Sendiri pada Hari Fitri

Karya . Dikliping tanggal 11 Juni 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Jalan raya penghubung antarkabupaten membujur timur-barat. Kendaraan tak henti berlalu-lalang, derunya bersahutan dengan suara takbir. Dia duduk sendiri, menerawang, teringat kampung di seberang pulau. Lebaran ini dia tak bisa pulang, tak cukup uang untuk ongkos pergi dan pulang naik bus antarprovinsi. Kecuali tadi siang, belum ada lagi yang mampir untuk meminta jasanya menambal ban di bangunan berdinding gedek, beratap asbes, berukuran tiga meter kali tiga meter, yang diimpit dua batang pohon mahoni besar.

Di sinilah dia tinggal dan tidur, berbaur dengan peralatan menambal, ban dalam baru, juga bekas, bahkan ban luar bekas. Tempat ini buka 1 x 24 jam. Tadi siang itu, satu bus ban depan kanannya bocor. Padahal dia sedang terlelap, tertidur karena kelelahan. Meskipun gembira mendapat order yang berarti mendapatkan upah rupiah, saat mengantuk dia mesti berhatihati membuka baut roda. Jangan sampai slag. Bisa masalah.

Dia terus saja duduk, lalu teringat kejadian minggu lalu. Seorang pengendara menuntun motor ke arahnya. Ban belakangnya lembek. Pelek, jari-jari roda belakang dan juga depan kotor. Blok mesin bagian bawah hitam, bertimbun oli bercampur gumpalan debu. Spion hanya satu, sebelah kanan. Joknya pun robek-robek. Mengkhawatirkan. Mengingatkannya pada motor sang ayah di kampung.

Saat motor itu sudah di depannya, dia gegas menghampiri. ”Kenapa Kang?”

Mata pemilik motor itu sayu menatap. Namun tak lekas menjawab. Dia mengulangi dengan pertanyaan sama.

Pemilik motor dengan wajah agak memelas, bersuara lemah, akhirnya bicara. ”Bocor, tapi.”

Baca juga:  Cerita Kedasih

Ya, meski baru melakoni pekerjaan itu dua tahun, dia bisa menduga, pasti pemilik motor itu tak punya uang. ”Mungkin ada yang bisa saya bantu? Tidak usah ragu. Bisa bayar belakangan.”

Malu-malu berkata pula pemilik motor. ”Iya.”

Dengan cepat dia mengulangi berkata tak usah memaksakan bila tak ada uang. Namun kata pemilik motor, ”Aku besok melewati kembali jalan ini. Sekalian melunasi.”

Tanpa berkata lagi, segera dia bekerja. Wah, ban luar sudah tipis begini. Dia percaya padanya. Kecuali yang datang motor serbabersih mengilat, dan pemilik ingin belakangan bayar nambal, dia sangsi.

Tunai sudah tugasnya. Pemilik motor berseri hendak melanjutkan perjalanan. Dia menyempatkan bertanya, ”Akan ke mana tujuan?”

”Ke orang tua dahulu.” Pemilik motor tahu diri, lalu berterima kasih.

Dia berpesan agar berhati-hati, selalu waspada. Keesokan hari, saat sore, pemilik motor itu datang lagi. Dia memuji omongannya yang bisa dipegang. Pernah berkali-kali terjadi, ada motor lumayan bagus, katanya mau nambal tapi tak ada uang. Ya, dia pun membolehkan gratis dulu. Kapankapan dibayar. Eh, entah kapan menemui lagi. Dia ikhlas membantu siapa pun. Pekerjaan itu tak seberapa, asal bicara dulu. Jangan bilang tak punya uang setelah dia selesai menambal. Jadi terasa neg, keringat sudah kering kembali.

Malam terus beranjak. Lalu-lalang kendaraan masih ramai. Belum ada lagi yang menghampiri untuk meminta jasa.

Hampir saja api di korek gas mengenai ujung rokok, ketika tiba-tiba ada jip berhenti di depannya. Dia urung merokok.

