Gadis Pemimpi

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Gadis

Sore yang senyap. Tidak ada siapa-siapa di rumah kecuali orang-orang belakang dan Pak Tua yang terkantuk-kantuk di gardunya. Dea berjalan dari ruang tamu ke ruang utama, tembus ke paviliun, lalu berbalik ke ruang baca, memasuki setiap kamar dan terakhir dia membuka pintu ke teras samping. Terasa lengang. Hampir-hampir tak ada suara terkecuali musik lamat-lamat yang berasal dari kamarnya.

Tiba-tiba saja Dea tergugu, merasa sedih. Ternyata kepergian si kembar juga membawa semua keceriaan di rumah ini, batinnya. Tak akan lagi mendengar canda mereka, celoteh mereka, dan gelak mereka di saat berkumpul dengan teman-temannya.

Membayangkan teman-teman Karina dan Kirana, Dea sempat merasa was-was. Masih adakah seseorang akan datang berkunjung ke rumah ini? Selama ini, hanya teman-teman mereka yang rajin datang. Terkecuali Gerald, yang tinggal di sebelah, dia selalu datang untuk semua. Tapi, sejak tahun lalu dia kuliah di Bogor, kedatangannya nggak bisa diharap.

Seharusnya kamu nggak sedih begini, De, kata hati kecilnya saat rasa kehilangan itu terasa semakin menjadi. Bukankah selama ini kau menginginkannya? Bukankah ini sebuah kebebasan? Kau tak perlu lagi jadi bayang-bayang mereka!

Tanpa sadar Dea mengangguk. Tanpa sadar Dea tertawa.

Ya, tahun ini dunia akan terasa sedikit lebih lapang, Karina dan Kirana baru saja pindah ke Semarang karena mereka diterima di Fakultas Teknik, Undip. Menurut Dea, kakak kembarnya itu selama ini banyak membawa masalah dalam hidupnya. Selalu menjadikan dirinya jadi orang kesekian, bahkan kadang tak terlihat karena si kembar yang sangat dibanggakan Mama dan Papa itu selalu manis dan patuh, dan selain cantik, otak mereka juga sangat cemerlang. Menurut Dea juga, itu sangat berbeda dengan dirinya!

Yang disyukuri Dea adalah perbedaan umur mereka yang terpaut tiga tahun lebih. Hanya waktu SD saja mereka sempat satu sekolah, selebihnya tidak. Bila terpaksa harus masuk di sekolah bekas si kembar, seperti saat ini di bangku sekolah lanjutan atas, sebisa mungkin Dea menyembunyikan bahwa dia adik kandung dari mereka. Hal ini perlu untuk mencegah keheranan orang; keheranan yang menyakitkan.

Bukan mengada-ada. Selalu saja orang berkomentar muka Dea nggak mirip. Menurut Mama sih, Dea lebih banyak mengambil garis wajah Papa. Apa salah anak mirip bapaknya? Semua orang tahu kita nggak bisa memesan bentuk wajah sebelum lahir. Bahkan Wali Kelas di kelas satu SMP menuntutnya jadi juara seperti si kembar, ini menyebalkan. Kalau saja mereka mengerti tuntutan kesamaan itu yang membuat Dea tertekan, yang membuatnya nggak bisa jadi juara. Untung Mama dan Papa mengerti, mereka yang selalu menghibur dan menyemangati. Guru itu juga yang mempertanyakan kalau sekandung, kenapa Dea urakan dan tomboy? Padahal Dea merasa biasa-biasa saja. Hanya agak ketus bila menghadapi guru itu. Masalah tomboy Dea bingung. Diakuinya dia tidak bisa bersuara dan bergerak selembut Rina dan Rana, nggak bisa selalu tersenyum di saat menghadapi orang yang sedang diajak berbicara apalagi bila orang itu menyebalkan, nggak betah kalau disuruh pake gaun-gaun cantik selain seragam sekolah, nggak bisa …. Ah, banyak sekali yang nggak bisa. Apalagi menyangkut pekerjaan rumah. Memasak, membereskan kamar, dan entah apa lagi. Rasanya diperlakukan tidak adil bila selalu dibandingkan. Dea adalah Dea, bukan Rina dan Rana!

