur. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau kirimkan Nurul kepadaku. Insya Allah, ia akan menjadi hadiah Lebaran terindah untuk ibuku,” tuturnya.

Jakarta, Ramadhan 1440 H


Irwan Kelana, wartawan Republika yang juga seorang cerpenis dan novelis. Ia menulis sajak, cerpen, novel, dan artikel sejak kelas satu SMA (awal 1980-an). Karya-karyanya tersebar di sejumlah media nasional maupun daerah. Ia telah memenangkan 14 kali penghargaan tingkat nasional dalam bidang penulisan cerpen, novel, artikel, dan karya tulis ilmiah. Ia juga telah menerbitkan sekitar 25 buku novel, cerpen, biografi, profil perusahaan, dan buku-buku Islam, antara lain, Kelopak Mawar Terakhir, Kemboja Terkulai di Pangkuan, Biarkan Cinta Menemukanmu, Hari-Hari Bersama Bang Arifin, Mengapa Kami Memilih Bank Syariah, Inovasi tanpa Henti , dan Kegigihan Sang Perintis. Irwan aktif memberikan pelatihan sastra dan jurnalistik di dalam maupun luar negeri, khususnya di kalangan mahasiswa Indonesia di Al-Azhar University, Kairo, Mesir. – Republika

Keterangan

[1] "Hati Sang Pemilik Kucing" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 09 Juni 2019