Diskusi Mata Hijau

Karya . Dikliping tanggal 17 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Kopinya telah dingin ketika tamu berjubah silver datang secepat kedip mata duduk menghadapinya. Tudung berkilau oleh limpahan sorot lampu warung kopi makin mengaburkan paras wajah, hanya sepasang matanya sepintas tampak berkilat, kehijauan.

Ia sunggingkan senyum datar. Senyawa aneh merambat. Sejuk tiba-tiba lengkap memenuh ruang.

“Aku tidak mau mati dengan cara itu,” ia mulai bersuara. Gelas kopi ia putar-putar pelan, seakan mengikuti irama detik jam dinding tua yang berderak letih.

“Sudah jalanmu.” Tamunya menjawab. Tidak lewat lisan, namun getar frekuensi kalimat itu bergaung di kepalanya.

“Tidak mau!”

Hening.

“Kalian memang tidak mengerti, semua itu akan melukai hati keluargaku, calon istriku!”

Tamunya diam.

“Semua misteri kehidupan ini makin membuatku ragu pada esensi makhluk macam kalian.”

“Kau yang tidak mengerti, waktumu telah tiba, tapi masih saja tidak bisa lepas dari keakuan. Padahal, semesta terus mengingatkanmu bahwa semua fana akan binasa.”

Derak jam tua mengisi keheningan. Berbagai pleidoi mencuat keluar dari benaknya, protes panjang pada langit tentang jalan hidupnya yang nyaris selalu tertatih, selalu tersuruk-suruk tanpa pernah bisa mengejar ketinggalan. Sampai ketika mata ketiganya terbuka, dan ia melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Memaknai kesempatan dengan ganjil, dan melihat orang-orang di sekitarnya tidak lagi ber wujud manusia. Kadang di matanya, seseorang terlihat bertanduk, ada yang berkepala kelamin, ada yang berkepala ular, ada yang dadanya ditumbuhi rumput liar, sering pula ia lihat orang berkepala masjid berdada sajadah. Di atas semua, ia selalu gelisah melihat jumlah napas mereka yang terus berkurang dari embus ke embus berikutnya. Menjadi lebih ngeri ketika ia melihat jumlah napasnya sendiri.

Ia tersenyum kecut, mengambil kretek dan menyalakannya. Penuh hikmat ia isap bakaran tembakau di mulutnya yang gelap. Segelap pikiran mendedar hidupnya sejak empat puluh hari lalu. Firasat mengantarkannya ke warung kopi, serta mengundang tamu astral yang pernah mengunjunginya lewat mimpi.

Renungan mengantarnya pada segala peristiwa lampau. Pertama kali mengingat sesuatu, mengatakan sesuatu, mendengar sesuatu, pertama kali menghidu sesuatu, pertama kali merasakan sesuatu sampai pertama kali kebas, tak lagi merasa apa-apa.

“Mau nambah kopinya, Kang?” Sarti, pelayan warung kopi mengacaukan perjalanannya menjelajah memori. Tertegun, ia seperti baru turun dari kendaraan kahyangan, asing menatap sekeliling, beberapa sopir truk antarprovinsi menikmati malam dengan santai, tenang membalut keletihan. Ada yang khusyuk dengan ponselnya, ada yang berbincang tentang seni rupa, ada yang terkantuk-kantuk sembari masih menjepit puntung rokok. Tamunya tak tampak lagi, barang kali hanya padanya makhluk bermata hijau itu menampakkan diri.

Baca juga:  Kasih Ibu

“Boleh, Mbak.”

Pandangannya berpindah, memindai tangan ramping itu dengan keindah anter sendiri meracik kopi untuknya. Ia juga melihat napas Sarti berkurang sesudah diembuskan dengan refleks. Secara otomatis terkalkulasi menyisakan angka lumayan panjang.

Kopi panas tersaji, uapnya mengepul bagai tarian kabut tipis, seiring aroma khas mengunjungi penciumannya.