Baca juga:  Ustaz Maya

Dea terbatuk menahan kesal yang tiba-tiba saja datang menyergap. Dia berbalik, akan kembali ke kamar, tapi bayangan kesepian di sana membuatnya urung melangkah. Aku harus mengerjakan sesuatu, tekadnya, supaya pikiran nggak ke mana-mana. Tapi apa? He, kenapa tidak membongkar pot-pot itu? Rasanya sudah lama Pak Tua dan Papa nggak memberi pupuk kandang, tanah-tanahnya juga sudah mengeras. Tanpa sadar Dea melangkah ke gudang, mengambil peralatan berkebun. Lalu dimintanya Pak Tua mengambil pupuk kandang, tapi menolak dibantu.

Satu per satu pot yang ada di teras samping dibongkar, entah berapa lama dia ada di sana. Tanpa terasa matahari hampir tenggelam, kegelapan mulai menyelimuti halaman bahkan lampu kebun sudah dinyalakan, tapi Dea belum juga menghentikan kesibukannya. Ini pot terakhir yang harus dibongkar, kasihan kalau disisakan, belum tentu besok punya waktu, pikirnya.

“Nggak bisa ditunda sampai besok, Dea? Sudah gelap!”

Hampir Dea melepas pot yang sedang diangkat, suara itu mengejutkannya. Itu suara Gege! Betul, kepalanya menyembul dari tembok pembatas. Dea memberengut. “Kamu bikin kaget, Ge!” serunya marah. Tapi sesaat kemudian dia tertawa. “Kapan datang?”

“Barusan, tadinya mau ngucapin selamat jalan ke Rana dan Rina karena kupikir mereka berangkat Minggu, tapi kata Pak Tua sudah pergi. Ya, sudah!”

“Mama ngantar juga, mau nitipin mereka ke ibu kos. Aduh, Ge, mobil Papa sampai penuh sesak. Dari komputer sampai pemanggang roti, belum sepuluh pasang sepatu, sandal, dan nggak tau apa lagi. Untung dapur nggak dibawa, itu kan tempat kedua mereka setelah kamar!” Dea tergelak sambil mengaduk tanah dengan pupuk.

Gege naik ke tembok pembatas, lalu duduk mencakung di atasnya.

“Kamu kok tahu aku di sini?” tanya Dea setelah menyuruh melompat turun.

“Kan sudah kubilang aku tadi ke depan, ketemu Pak Tua di gardunya. Dia yang ngasih tahu kamu lagi kesepian. Dan biasanya, kalau lagi begitu, kamu nyibukin diri mencari cacing di sini!”

Gege meloncat turun, hal yang tak pernah dilakukan bila ada Mama dan Papa, dan tak menanggapi rungutan Dea. Dibantunya mengisi pot lalu memindahkan ke tempat semula.

“Sudah selesai!” gumam Dea. “Biar nanti Mbak yang merapihkan. Kita duduk di sini, Ge,” ajaknya. Lalu berteriak meminta minum.

“Kamu pasti kesepian,” kata Gege seusai mencuci tangan. Disambarnya air jeruk di atas meja, menghabiskannya hampir separuh.

“Ada atau tidak ada mereka aku begini. Tetap saja sepi!”

Alis lebat Gege bertaut. Dia menoleh, mengamati raut mungil di sisinya. Mata Dea mengawang, menembus pepohonan dan mega-mega. Pemandangan yang sama, entah berapa puluh kali Gege menemukan Dea dengan tatapan kosong seperti itu. Bahkan ketika suasana ramai, atau di saat berada di antara orang tua dan kakak-kakaknya. Dan, keadaan itu yang membuat hatinya luruh
walau tak pernah berani menanyakan kesedihan atau entah apa yang tersirat di mata itu.

“Kapan Mama dan Papa pulang? Berani tidur sendiri?” Gege merasa suasana jadi tak nyaman, dicobanya mengalihkan pembicaraan.

