Lodeh Kembang Turi Bulik

Karya . Dikliping tanggal 3 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Turi-turi putih/Turi-turi putih/ditandur neng kebon agung/turi-turi putih/ditandur ning kebon agung/Cemleret tiba nyemplung/Mbok kiro kembange apa/Mbok kiro, mbok kiro/Mbok kiro kembange apa….

Dulu, sebelum ia terbaring bisu di pemakaman atas bukit itu syair yang digubah oleh Sunan Giri sebagai pengingat kebajikan dan kematian tersebut seringkali kudengar terselip lirih dari bibir tipis yang dulu mungkin pernah tercecap di lidah banyak lelaki. Setahuku, perempuan memang sangat menyukai bunga, bahkan cenderung memujanya. Tak terkecuali ia.

Alih alih mengagumi mawar, melati, bougenville ataupun anggrek, ia malah lebih menggandrungi kembang turi, terutama turi putih. Tentu. Tentu saja ada penyebabnya, dan aku ingat di tengah diamnya yang berkepanjangan sesekali ia mau berkisah dengan suara lirih yang dalam.

“Aku bisa makan jika turi ngembang, kupetik dan kujual ke pasar. Jika tak habis kubawa pulang. Digulai, dikrawu, dipecel, dikripik, enak. Saat itu hidup terlalu berat.”

Sayup terngiang kembali hembus nafasnya yang berat kala ia harus mengenang masa kecilnya yang suram di sebuah kampung terpencil dikelilingi pohon kelapa. Jalan menuju ke kampungnya masih berupa tanah urugan sawah, di samping kanan dan kiri jalan berbongkah terhampar perkebunan tebu. Yaah, kebun tebu yang belum pernah dia lihat ujungnya.

Dia hanya tahu tiap pagi dulu saat ia berangkat ke sekolah yang hanya dienyamnya sampai kelas 4 SD_matahari tiba tiba akan muncul dari serbuk sari kembang tebu di sisi sebelah timur. Dan dia akan paham betul matahari akan takluk turun dan tertelan batang tebu yang amat rapat di sisi barat.

“Aku pernah digarap ramai-ramai oleh kuli pemetik tebu. Masih untung aku tak jadi mayat yang dibuang di tengah ladang tebu.” Enteng terdengar ucapan tersebut.

Aku ingat sering di rerimbunan ladang tebu yang luasnya berhektar hektar tersebut seringkali ditemukan mayat tanpa identitas, rupanya para kriminal itu beranggapan perbuatan mereka tak akan kepergok. Aah,, jalan menuju kampungnya memang sarang kejahatan. setiap kali orang kampung berlarian ke sana menonton tawuran warga ataupun pengeroyokan. Belum lagi jika ada maling yang gagal beroperasi mereka_para warga yang butuh pelepasan emosi_ akan beramai ramai menghajarnya bahkan membakar maupun membacok maling sudah bukan lagi hal tabu.

Aku pernah sekali ke sana bersama sama dengan sanak kerabat saat mengantar Paklikku untuk menikah dengannya.

“Bulik ndak kangen tempat kelahiran? Saya kok belum pernah tahu Bulik kondur ke sana tow?” Tanyaku buru buru.

Baca juga:  Perempuan yang Memegang Tali Anjing

Mumpung ia mau diajak ngobrol, biasanya dia hanya duduk diam mendengarkan tiap kali berada di tengah tengah pergaulan.

“Aku ndak mau kembali ke sana, pahit mengingatnya. Hanya pohon pohon turi di sepanjang jalan menuju rumah orang tuaku yang bersahabat denganku, lainnya tidak.” Erangnya. Lalu sepi. Tangannya sibuk menjahit kancing blus yang aku pesan untuk acara wisuda fakultasku.

Matanya yang sayu tapi bening menerawang akan berbinar tiap kali nama turi disebut. Ia yang bahkan tidak lulus SD pun sampai hafal di luar kepala nama latin pohon berbuah polong ini. Ceritanya saat itu adikku yang masih duduk di kelas 6 sedang menghafal nama tumbuhan yang biasa ditanam massal untuk peneduh.

