Akhir Hayat Seorang Laki-Laki Buta

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Kematian merupakan sebaik-baik nasihat bagi mereka yang merindukan Tuhan. Sebaik-baiknya kita atau sepandai-pandainya kita, kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput. Tak terkecuali juga dengan seorang laki-laki buta yang sering kulihat di pinggir jalan. Ia juga tak tahu dan tak bisa memilih kapan ia akan dijemput kematian.

Sering aku melihatnya terburu-buru menyeberang jalan. Seolah-olah ia hendak mengejar suatu hal yang penting. Tidakkah ia sadar bahwa dirinya buta. Tidakkah ia tahu apa risikonya bila ia menyeberang jalan dengan tergesa-gesa. Aku pun penasaran ingin mengetahuinya. Apa yang sesungguhnya ingin dilakukan seorang laki-laki buta?

Kuamati langkah kaki laki-laki buta itu. Kuikuti hari demi hari perjalanannya hingga ajal kemudian menjemputnya lebih dulu. Kupikir mungkin apa yang kulakukan ini sungguh keterlaluan. Aku seperti orang yang tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Meski begitu, sebenarnya kondisi kami sama. Aku seorang laki-laki yang memiliki kekurangan juga. Bedanya aku tak memiliki satu tangan, tetapi bisa melihat dunia ini dengan kedua mataku. Sementara, dia buta. Dia buta sejak lahir. Begitulah kira-kira perbedaan kami. Akan tetapi, kami memiliki kesamaan. Jujur, sejak kali pertama mengenalnya aku tahu dia laki-laki yang baik dan tangguh. Dengan keterbatasannya itu, ia tak ingin orang-orang mengasihaninya. Karena itulah, dia berdagang. Demi melanjutkan perjalanan, ia berjualan berbagai buku di pinggir jalan, sedangkan aku berjualan aneka minuman. Aku berjualan di seberang. Berseberangan dengan tempat laki-laki buta berjualan.

Laki-laki buta yang akrab dipanggil Bas sedang menawarkan dagangannya. Terlihat beberapa orang mendekat menghampiri lapak laki-laki buta. Terlihat seorang perempuan berseragam abu-abu putih meletakkan beberapa lembar uang di atas tumpukan buku. Jumlah yang menurutku tak sesuai dengan jumlah dan tebal buku yang dibawa perempuan berseragam abu-abu. Melihat itu, aku pun mendatangi perempuan itu.

“Apa kau tak salah memberikan uangmu, Mbak?”

Perempuan itu dengan senyumnya yang ramah menjawab bahwa sesungguhnya ia ingin beramal. Ia sengaja memberikan kelebihan uang karena merasa iba melihat Bas. Kukatakan padanya apakah tidak apa-apa. Toh ia juga seorang pelajar. Perempuan berseragam abu-abu putih bahkan tak menghiraukan. Ia yakin dengan apa yang dilakukan. Sembari melihat anak perempuan itu, aku jadi teringat dengan anak perempuanku. Betapa mulia dan bahagianya aku jika kelak anak perempuanku juga seperti itu.

Baca juga:  Hidangan di Meja Makan

Bas sendiri tidak mengetahui perihal itu. Di bawah terik sinar matahari, ia masih terus bertahan dengan menjajakan dagangan bukunya. Barangkali ia juga sudah tahu bahwa akan ada kejadian seperti itu. Dengan meminta bantuan pedagang di sebelahnya, ia menghitung jumlah uang yang berhasil ia dapatkan setiap harinya. Jika ada kelebihan, tak lupa ia berikan kelebihan itu untuk disedekahkan. Bas memang baik. Melihat ini aku tak percaya bahwa Bas akan meninggal dunia seperti itu.

Pernah suatu hari di tengah kegelapan saat melewati lorong, ia pun membawa sebuah lampu senter. Entah mengapa ia lakukan itu. Padahal, ia buta. Aku pun bertanya kepadanya.

“Untuk apa kau nyalakan lampu senter? Bukankah ini takkan berguna untukmu. Kau sendiri buta.”

Dengan penuh keyakinan dia menjawab.

“Kau benar. Aku memang buta. Bagiku tak ada gunanya. Namun, tidakkah kau melihat bahwa lampu senter ini menerangi ruang di sekitar. Jalanan pun menjadi terang.”

Ilustrasi Cerpen Koran Republika --Akhir Hayat Seorang Laki-Laki ButaSaat itu juga ada pemandangan haru. Aku bahkan tak bisa berkata apa-apa. Aku belajar dari hal ini. Aku yang juga tak memiliki satu tangan ini merasa bersyukur mengenal Bas. Dulu aku merasa sedih dan hampir putus asa. Aku kehilangan satu tanganku ketika usiaku sekitar 10 tahunan. Masa-masa yang harusnya bisa kuisi dengan hal-hal yang membanggakan, mendadak masa itu seakan terkubur oleh situasi tak menyenangkan. Apalagi aku hanya hidup sebatang kara. Satu-satunya yang masih kupunya adalah harapan untuk tetap bertahan hidup.