Dea terpancing, matanya menatap lucu, dan dia tertawa lebar. Gege menyembunyikan getar di dalam dadanya, entah kenapa perasaan itu selalu saja merengkuhnya di saat melihat Dea bahagia atau tertawa. “Mbak Nah dan Suti dua malam ini akan tidur di kamar Rana. Pintu penghubung dibuka, aku akan tidur lelap! Mama akan pulang lusa.”

Baca juga:  Impianku (Habis)

“Sudah gede, masih juga penakut! Takut apa sih, De? Hantu?”

Dea menutup muka, tapi akhirnya mengangguk sambil tertawa.

“Tuhan akan mengirim malaikat untuk menjaga kalau kita berdoa sebelum tidur!”

“Tapi tetap saja takut.”

“Alihkan pikiranmu dengan membayangkan … aku, misalnya!”

“Ih!”

“Atau cowok yang kamu suka! Ada, kan?”

Dea tergugu. Lama, sampai kemudian menggeleng perlahan. “Aku nggak berani berharap apa-apa. Dan bila aku suka sama seseorang, cepat-cepat kubunuh perasaan itu!”

“He?!” Gege merasa was-was. Mata itu, Tuhan, mulai lagi tersaput sedih! Disentuhnya tangan Dea sekilas. “Selama kita hidup, harapan itu harus selalu ada. Dalam segala hal. Agar hidup kita lebih termotivasi. Agar langkah kita terarah untuk mencapai sesuatu yang kita ingin, yang kita harap.”

“Sepertinya sia-sia deh, Ge. Sekuat apa pun aku berusaha, tetap saja tidak akan sebaik Rana dan Rina. Dan aku tak berani punya cowok. Pasti dia membandingkan juga aku dan kakak-kakakku bila suatu saat kukenalkan kepada mereka. Lalu dia akan meninggalkan aku karena di samping Rana dan Rina, seperti biasanya, aku bukan apa-apa!”

“Dea!”

“Ya, aku memang jadi pemimpi. Karena semua tak kutemukan dalam dunia nyata! Dalam mimpi, aku bisa punya cowok yang tak mengenal Rana dan Rina karena tak pernah kuberi kesempatan bertemu!”

Kali ini, Gege mengulurkan tangan. Digenggamnya seluruh jemari Dea dalam rangkuman tangannya yang besar. Dia menghela napas dengan susah payah. “Dengar,” katanya setelah sekian lama terdiam. “Aku punya cerita tentang Mama, tentang ibuku, agar mata hatimu terbuka.”

Dea menautkan alis. Mamanya Gege, tanyanya dalam hati. Sudah empat tahun tinggal bersebelahan, tak pernah rahasia itu terungkap. Gege pernah mengatakan bahwa orang tuanya bercerai, lalu ibunya menikah lagi. Hanya itu, selebihnya Gege selalu mengalihkan pembicaraan bila ditanya tentang ibunya. Lalu Mama berpesan kepada Rana, Rina, dan Dea agar tidak menanyakan lagi karena Gege dan ayahnya kelihatan sedih dan kurang suka bila ditanya mengenai itu.

“Di kamarku, ada foto Mama. Suatu hari nanti kamu boleh melihatnya. Dia cantik sekali. Dulu, dia peragawati dan foto model. Setelah menikah pun Mama masih tetap ikut peragaan busana, fotonya masih menghiasi sampul majalah dan kadang muncul sebagai bintang iklan. Papa dan anak-anaknya bangga, apalagi Cindy, adikku.”

“Tentu menyenangkan punya ibu cantik dan terkenal!” potong Dea.

Gadis Pemimpi“Awalnya begitu. Tapi pertengkaran yang sering meledak mengiringi hari-hari kami. Pekerjaan Mama menyita waktu dan tidak bisa ditentukan. Pengambilan gambar untuk iklan bisa sampai berhari-hari dari pagi sampai malam, apalagi peragaan busana di luar kota dan di luar negeri. Kata Papa, anak-anak jadi tak terurus. Aku dan Cindy memang sering kesepian. Kadang ada yang perlu ditanyakan dan dirundingkan, tapi Mama nggak ada. Kecantikan Mama juga sering membawa masalah. Masih saja ada yang mengganggu dan bahkan ada yang nekad mendekati Mama walau sudah tahu Mama punya suami dan anak. Orang-orang yang nekad itu menambah suasana di rumahku semakin panas. Sampai suatu malam Mama dan Papa memutuskan bercerai karena Mama bertahan untuk tetap bekerja sedang Papa menginginkannya di rumah mengurus anak-anak yang beranjak besar. Aku kasihan ke Papa, ikut pindah ke sini menemaninya. Sedang Cindy tetap ikut Mama.”