“Kok gelisah terus, Kang. Tidak seperti biasanya.” Perempuan yang bia sa irit kata-kata itu membuka dialog dengannya. Selintas, ia ingin tertawa. Ya, harus begini sebelum semua diakhiri. Harus ada drama yang bisa diingat orang. Kini, ia tahu kenapa.

“Oh ya?” Senyumnya hambar. Kembali mengisap kretek yang nyaris habis.

“Menurut Mbak Sarti, hidup ini apa?”

Sarti menatapnya heran. Sejenak beradu pandang, mata Ilham segera kabur ke dinding warung yang penuh tempelan pos teriklan rokok.

“Hidup itu anugerah kata D’Masiv, Kang.” Sarti cekikikan setelahnya. Entah karena merasa lucu atau tidak tahu ja waban yang diinginkan Ilham.

“Hidup itu perjalanan pulang, Mbak.” Tanpa senyuman, ia menekan suara. Tawa Sarti kandas.

“Pulang ke mana, Kang Ilham? Yang jelas, hidup itu perjuangan untuk sukses. Lha ini, contohnya saya, jadi pelayan warung ini sudah sepuluh tahun, hanya untuk bertahan hidup, biar nggak mati kelaparan, atau setidaknya, ya matinya jangan karena nggak bisa makan. Impian sih bisa sukses seperti Inses ya, dapat jodoh tampan, mapan, beriman. Apa daya, nasibku bukan nasibmu, kata Iwan Fals, hihihihi. Sampean juga, toh? Kerja siang malam jadi sopir truk untuk menghidupi keluarga di kampung.”

“Itu hanya bagian dari ikhtiar, Mbak. Sebenarnya, hidup itu perjalanan mencari fungsi masing-masing, bertemu atau tidak dengan kehendak penciptaan, perjalanan tetap punya tujuan. Sangkan paraning dumadi, dari mana kita berasal ke sanalah kita berpulang.”

Sarti termangu beberapa lama. Mencerna ucapan lelaki di depannya, tetapi tidak paham juga. Semenjak menjadi langganan warung kopinya, Ilham tidak pernah bicara sepanjang ini. Lelaki itu dikenal pendiam dan tidak punya banyak teman.

Baca juga:  Perkenalkan, Namaku Gerimis...

“Sebelum tidur, buatlah pertanyaan untuk apa harus ada pagi setelah malam. Ketika bangun lagi, tanyakan pada hati, apa yang dikehendaki hati, apa yang diingini, apa yang harus dihindari. Hidup sebagai shalat, sebagai puasa, sebagai zakat, atau sebagai yang lainnya. Hidup tidak memberi kita aba-aba kapan berbelok, kapan lurus, kapan menyiapkan kapal bila banjir bandang datang, kapan menyiapkan keranda. Tidak ada kesepakatan menolak atau menerima. Yang terjadi harus terjadi. Carilah apa yang paling diinginkan hati. Sebelum kita jadi purna manusia.”

Sarti terbengong kehilangan kata. Matanya mengerjap-ngerjap tanda pikirannya berusaha keras memahami lawan bicara. Ilham menyesap kopinya sedikit demi sedikit sampai tandas lalu pamit pergi setelah membayar semua kas bonnya dua pekan terakhir. Lelaki itu menjauh, Sarti masih memandangi punggung bidang dibalut kaos abu-abu. Ia pernah dengar, Ilham dulunya seorang ateis, lalu berkelana ke seluruh pelosok Indonesia entah mencari apa. Hari ini di matanya, Ilham berkata-kata seperti putra seorang Kiai Mbeling yang menyamarkan pesan religi dalam lagu-lagu cinta. Untuk kali pertama, Sarti mendapati paradoks dalam diri seorang lelaki berwajah resah. Sayup terdengar olehnya lantunan lagu:

Kumengira hanya dialah obatnya

Tapi kusadari bukan itu yang kucari

Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan

Dan, kuyakin kau tak ingin aku berhenti….

