Legong Bulan

Karya . Dikliping tanggal 17 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Raja Agung Karna, Pangeran Sukawati yang tampan, sudah lama galau. Dia merasa sekarat bagai seekor serangga tua putus asa. Rakyatnya selalu marah-marah. Dia melihat istriistrinya seakan begitu cepat tua, makin hari bagai bunga jatuh berguguran, tak dapat membangkitkan gairah lagi.

Pangeran memohon ampun pada Brahma. Ia akui tak sungguh-sungguh mengurus rakyat karena terlalu sibuk dengan istri-istrinya. Namun dia minta dipertemukan dengan seorang gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta untuk kali terakhir.

Suatu malam Raja bermimpi, di bawah bulan purnama keemasan sepasang penari turun dari langit dengan gerakan indah dan memesona. Belum pernah Raja melihat tarian itu. Raja senang mimpi itu dan percaya harus merekontruksi tarian itu; dimainkan gadis-gadis cantik pilihan sebagai persembahan kepada Brahma.

Raja dan para punggawa istana mencari gadisgadis, mengundang empu-empu tari, mengumpulkan para penabuh kendang. Setelah berhari-hari berjumpalah mereka dengan dua gadis cantik: Bulan Trisna Kinaryoshi dan Ayu Wahyuni Jingga.

Raja menggubah sepenuh hati tarian dalam mimpi itu. Namun ia juga makin terpesona pada salah seorang penari: Bulan Trisna Kinaryoshi. Raja telah jatuh cinta lagi. Jiwanya meletup bahagia, berbunga-bunga.

Setelah sempurna seperti ia lihat dalam mimpi, dia beri nama tarian itu legong. Penari berkain kebaya bersulam benang emas dan perak. Mereka bagai sepasang peri cahaya. Diiringi Tabuh Semar Pagulingan, siapa yang melihat tarian itu pasti terpesona, terutama dengan percintaan yang membuat laki-laki sangat bergairah.

Brahma di langit sangat senang menerima legong persembahan itu. Sementara Raja makin jatuh cinta, ingin memiliki seluruh jiwa gadis itu, Bulan. Namun Bulan berterus-terang telah mempunyai kekasih sehidup-semati, Rangga Sengog. Ayu Wahyuni Jingga yang masih sendiri.

Namun Raja hanya jatuh cinta kepada Bulan. Raja mudah memiliki cinta Bulan karena dia raja yang tak bisa ditolak keinginannya.

Rangga Sengog terenyak murung. Anak perajin daun lontar dari Karangasem itu cemas Raja telah berterus-terang menginginkan Bulan jadi istri. Sungguh, dia tak rela kehilangan Bulan. Mereka sudah lama saling mencintai. Bahkan telah berjanji sehidup-semati di hadapan Dewa Brahma.

Rangga memohon Dewa Brahma mengurungkan niat Raja meminang Bulan. Namun tak ada petunjuk dari Brahma. Akhirnya dia berpikir bagaimana bisa meracun Raja. Itulah pikiran gila yang tiba-tiba bersarang di kepalanya. Namun siapa mesti meracun Raja? Tentu Bulan. Gadis itu sering berada amat dekat dengan Raja. Dia akan merayu Bulan.

Baca juga:  Lelaki Tua dan Kudanya

“Raja sudah memberiku istana di Taman Seloka dan banyak perhiasan,” kata Bulan ketika berjumpa Rangga.

Rangga menangis. “Kembalikan semua itu.”

“Mestinya Raja memilih Ayu. Menurutku dia lebih bagus menari. Dia lebih cantik. Ketika berjumpa Raja, aku sudah khawatir, jangan-jangan nanti dia mau menjadikan aku istrinya. Ternyata benar. Apa rencanamu? Kalau kau dibunuh karena aku menolaknya, aku bunuh diri menyusulmu.”

Rangga terharu dan bangga; Bulan tak lupa ikatan janji cinta suci mereka. Jika dia mati dibunuh karena melarikan Bulan, Raja tak akan dapat apaapa. Sementara Bulan telah diberi batas waktu untuk menjawab pinangan Raja.

