Lebaran di Perantauan

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Ini adalah kali ketiga aku merayakan lebaran di negeri orang. Bahagia, rindu, sedih, bercampur menjadi satu. Tak ada suara takbir, tak ada ketupat, apalagi jajanan di dalam toples. Yang ada hanya nelangsa menjelma di dalam atma saat rindu mulai berkuasa karena sudah tiga kali lebaran aku tidak bisa berkumpul dengan emak, serta kedua adikku. Tak ubahnya seperti hari-hari biasanya, aku tetap bergelut dengan rutinitas yang telah menanti.

“Nenek, yuk berangkat ke taman, mumpung matahari belum terlalu panas,” ajakku pada nenek yang kurawat.

“Aku tidak mau!” Jawabnya seraya menarik kembali selimut agar tubuhnya yang telah keriput tidak terendus sinar matahari.

Begitulah nenek, manjanya luar biasa. Terkadang tingkahnya seperti balita, ingin dirayu acapkali mengurusnya. Anak-anak, serta semua cucunya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Itulah yang membuat ia kesepian. Hari-hari tuanya hanya dihabiskan denganku, yang bertugas sebagai perawat, sekaligus teman dalam bercanda.

***

Pasca meninggalnya bapak, emaklah yang mengambil alih tugas mencari nafkah untuk keluarga kami. Hidup di bawah garis kemiskinan membuatku harus prihatin. Sejak kecil menu ikan asin dan rebusan daun ubi adalah santapan keseharian keluarga kami. Paling-paling menu istimewa saat bapak mendapatkan upah buruh, yaitu masakan tempe semangit (1) yang dikukus terlebih dahulu, lalu ditumbuk tidak terlalu halus dengan cabai dan bumbu lainnya, kemudian dicampur dengan santan kelapa. Kami menyebutnya sambal tumpeng, akan terasa lebih nikmat dengan ditemani rebusan daun ubi atau daun pepaya yang masih muda. Itulah adalah masakan terlezat emak yang sangat aku gemari. Sering kali kami berebut karena takut tidak kebagian.

“Mak, kapan sih kita bisa beli soto di warungnya Mbok Ilham itu? Kata tetangga sotonya enak sekali, apalagi gorengannya,” ujar Tatik, adikku yang paling bungsu.

“Sabar ya, Nduk. Upah tandur (2) emak dari Pak Haji Hasim belum dikasih karena padinya banyak dimakan wereng,” jelas emak dengan lembut.

Adikku hanya bisa mengangguk, saat itu umurnya masih lima tahun sehingga belum tahu apa itu kesulitan biaya untuk hidup. Sedangkan, aku masih berumur 13 tahun, tapi postur tubuhku yang tinggi mirip emak, membuatku terlihat lebih dewasa. Nasi yang tengah kukunyah, seolah enggan untuk ditelan. Kelu karena gadis cilik yang seusiaku bisa berangkat bersama teman-teman sebaya ke sekolah, tidak pernah kusarakan. Aku kerap membantu emak ke ladang untuk berburuh ngasag (3) jagung, dan memanen padi di rumah para tetangga. Tak jarang teman-teman pun meledekku seperti laki-laki. Karena perawakanku yang tinggi, kulit gelap karena sering kepanasan, serta potongan rambut cepak tomboy karena tidak perlu menggunakan sampo jika keramas. Sehingga, mengirit biaya.

“Lihat tuh si Nana! Cewek kerjaannya di sawah, pantas saja kulitnya legam dan kusam. Apalagi, kalau salamannya dengan dia, tangannya kasar seperti gergaji,” cibir mereka acap kali berpapasan denganku.

***

Himpitan ekonomi serta kondisi emak yang makin tua dengan tenaga yang mulai berkurang, membuat keluarga kian terpuruk. Sebagai anak sulung akulah pengganti tulang punggung di keluarga. Berbekal ijazah Sekolah Dasar (SD), kumantapkan kaki meninggalkan kampung halaman. Taiwan, di sinilah segala impian dan masa depan keluarga kupertaruhkan. Dulu, saat di penampungan, aku sering bertanya pada Mba Sri, bagiamana keadaan Taiwan. Ia seorang tenaga kerja wanita yang pulang ke Indonesia mengambil cuti, dan kembali lagi dengan proses Calling Visa.

Baca juga:  Ujian di Penghujung Tahun

“Mba Sri, kalau di Taiwan nanti pekerjaan seperti apa?” tanyaku penasaran.

“Ya begitu, Na. Kalau aku merawat seorang kakek yang sudah pikun, tetapi majikanku tidak tinggal bersama kami sehingga aku bebas mau ngapain aja. Kalau sudah beresan ya aku bermain Facebook.”

“Facebook opo to, Mba?”

“Ini lho, Na. Kita bisa ketemu dengan banyak orang di HP, bisa untuk juga untuk baca berita, nyanyi, terus siaran langsung,” terangnya, “nanti kalau kamu sudah sampai Taiwan juga pasti tahu, Na. Pokoknya kita bisa banyak teman di Facebook. Bahkan ada juga yang sampai nikah dengan kenalan yang di dunia maya.”