Aku sempat bingung apa yang bisa kulakukan saat itu. Hingga aku dipertemukan Allah dengan seorang laki-laki buta yang tak lain adalah Bas. Bas menga jari aku banyak hal tentang hidup. Lewat perbuatannya, lewat sikapnya terhadap orang-orang, dunia ini, dan segala yang ada di sekitarnya. Akan tetapi, aku masih tak percaya bahwa Bas akan meninggal dan dikenang orang dengan cara yang demikian.

Baca juga:  Baluembidi

Bas yang seorang laki-laki buta juga dituduh hanya pencitraan saja untuk menutupi kepibadiannya yang sesungguhnya. Penampilannya yang religius bahkan tak mampu menampik apa yang telah dilihat oleh penglihatan orang-orang. Akan tetapi, aku memilih untuk tak percaya apa yang telah kulihat. Aku tetap yakin Bas memang orang baik. Mungkin ada sebuah jawaban atas semua ini.

Aku berusaha mengingat saat-saat terakhir semasa aku bersama Bas. Memang benar kulihat beberapa kali seorang laki-laki berbaju hitam sering menemui Bas. Namun, aku tak tahu siapa dan untuk apa pria berbaju hitam itu datang menemui Bas.

Sesaat sebelum peristiwa itu terjadi lalu viral di medial sosial, aku sempat melihat Bas begitu tenang. Tak biasanya. Bas juga membagikan makanan kepada rekan-rekan pedagang. Kemudian, Bas juga membantu salah satu rekan kami yang habis tertimpa musibah dengan memberikan sejumlah uang. Selain itu, ia juga memberikan buku kepada seorang anak yang merengek ingin buku yang ada di lapak Bas. Ibu anak itu tak mengizinkan sehingga Bas memberikannya secara cuma-cuma. Alasannya buku lantaran tak bisa membeli, tetapi itu tak penting. Namun, dengan apa yang dilakukan Bas seolah menampar keras apa yang telah dilakukan ibu itu. Bas yang hanya seorang laki-laki buta sekali lagi telah mengajarkan kepadaku akan indahnya hidup.

Aku terperangah hingga kualihkan pandanganku dari Bas untuk melayani seorang pembeli. Pembeliku agak rewel, tetapi seperti apa yang dilakukan Bas, aku juga akan melakukannya. Akan kulayani pembeliku seperti raja. Ternyata benar bila kita melayani seseorang dengan menyer takan ketulusan, pembeli itu akan percaya dan akan memborong apa yang kita punya. Alhamdulillah, kalau sudah rezeki akan kita dapat juga.

Baca juga:  Lelaki Pemetik Buah

Selepas aku melayani pembeliku, kulihat Bas sudah tak ada di tempat. Dagangannya dijaga oleh istri rekan dagangnya. Entah ke mana Bas. Mataku mencari-carinya. Sementara itu, kulihat beberapa petugas keamanan tampak berjaga-jaga. Ada apa ini? Tak biasanya para petugas keamanan berada di sini. Apa iya akan ada penertiban. Ah tak mungkin, tapi apa-apaan ini. Tampak juga ambulans di daerah kami. Perasaanku mendadak berubah.

Karena merasa tak enak, aku pun bertanya kepada orang yang menjaga dagangan Bas.

“Di mana Bas?”

“Oh dia tadi pamit sebentar. Katanya mau mencari sesuatu.”

Tak jelas juga apa yang dicari Bas. Orang yang menjaga dagangan Bas juga tak tahu Bas di mana. Aku merasa panik. Kutinggalkan daganganku juga. Aku berkeliling mencari Bas hingga kulihat seorang laki-laki mengenakan baju tebal dengan topi. Ia terlihat tergesa-gesa lalu meletakkan sebuah kotak dekat masjid. Aku pun memanggilnya, tetapi ia tak bergeming. Aku pun berlari menuju kotak yang diletakkan tadi. Ternyata itu hanyalah kotak berisi kertas-kertas.

Aku merasa tertipu. Kupikir kotak itu berisi bom atau hal yang mencurigakan, tetapi tidak. Kembali kucari keberadaan Bas. “Tidak mungkin…” Berkali-kali kukatakan itu bukan Bas, tetapi laki-laki yang terpanggang memiliki ciri-ciri yang mengarah pada Bas. Kutanyakan pada seorang petugas apa yang sedang terjadi. Petugas itu tak menghiraukan. Akhirnya kutanya kan pada yang lain. Katanya ada seorang laki-laki yang diduga kuat mati karena bom bunuh diri.


R Amalia lahir di Surabaya. Alumnus Sastra Indonesia-Unesa. Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Karyanya dimuat di berbagai media cetak dan daring, di antaranya: Surya, Surabaya Post, Duta Masyarakat, Go Cakrawala, New Sabah Times (Malaysia), Majalah PaMa (Malaysia), Banjarmasin Post, Republika, dan Radar Banyuwangi – Republika

Keterangan

[1] "Akhir Hayat Seorang Laki-Laki Buta" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 30 Juni 2019