Baca juga:  SELEKSI PENULIS EMERGING INDONESIA UWRF 2015

”Tambah angin. Depan belakang.”

Gegas dia nyalakan kompresor. Tombol pembuka angin dia buka, tarik selang, masukkan ujungnya ke atas pentil. Ceees! Selesai. Dia beroleh uang. Ini penghasilan kedua, 5.000 ribu rupiah. Dia bersyukur, dia tahu, konon bila bersyukur, nikmat itu akan ditambah oleh Pemberi Rezeki.

Benarlah, beberapa saat kemudian, saat dia memperhatikan satu bus lewat di hadapan, ada sedan lansiran lama berhenti. Seorang lelaki paruh baya membuka pintu kiri depan. ”Mang, tambal ya. Yang depan,” katanya.

”Siap, Pak. Ini bukan tubles ya?”

Lelaki itu mengangguk ringan. Selesai pula dia menambal. Uang dua puluh ribu berpindah ke tangannya. Sedan itu pun melesat.

Sendiri pada Hari FitriPerutnya kini ribut. Tadi saat buka puasa hanya sempat minum kopi. Untuk makan, harus menyeberang; warung nasi di seberang jalan. Dia seperti biasa makan dengan menu favorit: tempe satu, tahu satu, lalapan, dan sambal. Baru saja suapan ketiga, ada pengendara motor melangsamkan laju, lirak-lirik di depan bedeng tambal bannya. Dia terus saja karena tak ada di tempat. Rezeki terlewat. Memang canggung sedang makan, tak memanggil dia.

Setelah tuntas mengisi perut, dia kembali. Jalan masih ramai. Konon, zaman dahulu, kata penduduk, jalan raya itu hanyalah segaris yang membelah rimba. Sunyi senyap. Malah sesekali hewan hutan lalu-lalang. Lalu jalan melebar. Menjadi makadam. Makin ramai. Lalu kini beraspal. Hirukpikuk.

Berkali-kali dia sempat berpikir beralih profesi. Tapi menjadi apa? Membuka bengkel? Berapa uang? Dia tak mau pusing. Merasa sudah nasibnya. Tanah yang dia tempati pun milik pemerintah. Sewaktuwaktu harus siap tergusur.

Baca juga:  Sepasang Kekasih yang Menyukai Senja

Dia tafakur, terus duduk di lantai belahan bambu yang menghampar. Dia hanya menyayangkan, berkali-kali, selama ini saat menambal ban mendengar orang menggerutu. Merutuk. Mengutuk. ”Duh, apes! Sial!” Bahkan ada yang bersumpah serapah. ”Gara-gara ban bocor, acaraku jadi tertunda. Gagal.”

Kenapa pengguna jasanya itu sebaiknya tidak bersyukur saja? Kan tidak rusak mesin, misalnya, yang lebih rumit, lebih mahal, lebih lama pula memperbaikinya? Atau lebih ngeri, tak mengalami benturan dengan kendaraan lain. Ya orang ada kalanya tidak tahu diuntung.

Benar, siapa mau saat menempuh perjalanan darat terganggu oleh ban dalam kendaraan bocor? Namun tolong jangan pernah lupa, satu ban dalam sudah berjasa mengantarkan berapa ribu, bahkan puluh ribu, kilometer? Pula untuk tak terhitung tujuan.

Hanya satu doa seorang penambal ban kepada mereka: semoga lancar dan selamat saat mudik dan balik. Besok, dia sendirian berlebaran di pinggir jalan raya. (28)

Bandung, Mei 2019


Gandi Sugandi, alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Mulai 2002 bekerja di Perum Perhutani. Saat ini sebagai staf komunikasi perusahaan KPH Bandung Selatan. Juara III lomba cerpen Jendela Sastra 2019 dan masuk 50 besar dari 1.062 peserta lomba cerpen lingkungan 2019 ICLaw-Raya Kultura | “Suara Merdeka

Keterangan

[1] "Sendiri pada Hari Fitri" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu 9 Juni 2019