Tidak henti-hentinya Mba Sri menjelaskan tentang Facebook, dan memamerkan handphone barunya. Bentuknya lebar, dan layarnya jika disentuh bisa bergerak sendiri. Dahulu, sebelum bekerja ke luar negeri, Mba Sri seperti halnya gadis desa kebanyakan. Dandannya kerap memakai rok balon bunga-bunga dengn baju katun kerut di lengan. Rambutnya juga masih keriting dan berwarna hitam. Tetapi, sejak kepulangannya pertama, penampilannya total berubah. Bak penyanyi dangdut yang sering kulit di TV saat menonton di rumah pak RT. Sekarang rambutnya ada tiga warna. Merah, kuning, dan hijau. Persis warna kue lapis, yang dijual Mbok Minah yang dulu rumahnya di seberang jalan. Hidungnya juga ditindik dan anting-anting penuh menghiasi telinga.

Sayangnya, Taiwan tak seindah foto profil di Facebook ataupun semanis yang Mba Sri jelaskan padaku. Karena semua keberuntungan itu tak kuras kan. Rumah tempatku bekerja berukuran besar, lima lantai, lengkap dengan garasi mobil, taman, kolam. Majikanku juga memiliki kebun luas yang ditanami bermacam-macam jenis sayuran. Jika musim panen, aku harus bangun jam empat bangun untuk ikut tuan memetik labu, kacang panjang, dan sawi. Karena, jika kesiangan, ibu pedagang sayur yang kami setori tidak mau membeli. Belum lagi menghadapi nenek yang kerap merajuk dan tidak mau diurusi. Tetapi, semuanya aku lalui dengan sabar, demi melihat senyum yang mengembang di bibir emak dan kedua adikku agar tidak lagi dianggap remahan rempeyek oleh tetangga. Aku bosan hidup dalam kesengsaraan.

***

Lebaran di Perantauan“Minal ‘Aidhin wal Faizin, Mak. Mohon maaf lahir dan batin.”

“Iya, sama-sama, Nduk. Mamak juga minta maaf ya karena selalu merepotkanmu. Bahkan sekarang emak dan adik-adik bergantung hidup padamu,” suara emak terdengar parau di seberang sana.

Aku tahu emak tengah menahan tangis yang tak berani ia tumpahkan.

Baca juga:  Seperti Kakesu Pulang ke Petang

“Bagaimana kabar emak dan adik-adik sekarang?”

“Emak baik, Nduk. Adikmu Yanto sudah masuk SMP, sedangkan Tatik sekarang kelas empat SD.”

Kesedihanku seolah menguap begitu saja, seiring mendengar orang-orang yang kusayangi dalam keadaan bahagia dan hidup layak seperti orang lain. Pergi ke sekolah, bermain dan membaur dengan anak-anak sebaya mereka. Bisa memberi jajanan dan permen saat di sekolahan. Tidak seperti ke hidupanku dahulu, yang hanya tahu bagaimana mengambil jagung yang bekas dipanen orang. Jagung-jagung tersebut kami bawa pulang untuk dijual atau diolah menajadi nasi. Disantap bersama sambel tumpeng buatan emak, yang sekarang menjadi makan idaman yang ingin kunikmati.

“Ah… Emak, rasanya aku ingin sekali menikmati masakan olahan tanganmu.”

***

Mengingat masa lalu, sama halnya mengaduk bendungan air mata. Akhirnya jebol, meluap dan membanjiri pipi. Apalagi, saat mengenang kepergian bapak untuk selama-lamanya. Bapak meninggal saat hendak dirujuk ke rumah sakit di kabupaten. Penyakit Tubercolosis (TBC) dan komplikasi bapak yang sudah akut, membuat Puskesmas di desa kami tidak sanggup menangani. Karena tidak memiliki dana untuk menyewa mobil ambulans, kami pun terpaksa mencari mobil tetangga yang sudi mengantar kami ke Kabupaten. Terlalu lama menunggu, nyawa bapak pun tak dapat diselamatkan. Bapak mengembuskan napas terakhirnya di pangkuanku.

“Maafkan Nana, Pak. Nana belum sempat membahagiakan bapak. Tapi, Nana berjanji, akan merawat dan menjaga emak dan adik-adik dengan baik. Menyekolahkan mereka, seperti yang bapak harapkan.”

Telaga ini akhirnya basah, bersama senja dan birunya langit Formosa. Jelaga kehidupan perlahan sirna, saat seseorang sanggup memerangi dengan usaha dan iringan doa.

***

“Ana… Ana…!”

Gaung stereo suara nyonya membuyarkan lamunanku. Dengan tergopoh-gopoh kuambil langkah seribu untuk menemuinya di ruang kerjanya, di lantai dua. Aku dan nenek tinggal di lantai tiga, nyonya dan keluarganya di lantai empat, lantai lima digunakan untuk pertemuan keluarga besar dan cucu-cucu nenek di hari libur.

“Iya, Nyonya. Saya datang.”