“Sesbania Grandiflora.” Sahutnya lantang saat adiku bertanya nama latin pohon turi.

Sebenarnya adikku bertanya kepadaku tapi aku tak segera menjawabnya karena aku memang tak hafal nama nama latin tanaman. Kami tersentak kaget mendengar ia dengan mantap menyebutkan nama latin si pohon berkayu lunak tersebut.

“Kok Bulik tahu?” Adiku bertanya. Penasaran.

“Aku selalu berusaha mengerti dan memahami apapun yang aku cintai. Turi adalah makhluke Gusti yang aku cintai setelah paklik kalian. Aku sangat tahu khasiat dan kegunaan turi layaknya tahu keinginan dan hasrat paklik kalian.” Ungkapnya.

Selanjutnya sepi.

Kini, di depan pusara berukir nama Turinah aku terpekur, mengingat semua kebaikan dan ketegarannya semasa hidup. Ia yang tak pernah menyerah oleh penderitaan fisik dan mental.

Sebelum bangkit dari posisi jongkok, kuraih keranjang kecil yang berisi bunga, kutaburkan kembang turi putih di gudukan makam yang makin mengering itu. Semoga ia bisa membaunya dari surga.

***

Siang itu, sepeda yang selalu kukayuh menuju sekolah dan pulang ke rumah Paman belum sempat kusandarkan saat terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Sepeda kubanting dan segera menghambur ke dalam hanya untuk mendapati Bulik sedang meraung raung sambil memukul meja di dapur dengan sekuat tenaga. Sementara di ruang tamu ada perempuan muda sedang memegang krah kemeja paman sambil berteriak teriak marah.

Melihatku, mendadak perempuan itu berbalik menghadapiku dengan mata yang terus mengobarkan bara, anehnya suara tinggi yang tadi dikeluarkannya mendadak lenyap berganti suara rendah dalam dan kejam “Ambilkan pisau! Biar kugorok leher Pamanmu tukang mblenjani janji itu.”

Baca juga:  Rajah - Di Lorong Stasiun - Isolasi - Di Stasiun Tua

Aku membeku. Namun telingaku mendengar Bulik beringsut ke sisi kananku, sambil memegang kepalaku ia berbisik dengan suara kalah “Jangan bawa bawa anakku, kalau kamu mau silakan kau sembelih sendiri kekasihmu itu, Sum.”

Pandanganku menangkap bahu Bulik yang semakin turun, mata yang makin jauh masuk ke dalam kegelapan dan suara yang tak lagi mengandung harapan.

“Ganti bajumu, Nduk, istirahatlah! Kamu pulang lebih awal hari ini jadi Bulik belum membuat lauk untukmu. Sebentar, Bulik buatkan bobor turi dan nila goreng, tadi Bulik nyerok di parit belakang rumah kita.”

“Tapi Bi, gimana dengan mereka?” Tanyaku ragu

“Mereka sudah dewasa Nduk, mereka akan punya penyelesaiannya.”

“Lha, Bulik …?!”

Belum sempat kuselesaikan kalimatku Bulik sudah menyilangkan tangan di depan mulutnya. “Bulik baik baik saja, Sayang.”

Tuhan, aku ingin berteriak. Ingin protes kenapa ada orang sesabar Bulik. Betapa kuatnya beliau, sedang aku yang jauh di luar lingkaran perselisihan saja masih remuk redam hatiku.

Aku masih terisak isak menangisi nasib Bulik sambil melepas bajuku, dari luar masih kudengar teriakan teriakan marah perempuan muda yang dipanggil “Sum” oleh Bulik tadi. Teriakan sumbang yang memekakkan telinga dari ruang tamu ditingkahi dengan merdunya suara “sreng-sreng” dari arah dapur.

Biasanya tiap kali membaui masakan Bulik aku langsung lari ke dapur, duduk mencangkung di depan tungku seperti kucing tetangga yang setia menunggu ransum isi duri dan kepala gereh dibagikan. Tapi tidak kali ini. Hatiku masih kacau balau melihat pertikaian mereka.

Tak berselang lama, Bulik mengetuk kamarku, “Nduk, maem dulu. Itu bobor turinya Bulik bikin kental, kamu kan suka kalau santannya banyak.”