Baca juga:  Semut-Semut di Kepala Aluna

Dea menghela napas panjang, merasa sedih mendengar cerita Gege.

“Tidak semua laki-laki tergiur dengan kecantikan, karena punya pendamping cantik tidak menjamin akan mendapatkan kebahagiaan selamanya. Pengalaman mengajarkan yang terbaik. Aku jadi tegar melihat yang kemilau. Aku tidak cepat jatuh cinta.”

“Tidak perlu begitu,” hibur Dea.

“Setidaknya aku lebih hati-hati. Aku lebih banyak melihat ke dalam. Aku lebih menghargai hati yang cantik, bukan penampilan luarnya.”

Dea menggeleng, entah untuk apa. Ah, rasanya pernah ada harap di saat berdekatan dengan Gege, tapi itu dulu. Bukan hanya tampan, Gege sangat baik dan penuh perhatian. Tapi Rana dan Rina juga sangat menyukainya. Belum apa-apa Dea sudah menyerah ….

“Dea ….”

Dea mengangkat muka, menepis rengkuhan tatap kelam di hadapannya.

“Manusia boleh berharap, berkeinginan, berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan, ya?”

Gege tertawa tanpa suara. “Sebetulnya, sudah bertahun-tahun aku menyukai seorang gadis. Dan gadis itu cantik!”

Dea ternganga. Tanpa sadar dia menarik kedua tangannya.

“Aku menemukanya di balik kabut. Sendiri, dan sepanjang hidupnya kesepian. Awalnya aku merasa terenyuh, aku ingin menghibur, menepiskan semua kesedihannya, atau memeluknya agar hatinya hangat. Bertahun-tahun aku mempelajari kesedihannya, tapi bagai masuk ke kumparan air. Akhirnya aku terhanyut.” Gege tersenyum, mengusap dengan matanya.

Dea merunduk, menyembunyikan luka. Tadi, harapan itu tiba-tiba saja datang lagi, menjanjikan sesuatu yang manis, tapi saat hati ini luruh, dia terbang jauh yang tak mungkin lagi kugapai dan kurengkuh, bisik hatinya. Aku memang itik buruk rupa, tak seharusnya menginginkannya! “Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak seharusnya kamu merasa tidak secantik Rana dan Rina. Kelebihan mereka hanya lebih putih dan lebih feminin, tapi matamu lebih bagus dari mereka. Kalau kamu nggak suka masak, mereka juga nggak suka berkebun. Bukankah itu seimbang? Yang membuatmu jadi jelek selama ini hanya karena kamu kurang bersyukur!”

“Gege!”

“Aku sungguh-sungguh. Kesukaanmu pada tanaman yang membuatku memilih IPB. Aku berharap dapat menyukai hal yang sama!”

Dea kembali menggeleng. Air matanya merebak. “Tidak, aku tidak sebanding dengan mereka. Aku memang jelek. Semua orang mengatakan aku beda, tidak secantik Rana dan Rina! Kenapa kau tidak memilih salah satu dari mereka, Ge?” sergah Dea dengan putus asa.

“Sudah kukatakan tadi bahwa aku sungguh-sungguh. Tidak akan ada lagi yang menyakiti kamu, yang membuatmu sedih. Aku berjanji akan membawa Gadis Pemimpi itu ke dunia nyata, membuatnya bahagia dengan melimpahinya dengan cinta yang nyata. Kau dengar?” Gege tersenyum lalu mengulurkan tangan, mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi gadis itu dengan hati-hati. ***


Tika Wisnu | Majalah Gadis

Keterangan

[1] "Gadis Pemimpi" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Gadis ini pernah tersiar pada edisi 5 - 15 Juli 2002