Rangga Sengog mendekati Ayu Wahyuni Jingga. Mata Ayu Wahyuni Jingga jernih seperti kornea penyu seketika berbinar aneh. Untuk kali pertama Rangga memandang sepasang mata bagai permukaan danau jernih itu dengan jantung berdebar. Dia merasa seperti melihat hewan liar berenang dan pada saat yang tepat keluar tak terduga melontarkan bisa.

“Kau mabuk! Membunuh Raja tak mungkin! Sebaliknya aku pernah berpikir membunuh Bulan, kekasihmu.”

Rangga Sengog seperti diterkam hewan liar itu. “Kau perempuan ambisius tak tahu diri!”

“Aku ingin menguasai legong. Tak boleh ada perempuan lain. Kau akan merana ditinggal Bulan. Kau tak mungkin berani menyusul Bulan dengan bunuh diri jika dia kubunuh bukan?”

Rangga memang merasa tak mampu bunuh diri jika Bulan mati dibunuh Ayu gara-gara legong. Namun dia yakin Raja akan membunuh karena menganggap membiarkan Ayu menghabisi Bulan. Rangga Sengog serbasalah. Seperti anjing liar yang gelisah, ia menenggak berbotol-botol tuak aren. Pulang sempoyongan. Di matanya laksana bumi terbalik dan berputar-putar.

***

Malam meriah. Raja Agung Karna membuat takhta persembahan kepada Brahma dengan tarian ciptaannya. Bulan Trisna Kinaryoshi dan Ayu Wahyuni Jingga akan menari legong, disaksikan para tamu penting, diikuti utusan-utusan banjar.

Purnama bersinar. Pura dan tangga-tangga perak berkilau cahaya terang hingga ke langit. Dewa Brahma turun, berbisik kepada Raja: dia tak boleh membunuh rangga karena cemburu setelah Bulan menolak pinangan. Raja murka dan kecewa. Dia tak bisa melepaskan Bulan tanpa memperistri.

“Kau harus berhati-hati pada Ayu. Rangga pernah menyuruh dia meracunimu, Raja. Namun dia menolak. Dia lebih memilih membunuh Bulan demi jadi biang legong.”

Raja tersentak.

“Kau tak berdaya karena dibutakan cinta, padahal gerakan Ayu lebih indah, patah-patahnya lebih kuat. Juga dia lebih cantik dan padat berisi.”

Baca juga:  Iskariot - Tanah yang Dijanjikan - Aku Hanya Ingin

“Bulan segalanya bagiku. Dia lebih cantik, gerakannya lebih indah, lebih padat berisi.”

“Itu karena kau jatuh cinta padanya.”

“Izinkan aku membunuh Rangga!”

“Jika Rangga mati, Bulan pasti bunuh diri. Mereka sudah berjanji sehidup-semati.”

Raja Agung Karna menggigil marah. “Kurang ajar Rangga Sengok!”

Di anjungan di depan istana, Bulan dan Ayu menari legong seiring seirama. Seluruh pasang mata yang menonton takjub, seakan melihat sepasang peri dan bayangannya.

***

Raja telah mengumpulkan para penari seantero pulau seperti Bulan inginkan, terutama yang berwajah mirip gadis itu, untuk jadi pengiring legong. Mereka riuh dalam pesta. Hewan-hewan disembelih, makanan dipersembahkan. Hari yang indah karena akhirnya Bulan menyatakan akan menerima pinangan Raja.

Sebenarnya Bulan sedang mempersiapkan pelarian. Dia menjadikan gadis-gadis yang mirip itu sebagai penari latar untuk mengelabui. Dia menyuruh Rangga menunggu di tepi sungai dengan perahu. Mereka akan pergi ke keraton Solo meminta perlindungan. Bulan juga berencana membunuh Ayu lebih dulu sebelum pergi. Dia iri karena gerakan gadis itu lebih indah, memukau, dan mendapat lebih banyak aplaus. Pikiran itu muncul begitu saja. Namun kemudian Bulan merasa percuma membunuh satu penari karena beribu penari legong pasti akan bermunculan.

Tanpa susah-payah Bulan bisa menemui Rangga di sungai. Mereka lalu berperahu di kegelapan, menuju desa seberang, saat para pengawal istana kelelahan, mabuk pesta. Tinggal Ayu seorang memimpin tari legong para gadis seantero banjar yang berwajah mirip Bulan.