Ah, Bulik yang baik sangat baik. Ditengah remuk redam hatinya, beliau masih memperhatikan kesukaanku.

Masih kudengar suara gaduh dari ruang tamu.

Kuambil nasi beserta lauk pauk. Sedikit sekali, jauh dari porsi biasanya. Piring kutenteng sambil mencari Bulik, di ruang tamu jelas tak ada karena di sana masih ada “Sum” yang terus nyerocos memaki ke arah paman. Beranjak ke dapur, Bulik juga tak ada. Akhirnya kutemukan beliau di kebun, sedang memetik bunga bunga turi. Dari jauh kulihat pipi beliau basah dan bibir yang berkomat kamit, pasti sedang mengadu kepada sang pencipta. Dengan caranya.

Aku tak berani mendekat.

Tak seperti sekarang, para perempuan awam turut terhipnotis euforia poligami. Masa itu, hanya para bini kiai yang rela berbagi suami dengan dalih sunah nabi, alih alih menghalalkan lonjakan birahi. Bulikku Turinah yang tak pernah mengenakan mukenah seumur hidupnya, rela suami dibagi dua.

Baca juga:  Jodoh Pilihan

Tetangga protes keras, saat kekasih gelap paman bermalam malam tidur di rumah beratap rumbia itu. Mereka bertiga tidur sekamar. Kata Bulik dengan polosnya, “Kalau jadi anak, biarlah aku juga menyaksikan perjalanan cintanya.”

Edan! Aku tak bakalan kuat.

Beberapa bulan menjelang malaikat maut menjemputnya, Bulik sangat rajin menanam Bulikt turi di sepanjang jalan menuju rumah. Tak hanya di situ, tiap melihat sejengkal tanah tak bertuan, ia selalu menancapkan pohon turi. Tiap kali ditanya, ia mesem saja.

Ajal mendekat. Bulik mulai berkemas. Makin banyak senyum. Makin berbinar cahaya mata. Makin kurus kering tubuhnya.

Suatu malam dipegangnya tanganku. “Nduk, Bulik ndak bisa sembahyang. Ndak bisa apa apa. Tapi Bulik ngerti ada yang menghidupkan Bulik dan membuatkan jalan hidup begini. Kembang turi, mengingatkan kita tentang mati. Ambrol sewayah wayah. Ndilalah kembang itu sumber hidup Bulik dan pengingat bahwa Bulik harus kembali.”

Tumben Bulik berbicara sebanyak ini. Keningku berkerut. Diusapnya lembut.

“Aja akeh mikir. Sing akeha ngrumangsani. Tanda tanda tak bisa dibaca bathukmu Nduk, rasakno.”

Eh, jadi penasaran, Budhe tahu filosofi kembang turi darimana ya? Bertahun tahun setelah jasadnya yang ambruk digerogoti sakit hati, aku baru tahu sebuah fakta. Ternyata, pamanku dulu adalah pemuka agama, penghulu syiar di kampung Bulik yang dicap sebagai sarang kemaksiatan.

Bulik terpesona oleh suara paman yang menyajikan syair Turi Putih. Sepotong sepotong ia meresapi arti yang disampaikan paman. Tapi Bulik juga masuk dalam pesona paman yang sebenarnya mata perempuanan.

Bulik yang saat itu masih hobi ngeloni lelaki secara bergiliran, akhirnya diboyong ke rumah paman. Bukannya ikut sembahyang seperti paman, Bulik malah terpatri hanya pada filosofi kembang turi.

“Wayahe mati yo mati. Aku emoh kangelan sembahyang.”

Bulik yang tak pernah sembahyang nyaman dengan jalan kebaikan menurut versinya. Dan paman yang katanya ahli sembahyang malah memboyong perempuan perempuan secara bergiliran ke ranjang.

Ah, Bulik, aku kangen lodeh kembang turi. (28)


Kusfitria Marstyasih. Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Pasca Sarjana UPGRIS yang juga pegiat di Komunitas Rumah Kita (Koruki) Demak. – Suara Merdeka

 

Keterangan

[1] "Lodeh Kembang Turi Bulik" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 02 Juni 2019