Kedai Kopi Tempo Dulu

Karya . Dikliping tanggal 17 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Segalanya telah berubah sekarang. Tempat ini, rasa kopinya, dan suasananya. Tapi, ironisnya, aku tak bisa melupakan tempat ini.

KAU selalu saja menggerutu setiap datang ke tempat ini. Suasana hatimu menjadi buruk. Anehnya, kau seminggu sekali mengunjungi tempat ini. Tempat ini, kedai kopi malabar ini bukan lagi kedai kopi tempo dulu. Gedungnya saja beda. Suasananya pun berbeda. Tapi, kau bersikeras harus mengunjungi kedai kopi malabar ini setiap minggu. Kau menyesap kopi malabar original-mu. Memejamkan mata untuk menyatu dengan aroma dan rasa kopi. Tapi, suara bising di sekitarmu merusak konsentrasi. Kau mirip pertapa yang gagal dalam pertapaan karena godaan bidadari. Sia-sia saja.

Sialnya, ini hari Minggu. Kedai kopi malabar ini dipenuhi keluarga dan klub entah apa yang masing-masing orang memegang gadget. Mereka kadang bersorak senang, kadang memekik kesal. Tempat ini sudah semacam playground dengan anak-anak yang berlarian ke sana kemari.

Ah, ini sungguh menyebalkan. Seharusnya kau mencari kedai kopi malabar yang lain saja. Di daerah ini begitu banyak kedai kopi malabar. Tapi, kenapa kau malah datang ke sini setiap hari Minggu? Hari yang sialnya akan penuh pengunjung. Tujuan mereka bukan menikmati kopi malabar, melainkan bermain. Kau pun tahu itu dengan baik.

Hari ini kau mendapat sebuah anugerah. Hanya kau dan wanita berpakaian serbaputih yang duduk diam tanpa gadget. Posisi kalian bahkan sama. Duduk menyilangkan kaki dengan tangan kanan memegang cangkir. Posisi khas penikmat kopi malabar tempo dulu.

Melihatnya mencerminkan dirimu dan tempo dulu. Kedai kopi malabar tempo dulu hanya untuk orang-orang yang ingin menikmati cita rasa kopi malabar. Tak ada gadget atau pengganggu. Bahkan, pasangan sekalipun. Jika kau ingin menikmati kopi malabar seutuhnya, kau harus datang sendirian ke sini. Tanpa pasangan.

Kau menyesap lagi kopi Malabar original-mu. Kau berada di persimpangan kebimbangan, antara ingin menghampiri wanita itu atau diam di sini memperhatikannya dari jauh. Kau tahu aturan dulu, jangan menghampiri seorang wanita yang duduk sendirian di kedai kopi malabar. Bisa jadi dia sudah memiliki pasangan. Sebab, tempat ini dulu satu set, hanya ada satu meja dan satu kursi. Seolah dirancang untuk sendirian. Sekarang jangan ditanya. Sudah mirip dengan gerai fast food.

Baca juga:  Otobiografi Sebuah Ban

Itu dulu. Aturan itu hanya berlaku tempo dulu. Sekarang sudah berubah. Barangkali sudah tak ada seorang pun yang mengingat aturan itu, selain kau tentunya. Kau pun menghampirinya.

“Apa yang tengah dipikirkan seorang wanita dengan cangkir berisi kopi malabar original di tempat ini?” tegurmu.

Wanita di hadapanmu menolehkan wajahnya. Kau tertegun. Matanya yang bulat dengan pupil berwarna cokelat itu menyimpan sejuta misteri. Sorot matanya begitu menggelapkan. Kau selalu penasaran dengan wanita semacam itu.

“Dan apa yang tengah dipikirkan seorang lelaki yang berdiri di samping meja wanita asing dengan cangkir berisi kopi malabar original di tempat ini?” balasnya.