Raja panik, tersadar, tak tahu keberadaan Bulan. Begitu samar dan terbayang-bayang wajah-wajah itu. “Di mana Bulan? Di mana dia?”

“Wahai, Raja, tadi Bulan hendak membunuhku!” jawab Ayu.

Raja tersentak. “Dari mana kau tahu dia hendak membunuhmu?!”

“Karena aku juga hendak membunuh dia.”

“Oh, celaka. Di mana Bulan? Di mana dia?”

“Dia sudah lari. Bulan mengancamku, kalau tidak membantu, dia dan Rangga akan membunuhku kelak. Aku sebenarnya jatuh cinta kepadamu, wahai Raja yang mulia karena legong ini. Kawinilah aku, yang akan berkorban untukmu. Jadikan aku perempuan pertama yang menarikan legong. Sejak kita berjumpa, aku sudah jatuh cinta padamu.”

Raja terpesona. Rayuan Ayu seolah-olah itu ucapan tulus bagai air sejuk menyiram jiwanya. Namun itu belum cukup. Gerakan Ayu memang lebih sempurna. Dia lebih dikagumi rakyat, patah-patahnya lebih kuat. Dia juga lebih cantik, kata semua orang. Walau kata semua orang, bukan kata dia.

Baca juga:  Ronde Terakhir

Raja tersenyum, ingin menunjukkan kebijaksanaan terhadap cinta. Ia yang selama ini tak pernah puas dalam bercinta, terpaksa menerima kenyataan ini. Sungguh menyedihkan.

“Baiklah, aku terima cintamu dengan jiwa besar. Aku harus biarkan Bulan pergi. Aku akan meminangmu untuk menutup aibku telah tertipu. Aku tidak akan membunuh Rangga. Sudah takdir mereka tak bisa dipisahkan. Tarikan legong sampai pagi. Jangan kaupotong adegan-adegan percintaan itu sampai aku tak lagi dibutakan cinta Bulan.”

Ayu kembali menari, menari penuh irama cinta untuk Raja yang kehilangan cinta. Namun ia hanya pura pura jatuh cinta demi menjadi biang legong.

Raja menikmati adegan percintaan Ayu yang palsu, terbujur di singgasana bagaikan serangga tua putus asa. Tubuhnya mengerut dingin menjelang pagi dan matanya terpejam rapat. Ketika mendengar Bulan mati terbunuh di sungai pagi hari karena melawan saat hendak ditangkap dan Rangga sudah ditawan bala tentara, ia seperti terbangun dari mimpi. Legong itu telah dibawa sampai mati. Ya, legong itu hanya miliknya.

Ayu mengalah, terus berpura-pura. Namun dia cuma sanggup bertahan beberapa hari. Ia pun lari dari istana dan tak kembali lagi. Ia tak sanggup berpurapura terus sebagai penari legong yang agung. Ia tak mampu mengemban tugas terlalu lama sebagai biang legong.

Raja makin sekarat. Di sebuah banjar penari, wanita-wanita menarikan legong dengan bebas sampai malam hari. Namun tak ada yang seperti Bulan. Ia mencari-cari wajah Bulan. Bulan Trisna Kinaryoshi yang anggun, bak peri dengan wajah selalu bercahaya. Penari-penari memekik, tercekat, ketika sang raja terjerembap dari kursi, tak bangunbangun lagi.

Bulan telah pergi dari langit. Seperti kepergian Bulan Trisna Kinaryoshi di langit kosong menjelang pagi. (28)

Catatan:
* Legong dari kata “leg”, gerak tari yang lentur, dan “gong”, gamelan

* Tabuh Semar Pagulingan: gamelan klasik Bali
* Biang legong: ibu legong


Ganda Pekasih pernah jadi editor fiksi Majalah Anita Cemerlang, pernah jadi anggota PWI Jaya hingga anggota muda. Buku cerpennya Bidadari-bidadari Bumi dan Maha Suci Cinta-mu. Saat ini berdomisili di Bogor. – Suara Merdeka

Keterangan

[1] "Legong Bulan" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 16 Juni 2019