“Nana, tadi agensimu ada telepon saya, empat bulan lagi kan kontrakmu habis, apakah kamu berniat meneruskan kontrak di sini, atau pulang seterusnya ke Indonesia,” tanya nyonya, seraya membenarkan letak kacama tanya yang melorot.

“Mmm…. Saya, … s-a-y-a belum tahu, Nyonya.”

Nyonya dan sekeluarga memperlakukanku dengan baik meskipun kerjaan di sini sangat melelahkan. Kami makan satu meja bersama. Karena aku tidak diberi jatah libur, ia pun kerap membelikan makanan Indonesia setiap mengantar barang pabrik ke sebuah kantor yang dekat dengan toko Indonesia. Gaji kerjaku pun di sini utuh karena telepon rumah juga dijatah sebulan sekali oleh nyonya. Hanya satu, nyonya tidak mengizinkanku berpuasa di bulan Ramadan. Selama ini aku melakukan shalat secara diam-diam dan takut ketahuan. Pada jam makan aku pura-pura duduk dengan mereka, pura-pura menyendok dan mengunyah. Padahal, makanan di mangkuk itu aku buang ke belakang.

Baca juga:  Sebutir Peluru Menembus Keningnya

Aku bergeming. Belum berani memberikan jawaban bersedia atau tidak untuk tanda tangan kontrak kedua bekerja di rumah ini. Tetapi, dalam benakku tebersit pertanyaan, “Jika aku ganti tempat kerja, apakah ada jaminan jika aku akan mendapat yang lebih baik dari ini, atau sebaliknya?” Aku pun menarik napas, membuang segala pertanyaan yang membuatku gamang.

“Bagaimana, Ana?” pertanyaan nyonya menyadarkan lamunanku.

Dengan perlahan dan pasti, aku pun mengutarakan permintaanku. Aku mau melanjutkan kerja jika nyonya meng izinkanku berpuasa di bulan Ramadan.

“Maaf Nyonya, saya mau melanjutkan kontrak di sini, asalkan nyonya mengizinkan saya untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan saya.”

“Tapi Ana, kalau kamu tidak makan selama sebulan, aku takut kamu jatuh sakit.”

“Tidak perlu takut, Nyonya. Saya tidak akan kelaparan karena menjalankan perintah Allah, sama halnya ketika Nyonya menjalankan ibadah di agama Nyonya. Berpuasa justru akan membuat saya sehat melatih kesabaran.”

Nyonya terdiam. Di wajahnya tersirat kegundahan yang sulit diutarakan. Dia tahu tidak mudah mendapatkan pekerja yang bisa mengerjakan dan bertanggung jawab penuh dengan semua pekerjaan di sini. Apalagi, menghadapi nenek yang sudah pikun dan seperti anak kecil.

“Baiklah Ana, aku akan mengizinkanmu beribadah dan memberimu libur sebulan sekali agar kau bisa bertemu dan beradaptasi dengan orang Indonesia lainnya. Oiya … bukankah hari ini adalah lebaran untuk agamamu? Aku tahu dari melihat berita, yang menyiarkan umat Muslim merayakan hari raya, setelah tidak makan selama tiga puluh hari,” ucap nyonya panjang lebar, “kamu boleh libur hari ini. Keluarlah untuk bertemu sesama orang Indonesia.”

Aku berjingkat bahagia, kupastikan jika ini bukanlah mimpi. Kutampar pipi kananku ternyata sakit. Mimpi apa aku semalam, tiba-tiba Nyonya memerintahkanku keluar untuk libur dan merayakan lebaran bersama teman-teman. Ada rasa haru yang menyeruak, tanpa sadar aku melonjak kegirangan seraya meraih tangan nyonya dan menciumnya. Terlepas aku di sini sebagai pekerja, tapi ialah wanita pertama yang memahami ketika pertama aku datang kemari tanpa pengalaman kerja sebagai pembantu. Nyonya yang mengajariku mengoperasikan mesin cuci dan alat-alat elektronik lainnya, ia juga memberikan buku belajar Mandarin sekaligus kaset. Sehingga, setelah selesai semua pekerjaan, aku bisa belajar bahasa sembari mendengar percakapan di kaset.

“Terima ksih, Nyonya. Kau jadikan aku bagian dari keluarga ini,” ucapku.

Taipei, 21 Mei 2019

Catatan:
(1) Tempe semangit = tempe yang sedikit busuk karena sudah terlalu lama
(2) Tandur = Buruh menanam padi
(3) Ngasag = Mencari sisa jagung yang sudah diambil pemiliknya


Eti Nurhalimah, BMI sekaligus mahasiswa Sastra Inggris di UT Taiwan. Peraih juara ke-3 VOI Award RRI 2017, Juri Award Taiwan Literature Award Migran (TLAM) 2017 di Taiwan, dan juara ke-1 lomba menulis cerpen Inspiratif Forum Pelajar Muslim Indonesia Taiwan (FORMMIT) 2018. Penulis dapat disapa melalui etimelati18@gmailcom – Republika

Keterangan

[1] "Lebaran di Perantauan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 02 Juni 2019