Kau terhenyak. Tak bisa membalasnya. Kau tahu makna terselubung di balik pertanyaannya. Orang yang paling tidak tahu sopan santun adalah orang yang mengganggu ketenangan menyatu dengan kopi malabar. Itu juga aturan tempo dulu. Kau jelas punya niat untuk duduk di kursi di hadapannya.

“Maafkan saya. Sungguh, saya meminta maaf. Saya akan kembali ke tempat duduk,” ujarmu, merasa bersalah.

Dia tertawa lirih. Kau memasang wajah bodoh. Dia memintamu untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya. ”Tak ada peraturan semacam itu sekarang,” ucapnya.

Kau duduk di depannya. Kau masih menyakinkan dirinya bahwa kau tak mengganggu. Ini kali pertama kau mendapat todongan semacam itu. Dalam hati kau bersyukur melakukannya sekarang. Jika saja kau melakukannya tempo dulu, kau tak akan punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Kau akan di-blacklist.

“Mereka jauh lebih mengganggu,” jawabnya sambil menunjuk sekeliling dengan cangkir kopi malabar. Nada bicaranya tenang. Tak seperti dirimu yang selalu gusar setiap mengatakan kalimat itu.

Kau pun tertawa. Tawa lepas yang aneh. Kau tak pernah tertawa di sini. Tawa yang melebur dalam keramaian. Kau tak sadar telah melanggar aturan minum kopi malabar di kedai ini, tempo dulu. Ya, itu dulu. Kau tak seharusnya merasa bersalah dan takut jika melanggar aturan tempo dulu. Tak seorang pun yang mengingatnya lagi. Kecuali, kau dan dia.

Dia juga membalas tawa lepasmu. Tawa yang membiusmu. Mungkin kau juga tak sadar bahwa kalian sama-sama punya tawa yang membius. Kau tak menampik perasaan yang berlabuh di sudut hatimu. Kau sadar telah sangat lama tak berpacu dengan perasaan berdebur itu.

Baca juga:  Yu Nalea

“Ini kali pertama aku mengobrol dengan pengunjung lain di kedai kopi ini,” ujarnya.

“Aku pun begitu. Kau juga pengunjung tempo dulu?” tanyamu, memastikan.

“Tentu saja. Kau sudah tahu dari gaya meminumku, kan?” tanyanya.

Kau memindai segala yang ada pada dirinya. Seolah kau ingin mengingat dan menaruhnya di sudut memori kepalamu. Rambut hitamnya yang tergerai lurus. Wajahnya yang masih kencang walaupun saat dia tertawa tadi ada guratan keriput di samping matanya. Bagian yang paling kau suka adalah bibir tebalnya. Itu sangat memabukkan meski sekadar melihatnya. Kau pun memalingkan wajah ketika dia menyesap kopi malabar original-nya. Sungguh kau sudah lama tidak merasakan ini. Kau begitu kaku sekarang.

Kedai Kopi Tempo DuluKau menyukainya. Kalimat bahwa tidak boleh jatuh cinta dengan wanita di kedai kopi ini terus berputar. Kau berkilah, aturan itu sudah tak berlaku sekarang. Kau bisa melanjutkan apa yang ingin kau lakukan. Bahkan untuk memikat hatinya.

“Segalanya telah berubah sekarang. Tempat ini, rasa kopinya, dan suasananya. Tapi, ironisnya, aku tak bisa melupakan tempat ini,” tuturnya.

“Karena pemilik tempat ini sudah berganti,” jawabmu.

“Bagaimana kau tahu?” tanyanya sambil memicingkan mata.

Kau tersenyum samar. Kau lantas menunjuk salah seorang pemuda dengan pakaian modis ala drama Korea Selatan yang duduk di dekat meja kasir. Pemuda itu sibuk dengan gadgetnya. ”Dia cucu pendiri kedai kopi ini. Sekarang dia pemiliknya.”