***

Matahari muncul sepenggal di ufuk timur. Sejauh mata memandang, awan kumulo nimbus berarak pelan. Atmosfer terasa teduh, tapi serasa sendu kental. Nyanyi burung Emprit Granthil bersahutan, bagi sebagian orang malah terdengar mengerikan.

***

Diskusi Mata HijauSeorang bayi laki-laki terlahir di sebuah desa. Semua orang menyambut gembira, segera kesibukan terjadi seperti halnya tradisi Jawa dengan syukuran dan selamatan. Anak itu menjadi pusat perhatian dan curahan kasih sayang keluarga sederhana itu.

Anak itu tumbuh dengan baik. Berkembang sesuai zamannya, berjalan pada alurnya hingga sebuah tragedi mengubah langkah hidupnya. Keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hanya ia sendiri yang hidup, sebatang kara. Harta keluarganya diperebutkan saudara-saudara orang tuanya. Mulailah, ia merantau, berkelana dari satu wilayah ke wilayah lain. Ia tumbuh di jalanan. Lupa di mana pernah dibesarkan.

Ia tak lagi percaya siapa saja. Ia hanya melangkah, mengikuti kata hati, mencari diri, sampai akhirnya tak ia temukan apa-apa di sepanjang semesta.

Baca juga:  Cerita dari Negeri Siput

Kabut biru mengitari dua makhluk yang berdiri berhadapan. Di sebuah ketinggian, pada bagian yang tak terjangkau pikiran sebab nun jauh di bawah sana, bumi sedang berputar di rotasinya.

“Sudah tenangkah sekarang?” Sang pemilik mata hijau menakar kesiapannya.

“Ya.”

“Kita berangkat.”

Udara mengantar mereka ke sebuah tempat tak bernama.

***

Calon istrinya bersimbah air mata, pingsan berkali-kali setelah mayatnya dimasukkan keranda. Lantunan ayat suci mengiringi jasadnya disemayamkan. Tangisan tak membuatnya bangun dari tidur panjang. Namanya diukir di papan nisan. Kembar mayang disandingkan sebagai kearifan lokal, lelaki itu meninggal seminggu sebelum hari pernikahan. Kecelakaan tunggal truk yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan, ia ditemukan luka parah pada bagian kepala. Malam itu, dedaunan surga yang bertulis nama dan perjalanan atmanya lepas dari tangkai pohon syajarah.

Di warung kopi, namanya diperbincangkan banyak orang. Ada yang menyesal pernah menyakiti perasaannya, ada yang membicarakan kemampuannya melihat masa depan dan membaui aroma kematian, ada yang menyayangkan kepulangannya sebelum ia melangsungkan akad nikah dengan santriwati paling cantik dari pesantren ternama. Ada yang hanya mengelus dada, tulus berduka cita. Sarti membuka lembar-lembar tentangnya tiap kali ada kesempatan, diiringi sengguk tangisan. Entah kenapa, bagi Sarti, pertemuan terakhirnya dengan Ilham malam itu meninggalkan kesan mendalam. Esoknya, ia keluar dari warung kopi dan memilih profesi sebagai juru masak di panti jompo.

Di panti itu, ia melihat siklus paling senja dari batang usia. Ia melihat mata sayu yang memendam rindu, melihat kesepian, kesendirian, terasingkan, dan berbagai cara untuk menemui satu titik, bahagia. Orang-orang yang berpayah mengejar impian terakhir mereka, khusnul khatimah. Menambal segala kekosongan masa muda, mengeja alif baa taa dengan kepandaian yang tersisa.

Panti itu, menjadi tempatnya berpijak untuk berbenah. Menyongsong ujung perjuangan.

Ia merasa ada Ilham di setiap napasnya, ilham tentang ikhtiar dan pengabdian pada Tuhan meniti garis perjalanan hidup sebelum tiba di perbatasan hayyu wa mumit.

22 Mei 2019
Kwai Fong, New Territories, Hong Kong


Wiji Lestari. Penulis adalah pemenang VOI Sastra Award (RRI) 2018 – Republika

Keterangan

[1] "Diskusi Mata Hijau" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Republika ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 14 Juli 2019