“Wajar jika kedai kopi ini menjadi seperti sekarang. Kepribadian seseorang memengaruhi apa yang dia lakukan,” timpalnya.

“Kau benar. Pendiri kedai kopi ini dulunya punya kepribadian melankolis. Kabarnya, dia seorang penulis. Dia sendiri yang menciptakan aturan tempo dulu,” tanggapmu.

“Benarkah? Kau begitu mengenal tempat ini. Beda denganku yang hanya menikmati kopinya. Tapi, mungkinkah kedai kopi ini kembali seperti tempo dulu? Rasanya, itu sangat mustahil, kan?” tanyanya, berandai-andai.

Kau menyesap kopi malabar originalmu yang tinggal seperempat. Kau berpikir untuk memesan satu cangkir lagi. Obrolan ini tampaknya akan berakhir dengan bercangkir-cangkir kopi malabar. Ada yang kau pertimbangkan. Kau ingin mengatakannya, tetapi ini rahasia. Sesuatu yang penting menyangkut tempat ini. Sebuah alasan yang menyebabkanmu selalu datang setiap minggu. Kau memperhatikan lagi bibir tebalnya yang digincu merah menyala. Sudahlah, tidak apa mengatakan kepadanya.

Baca juga:  Di Langit, Ayub Melaut

“Aku bisa membuat kedai kopi ini kembali seperti tempo dulu,” tegasmu.

Alisnya terangkat, membentuk bulan sabit. “Bagaimana caranya?”

“Setiap minggu aku datang ke kedai kopi ini. Untuk mematai-matai pemiliknya. Tujuanku adalah menjadikan kedai kopi ini milikku. Jika aku sudah mendapatkannya, akan kukembalikan tempat ini ke tempo dulu,” terangmu.

“Itu niat yang mulia,” tanggapnya, terpukau.

Kau tersanjung dengan nada yang diberikannya. Kau tak sadar telah jauh dari tujuan awal berada di tempat ini. Kau harus mematai-matai pemilik kedai kopi, mencari tahu kelemahannya, dan bisa merebutnya. Sebab, dia tak mau menjualnya dengan harga sebesar apa pun. Tentu saja tempat ini sekarang hanya menghasilkan keuntungan finansial belaka. Tanpa memproduksi kenangan demi kenangan.

“Kau mendukungku, kan? Mau melakukannya bersama-sama?” pintamu, penuh harap.

Dia meletakkan cangkirnya yang telah tandas isinya. Mulutnya membuka, berniat menjawab pertanyaanmu. Tapi, seorang lelaki menginterupsi. Dia pun menutup mulut kembali.

“Sayang, sudah selesai? Ayo kita pergi,” ajak lelaki itu.

Dia mengangguk pelan. Lantas membereskan tasnya. Menggaetnya di lengan kanan. Kau pun memasang wajah tegang dan kaku. Ekspresi yang juga sudah lama tak kau tunjukkan.

Dia berdiri. Menatapmu lembut. “Aku akan mendukung dan mendoakan supaya tujuanmu terkabulkan. Tapi, aku tak bisa membantu lebih dari itu. Ini terakhir kalinya aku menikmati kopi malabar original di tempat ini. Aku dan suamiku akan pergi ke tempat yang indah. Hanya berdua.”

Kau pun hanya mengamati kepergian mereka. Kau beralih menatap cangkir kopi malabar original yang telah dihabiskannya. Bekas gincu merah menyala ada di sisi cangkir. Sungguh, ada yang hilang. Sekelebat ingatan tempo dulu berputar. Tidak boleh jatuh cinta di tempat ini. Barangkali pemilik tempat ini tempo dulu juga merasakan apa yang kau rasakan hingga peraturan itu dibuat. Entahlah.

Kebumen, 24 Januari 2019


Umi Salamah [Jawa Pos]

Keterangan

[1] "Kedai Kopi Tempo Dulu" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 16 Juni 2019